Menyingkap Hakikat Organisasi MTA
Oleh Aboe Zaid el-Posowy
Melalui risalah ini, ana akan sedikit menanggapi tulisan DR. Abdurrahman Suparno yang dimuat dalam milis As-Sunnah dari email (humas_mta@xxxxx.com) yang menanggapi tulisan ana tentang penyimpangan organisasi MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an)…
Sebelumnya ana memohon ampun kepada Allah jika apa yang sampaikan ini salah, dan jika benar datangnya dari Allah, maka semoga menambah informasi bagi ikhwah semuanya…
Sebelum ana menanggapi tulisan Bapak DR. Abdurrahman Suparno maka ana lampirkan isi email beliau, berikut isinya:
===============================================================
Assalamu’alaikum wrwb
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil’alamin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita nabi besar Muhammad saw.
Dengan semangat ukhuwah saya Abdurrahman Suparno yang merasa prihatin dengan informasi yang keliru tentang MTA yang diberikan oleh Abuzaid Romadhoni (mazamier@yahoo.co.id) menyeru kepada saudaraku semua untuk berhati-hati dalam menanggapi sebuah berita. Saya yakin hanya karena kesalahan informasi saja Abuzaid berani berkata begitu. Apa yang Abuzaid tulis yang terkait dengan penyimpangan MTA tidaklah benar (kalau penyimpangan yang dimaksud adalah menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah). MTA adalah lembaga dakwah Islam tempat mangkalnya salah satu dari komunitas muslim yang menjunjung tinggi Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau menyimpang dari pendapat dan pengetahuan Abuzaid: mungkin saja.
Tentang tidak mempercayai adanya JIN, menggolongkan MTA ke dalam kelompok inkarus sunnah, bahkan termasuk ta’ashub (Hati-hati ini sama saja menuduh MTA syirik lho (QS 30:31-32)), dan tuduhan bahwa MTA menghalalkan anjing, yang ditulis Abuzaid MENUNJUKKAN bahwa Abuzaid yang katanya sudah ngaji 2 tahun di MTA belum mengerti tentang MTA. Untuk itu sebagai sesama muslim saya menyeru Abuzaid untuk bertabayun dulu kepada Ketua Umum MTA secara langsung Al Ustadz Drs. Ahad Sukino di kantor pusat MTA (0271) 643288 sebelum melakukan kekeliruan lagi dan menyebarkan ke masyarakat luas dan menjadi fitnah. Kepada siapapun yang ingin bertabayun karena mendengar berita bohong tentang MTA bisa memanfaatkan line telepon tersebut atau datang ke kantor pusat MTA di Jl. Serayu 12, Semanggi, Pasarkliwon, Surakarta.57117.
Kalau boleh sedikit memberikan gambaran tentang tuduhan di atas:
1. Tentang JIN, MTA percaya 100% tentang adanya JIN. Hanya pemahaman kami tentang JIN berbeda dari yang difahami kebanyakan orang. Kebanyakan orang percaya bahwa JIN itu bisa dinaiki untuk sholat Jum’ah ke Mekah, bisa mendatangkan santet dan tenung dll kami bersih dari pemahaman seperti itu.
2. Tentang tuduhan inkarussunnah juga tidak benar sama sekali. Kami shalat sejak angkat tangan hingga salam mengikuti sunnah Rasulullah saw. Kami puasa, haji, dan zakat mengikuti sunnah Rasulullah saw. Bersama-sama dengan masyarakat Islam yang lain kami berjuang menegakkan Al Qur’an dan dan As Sunnah. Kami memohon keselamatan dunia akherat kepada Allah swt dengan jalan memegang teguh Al Qur’an dan As Sunnah. Kami istitho’ah dalam mengikuti Manhaj Rasululullah saw. Memang kami tidak bermadzhab, karena madzhab kami adalah Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang menuduh MTA inkarussunnah, dia pasti akan kecewa kelak di hadapan Allah.
3. Tentang tuduhan Ashobiyyah dan eksklusif juga tidak benar. Terlalu naïf kalau sebagian warga MTA mengadakan Shalat Ied di lapangan dan ramai dikunjungi orang kemudian dikatakan eksklusif. Mereka yang hadir tidak hanya warga MTA. Bahkan sebagian warga MTA ikut berjamaah shalat Ied di kampung mereka masing-masing. Sebagian guru daerah MTA pun mengisi khutbah shalat Ied di kampong masing-masing atas permintaan masyarakat. Di Solo dan sekitarnya biasanya ada lebih dari 50 guru daerah yang dikirim untuk mengisi khutbah Ied atas permintaan masyarakat umum. Banyak tokoh nasional yang memberikan pengajian di MTA seperti Prof. Dien Syamsuddin, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, DR Hidayat Nurwahid, KH Sholahuddin Wahid, KH Drs Amidhan dll. Bahkan seorang Syekh dari Thariqat Al Idrisiyyah dari Tasikmalaya pernah memberikan tausiyah dan memimpin shalat jama’ah para pengurus MTA di kantor pusat MTA. Begitu juga banyak pertemuan-pertemuan oraganisasi Islam Solo diselenggarakan di kantor pusat MTA. Masa yang begini dikatakan ta’ashub dan eksklusif?
4. Tuduhan MTA menghalalkan anjing itu lagu lama yang diputar berulang-ulang. Orang-orang yang tidak suka MTA senang sekali mendengar lagu ini. Yang benar MTA tidak pernah menghalalkan anjing. Sudah 22 tahun lebih saya menjadi siswa di MTA belum pernah saya melihat orang MTA makan anjing meskipun hanya satu kali. Lidah saya juga tidak pernah dikotori daging anjing, apalagi perut saya. Bahkan saya pernah mendengar dengan telinga saya sendiri Ketua Umum MTA Al Ustadz Drs. Ahmad Sukino melarang warga MTA memelihara anjing. Tuduhan MTA menghalalkan anjing merupakan fitnah yang paling keji terhadap MTA yang harus segera ditaubati. Kalau tidak dia akan memperoleh adzab yang besar dan masing masing akan mendapat balasan sesuai dengan andilnya dalam penyiaran fitnah tersebut (QS 24: 11) dan diancam adzab yang pedih di dunia dan akherat (QS 24: 19).
Terima kasih, semoga bermanfaat, wassalamu’alaikum wrwb.
DR Abdurrahman Suparno
===============================================================
1. Agama Adalah Nasihat
Nasihat merupakan suatu amalan yang penting dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab dengan nasihat dapat merekatkan ukhuwah dan persaudaraan di antara manusia, juga dengan nasihat tersebut kita dapat saling mengoreksi kesalahan yang ada pada diri kita untuk menjadi lebih baik. Dan lebih dari itu, kita mengetahui bahwa nasihat merupakan bagian dari sunnah Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam.
Banyak ayat dan hadits shahih yang menyuruh kita agar saling menebar nasihat. Di antara firman Allah agar kita saling menasihati antara lain: Nabi Nuh berkata kepada kaumnya yang artinya:
“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.” (QS Al A’raaf: 62).
Kemudian firman Allah yang menjelaskan bahwa Nabi Hud berkata kepada kaumnya juga:
“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS Al A’raaf: 68).
Sedangkan di antara hadits yang memerintahkan kita untuk saling menasihati antara lain hadit yang datang dari sahabat Abu Ruqoyah Tamim bin Aus Ad Daary, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasehat.-tiga kali” Kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rosulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitabNya, dan rosulNya, dan bagi para pemimpin Islam, dan bagi muslimin umumnya.” [HR. Shahih Bukhori dan Muslim]
Imam Ibnu Rajab rahimahullah menukil ucapan Imam Khaththabi rahimahullah, “Nasehat itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian, yaitu keinginan kebaikan bagi yang dinasehati.”[Jami'ul Ulum wal Hikam, Juz 1 hal. 219]
Syaikh As-Sa’di ketika mensyarah hadits ini, beliau berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengulang-ulang kalimat ini karena memperhatikan kedudukannya, dan menunjukkan kepada umat agar tahu dengan sebenarnya bahwa agama seluruhnya, zhahir dan batinnya, terangkum dalam nasihat…” [Buku Syarah Arbain Nawawi hal. 101, Penyusun Sayyid bin Ibrahim al-Huwaithi,cetakan Darul Haq-Jakarta]
Oleh karena itu, apa yang saya tulis dalam risalah ini, insya Allah, ana mengharapkan Wajah Allah di Jannah-Nya kelak dan juga sebagai nasihat kepada saudaraku kaum muslimin seluruhnya, khususnya kepada saudaraku Bapak DR. Abdurrahman Suparno dan seluruh keluarga besar Majelis tafsir Al-Qur’an (MTA) dan risalah ini akan saya turunkan secara bertahap, insya Allah, semoga Allah memudahkan…Wallahu musta’an…
Berikut ana memulai tanggapan ana…
Assalamu’alaikum wrwb (tulisan miringdan berwarna biru ini perkataan beliau begitu juga seterusnya, dan blok warna kuning dari ana)
Wa’alaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokaatuh
Oh iya…Afwan Pak..kalau ingin menulis kalimat atau ucapan salam Ahsan-nya jangan disingkat ”Wr. Wb.”…tulislah secara lengkap? Jika tidak cukupkan sampai kalimah Assalaamu’alaikum saja…Afwan ini sekadar nasihat…
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil’alamin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita nabi besar Muhammad saw.
