Sedikit koreksi dari penjelasan ana tentang MTA
assalaamu’alaikum warohmatullah wabarokaatuh
segala puji hanyalah bagi Allah Rabb semesta alam. shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah dan keluarganya, juga umat Islam yang setia mengikuti manhajnya dengan baik…amin…
di sini ana akan sedikit menanggapi tentang posting-an ana beberapa waktu lalu tentang MTA, juga beberapa komentar yang masuk terutama dari Akhuna Bapak karsulis…ana bukannya bermaksud untuk membuka aib seseorang memalui risalah ini…tetapi bermaksud untuk sedikit menjelaskan tentang beberapa kesalahan (jika tidak ingin di sebut penyimpangan) dalam beberapa hal yang sampai saat ini ana ketahui (juga dari pernyataan mereka saudara-saudara di MTA) …
dan Sampai MASIH MENUNGGU JAWABAN resmi mereka dari Pihak MTA yang ana tulis lewat email tentang beberapa hal yang ana tanggapi juga beberapa pertanyaan dari ana (karena ana sendiri dulu juga ikut kajiannya MTA dan walhamdulillah ana keluar) tentang beberapa hal terutama:
1. masalah hakikat keberadaan JIN, SIHIR, Santet, Kesurupan, dan yang semisalnya…
Dan alhamdulillah ada salah satu komentar yang masuk (yang dia juga simpatisan MTA mengutarakan hal yang sama dengan apa yang ana sampaikan tentang masalah ini) dan berarti apa ynag ana sampaikan insya Allah tidak salah tentang kepercayaan dari orang-orang MTA)
2. masalah BAI’AT yang ada di MTA. sebab ketika dulu ana ngaji di MTA, salah seorang ustadz mereka menjelaskan kepada ana dan ikhwah-ikhwah MTA yang lain, bahwa kesempurnaan keislaman seseorang diukur apabila mereka telah berbai’at kepada Amir Jama’ah, dan dalam hal ini membai’at Amir ormas MTA. mereka membawakan sebuah hadits yang shahih, bahwa matinya seorang Muslim tanpa ada bai’at dilehernya maka ia mati bagaikan bangkai jahiliyyah… kemudian ustadz tersebut mengatakan kepada beberapa ikhwan MTA yang satu majelis dengan ana ketika itu, bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam kelompok KHUSUSI (mereka ini yang diba’iat secara langsung oleh amir MTA). ana waktu itu belum dimasukkan ke dalam klompok Khususi…
dan sampai saat ini ana menanyakan kepada mereka orang MTA tentang permasalahan tersebut… tetapi BELUM MENDAPAT JAWABAN DARI PIHAK PENGURUS PUSAT MTA…Ana Tunggu jawabannya dengan penuh kejujuran!!!
Juga tentang kode/ sandi ato apalah pada orang-orang MTA yaitu kode “2 3 4″… bagi antum yang berada di SOLO dan sekitarnya akan sering melihat kode “2 3 4″ tersebut di setiap Toko/ rumah/ tempat Usaha orang MTA…
Ana sejak masih dulu ketika masih ngaji di MTA, sampai sekarang ketika sudah keluar, tidak ada seorang pun dari Pihak MTA yang mau menjelaskan tentang kode tersebut.. baik oleh Asatidzahnya atau apalagi awam mereka (mungkin karena ana belum masuk ke dalam kelompok KHUSUSI)… masih ana tunggu jawaban mereka… atau karena mereka menutup-nutupi masalah ini, karena tidak mungkin kode tersebut tidak memiliki makna!!
Dan Alhamdulillah Allah memberikan hidayah kepada ana untuk keluar dari MTA karena masalah BAI’AT tersebut… (kebetulan beberapa bulan sebelum Ustadz MTA tersebut menjelaskan tentang Bai’at, ana sempat ikut kajiannya Ust. Yazid Jawas di Ma’had Imam Bukhori yang membahas tentang JALAN KELUAR DARI FITNAH AKHIR ZAMAN - salah satunya membahas masalah bai’at-, kebetulan rumah ana tidak bgitu jauh dari Ma’had Imam Bukhori solo, , dan inilah kajian pertama ana bersama Ustadz Ahlus Sunnah, dan sejak saat ini ana kembali ruju’ ke Manhaj Salaf yang Haq-insya Allah- setelah sebelum di MTA ana ikut kajian kepada Asatidzah Mantan Lakar Jihad kemudian ana futur karena sikap keras dan ghuluw mereka waktu dipimpin Ust. Ja’far Thalib juga Ngaji ke Takfiri (MMI Solo)…maklumlah ana dari Poso dan ana emang punya kenangan baik bersama mereka (LJ) walaupun ana akhirnya mengetahui hakikat sebenarnya dari dakwah mereka waktu itu -semoga Allah mengampuni kesalahan mereka-)
Ana masih menunggu jawaban MTA tentang masalah bai’at.