Begitu juga dengan tulisan shallawat kepada Muhammad Nabi Allah, jangan disingkat dengan “SAW” tulislah dengan lengkap “Shallallahu ‘alaihi wasallam”..Barokallahu fiikum…
Dengan semangat ukhuwah saya Abdurrahman Suparno yang merasa prihatin dengan informasi yang keliru tentang MTA yang diberikan oleh Abuzaid Romadhoni (mazamier@yahoo.co.id) menyeru kepada saudaraku semua untuk berhati-hati dalam menanggapi sebuah berita. Saya yakin hanya karena kesalahan informasi saja Abuzaid berani berkata begitu. Apa yang Abuzaid tulis yang terkait dengan penyimpangan MTA tidaklah benar (kalau penyimpangan yang dimaksud adalah menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah). MTA adalah lembaga dakwah Islam tempat mangkalnya salah satu dari komunitas muslim yang menjunjung tinggi Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau menyimpang dari pendapat dan pengetahuan Abuzaid: mungkin saja. [tulisan tebal dari tulisan asliya]
Ana berharap apa yang antum sampaikan benar-benar dalam semangat ukhuwah dan juga mudah-mudahan dapat menerima masukan dari saudaramu yang lain…
Na’am…jika emang apa yang ana sampaikan sebelumnya salah, ana bertobat kepada Allah…semoga Allah membimbing kita ke Jalan yang Haq…dan apa yang ana sampaikan adalah yang ana dapat selama ana ngaji di MTA dahulu…wallahu musta’an…
Kemudian perkataan Antum bahwa,”…MTA adalah lembaga dakwah Islam tempat mangkalnya salah satu dari komunitas muslim yang menjunjung tinggi Al Qur’an dan As Sunnah..” [cetak tebal dari ana]
Yaa..ana do’akan moga MTA benar-benar menjunjung tinggi Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi yang pastinya harus dengan pemahaman para Shahabat Nabi radhiallahu ’anhum…sebab Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda, “Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” [HR. Ahmad 4/126 , At Tirmidzy 2676, Al Hakim 1/96, Al Baghawy 1/205 nomor 102]
Dan Allah berfirman yang artinya : ”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]
Rasul juga bersabda:
”Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian masa berikutnya, kemudian masa berikutnya. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya (mendahului) persaksiannya” [Hadits Mutawatir sebagaimana dicantumkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al-Isabah” 1/12, dan disepakati oleh Suyuthi, Al-Manawi, Al-Kinani]
Jika benar MTA menjunjung tinggi Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan tetapi pengakuan tersebut akan kita buktikan dari pernyataan beliau yang lain..insya Allah…
”Tentang tidak mempercayai adanya JIN, menggolongkan MTA ke dalam kelompok inkarus sunnah, bahkan termasuk ta’ashub (Hati-hati ini sama saja menuduh MTA syirik lho (QS 30:31-32)), dan tuduhan bahwa MTA menghalalkan anjing, yang ditulis Abuzaid MENUNJUKKAN bahwa Abuzaid yang katanya sudah ngaji 2 tahun di MTA belum mengerti tentang MTA…”
Insya Allah permasalah di atas akan ana sampaikan pada pembahasan berikutnya..dan emang benar ana pernah ngaji di MTA termasuk juga ketika ana di SMA, ana ikut pengajian rutin di SMA ana yang diisi oleh guru SMA ana yang juga orang MTA, di SMAN 1 Gemolong… maupun kajian remaja di kantor MTA Gemolong (dan yang ngisi kajian adalah Pakde ana sendiri)…dan ana pun keluar dari MTA setelah ustadz tersebut yang juga Pakde ana membahas masalah bai’at, dan bagi orang yang tidak mengikuti MTA dan berbai’at kepada pimpinan MTA maka matinya bagaikan mati jahiliyyah…(pembahasan masalah bai’at ini insya Allah akan ana sampaikan pada pembahasan-pembahasan yang akan datang. Insya Allah, semoga Allah memudahkan…)
Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah tidak ada lagi kajian oleh guru ana tersebut di SMA 1 Gemolong walaupun kajian tersebut telah lama berlangsung dan termasuk kajian pertama di SMA ana, sebab adik-adik Rohis SMAN1 Gemolong setelah mengetahui manhaj dari ustadz tersebut tidak sesuai dengan metodologi Ahlus Sunnah wal jama’ah mereka memboikot kajian tersebut dengan dukungan dari beberapa guru juga yang alhamdulilah telah paham Aqidah manhaj yang shahih… Semoga Allah membalas kebaikan buat adik-adik Rohis di SMA ana…amin…
2. MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an) TIDAK PERCAYA Sihir, Santet, Tenung, dan yang Semisalnya…
Bapak DR. Abdurrahman Suparno berkata:
- Tentang JIN, MTA percaya 100% tentang adanya JIN. Hanya pemahaman kami tentang JIN berbeda dari yang difahami kebanyakan orang. Kebanyakan orang percaya bahwa JIN itu bisa dinaiki untuk sholat Jum’ah ke Mekah, bisa mendatangkan santet dan tenung dll kami bersih dari pemahaman seperti itu.
Alhamdulillah kalo emang MTA mempercayai tentang keberadaan atau adanya Jin..sebab ini merupakan salah satu prinsip aqidah Ahlus Sunnah…akan tetapi waktu ana ngaji di MTA dahulu ust. Maryoto (gemolong) pernah mengatakan bahwa JIN itu hanya secara makna saja tanpa jasad padahal banyak ayat yang menjelaskan tentang hakikat JIN dan bahwa mereka memiliki jasad maupun dari Ust. Ahmad Sukino yang ana sering dengarkan dari Radio-nya MTA…
Bahkan kita semua telah mengetahui tentang kisah dari Abu Hurairah yang bertemu dengan Jin yang ingin mencuri yang menampakkan wujudnya dalam rupa manusia dan bukan dalam wujud aslinya. Hadits tersebut sangat panjang…Antum bisa membacanya di dalam kitab yang di tulis oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat yang berjudul Al-Masail jilid 1 halaman 269-282 masalah ke-21 dan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 2311 dari shahabat Abu Hurairah.. sedangkan rupa atau wujud asli dari jin atau setan manusia tidak dapat melihatnya berdasarkan nash al-Qur’an (QS. Al-A’raf: 27)… Wallahu a’lam
Dalil-dalil dari Al-Qur’an tentang keberadaan Jin antara lain:
Allah berfirman:
”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
”Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golonganmu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini.” (QS. Al-An’am: 130)
Allah juga berfirman:
”Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin: 6)
Ayat yang mulia di atas menerangkan bahwa Allah benar-benar menciptakan jin. Kemudian Allah memberi beban taklif (kewajiban) seperti halnya manusia, yaitu supaya mereka menyembah/ beribadah kepada Allah semata, dan tidak berbuat syirik. Juga penjelasan bahwa kita dilarang umtuk meminta pertolongan kepada jin, karena hal ini merupakan kesyirikan yang nyata..
Sedangkan dalil dari Hadits Nabi yang mulia shallallahu ’alaihi wasallam antara lain:
Dari Sayyidah ’Aisyah Radhiyallahu ’anha, dia berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda yang artinya:
”Para Malaikat itu diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian” [HR. Ahmad (VI/153 dan 16
dan Muslim (XVIII/123-Nawawi) ]
Sabda beliau yang lainnya:
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ’anhu dia berkata, kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam pada suatu malam. Kemudian kami kehilangan beliau, sehingga kami pun mencari beliau di lembah-lembah dan perbukitan, lalu kami katakan, ”Beliau telah dibawa terbang atau dibunuh. Sehingga kami bermalam dengan malam yang tidak menyenangkan ditempat itu bersama suatu kaum. Pada pagi harinya kami bangun dan ternyata beliau datang dari arah gua Hira’ maka kami katakan,
”Wahai Rasulullah, kami telah kehilangan engkau, lalu kami mencarimu tetapi kami tidak mendapatkan dirimu, sehingga kami bermalam dengan malam yang tidak menyenangkan bersama suatu kaum disana.