3. tentang masalah Anjing… semoga apa yang dikatakan Ustadz DR. Abdurahman bahwa Ust. Sukino dan MTA melarang warga MTA makan anjing adalah benar dan Anjing adalah Haram. Ana pun masih menunggu jawaban mereka melaui email yang ana kirimkan ke email MTA (termasuk permasalahan pada poin 1 dan 2)
sebab ketika ana masih ngaji di MTA, salah seorang ustadz mereka mengatakan bahwa Anjing itu halal, sebab tidak ada dalil pengharamannya dalam Al-Qur’an, karena yang dijelaskan dalam alqur’an tentang makanan yang haram, tidak ada kalimat anjing itu haram… maka dengan penolakan ini saja cukuplah dikatakan bahwa MTA inkar sunnah- walau sebagian- termasuk masalah pada poin satu di atas…
dan jika mereka telah ruju’ ilal haq maka, insya Allah ana pun ruju’ dan tidak akan mengatakan MTA inkarus Sunnah (dan sebenarnya bukan ana saja yang mengatakan MTA inkarus Sunnah, tetapi banyak asatidzah Salafiyyin terutama di SOLO yang ana dengar penjelasan mereka sendiri tentang masalah MTA)
4. kemudian masalah Ta’ashshub dan Ashobiyyah yang sangat besar dari warga MTA kepada organisasinya MTA… yang dengannya (ormas ini) mereka adakan wala’ dan baro’…
dan masih banyak hal lain…
sampai saat ini ANA MASIH MENUNGGU JAWABAN MEREKA terhadap pertanyaan-pertanyaan ana dan sampai postingan ini ana turunkan… belum ada jawaban dari mereka…
Dan ana pun insya Allah siap jika harus bertemu/ datang lagi ke majelis MTA untuk klarifikasi maupun menjelaskan permasalahan yang ada..semoga Allah memudahkan…
karena sampai saat ini pun ana masih berhubungan baik dengan person-person warga MTA, bahkan kepada asatidzah mereka, karena walau bagaimanapun mereka saudara seiman ana, juga karena mereka menolak Bid’ah-bid’ah yang umumnya dilakukan kaum muslimin maupun beberapa kesyirikan yang terjadi (Afwan bukan berarti ana bermanhaj muwazanah)… sayang MTA tidak mempunyai manhaj dalam mengambil ilmu dan beberapa kesalahan manhaj dan aqidah pada bagian yang lain.. semoga Allah memberi hidayah kepada mereka…amin…
Dan ana pun meminta maaf kepada Bapak Abdurrahman Suparno karena mencantumkan nama beliau di postingan yang lalu…dan untuk saat ini ana hapus nama baliau dari postingan risalah yang lalu sambil menungu jawaban dari MTA tentang pertanyaan-pertanyaan ana kepada MTA..Ghofarollahu lii wa lakum…afwan jiddan..
semoga Allah selalu melimpahkan hidayah Sunnah-Nya kepada kita semuanya…amin









Lebih baik begitu, anda sebagai orang yang sangat kasihan ada orang yang menyimpang, padahal organisasi tersebut bergelut dibidang dakwah dan diikuti oleh banyak umat manusia, maka besarkanlah keberaniaan anda, seperti nasehat tulisan yang anda kupas, datanglah langsung dan nasehatilah langsung pimpinan majlis tafsir Al-Qur’an, Ajaklah team ilmu anda yang kuat, sholih, arif bijaksana, dan berwibawa, dan sampaikan sumber-sumber ilmu yang falid, bukan sekedar pendapat ulama yang terkandung beda pendapat dan beda penafsiran, sampaikan hadistnya dan ayatnya dengan penuh penjelasan, didasari rasa “Belas-Kasih” yang anda miliki, dan datanglah dengan penuh sopan santun, jangan datang penuh dengan merasa benar sendiri. segala pemahaman yang dimiliki harus disadarai itu adalah pemahaman yang sudah kita pahami, ulama lain kadang mengambil dari buku yang lain dan juga dengan pemahaman yang lain lagi, jangan memaksakan satu pemahaman harus menang dan menghapuskan pemahaman yang lain. Semoga Allah membimbing kita dalam jalan yang lurus
Saya Harap anda lebih hati-hati mengeluarkan perbedaan pendapat, yang anda pahami itu seolah-olah sebagai sesuatu yang final, orang yang beda pendapat dengan anda anda hukumi salah manhaj, bahkan anda katakan sebagai inkaru sunnah. padahal sunnah untuk bersilaturahmi dan menjelaskan empat mata juga belum anda lakukan apakah anda juga menyatakan diri bahwa anda juga ingkaru sunnah “saat ini”. Jangan banyak komentar dulu disini, lebih baik anda menggali ilmu lebih dalam dulu dan hayati sampai diri anda menjadi manusia yang arif bijaksana, jangan menyesal langkah-langkah anda yang salah selama ini akan anda petik sendiri disaat mendatang, semoga anda segera sadar diri siapa “hakekat” diri anda, memandang orang lain salah dan memandang diri sendiri adalah paling benar, adalah penyakit yang paling sulit pengobatannya, seperti ahli karate yang baru belajar, setiap orang diajak untuk bertanding, itulah juga penyakit jiwa manusia yang lain lagi
abuzaed berkata : sampai saat ini ANA MASIH MENUNGGU JAWABAN MEREKA terhadap pertanyaan-pertanyaan ana dan sampai postingan ini ana turunkan… belum ada jawaban dari mereka…
hai abuzaed setahu saya pimpinan mta sangat sibuk dengan urusan umatnya dalam rangka dakwahnya (dan tidak sibuk mengurusi kesalahan orang lain seperti yg abu lakukan sekarang). jadi jika abu bertanya lewat posting internet mungkin sampai abuzaed tewas tidak dapat jawaban, bahkan hanya membawa fitnah.