Maka beliau bersabda yang artinya”
”Aku telah didatangi utusan dari jin, lalu aku pergi bersamanya dan selanjutnya aku bacakan al-Qur’an kepada mereka.”
Lebih lanjut, Ibnu Mas’ud berkata, kemudian Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berangkat bersama kami, lalu beliau memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Dan mereka (pun jin,) bertanya kepada beliau tentang perbekalan(makanan), maka beliau bersabda, ”Bagi kalian setiap tulang yang disebutkan padanya nama Allah (pada saat menyembelihnya atau memasaknya,). Tulang-tulang itu jatuh ketangan kalian lebih baik dari daging. Dan setiap kotoran hewan adalah makanan bagi binatang kalian.”
Kemudian Rasulullah bersabda yang artinya:
”Maka janganlah kalian beristinja’ dengan kedua benda tersebut (tulang dan kotoran), karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.” [HR. Muslim (IV / 170-Nawawi).]
Dan masih banyak lagi dalil-dalil dari Qur’an dan Hadits tentang keberadaan Jin….wallahu musta’an
Akan tetapi pada kalimat setelahnya Anda (Bapak DR. Abdurrahman Suparno) mengatakan bahwa,
”…Hanya pemahaman kami tentang JIN berbeda dari yang difahami kebanyakan orang. Kebanyakan orang percaya bahwa JIN itu bisa dinaiki untuk sholat Jum’ah ke Mekah, bisa mendatangkan santet dan tenung dll kami bersih dari pemahaman seperti itu.”
Kita bisa lihat bahwa MTA tidak mempercayai bahwa jin dapat melakukan hal-hal di atas seperti santet, tenung, dll… hal ini semakin menguatkan tentang apa yang pernah ana dapatkan selama ana ngaji di MTA, bahwa MTA tidak mempercayai santet, sihir, dan yang lainnya…seperti yang bapak perkuat dengan perkataan Bapak di atas…
Wahai bapak DR. Abdurrahman Suparno, Ana katakan:
- Tentang JIN dapat membawa sesorang untuk sholat Jum’at ke Makkah, setahu ana kebanyakan hanyalah ”berita bohong” belaka dari orang-orang yang ingin mencari sensasi, bahwa mereka pernah mengatakan atau mengalami hal di atas. Akan tetapi hal tersebut tidak mustahil untuk dapat dilakukan/ terjadi… Dan apakah antum tidak melihat seseorang (tukang dukun, sulap, ilusionis, sihir, dll) yang dapat berpindah tempat dalam sekejap?? Hal tersebut banyak terjadi…contoh Tujang sihir di Indonesia adalah Dedy corbuser dan kroco-kroconya (
semoga mereka bertaubat kepada Allah karena barangsiapa yang melakukan perbuatan sihir berarti ia telah melakukan Syirik yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Dienul Islam atau kafirana belum tahu apa agama mereka yang sebenarnya, apakah Islam atau kafir, tapi jika mereka bukan beragama Islam maka kita harus mengatakan bahwa mereka KAFIR)… Akan tetapi, yang perlu kita pahami, semua itu (perbuatan SIHIR) tidak akan terjadi tanpa kuasaan Allah (jadi semua kekuatan itu berasal dari Allah bukan dari Sihir, tetapi sihir benar adanya)..wallahu a’lam - Permasalahan SANTET dan TENUNG, juga yang lainnya…
Ya Bapak DR. Abdurrahman Suparno…ketahuilah, bahwa Ahlus Sunnah mengatakan, bahwa Sihir itu memiliki hakikat, yakin BENAR-BENAR ADA, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah..(sebagaimana klaim MTA bahwa mereka menjunjung tinggi Al-Qur’an dan As-Sunnah)
Antum bisa buka kitab Fathul Madjid Syarah Kitab At-Tauhid bab 23 tentang SIHIR dan bab 24 tentang MACAM-MACAM SIHIR. Maupun kitab yang lainnya dalam masalah aqidah dan sihir,,,Disitu dijelaskan secara gambang tentang permasalahan ini…
Di sini saya akan kemukakan beberapa dalil dari al-Qur’an bahwa SIHIR itu benar adanya dan antum bisa buka al-Qur’an Surah AL-BAQARAH ayat 102 yang artinya:
”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir, hanya syaithan-syaithan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang Malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengarjakan (sesuatu) sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan: ’Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami), dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudhorat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka memepelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memebri manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir, tidaklah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102)
Juga ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman:
”Aku berlindung dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus dari buhul-buhul.” (QS. Al-Falaq: 4)
Wahai Saudaraku..antum bisa baca ayat-ayat diatas, bahwa Allah sendiri telah bersaksi bahwa SIHIR itu benar adanya, baik hakikat maupun maknawi. Imam Abu Muhammad al-Maqdisi rahimahullah pernah berkata: ”Sihir adalah jimat-jimat, jampi-jampi, mentera-mentera dan buhul-buhul (yang ditiup) yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Maka sihir dapat menyakiti, membunuh dan memisahkan suami dengan isterinya.”
Jika sihir tidak ada, dan tidak mempunyai hakikat dan pengaruh, lalu apa gunanya Allah menurunkan kedua ayat di atas, bahkan memerintahkan kepada kita untuk berdo’a kepada Allah dan berlindung kepada Allah dari wanita-wanita tukang sihir??!! Allahu musta’an.
Dan juga Antum bisa lihat Surah Yunus: 77, Thaahaa: 67-69, Al-a’raf: 117-122.dan yang lainnya.. wallahu a’lam
Sedangkan dalil dari As-Sunnah tentang hakikat dari Sihir, tenung, dan yang semacamnya antara lain sebagai berikut:
Dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda yang artinya:
”Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar yang membinasakan. Para Sahabat bertanya, ’Wahai Rasulullah, apakah ketujuh dosa besar itu?’ Beliau menjawab:’ Syirik kepada Allah, sihir, dan membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada saat terjadi peperangan dan menuduh berzina wanita-wanita mukminah yang telah bersuami dan menjaga diri, yang tengah lengah” [HR. Bukhari dan Muslim]
Wahai Bapak DR Abdurrahman Suparno (semoga Allah memberi Hidayah Sunnah kepada saya, Antum, dan seluruh kaum mukminin), faidah yang dapat kita peroleh dari hadits di atas bahwa Rasulullah ’alaihi shallatu wasallam mewanti-wanti kepada umatnya untuk meninggalkan atau menjauhi SIHIR, karena sihir dapat membinasakan seseorang dan juga sihir merupakan dosa besar yang membinasakan…
Kemudian sabda Rasul yang lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 3281 dan 7171 juga diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2170 yang artinya:
”Dari Anas, sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersama seorang istri beliau, maka berlalulah seseorang dihadapannya, beliau pun memanggilnya dan orang itu pun mendatangi beliau. Maka, beliau berkata kepadanya, ”Ini adalah istri fulanah,” kemudian orang itu berkata, ”aku tidak mengira enkau, wahai Rasulullah”, maka rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya setan berjalan di tubuh manusia (mengikuti peredaran) darah.”
Hadits ini mempunyai faidah bahwa jin atau syaithon dapat masuk kedalam tubuh manusia dan yang biasa disebut dengan kesurupan…
Shahabat Ibnu Abbas berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
”Barang siapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum, berarti dia telah mempelajari sebagian dari ilmu sihir; semakin bertambah (ilmu yang dia pelajari), semakin bertambah pula (dosanya).” [HR.Abu Dawud (no.3905) dan ibnu Majah (no. 3726 ) serta dinilai hasan oleh al- Albani di dalam kitab as-Shahiihah (no. 793 ) dan di dalam Shahih Ibnu Majah ( II/305 no.3002 ).]
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah terkena sihir oleh salah seorang tukang sihir bangsa Yahudi yaitu Labid bin al-Asham (semoga Allah melaknatnya)…sebagaimana yang disampaikan oleh Ummahatul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah disihir oleh seseorang dari bani Zuraiq yang bernama Labid bin al-Asham, sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam dibuat membayangkan seolah-olah beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak berbuat apa-apa. Sampai pada suatu hari atau pada suatu malam ketika beliau berada disisiku, akan tetapi beliau terus berdo’a dan berdo’a, kemudian beliau bersabda, Wahai ‘Aisyah, apakah kamu tahu bahwa Allah telah memberikan jawaban kepadaku tentang apa yang aku tanyakan kepada-Nya tentangya (sihir)? Ada dua orang yang mendatangiku, satu di antaranya duduk di dekat kepalaku dan yang satunya lagi berada di dekat kakiku. Lalu salah seorang di antara keduanya berkata kepada temannya,’Sakit apa orang ini?’ ’Disihir,’ sahut temannya. ’Siapa yang telah menyihirnya?’ Tanya temannya lagi. Temannya menjawab, ’Labid bin al-Asham.’ Dalam bentuk apa sihir itu?’ Dia menjawab, ’Pada sisir dan rontokan rambut ketika disisir, dan kulit mayang kurma jantan.’ Lalu, dimana semuanya itu berada?’ Tanya temannya. Dia menjawab, ’disumur Dzarwan.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sumur itu bersama beberapa orang sahabat beliau. Lalu, beliau datang dan berkata, ”Wahai ’Aisyah, seakan-akan airnya berwarna merah seperti perasan daun pacar, dan seakan-akan kulit mayang kurmanya seperti kepala syaitan,” Lalu kutanyakan, ’Wahai Rasulullah, tidakkah engkau meminta dikeluarkan?’ beliau menjawab, ’Allah telah menyembuhkanku, sehingga aku tidak ingin memberi pengaruh buruk kepada umat manusia dalam hal itu.’ Kemudian beliau memerintahkan untuk menimbunnya, maka semuanya pun ditimbun dengan segera. [HR. Bukhari dan Muslim]
Wahai Saudaraku..mengapa kalian orang MTA tidak mempercayai tentang hakikat sihir???padahal telah sampai kepada kita tentang tubuh Rasulullah pernah mendapat sihir?? Padahal beliau seorang utusan Allah, manusia yang mulia penutup para nabi dan rasul..ini menunjukkan kepada kita bahwa sihir itu benar adanya…wallahu a’lam
Sedangkan pendapat dari para Ulama tentang sihir antara lain:
Imam al-Nawawi rahimahullah mengatakan:” Yang benar adalah bahwa sihir itu mempunyai hakikat. Hal yang sama juga dipastikan oleh jumhur ulama secara keseluruhan. Hal tersebut didasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih lagi masyhur.” [kitab Fat-hul Baari (X / 222).]
Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah dalam Risalah Tentang Hukum Sihir dan Perdukunan edisi Indonesia hal. 12 mengatakan:
”Kita memohon kepada Allah kesehatan dan keselamatan dari kejahatan sihir dan semua jenis praktek perdukunan serta tukang sihir dan tukang ramal…”
Ibnu Abi ‘Izzi mengatakan: “Wajib bagi pemerintah dan orang yang memiliki kesanggupan untuk melenyapkan para dukun dan tukang ramal serta permainan-permainan sihir sejenisnya seperti menggunakan garis di tanah atau dengan kerikil atau undian. Dan mencegah mereka untuk duduk-duduk di jalan dan memperingatkan mereka supaya jangan masuk ke rumah-rumah orang. Cukuplah bagi orang yang mengetahui keharamannya lalu dia tidak berusaha melenyapkannya padahal dia memiliki kesanggupan, (cukup baginya) firman Allah:
كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Mereka tidak saling mengingkari perbuatan mungkar yang telah mereka kerjakan, amat buruklah apa yang telah mereka perbuat.” (Al-Maidah: 79) (Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 342)
Al-Lajnah Ad-Da`imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) berkata: “Kaum muslimin tidak boleh shalat di belakang mereka (para dukun) dan tidak sah shalat di belakang mereka. Bila seseorang kemudian mengetahui hal itu hendaklah dia meminta ampun kepada Allah dan mengulangi shalatnya.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 1/394).
Beberapa hadits juga qur’an dan penjelasan para ulama Ahlus sunnah di atas tentang keberadaan atau hakikat sihir…bahwa SIHIR BENAR-BENAR ADA!!! Tetapi perlu kita ketahui bahwa Sihir tersebut TIDAK MEMILIKI PENGARUH kecuali dengan KEKUASAAN ALLAH…sebagaimana firman Allah dalam Q.S. An-Nisaa’: 76…Wallahu a’lam…
Jika benar MTA mengikuti Qur’an dan Sunnah, mengapa kalian tidak menerima ayat-ayat dan hadits-hadits shahih yang menerangkan tentang hakikat Jin, Santet, Sihir, tenung, dan semisalnya??!! Apakah kalian tidak mengetahui tentang adanya dalil-dalil tersebut?? Atau kalian pura-pura tidak tahu…wallahu musta’an…
Padahal organisasi kalian bernama MTA (Perhatikanlah kepanjangannya: MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN) apakah kalian tidak pernah membaca penjelasan ulama ahli tafsir tentang ayat-ayat di atas , juga haidts-hadits Nabi jika kalian berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah… atau sengaja kalian tidak membacanya?? Hanya Allah yang tahu…wallahu a’lam..
Dan emang benar…selama ana ngaji di MTA yang katanya Majelis Tafsir Al-Qur’an, tidak pernah ana dapatkan seorang ustadz menjelaskan tentang tafsir qur’an atau syarah hadits berdasarkan kitab-kitab para ulama Islam…kan aneh Majelis Tafsir Al-Qur’an kalo menafsirkan al-Qur’an ustadznya Cuma bawa al-Qur’an terjemahan Depag cetakan zaman jebot lagi ga pernah membawa kitab-kitab tafsir ulama??!! Juga dalam mesyarah hadits…mereka memahami al-Qur’an dan hadits sesuai dengan ra’yu mereka sendiri…jadi ya pantas kalo mereka disebut bermanhaj Aqlani…wallahu musta’an…
Hanyalah golongan Ahlul bid’ah dan ahlul Ahwa’ yang tidak mempercayai perkara-perkara di atas (masalah santet, sihir, kerasukan, dll) seperti golongan Mu’tazilah… dan layakkah mereka mengikuti Manhaj Rasulullah seperti pengakuan DR. Abdurrahman Suparno mereka?? Sedangkan Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah mempercayai hal-hal di atas… Wallahu musta’an…wallahu musta’an…
Ana benar-benar bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang membimbing ana di atas Manhaj Salaf… semuanya yang ana ketahui tentang MTA berasal dari ustadz MTA yang dulu pernah mengisi kajian MTA yang ana ikuti, seperti Ust. Maryoto dan Ust. Agus Suhono di Gemolong…Semoga Allah memberi hidayah Sunnah sesuai Manhaj Salaf kepada mereka semua,,, amin…
Sedangkan obat bagi mereka yang telah terkena sihir antum bisa baca kitab yang sangat bermanfaat yang ditulis oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdil Qadir Jawas hafidzohullahu ta’ala yang berjudul Do’a dan Wirid, Mengobati Guna-Guna dan Sihir menurut Al-Qur’an dan Sunnah yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i….dan kitab yang lainnya…Wallahu a’lam
Bersambung Insya Allah
DIarsipkan di bawah: aqidah islam, hizbiyah & harokah




assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
pembahasan MTA selanjutnya ana tunggu lho akh, soale temen-temen ana dikampung juga lagi gandrung sama kajian yang ada di radio mereka.
barakallahu fik
ini namanya perbedaan paham harusnya saling menghormati. bagimu pahammu bagiku pahamku. masing2 bertanggung jawab dengan pahamnya sendiri2. tidak layak sesama muslim saling debat. “sesiapa yang meninggalkan perdebatan Allah akan membangunkan baginya rumah di surga, walaupun dia posisi benar”
kebenaran hakiki hanya milik Allah, karena itu jangan merasa paling benar, paling suci, Dialah Allah yang mengetahui siapa yang bertaqwa.
“sesiapa yang menutup aib saudaranya Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat”
semakin banyak anda membela diri semakin nyata kesalahan anda.
Mari bertaubat, jangan saling menfitnah. saya orang jepara , karsulis, alumni stm n pati menghimbau kepada Abuzaid untuk tidak suka mengoreksi kesalahan orang lain/golongan lain. koreksilah dirimu sendiri.
manhaj salafi tidak suka memperbincangkan apalagi mengumumkan kesalahan orang lain teristimewa belum tentu dia salah. wahai Abuzaid kamu dkk itu salafi model mana ? pengikut manhaj sunnah siapa?
Assalamu’alaikum
Saya juga simpatisan MTA, kebetulan ada hal-hal yang mengganjal mengenai masalah tersebut. Kadang ustad Sukino mengatakan: Bahwa santet tidak ada / Nabi tidak pernah disihir / Kesurupan jin itu tidak ada, adanya jiwanya yang kurang bagus / Orang msuk ke neraka itu sudah tidak bisa lagi ke surga / Bayi lahir tidak perlu diadzani / dll. Terus terang saja, saya tidak menjelek-jelekkan MTA, sebab ayah saya juga pendiri awal MTA. Tapi sepertinya hal-hal yang saya tulis diatas ada yang kurang nyaman di hati saya. Adakah penjelasan yang lebih baik…?