Semoga Umat Islam disatukan oleh Allah, dibimbing kepada petunjuk, dibimbing untuk selamat di dunia dan akherat, ya Allah ..memang kami hanya setitik air mani yang dhoif, ampunilah kami
……..Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
Ya Allah betapa Maha Luas Ilmu Mu, dan betapa sangat kecil diriku, sebanyak-banyak yang aku ketahui, masih banyak yang belum aku ketahui, semoga Engkau sadarkan diriku, siapa diriku yang sangat dhoif ini, dan ampunilah diriku Rahmatilah diriku dan Ampunilah akan segala kedhoifanku.
Eh jangan bertengkar disini saudara-saudaraku !!,
semoga semua anda bukan Hizbiyah,
dan semoga Allah beri kekuatan kepada saudara-saudara salafi menuntun kembali penguasa-penguasa timur tengah untuk bersatu kembali ke jalan Allah dan Rasulullah dan menjauhi bantuan orang-orang kafir yang terus menerus memecah belah,
dan semoga Allah jadikan MTA sebagai sarana menyadarkan umat islam di Indonesia untuk lebih bertaqwa kepada Allah dan berjalan di Islam yang benar,
sekali lagi nggak usah saling berdebat dan jangan saling menuduh HIZBIYAH,
hentikan itu Allah lebih tahu mana yang lebih benar jalannya diantara kamu,
semoga anda berdua semuanya diampuni oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surgaNya.
Eh Pasti besok kamu akan menyesal ketika kamu berdua ketemu di surga, kenapa kamu di dunia menuduh HIZBIYAH pada saudara-saudaramu,
He Abu Zaid, komentar saya untuk anda tidak anda jawab dan malah anda hapus , berarti hal ini menunjukkan anda mau menangnya sendiri, sekali lagi nasehat saya kepada anda “surutkan cara-cara anda yang seperti itu !!!”, kalau tidak !!!, anda saya laporkan langsung kepada Allah, atas keengganan anda untuk menasehati secara 4 M@TA dan TABAYUN, jangan kepandaian anda berdebat menjadi sarana untuk tidak adil dan ikhlas. Kalau Tulisan anda tentang MTA tidak anda hapus seperti anda menghapus komentar-komentar saya, saya berharap kepada Allah agar anda memikul dosa seluruh warga MTA karena anda tidak mau menasehati langsung pimpinan MTA yang anda anggap salah, semoga anda seorang salafi tulen dan bukan penyusup yang disusupkan oleh orang-orang kafir yang hendak merusak ketenangan barisan dakwah islam.
Saudara-saudaraku SALAFY hati-hati dengan penyusup
Pertanyaan:
Berikut nasihat panjang Syaikh bin Baz terhadap para dai yang sedang berselisih.
Jawaban:
Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, nabi yang terpercaya, juga kepada keluarga, para sahabat dan mereka yang mengikuti sunnahnya hingga hari berbangkit.
Amma ba’d,
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan untuk berbuat adil dan kebajikan serta melarang berbuat zhalim, melampaui batas dan bermusuhan. Allah telah mengutus nabiNya sebagai-mana pula para rasul lainnya untuk menyerukan dakwah tauhid dan ikhlas beribadah hanya untuk Allah semata. Allah memerin-tahkannya untuk menegakkan keadilan, dan Allah pun melarang kebalikannya, yaitu yang berupa penghambaan kepada selain Allah, berpecah belah, berbuat sewenang-wenang terhadap hak-hak para hamba.
Telah tersebar berita akhir-akhir ini, bahwa banyak di antara para ahli ilmu dan para praktisi dakwah yang melakukan cercaan terhadap saudara-saudara mereka sendiri, para dai terkemuka, mereka berbicara tentang kepribadian para ahli ilmu, para dai dan para guru besar. Mereka lakukan itu dengan sembunyi-sembu-nyi di majlis-majlis mereka. Adakalanya itu direkam lalu disebarkan ke masyarakat. Ada juga yang melakukan dengan terang-terangan pada saat kajian-kajian umum di masjid.
Cara ini bertolak belakang dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dilihat dari beberapa segi, di antaranya:
Pertama, ini merupakan pelanggaran terhadap hak prifasi sesama muslim, bahkan ini terhadap golongan khusus, yaitu para penuntut ilmu dan para dai yang telah mengerahkan daya upaya mereka untuk membimbing dan membina masyarakat, melurus-kan aqidah dan manhaj mereka, bersungguh-sungguh dalam mengisi berbagai kajian dan ceramah, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.