Wassalamu’alaikum
Maaf ya!saya mau tanya kenapa orang salafi pandai mengoreksi saudara muslim yang tidak ikut kajian salafi?Apakah kajian yang paling benar itu di salafi karena saya perhatikan tidak ada yang mengoreksi salafi!Selain ikut kajian di salafi apa ada kajian yang lebih benar
mohon di balas!terima kasih!
yang kutahu MTA itu ya kayak salafynya sururiyah seperti ustad ahmad faiz itu kata dari salafy yg angkal di masjid ibnu taimiyah belakang konimex itu
Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakaatuhu,
Kajian MTA ini, apa juga di-streaming-kan melalui shout cast? namanya mtafm, dan ustadznya kalo kasih kajian kadang di campur bahasa jawa. Kalo benar, saya pernah sekali mendengarkannya, tp, aduhai, kenapa ada musiknya? Bukankah musik itu haram? dan kenapa MTA menisbatkan diri kepada Al Qur’an dan Sunnah? Jelas ini salah satu penyimpangannya
Wallahu a’lam
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuhu
kepada mas karsulis… silakan antum koreksi apa yang ana sampaikan di sini… jika ada yang menyelisihi qur’an dan sunnah maka ana akan koreksi dan ruju’ ilal haq… barokallahu fiikum
kapan . . .
umat islam akan bersatu
…
Alhamdulillah melalui berita bohong yg abuzaed edarkan ini saya bertabayun ke MTA. ternyata tidak seperti yg dituduhkan. dan sekarang saya jadi senang mendownload pengajian ustad mta melalui mta fm, ternyata pengajiannya sangat bagus sesuai quran dan sunnah. dalam hal-hal yang dituduhkan abuzaed itu hanya perbedaan faham yaitu antara paham ulama2. kebetulan yg diikut abuzaed berbeda denngan mta.
Ternyata MTA punya cabang di seluruh indonesia bahkan luar negeri.
dan sudah resmi menjadi yayasan yang diakui pemerintah indonesia.
sekarang saya jadi ikut di pengajian mta walaupun jauh dari rmh. tidak apa demi ilmu.
di mta tidak suka menjelek-jelekkan org/kelompok lain yang tdk sepaham. tidak ada salahnya teman lain ikut seperti saya. kalau tidak cocok dengan kajian mta boleh keluar dengan baik-baik.
kalau boleh tahu abuzaed dulu keluar pamit tidak ya?
Kami berharap anda bisa bersilaturahmi kepada kami, di majlis kami, dan kemudian anda mengatakan “Hakekat Organisasi MTA” langsung dari bibir anda, karena kata-kata hakekat mengandung arti yang sangat dalam dan luas, sudah seberapakah pengetahuan anda tentang kami, tolong ceritakan kepada kami, sebelum anda bercerita kepada orang lain, kalau memang anda benar-benar ahli tentang “Hakekat Organisasi MTA” tentu anda sudah sangat mendalam mengetahui segala seluk beluk yang ada pada kami, sehingga anda pantas untuk menjadi orang-orang yang kami harapkan kebaikan yang banyak dari anda, tapi kalau tidak demikian “Takutlah Kepada Allah”, yang mana anda membuka sesuatu yang tidak anda ketahui secara hekekat, tetapi anda menulis dengan judul “Hakekat”, berarti anda telah mencelakakan diri, kasihanilah diri anda sebelum mengasihani orang lain
Betulkah anda kasihan kepada kami ?, ataukah ada niat-niat lain yang tersembunyi di hati anda terhadap kami, betulkan anda dengan ikhlas menegur kami ?, mengapa anda tidak segera mendatangi majlis kami, dan bertatap muka dengan kami, seberapakah besarnya kebenaran rasa kasihan anda kepada kami, tahukah anda ?? siapakah “Hakekat diri anda sendiri ???, Subhanallah, semoga anda segera datang ke majlis kami dan menyampaikan segala rasa sayang anda kepada kami, bukan sekedar “buah bibir” saja.
Satu lagi, memang dengerin lagu itu haram to?
buat aboezaid,
gaya kamu kayak ustadz saja, padahal saya tahu kamu hanya pecundang yang selalu sembunyi di belakang organisasi Salafi!, saya yakin seandainya kamu nanti keluar dari salafi (baca : murtad) kamu pasti juga menjelekkan salafi. Tidak usah bergaya orang alim dengan kata-kata ‘ana’ dan membenturkan Salafi dengan MTA. Kalau memang mau debat dan adu argumentasi, mari ketemu di darat!, Kalau tidak berani, memang kamu SEORANG PENGECUT! dan tidak ada kehormatan bagi seorang pengecut!
edwin - SIMPATISAN MTA
Pertanyaan:
Berikut nasihat panjang Syaikh bin Baz terhadap para dai yang sedang berselisih.
Jawaban:
Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, nabi yang terpercaya, juga kepada keluarga, para sahabat dan mereka yang mengikuti sunnahnya hingga hari berbangkit.
Amma ba’d,
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan untuk berbuat adil dan kebajikan serta melarang berbuat zhalim, melampaui batas dan bermusuhan. Allah telah mengutus nabiNya sebagai-mana pula para rasul lainnya untuk menyerukan dakwah tauhid dan ikhlas beribadah hanya untuk Allah semata. Allah memerin-tahkannya untuk menegakkan keadilan, dan Allah pun melarang kebalikannya, yaitu yang berupa penghambaan kepada selain Allah, berpecah belah, berbuat sewenang-wenang terhadap hak-hak para hamba.
Telah tersebar berita akhir-akhir ini, bahwa banyak di antara para ahli ilmu dan para praktisi dakwah yang melakukan cercaan terhadap saudara-saudara mereka sendiri, para dai terkemuka, mereka berbicara tentang kepribadian para ahli ilmu, para dai dan para guru besar. Mereka lakukan itu dengan sembunyi-sembu-nyi di majlis-majlis mereka. Adakalanya itu direkam lalu disebarkan ke masyarakat. Ada juga yang melakukan dengan terang-terangan pada saat kajian-kajian umum di masjid.
Cara ini bertolak belakang dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dilihat dari beberapa segi, di antaranya:
Pertama, ini merupakan pelanggaran terhadap hak prifasi sesama muslim, bahkan ini terhadap golongan khusus, yaitu para penuntut ilmu dan para dai yang telah mengerahkan daya upaya mereka untuk membimbing dan membina masyarakat, melurus-kan aqidah dan manhaj mereka, bersungguh-sungguh dalam mengisi berbagai kajian dan ceramah, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.
Kedua, bahwa ini bisa memecah belah kaum muslimin dan memporakporandakan barisan mereka, padahal mereka sangat membutuhkan kesatuan dan harus dijauhkan dari perpecahan dan saling menggunjing antar mereka. Lebih-lebih bahwa para dai dimaksud termasuk golongan ahlus sunnah wal jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah dan khurafat serta menghadapi lang-sung para penyerunya, membongkar trik-trik dan reka perdaya-nya. Karena itu, perbuatan ini tidak ada maslahatnya kecuali bagi para musuh yang senantiasa mengintai, yaitu kaum kuffar dan para munafiq atau para ahli bid’ah dan kesesatan.
Ketiga, Bahwa perbuatan ini mengandung propaganda dan dukungan terhadap tujuan-tujuan yang diusung oleh para sekuler, para westernis dan para penentang lainnya yang dikenal agresif menjatuhkan kredibilitas para dai, mendustakan mereka dan mengekspos kebalikan dari apa-apa yang mereka tulis dan mereka rekam. Sikap yang dilakukan oleh mereka yang tergesa-gesa melaku-kan ini, yang ternyata malah membantu musuh untuk menyerang saudara-saudaranya sendiri, yaitu para thalib ‘ilm dan para dai, adalah perbuatan yang tidak termasuk hak persaudaraan Islam.
Keempat, Bahwa perbuatan ini bisa merusak hati masyarakat awam dan golongan khusus, bisa menyebarkan dan menyuburkan kebohongan dan isu-isu sesat, bisa menjadi penyebab banyaknya menggunjing dan menghasud serta membukakan pintu-pintu ke-burukan bagi jiwa-jiwa yang cenderung menebar keraguan dan bencana serta berambisi mencelakakan kaum mukminin secara tidak langsung.