Kedua, bahwa ini bisa memecah belah kaum muslimin dan memporakporandakan barisan mereka, padahal mereka sangat membutuhkan kesatuan dan harus dijauhkan dari perpecahan dan saling menggunjing antar mereka. Lebih-lebih bahwa para dai dimaksud termasuk golongan ahlus sunnah wal jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah dan khurafat serta menghadapi lang-sung para penyerunya, membongkar trik-trik dan reka perdaya-nya. Karena itu, perbuatan ini tidak ada maslahatnya kecuali bagi para musuh yang senantiasa mengintai, yaitu kaum kuffar dan para munafiq atau para ahli bid’ah dan kesesatan.
Ketiga, Bahwa perbuatan ini mengandung propaganda dan dukungan terhadap tujuan-tujuan yang diusung oleh para sekuler, para westernis dan para penentang lainnya yang dikenal agresif menjatuhkan kredibilitas para dai, mendustakan mereka dan mengekspos kebalikan dari apa-apa yang mereka tulis dan mereka rekam. Sikap yang dilakukan oleh mereka yang tergesa-gesa melaku-kan ini, yang ternyata malah membantu musuh untuk menyerang saudara-saudaranya sendiri, yaitu para thalib ‘ilm dan para dai, adalah perbuatan yang tidak termasuk hak persaudaraan Islam.
Keempat, Bahwa perbuatan ini bisa merusak hati masyarakat awam dan golongan khusus, bisa menyebarkan dan menyuburkan kebohongan dan isu-isu sesat, bisa menjadi penyebab banyaknya menggunjing dan menghasud serta membukakan pintu-pintu ke-burukan bagi jiwa-jiwa yang cenderung menebar keraguan dan bencana serta berambisi mencelakakan kaum mukminin secara tidak langsung.
Kelima, Bahwa banyak pernyataan dalam hal ini yang ter-nyata tidak ada hakikatnya, tapi hanya merupakan asumsi-asumsi yang dibisikkan setan kepada para pengungkapnya. Sementara itu Allah q telah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari pra-sangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12)
Seorang mukmin hendaknya bisa menyikapi perkataan saudaranya sesama muslim dengan sikap yang lebih baik. Seorang alim dahulu mengatakan, “Jangan kau berburuk sangka dengan kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu walaupun engkau tidak me-nemukan yang baiknya.”
Keenam, hasil ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dalam perkara-perkara yang menuntut ijtihad, maka pencetusnya tidak dihukum dengan pendapatnya jika ia memang berkompeten untuk berijtihad. Jika ternyata itu bertentangan dengan yang lain-nya, maka seharusnya dibantah dengan cara yang lebih baik, demi mencapai kebenaran dengan cara yang paling cepat dan demi menjaga diri dari godaan setan dan reka perdayanya dihembus-kan di antara sesama mukmin. Jika itu tidak bisa dilakukan, lalu seseorang merasa perlu untuk menjelaskan perbedaan tersebut, maka hendaknya disampaikan dengan ungkapan yang paling baik dan isyarat yang sangat halus. Tidak perlu menghujat atau menje-lek-jelekkan, karena hal ini bisa menyebabkan ditolak atau dihin-darinya kebenaran. Di samping itu, tidak perlu menghujat pribadi-pribadi tertentu atau melontarkan tuduhan-tuduhan dengan maksud-maksud tertentu, atau dengan menambah-nambah perka-taan yang tidak terkait.
Rasulullah telah memberikan contoh dalam menghadapi kondisi semacam ini dengan ungkapan,
“Kenapa ada orang-orang yang mengatakan demikian dan demi-kian.” (HR. Muslim dalam an-Nikah (1401))
Saya sarankan kepada saudara-saudara yang telah menge-cam para dai, hendaknya bertaubat kepada Allah q dari per-buatan yang telah mereka lakukan, atau meralat dengan lisan mereka seputar masalah yang bisa menyebabkan rusaknya hati sebagian pemuda dan bisa menimbulkan kedengkian serta mema-lingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan aktifitas dakwah, karena santernya isu-isu tentang si fulan dan si fulan, lalu mencari hal-hal yang dianggapnya sebagai kesalahan orang lain kemudian mempublikasikannya.
Saya sarankan juga agar mereka meralat apa yang telah me-reka lakukan, baik melalui tulisan ataupun lainnya yang dapat membebaskan diri mereka dari perbuatan semacam ini dan meng-hilangkan kesan yang terekam di benak orang-orang yang telah mendengar ucapan mereka, dan hendaknya pula mereka mengi-ringi dengan amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan berguna bagi manusia, serta senantiasa waspada agar tidak terburu-buru melontarkan tuduhan kafir, fasik atau pelaku bid’ah terhadap orang lain tanpa bukti, karena nabi telah mengingatkan,
“Orang mana pun yang mengatakan, ‘wahai kafir’ kepada sauda-ranya, maka pernyataan ini berlaku pada salah seorang dari keduanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab (6104), Muslim dalam Al-Iman (60))
Di antara yang disyari’atkan bagi para penyeru kebenaran dan para penuntut ilmu, apabila menghadapi suatu perkara karena ucapan para ahli ilmu atau lainnya, hendaknya mereka berkonsul-tasi kepada para ulama yang mu’tabar (yang diakui kredibilitas dan kapabilitasnya) dan menanyakan kepada mereka tentang per-kara tersebut sehingga para ulama itu bisa menjelaskan perkaranya dan memposisikan mereka pada hakikatnya serta menghilangkan keraguan mereka. Tindakan ini sebagai pelaksanaan firman Allah yang disebutkan dalam surat An-Nisa’,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kea-manan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran-nya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’: 83)
Hanya Allah-lah tempat meminta, semoga Allah memper-baiki kondisi semua kaum muslimin, mempersatukan hati dan amal mereka dalam ketakwaan, mempersatukan semua ulama kaum muslimin dan semua penyeru kebenaran dengan segala sesuatu yang dapat melahirkan keridhaanNya dan bermanfaat bagi para hambaNya, mempersatukan kalimat mereka pada petunjuk dan menyelamatkan mereka dari faktor-faktor perpecahan dan perselisihan, serta semoga Allah memenangkan kebenaran melalui mereka dan mengalahkan kebatilan. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas itu. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta mereka yang menigkuti petunjuknya hingga hari berbangkit.
Rujukan:
Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz (7/311-314). Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
=====
Pertanyaan:
Berikut nasihat panjang Syaikh bin Baz terhadap para dai yang sedang berselisih.
Jawaban:
Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, nabi yang terpercaya, juga kepada keluarga, para sahabat dan mereka yang mengikuti sunnahnya hingga hari berbangkit.
Amma ba’d,
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan untuk berbuat adil dan kebajikan serta melarang berbuat zhalim, melampaui batas dan bermusuhan. Allah telah mengutus nabiNya sebagai-mana pula para rasul lainnya untuk menyerukan dakwah tauhid dan ikhlas beribadah hanya untuk Allah semata. Allah memerin-tahkannya untuk menegakkan keadilan, dan Allah pun melarang kebalikannya, yaitu yang berupa penghambaan kepada selain Allah, berpecah belah, berbuat sewenang-wenang terhadap hak-hak para hamba.
Telah tersebar berita akhir-akhir ini, bahwa banyak di antara para ahli ilmu dan para praktisi dakwah yang melakukan cercaan terhadap saudara-saudara mereka sendiri, para dai terkemuka, mereka berbicara tentang kepribadian para ahli ilmu, para dai dan para guru besar. Mereka lakukan itu dengan sembunyi-sembu-nyi di majlis-majlis mereka. Adakalanya itu direkam lalu disebarkan ke masyarakat. Ada juga yang melakukan dengan terang-terangan pada saat kajian-kajian umum di masjid.
Cara ini bertolak belakang dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dilihat dari beberapa segi, di antaranya:
Pertama, ini merupakan pelanggaran terhadap hak prifasi sesama muslim, bahkan ini terhadap golongan khusus, yaitu para penuntut ilmu dan para dai yang telah mengerahkan daya upaya mereka untuk membimbing dan membina masyarakat, melurus-kan aqidah dan manhaj mereka, bersungguh-sungguh dalam mengisi berbagai kajian dan ceramah, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.
Kedua, bahwa ini bisa memecah belah kaum muslimin dan memporakporandakan barisan mereka, padahal mereka sangat membutuhkan kesatuan dan harus dijauhkan dari perpecahan dan saling menggunjing antar mereka. Lebih-lebih bahwa para dai dimaksud termasuk golongan ahlus sunnah wal jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah dan khurafat serta menghadapi lang-sung para penyerunya, membongkar trik-trik dan reka perdaya-nya. Karena itu, perbuatan ini tidak ada maslahatnya kecuali bagi para musuh yang senantiasa mengintai, yaitu kaum kuffar dan para munafiq atau para ahli bid’ah dan kesesatan.
Ketiga, Bahwa perbuatan ini mengandung propaganda dan dukungan terhadap tujuan-tujuan yang diusung oleh para sekuler, para westernis dan para penentang lainnya yang dikenal agresif menjatuhkan kredibilitas para dai, mendustakan mereka dan mengekspos kebalikan dari apa-apa yang mereka tulis dan mereka rekam. Sikap yang dilakukan oleh mereka yang tergesa-gesa melaku-kan ini, yang ternyata malah membantu musuh untuk menyerang saudara-saudaranya sendiri, yaitu para thalib ‘ilm dan para dai, adalah perbuatan yang tidak termasuk hak persaudaraan Islam.
Keempat, Bahwa perbuatan ini bisa merusak hati masyarakat awam dan golongan khusus, bisa menyebarkan dan menyuburkan kebohongan dan isu-isu sesat, bisa menjadi penyebab banyaknya menggunjing dan menghasud serta membukakan pintu-pintu ke-burukan bagi jiwa-jiwa yang cenderung menebar keraguan dan bencana serta berambisi mencelakakan kaum mukminin secara tidak langsung.