Kelima, Bahwa banyak pernyataan dalam hal ini yang ter-nyata tidak ada hakikatnya, tapi hanya merupakan asumsi-asumsi yang dibisikkan setan kepada para pengungkapnya. Sementara itu Allah q telah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari pra-sangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12)
Seorang mukmin hendaknya bisa menyikapi perkataan saudaranya sesama muslim dengan sikap yang lebih baik. Seorang alim dahulu mengatakan, “Jangan kau berburuk sangka dengan kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu walaupun engkau tidak me-nemukan yang baiknya.”
Keenam, hasil ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dalam perkara-perkara yang menuntut ijtihad, maka pencetusnya tidak dihukum dengan pendapatnya jika ia memang berkompeten untuk berijtihad. Jika ternyata itu bertentangan dengan yang lain-nya, maka seharusnya dibantah dengan cara yang lebih baik, demi mencapai kebenaran dengan cara yang paling cepat dan demi menjaga diri dari godaan setan dan reka perdayanya dihembus-kan di antara sesama mukmin. Jika itu tidak bisa dilakukan, lalu seseorang merasa perlu untuk menjelaskan perbedaan tersebut, maka hendaknya disampaikan dengan ungkapan yang paling baik dan isyarat yang sangat halus. Tidak perlu menghujat atau menje-lek-jelekkan, karena hal ini bisa menyebabkan ditolak atau dihin-darinya kebenaran. Di samping itu, tidak perlu menghujat pribadi-pribadi tertentu atau melontarkan tuduhan-tuduhan dengan maksud-maksud tertentu, atau dengan menambah-nambah perka-taan yang tidak terkait.
Rasulullah telah memberikan contoh dalam menghadapi kondisi semacam ini dengan ungkapan,
“Kenapa ada orang-orang yang mengatakan demikian dan demi-kian.” (HR. Muslim dalam an-Nikah (1401))
Saya sarankan kepada saudara-saudara yang telah menge-cam para dai, hendaknya bertaubat kepada Allah q dari per-buatan yang telah mereka lakukan, atau meralat dengan lisan mereka seputar masalah yang bisa menyebabkan rusaknya hati sebagian pemuda dan bisa menimbulkan kedengkian serta mema-lingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan aktifitas dakwah, karena santernya isu-isu tentang si fulan dan si fulan, lalu mencari hal-hal yang dianggapnya sebagai kesalahan orang lain kemudian mempublikasikannya.
Saya sarankan juga agar mereka meralat apa yang telah me-reka lakukan, baik melalui tulisan ataupun lainnya yang dapat membebaskan diri mereka dari perbuatan semacam ini dan meng-hilangkan kesan yang terekam di benak orang-orang yang telah mendengar ucapan mereka, dan hendaknya pula mereka mengi-ringi dengan amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan berguna bagi manusia, serta senantiasa waspada agar tidak terburu-buru melontarkan tuduhan kafir, fasik atau pelaku bid’ah terhadap orang lain tanpa bukti, karena nabi telah mengingatkan,
“Orang mana pun yang mengatakan, ‘wahai kafir’ kepada sauda-ranya, maka pernyataan ini berlaku pada salah seorang dari keduanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab (6104), Muslim dalam Al-Iman (60))
Di antara yang disyari’atkan bagi para penyeru kebenaran dan para penuntut ilmu, apabila menghadapi suatu perkara karena ucapan para ahli ilmu atau lainnya, hendaknya mereka berkonsul-tasi kepada para ulama yang mu’tabar (yang diakui kredibilitas dan kapabilitasnya) dan menanyakan kepada mereka tentang per-kara tersebut sehingga para ulama itu bisa menjelaskan perkaranya dan memposisikan mereka pada hakikatnya serta menghilangkan keraguan mereka. Tindakan ini sebagai pelaksanaan firman Allah yang disebutkan dalam surat An-Nisa’,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kea-manan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran-nya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’: 83)
Hanya Allah-lah tempat meminta, semoga Allah memper-baiki kondisi semua kaum muslimin, mempersatukan hati dan amal mereka dalam ketakwaan, mempersatukan semua ulama kaum muslimin dan semua penyeru kebenaran dengan segala sesuatu yang dapat melahirkan keridhaanNya dan bermanfaat bagi para hambaNya, mempersatukan kalimat mereka pada petunjuk dan menyelamatkan mereka dari faktor-faktor perpecahan dan perselisihan, serta semoga Allah memenangkan kebenaran melalui mereka dan mengalahkan kebatilan. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas itu. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta mereka yang menigkuti petunjuknya hingga hari berbangkit.
Rujukan:
Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz (7/311-314). Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
untuk saat ke depan mari kita ber hati-hati dengan penyusup-penyusup yang mengatasnamakan dirinya sebagai umat islam, dan hendak mencerai beraikan barisan dakwah umat islam dari dalam, padahal Syaikh bin Baz, ustazd kita yang sholih telah menasehati kita dengan sangat baik dan ikhlas
Assalamu’alaikum
Sdrku Abu Zaid. Saya peserta ngaji di MTA. Saya tidak merasa bahwa apa yang diajarkan dlm lembaga tsb bertentangan dengan sunnah Khulafaur Rasyidin yang Terbimbing. Juga tidak bertentangan dengan Salafush Shalih yang dirahmati Allah.
Kami yakin bahwa para Khulafaur Rasyidin Yang Terbimbing dan para Salafush Shalih tidak akan keluar dari Manhaj yang berlawanan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
MTA bagi saya adalah suatu komunitas Muslim yang senantiasa belajar semaksimal mungkin untuk memahami Islam secara Kaffah dan semaksimalnya mengamalkannya.
Saya rasa demikian juga Abu Zaid adalah seorang muslim yang berupaya semaksimalnya untuk Kaffah. Kita bersaudara sahabatku Abu Zaid. Seorang yang mengaku Muslim yang Kaffah pasti tidak bertentangan dengan Khulafaur Rasyidin dan Salafush Shalih serta orang-orang beriman yang senantiasa menjaga, meningkatkan dan mengamalkan keimanannya tsb.
Bila sdrku Abu Zaid melihat bahwa MTA menyimpang dari kebenaran, sudah menjadi tugas seorang muslim yang baik untuk saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Demikian juga, kami sebagai seorang yang berupaya menuju Muslim Kaffah yang Baik pasti mengingatkan kepada Abu Zaid bila kami merasa ada yang keliru dalam langkah Abu Zaid.
Mari saya ajak kita saling tawaa saubil haq dan tawaa saubishshabr.
Alangkah indahnya bila sdrku Abu Zaid berkenan untuk bertatap muka langsung dengan pimpinan MTA. Saya ingat bagaimana kisah Salahuddin al-Ayyubi yang dengan gagah berani menjumpai Richard Si Hati Singa pemimpin Perang Salib, justru untuk mengobati musuhnya tersebut.
Saya tidak tahu apakah Salahuddin al-Ayyubi termasuk dari Salafush Shalih, dalam hal ini Abu Zaid barangkali lebih tahu.
Sdrku Abu Zaid, mari kita kedepankan prasangka baik terlebih dahulu. Betul bahwa Abu Zaid pernah belajar di MTA selama 2 tahun.
Mungkin apa yang ustadz-ustadz MTA ajarkan kepada Abu Zaid belum lengkap. Barangkali boleh saya umpamakan, bila kita masih tingkat SMP tidak mungkin diberi pelajaran tingkat SMA atau pelajaran di Universitas.
Sdrku Abu, saya melihat bahwa Abu Zaid seorang yang kritis, berusaha membangun Islam seutuhnya. Saat ini sdrku barangkali bila saya umpamakan siswa maka sudah di tingkat perguruan tinggi. Karena itu, apa yang Abu terima sewaktu masih SMA, tidak salah kiranya Abu bertanya langsung kepada Pimpinan MTA (Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina)agar memperoleh pemahaman sebagaimana layaknya seorang Mahasiswa.
Terlebih dahulu saya yang masih bodoh ini mohon beribu maaf kepada Abu. Mari kita berangkulan sebagai sesama muslim yang baik, sebagai seorang hamba Allah yang beusaha semkasimalnya memahami dan mengamalkan perintah dan larangan-Nya.
Maha Suci Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Wassalaamu’alaikum
saya setuju dengan pendapat pak karsulis yang menyebut ‘banyak penyusup’ yang mengatas namakan islam, termasuk abuzaid ini. dia tidak faham MTA tapi sudah menilai MTA, MTA bukan menafsirkan Al Qur’an tetapi mempelajari Tafsir Al Qur’an untuk di amalkan!! Sekarang banyak ‘orang yahudi’ yang sukanya memperolok-olok saudaranya, sehingga bagi saudara yang mengikuti kajian MTA di manapun berada, lebih baik apa yang sekarang kita fahami kita amalkan, perkaya abuzaid mau berkomentar apapun, biarkan dia menggonggong!!! kan sama saja! Saya SIMPATISAN MTA, tapi saya selalu berfikir positif terhadap MTA yang berani menyatakan apa adanya tentang islam, dan berani mengamalkan di dalam hidupnya, dan keyakinan saya membenakan bahwa ABUZAID hanya pengecut!!
Sudah Faham Belum Sdr Aboe Zaid ????
Sudah Faham Belum Sdr Aboe Zaid ????
Sudah Faham Belum Sdr Aboe Zaid ????
Pertanyaan:
Berikut nasihat panjang Syaikh bin Baz terhadap para dai yang sedang berselisih.
Jawaban:
Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, nabi yang terpercaya, juga kepada keluarga, para sahabat dan mereka yang mengikuti sunnahnya hingga hari berbangkit.
Amma ba’d,
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan untuk berbuat adil dan kebajikan serta melarang berbuat zhalim, melampaui batas dan bermusuhan. Allah telah mengutus nabiNya sebagai-mana pula para rasul lainnya untuk menyerukan dakwah tauhid dan ikhlas beribadah hanya untuk Allah semata. Allah memerin-tahkannya untuk menegakkan keadilan, dan Allah pun melarang kebalikannya, yaitu yang berupa penghambaan kepada selain Allah, berpecah belah, berbuat sewenang-wenang terhadap hak-hak para hamba.
Telah tersebar berita akhir-akhir ini, bahwa banyak di antara para ahli ilmu dan para praktisi dakwah yang melakukan cercaan terhadap saudara-saudara mereka sendiri, para dai terkemuka, mereka berbicara tentang kepribadian para ahli ilmu, para dai dan para guru besar. Mereka lakukan itu dengan sembunyi-sembu-nyi di majlis-majlis mereka. Adakalanya itu direkam lalu disebarkan ke masyarakat. Ada juga yang melakukan dengan terang-terangan pada saat kajian-kajian umum di masjid.
Cara ini bertolak belakang dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dilihat dari beberapa segi, di antaranya:
Pertama, ini merupakan pelanggaran terhadap hak prifasi sesama muslim, bahkan ini terhadap golongan khusus, yaitu para penuntut ilmu dan para dai yang telah mengerahkan daya upaya mereka untuk membimbing dan membina masyarakat, melurus-kan aqidah dan manhaj mereka, bersungguh-sungguh dalam mengisi berbagai kajian dan ceramah, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.
Kedua, bahwa ini bisa memecah belah kaum muslimin dan memporakporandakan barisan mereka, padahal mereka sangat membutuhkan kesatuan dan harus dijauhkan dari perpecahan dan saling menggunjing antar mereka. Lebih-lebih bahwa para dai dimaksud termasuk golongan ahlus sunnah wal jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah dan khurafat serta menghadapi lang-sung para penyerunya, membongkar trik-trik dan reka perdaya-nya. Karena itu, perbuatan ini tidak ada maslahatnya kecuali bagi para musuh yang senantiasa mengintai, yaitu kaum kuffar dan para munafiq atau para ahli bid’ah dan kesesatan.
Ketiga, Bahwa perbuatan ini mengandung propaganda dan dukungan terhadap tujuan-tujuan yang diusung oleh para sekuler, para westernis dan para penentang lainnya yang dikenal agresif menjatuhkan kredibilitas para dai, mendustakan mereka dan mengekspos kebalikan dari apa-apa yang mereka tulis dan mereka rekam. Sikap yang dilakukan oleh mereka yang tergesa-gesa melaku-kan ini, yang ternyata malah membantu musuh untuk menyerang saudara-saudaranya sendiri, yaitu para thalib ‘ilm dan para dai, adalah perbuatan yang tidak termasuk hak persaudaraan Islam.
Keempat, Bahwa perbuatan ini bisa merusak hati masyarakat awam dan golongan khusus, bisa menyebarkan dan menyuburkan kebohongan dan isu-isu sesat, bisa menjadi penyebab banyaknya menggunjing dan menghasud serta membukakan pintu-pintu ke-burukan bagi jiwa-jiwa yang cenderung menebar keraguan dan bencana serta berambisi mencelakakan kaum mukminin secara tidak langsung.
Kelima, Bahwa banyak pernyataan dalam hal ini yang ter-nyata tidak ada hakikatnya, tapi hanya merupakan asumsi-asumsi yang dibisikkan setan kepada para pengungkapnya. Sementara itu Allah q telah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari pra-sangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12)
Seorang mukmin hendaknya bisa menyikapi perkataan saudaranya sesama muslim dengan sikap yang lebih baik. Seorang alim dahulu mengatakan, “Jangan kau berburuk sangka dengan kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu walaupun engkau tidak me-nemukan yang baiknya.”
Keenam, hasil ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dalam perkara-perkara yang menuntut ijtihad, maka pencetusnya tidak dihukum dengan pendapatnya jika ia memang berkompeten untuk berijtihad. Jika ternyata itu bertentangan dengan yang lain-nya, maka seharusnya dibantah dengan cara yang lebih baik, demi mencapai kebenaran dengan cara yang paling cepat dan demi menjaga diri dari godaan setan dan reka perdayanya dihembus-kan di antara sesama mukmin. Jika itu tidak bisa dilakukan, lalu seseorang merasa perlu untuk menjelaskan perbedaan tersebut, maka hendaknya disampaikan dengan ungkapan yang paling baik dan isyarat yang sangat halus. Tidak perlu menghujat atau menje-lek-jelekkan, karena hal ini bisa menyebabkan ditolak atau dihin-darinya kebenaran. Di samping itu, tidak perlu menghujat pribadi-pribadi tertentu atau melontarkan tuduhan-tuduhan dengan maksud-maksud tertentu, atau dengan menambah-nambah perka-taan yang tidak terkait.
Rasulullah telah memberikan contoh dalam menghadapi kondisi semacam ini dengan ungkapan,
“Kenapa ada orang-orang yang mengatakan demikian dan demi-kian.” (HR. Muslim dalam an-Nikah (1401))
Saya sarankan kepada saudara-saudara yang telah menge-cam para dai, hendaknya bertaubat kepada Allah q dari per-buatan yang telah mereka lakukan, atau meralat dengan lisan mereka seputar masalah yang bisa menyebabkan rusaknya hati sebagian pemuda dan bisa menimbulkan kedengkian serta mema-lingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan aktifitas dakwah, karena santernya isu-isu tentang si fulan dan si fulan, lalu mencari hal-hal yang dianggapnya sebagai kesalahan orang lain kemudian mempublikasikannya.
Saya sarankan juga agar mereka meralat apa yang telah me-reka lakukan, baik melalui tulisan ataupun lainnya yang dapat membebaskan diri mereka dari perbuatan semacam ini dan meng-hilangkan kesan yang terekam di benak orang-orang yang telah mendengar ucapan mereka, dan hendaknya pula mereka mengi-ringi dengan amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan berguna bagi manusia, serta senantiasa waspada agar tidak terburu-buru melontarkan tuduhan kafir, fasik atau pelaku bid’ah terhadap orang lain tanpa bukti, karena nabi telah mengingatkan,
“Orang mana pun yang mengatakan, ‘wahai kafir’ kepada sauda-ranya, maka pernyataan ini berlaku pada salah seorang dari keduanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab (6104), Muslim dalam Al-Iman (60))
Di antara yang disyari’atkan bagi para penyeru kebenaran dan para penuntut ilmu, apabila menghadapi suatu perkara karena ucapan para ahli ilmu atau lainnya, hendaknya mereka berkonsul-tasi kepada para ulama yang mu’tabar (yang diakui kredibilitas dan kapabilitasnya) dan menanyakan kepada mereka tentang per-kara tersebut sehingga para ulama itu bisa menjelaskan perkaranya dan memposisikan mereka pada hakikatnya serta menghilangkan keraguan mereka. Tindakan ini sebagai pelaksanaan firman Allah yang disebutkan dalam surat An-Nisa’,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kea-manan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran-nya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’: 83)
Hanya Allah-lah tempat meminta, semoga Allah memper-baiki kondisi semua kaum muslimin, mempersatukan hati dan amal mereka dalam ketakwaan, mempersatukan semua ulama kaum muslimin dan semua penyeru kebenaran dengan segala sesuatu yang dapat melahirkan keridhaanNya dan bermanfaat bagi para hambaNya, mempersatukan kalimat mereka pada petunjuk dan menyelamatkan mereka dari faktor-faktor perpecahan dan perselisihan, serta semoga Allah memenangkan kebenaran melalui mereka dan mengalahkan kebatilan. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas itu. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta mereka yang menigkuti petunjuknya hingga hari berbangkit.