Kelima, Bahwa banyak pernyataan dalam hal ini yang ter-nyata tidak ada hakikatnya, tapi hanya merupakan asumsi-asumsi yang dibisikkan setan kepada para pengungkapnya. Sementara itu Allah q telah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari pra-sangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12)
Seorang mukmin hendaknya bisa menyikapi perkataan saudaranya sesama muslim dengan sikap yang lebih baik. Seorang alim dahulu mengatakan, “Jangan kau berburuk sangka dengan kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu walaupun engkau tidak me-nemukan yang baiknya.”
Keenam, hasil ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dalam perkara-perkara yang menuntut ijtihad, maka pencetusnya tidak dihukum dengan pendapatnya jika ia memang berkompeten untuk berijtihad. Jika ternyata itu bertentangan dengan yang lain-nya, maka seharusnya dibantah dengan cara yang lebih baik, demi mencapai kebenaran dengan cara yang paling cepat dan demi menjaga diri dari godaan setan dan reka perdayanya dihembus-kan di antara sesama mukmin. Jika itu tidak bisa dilakukan, lalu seseorang merasa perlu untuk menjelaskan perbedaan tersebut, maka hendaknya disampaikan dengan ungkapan yang paling baik dan isyarat yang sangat halus. Tidak perlu menghujat atau menje-lek-jelekkan, karena hal ini bisa menyebabkan ditolak atau dihin-darinya kebenaran. Di samping itu, tidak perlu menghujat pribadi-pribadi tertentu atau melontarkan tuduhan-tuduhan dengan maksud-maksud tertentu, atau dengan menambah-nambah perka-taan yang tidak terkait.
Rasulullah telah memberikan contoh dalam menghadapi kondisi semacam ini dengan ungkapan,
“Kenapa ada orang-orang yang mengatakan demikian dan demi-kian.” (HR. Muslim dalam an-Nikah (1401))
Saya sarankan kepada saudara-saudara yang telah menge-cam para dai, hendaknya bertaubat kepada Allah q dari per-buatan yang telah mereka lakukan, atau meralat dengan lisan mereka seputar masalah yang bisa menyebabkan rusaknya hati sebagian pemuda dan bisa menimbulkan kedengkian serta mema-lingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan aktifitas dakwah, karena santernya isu-isu tentang si fulan dan si fulan, lalu mencari hal-hal yang dianggapnya sebagai kesalahan orang lain kemudian mempublikasikannya.
Saya sarankan juga agar mereka meralat apa yang telah me-reka lakukan, baik melalui tulisan ataupun lainnya yang dapat membebaskan diri mereka dari perbuatan semacam ini dan meng-hilangkan kesan yang terekam di benak orang-orang yang telah mendengar ucapan mereka, dan hendaknya pula mereka mengi-ringi dengan amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan berguna bagi manusia, serta senantiasa waspada agar tidak terburu-buru melontarkan tuduhan kafir, fasik atau pelaku bid’ah terhadap orang lain tanpa bukti, karena nabi telah mengingatkan,
“Orang mana pun yang mengatakan, ‘wahai kafir’ kepada sauda-ranya, maka pernyataan ini berlaku pada salah seorang dari keduanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab (6104), Muslim dalam Al-Iman (60))
Di antara yang disyari’atkan bagi para penyeru kebenaran dan para penuntut ilmu, apabila menghadapi suatu perkara karena ucapan para ahli ilmu atau lainnya, hendaknya mereka berkonsul-tasi kepada para ulama yang mu’tabar (yang diakui kredibilitas dan kapabilitasnya) dan menanyakan kepada mereka tentang per-kara tersebut sehingga para ulama itu bisa menjelaskan perkaranya dan memposisikan mereka pada hakikatnya serta menghilangkan keraguan mereka. Tindakan ini sebagai pelaksanaan firman Allah yang disebutkan dalam surat An-Nisa’,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kea-manan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran-nya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’: 83)
Hanya Allah-lah tempat meminta, semoga Allah memper-baiki kondisi semua kaum muslimin, mempersatukan hati dan amal mereka dalam ketakwaan, mempersatukan semua ulama kaum muslimin dan semua penyeru kebenaran dengan segala sesuatu yang dapat melahirkan keridhaanNya dan bermanfaat bagi para hambaNya, mempersatukan kalimat mereka pada petunjuk dan menyelamatkan mereka dari faktor-faktor perpecahan dan perselisihan, serta semoga Allah memenangkan kebenaran melalui mereka dan mengalahkan kebatilan. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas itu. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta mereka yang menigkuti petunjuknya hingga hari berbangkit.
Rujukan:
Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz (7/311-314). Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
@@@@@
Potongan Nasehat Ustadz Bin Baz
Pertama, ini merupakan pelanggaran terhadap hak prifasi sesama muslim, bahkan ini terhadap golongan khusus, yaitu para penuntut ilmu dan para dai yang telah mengerahkan daya upaya mereka untuk membimbing dan membina masyarakat, melurus-kan aqidah dan manhaj mereka, bersungguh-sungguh dalam mengisi berbagai kajian dan ceramah, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.