Rujukan:
Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz (7/311-314). Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
++++++———-
Abu zaed kayak pasukan setan sj, coba perhatikan kt2 nya “Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah tidak ada lagi kajian oleh guru ana tersebut di SMA 1 Gemolong walaupun kajian tersebut telah lama berlangsung dan termasuk kajian pertama di SMA ana, ..
dia senang atas kajian yg berhenti. bukankah ini pasukan setan namanya
Wahai Aboe Zaid,
1. Sejarah anda menampilkan “Hakikat Organisasi MTA”, di WEB terbuka, apakah benar-benar anda niatkan dengan ikhlash untuk mencari ridho Allah dan penuh perasaan kasih sayang kepada makhluq-makhluq Allah, kasih sayang kepada saudara-saudara sesama muslim dimana kamu pernah mengaji didalamnya ???, bila niat ini yang anda miliki, semoga anda segera bersilaturahmi kepada pimpinan kami di MTA pusat dan nasehatilah pimpinan kami sebelum anda menyiarkan lebih jauh kepada umum tentang sesuatu yang kamu anggap salah pada lembaga MTA.
insyaLLah mas…hadakallahu
3. Bila niat anda sudah berbeda, anda menganggap pengajian kami adalah Hizbiyun, dan teman-temanmu yang di MTA kamu ajak semua keluar dari MTA dan masuk ke salafi, dengan cara seperti diatas, maka kata-katamu di web banyak yang palsu!!!, kamu hanya memoderasi setiap masukan yang akan menguntungkan kamu saja dan kamu akan mendiamkan setiap masukan yang kamu anggap tidak menguntunkan bagi kamu dan kelompokmu
ya… semoga amal baik mereka yang pernah mengajarkan saya di terima oleh Allah…dan semoga mereka segera ruju’ kepada Al-Haq jika emang manhaj kalian ada yang salah…
5. Sekali lagi masalah yang anda kemukakan adalah masih dalam beda pendapat, dan itu bisa anda diskusikan dengan pimpinan kami di MTA tentang pendapat beliau, kenapa beliau mengambil pendapat yang demikian, Dan ketika anda mendapatkan ilmu dari Ustadz lain, anda menganggap apa yang anda terima dari penyampaian di MTA adalah salah, dan kemudian anda blowup di website, padahal anda belum ketemu langsung dan berdiskusi langsung dengan pimpinan kami, bagaimana pendapat-pendapat yang beliau miliki seperti itu, dan anda kemudian tanpa izin kepada orang-orang yang layak anda mintai izin kemudian anda muat di website dengan penuh rasa bangga, bisa menjadikan orang-orang awam tau siapa itu MTA menurut penilaian kamu, tapi sekali lagi itu menurut pendapatmu, karena kamu belum pernah berbincang-bincang langsung dengan pimpinan MTA terhadap masalah yang kamu tulis di Website.
mas…beda pendapat itu kalo berkaitan dengan masalah aqidah ga ada tolerir lagi…beda dengan fiqih… bagaimana pendapat antum jika perbedaan pendapat oleh orang2 yang bertawasul dengan orang mati,,, tahlilan,,, quburiyyah..orang yang menta’wil, tamtsil asma’ wa shifat Allah? ato berbagai penyimpangan aqidah dan manhaj yang lain??? apa kita harus toleran??
7. Hati-hati sekali lagi ingat akan orang-orang sholih yang dulu pernah kamu mengambil ilmu padanya dan sekarang kamu dholimi, semoga kamu segera bertaubat. Itu nasehat Ustadz Bin Baz dibaca berulang-ulang, bertaubatlah, istighfarlah, datangilah mereka semua dan minta maaflah pada mereka semua, dan datangi kami dan diskusikan dengan pimpinan MTA, apa-apa yang kamu anggap salah itu, nasehatilah dia, dan jangan teruskan kebanggaan kamu telah mampu menulis tentang MTA menurut versi kamu di Website, kalau cara-cara itu tetap kamu teruskan, ingat jangan-jangan hidupmu tidak ada berkah, sayangilah dirimu wahai Aboe Zaid.
semoga Allah mengampuni dosa kita semua..amin… ana ga ingin berpanjang lebar debat sama antum… mas..ana pengen tahu pendapat atau jawaban antum tentang apa yang ana sebutkan dalam tulisan ana… tentang berbagai kekeliruan MTA…baiklah ana cabut tudahn ana Bahwa MTA ingkarus sunnah (moga MTA benar2 mengikuti Kitab dan Sunnah tanpa ta’wil sedikitpun dan mengikuti Hawa’)…semoga apa yang kalian yakini hanya karena kejahilan belaka…banyaklah belajar di atas yang haq (nasihat buat ana dan kalian)…
Wahai saudaraku semua….perdebatan ini hanya akan menyakitkan satu dan yang lain. Tiada kata selain harus BERHENTI. Perdebatan ini hanya akan menghabiskan energi kita. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus kita kerjakan. Banyak saudara-saudara kita yang belum bisa wudhu…belum sholat…belum menunaikan zakat….Saya tidak membela satu atau yang lain…cuma saya sangat sedih….dengan kondisi Islam yang seperti ini…Semoga Allah memberikan jalan yang lurus…
Beberapa Komentar Aboe Zaid
1. jangan terlalu fanatik mas sama organisasi antummm…ntar jadi Hizby lho/…. membela organisasinya….
2. wah…fanatik tulen nih orng…
Saya tidak tahu lagi Do’a apa yang pernah didoakan orang untuk sauadara Aboe Zaid di saat lalu, jangan-jangan dulu pernah juga menyakiti orang-orang sholih, sehingga sampai hari inipun tetap tidak faham dengan segala nasehat, dan tetap saja sangat merasa dirinya yang paling benar sendiri dan yang lain adalah salah, jangan-jangan keberkahan telah Allah cabut dari dia
Kalau salafi dipenuhi oleh orang-orang semacam Aboe Zaid, maka masa depan salafi akan berantakan dan tidak akan berkah, kurang tawadhu’, kurang bil hikmah, asal menjawab, tidak mau silaturahmi tapi sudah menghukumi,
tidak punya rasa bela sesama muslim,
Apa demikian tho sifat-sifat orang yang baru saja mengaji dan bisa membuat tulisan di WEB ???
Berarti memang sudah benar-benar berani menanggung dosa, ketika berita tidak benar tersiar ke jutaan manusia, tanpa tabayun, dan kesalahan ada, dengan cara apa dia akan minta maaf kepada jutaan manusia yang telah ia sebari kedholiman ???
Semoga Allah memberi pelajaran kepada orang yang satu ini agar suat saat bisa tawadhu’ dan bisa lebih sopan
dalam berpenampilan
Salafy adalah faham yang mengajak kepada kebenaran, dan MTA seperti halnya ormas-ormas yang berdasar kepada Al Qur’an dan As-Sunah lainnya juga mengajak kepada kebenaran. Kalaupun ada secuil perbedaan pemahaman adalah hal yang wajar dan manusiawi. Tidak perlu kita pertentangkan secara berhadap-hadapan apalagi dengan semangat perpecahan. Dalam satu faham salafy-pun tidak mustahil kiranya terdapat perbedaan cara memandang sesuatu, demikian juga dalam MTA. Janganlah perbedaan yang sedikit itu menjadi pemecah ukhuwah. Ingat, musuh kita bersama masih banyak; TBC (tachayul, Bid’ah, Churafat)dan faham liberalisme dan sekularime yang semakin menggerogoti aqidah umat.
Marilah kita bersatu.
Nurisk-warga Muhammadiyah
assalamualaikum.
akhi, ente sesungguhnya belajar islam atau salafy dimana?
apa sudah sampai pada pelajaran ‘ukhuwah islamiyah’?
kalau saja masa khalifah dulu, orang semacam anda pasti sudah dipancung. dan saya siap memancung anda..!!!
Wahai Saudaraku, Ingatlah bahwa hanya Allah yang Maha Benar.
1. Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau
mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).
2. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
“Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
3. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”.(Al-Hujurat: 12).
4. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena
hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.
5. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).
bismillah.
penyakit salafy dari dulu adalah selalu mencari kesesatan orang atau kelompok lain sedangkan kesalahannya sendiri lupa. ibarat gajah dan kuman. tambahan mas, siapa bilang membuat singkatan wr. wb. atau saw itu haram atau ga boleh. ente jangan buat bid’ah baru lho. pernah baca kitab2 hadits kan? disitu kan para muhadits kita itu kalo nulis shallallhu ‘alaihi wa sallam dalam kalimat arab cuman dengan kata shod dan mim. so? jangan sok tahu deh? ini adalah satu bentuk mencari kesalahn tadi.. trus… apakah ente mau nyalahkan para muhad