Kedua, bahwa ini bisa memecah belah kaum muslimin dan memporakporandakan barisan mereka, padahal mereka sangat membutuhkan kesatuan dan harus dijauhkan dari perpecahan dan saling menggunjing antar mereka. Lebih-lebih bahwa para dai dimaksud termasuk golongan ahlus sunnah wal jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah dan khurafat serta menghadapi lang-sung para penyerunya, membongkar trik-trik dan reka perdaya-nya. Karena itu, perbuatan ini tidak ada maslahatnya kecuali bagi para musuh yang senantiasa mengintai, yaitu kaum kuffar dan para munafiq atau para ahli bid’ah dan kesesatan.
Ketiga, Bahwa perbuatan ini mengandung propaganda dan dukungan terhadap tujuan-tujuan yang diusung oleh para sekuler, para westernis dan para penentang lainnya yang dikenal agresif menjatuhkan kredibilitas para dai, mendustakan mereka dan mengekspos kebalikan dari apa-apa yang mereka tulis dan mereka rekam. Sikap yang dilakukan oleh mereka yang tergesa-gesa melaku-kan ini, yang ternyata malah membantu musuh untuk menyerang saudara-saudaranya sendiri, yaitu para thalib ‘ilm dan para dai, adalah perbuatan yang tidak termasuk hak persaudaraan Islam.
Keempat, Bahwa perbuatan ini bisa merusak hati masyarakat awam dan golongan khusus, bisa menyebarkan dan menyuburkan kebohongan dan isu-isu sesat, bisa menjadi penyebab banyaknya menggunjing dan menghasud serta membukakan pintu-pintu ke-burukan bagi jiwa-jiwa yang cenderung menebar keraguan dan bencana serta berambisi mencelakakan kaum mukminin secara tidak langsung.
Semoga Aboe Zaid Faham, masak orang sholih nggak faham juga !!!???
Sekali lagi Semoga Aboe Zaid Faham !!!!
Potongan Nasehat Ustadz Bin Baz
Pertama, ini merupakan pelanggaran terhadap hak prifasi sesama muslim, bahkan ini terhadap golongan khusus, yaitu para penuntut ilmu dan para dai yang telah mengerahkan daya upaya mereka untuk membimbing dan membina masyarakat, melurus-kan aqidah dan manhaj mereka, bersungguh-sungguh dalam mengisi berbagai kajian dan ceramah, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.
Kedua, bahwa ini bisa memecah belah kaum muslimin dan memporakporandakan barisan mereka, padahal mereka sangat membutuhkan kesatuan dan harus dijauhkan dari perpecahan dan saling menggunjing antar mereka. Lebih-lebih bahwa para dai dimaksud termasuk golongan ahlus sunnah wal jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah dan khurafat serta menghadapi lang-sung para penyerunya, membongkar trik-trik dan reka perdaya-nya. Karena itu, perbuatan ini tidak ada maslahatnya kecuali bagi para musuh yang senantiasa mengintai, yaitu kaum kuffar dan para munafiq atau para ahli bid’ah dan kesesatan.
Ketiga, Bahwa perbuatan ini mengandung propaganda dan dukungan terhadap tujuan-tujuan yang diusung oleh para sekuler, para westernis dan para penentang lainnya yang dikenal agresif menjatuhkan kredibilitas para dai, mendustakan mereka dan mengekspos kebalikan dari apa-apa yang mereka tulis dan mereka rekam. Sikap yang dilakukan oleh mereka yang tergesa-gesa melaku-kan ini, yang ternyata malah membantu musuh untuk menyerang saudara-saudaranya sendiri, yaitu para thalib ‘ilm dan para dai, adalah perbuatan yang tidak termasuk hak persaudaraan Islam.
Keempat, Bahwa perbuatan ini bisa merusak hati masyarakat awam dan golongan khusus, bisa menyebarkan dan menyuburkan kebohongan dan isu-isu sesat, bisa menjadi penyebab banyaknya menggunjing dan menghasud serta membukakan pintu-pintu ke-burukan bagi jiwa-jiwa yang cenderung menebar keraguan dan bencana serta berambisi mencelakakan kaum mukminin secara tidak langsung.
Ya nasehat syaikh bin Baz ini cocok u org semisal abu zaed, masalahnya dia mau tidak dinasehati. ahli debat biasanya pandai berkilah.
katanya abu zaed pernah ngaji di mta, kok skr malah menyerang mta. tidak logis ya…. para salaf sangat hormat dengan gurunya. seperti safi’i sangat hormat pada maliki walaupun ada perbedaan paham. keterlaluan abu zaed memang. kalau aku ketemu dia kuhajar dia sampai mau minta maaf kpd gurunya.
perhatikan kata abu zaed : “Dan ana pun insya Allah siap jika harus bertemu/ datang lagi ke majelis MTA untuk klarifikasi maupun menjelaskan permasalahan yang ada..…
saya tidak yakin hal itu akan dilakukan abu zaed, biasanya org seperti abu zaed ini sifatnya pengecut, beraninya cuma dari jauh.
hei.. mas…komentar mana yang dihapus??? afwan banyak komentar yng belum ana tampilin…
Kelihatannya memang sedang naik daun, dan lupa daratan, moga-moga segera disadarkan oleh Allah
OJO DUMEH !!!
OJO DUMEH !!!
OJO DUMEH !!!
Dengan nasehat inipun pasti tetap tidak mudeng
Saya NGGak habis fikir, kenapa tetap tidak mudeng !!!
Mungkin saja karena “CAH NGAJI ANYARAN”, moga-moga Allah memberi pengajaran, sehingga bisa lebih dewasa, lebih tawadhu’ dan lebih tepo-sliro,
Tapi dengan nasehat ini pula, saya kira tetap juga tidak akan mudeng !!!
Ya Allah Aku berlindung kepadaMU dari fitnahnya !!!
Ya Allah Aku berlindung kepadaMU dari fitnahnya !!!
Ya Allah Aku berlindung kepadaMU dari fitnahnya !!!
Saya pernah dengar katanya MTA itu menghalalkan daging anjing karena yang haram itu air liurnya. Jadi kalau kepalanya dibuang,daging dari tubuhnya halal dimakan. Begitu informasi yang saya terima. Tapi saya juga belum yakin apakah informasi tersebut benar atau salah, ya kalau pun misalkan informasi itu benar, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka dan semoga mereka kembali ke jalan yang benar. Ya, sebenarnya saya pengen cari informasi tentang berita tersebut. Tapi kok malah isinya perselisihan ya???????
Ya sebaiknya kita sama-sama tabayyun. Jangan merasa paling benar dan gak pernah salah. Ya semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Sekarang ini semakin banyak yang mengaku ahlussunnah tapi ketika diberi keterangan tentang sunnah mereka lebih banyak menentang, apa yang disampaikan Abu Zaid sudah cukup membantah apa hakekat MTA. Karena apabila secara PRINSIP AKIDAH sudah salah maka kelompok tersebut tidak perlu diikuti dan semoga dai dai MTA segera insyaf akan kesalahan mereka dan kembali kepada jalan yang benar. Untuk Abu Zaid tidak perlu melayani tantangan debat orang orang yang lebih mengedepankan logika dibanding dalil karena pijakan mereka sudah jauh berbeda dari prinsip ahlussunnah. Penyampaian hujah sudah cukup dan yang menentang seharusnya mencari sumber yang benar sehingga tambah ilmu…dan sebenarnya bantahan Abu Zaid sudah lebih dari cukup. Terus berjuang saudaraku Abu Zaid
Assalammuallaikum,
Bismillah, Astagfirullah3x……..sebelumnya maaf bila keliru,
ini sedikit cuplikan yg sy ambil dari salafionline, yg intinya mereka menganggap dirinya paling benar??? apakah seperti itu bisa-bisanya mengklaim yg paling benar dan yg lain SALAH (Muhammadyah, NU, Sunni, Syiah dll…or apapun namanya) bahkan menganggap yg lain masuk neraka, apakah anda berani bilang klo para kyai NU, Muhammadyah, Darut Tauhid, PKS, MTA, JI, LDII, NII, HTI or apapun namanya besok akan masuk neraka?? APAKAH BERANI MENGKLAIM SURGA ITU HANYA UNTUK KAUMNYA?? apakah sikap Rosullullah dan para sahabat dulu juga seperti itu klo mereka menganggap mengikutinya??,bahkan Rosullullah dan sahabat ada sebelum salafi itu ada jauh sebelumnya… apakah selalu menjelek-jelekan yg lain?? Kebenaran itu hanya datang dari Allah, kalaupun emeng benar bahwa yg diajarkan itu selalu mengikuti Quran dan sunnah Rosul ya tidak seharusnya berkata seperti itu, hakekatnya kita adalah satu saudara MUSLIM yg haram darahnya, kehormatannya, jasadnya, satu sama lain harus saling menghargai dan menghormati kalopun ada perbedaan mungkin pemahaman kita aja berbeda dalam memahami sesuatu, yang intinya sama menuju satu titik yaitu meraih ridho Allah SWT, semoga semua muslimin tetap fokus pada bidangnya masing2 dan berbuat terbaik buat menegakkan kalimat2 Tauhid dimuka bumi ini.
Allahuakbar…….Allahuakbar……Allahuakbar……
Afwan sekali lagi…….
Wassalam
Mengapa Harus Bermanhaj Salaf ?
Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.
Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).
Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).
Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).
Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).
Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.
Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)
Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut: 1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)
Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).
Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya. Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.
2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)
Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).
Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.
Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.
3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.
Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367). Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ Artinya : “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).” [QS Al Baqoroh: 137]
Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut: 1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455). Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya. Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).
2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).
Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).
Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37). Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).
Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.
3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).
Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara: - Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam. - Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan. - Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79). Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.
Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena: 1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus. 2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam. 3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya. 4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika: 1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63). 2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54). 3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88). 4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 8
5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57). 6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.
(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari, Lc, judul asli Mengapa Harus Bermanhaj Salaf, rubrik Manhaji, Majalah Asy Syariah. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=82)
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuhu
Semoga Allah curahkan berkah untuk kita semua…Wahai aboe zaed….Ubaidillah,23th sudah mengaji di MTA selama lebih kurang 13 tahun…untuk masalah ini, alangkah baiknya jika saudara bisa berdiskusi dengan saya via jalur pribadi….
semoga bermanfaat untuk kemashlahatan bersama