Garis Pemisah Antara DAKWAH SALAFIYYAH dengan DAKWAH IKHWANUL MUSLIMIN [1] (1)
Oleh Syaikh Abu Abdussalam Hasan bin Qasim al-Hasani ar-Riimi
HAKIKAT DAKWAH
♥ Dakwah Salafiyah
Berdakwah kepada al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah, yaitu dakwah kepada manhaj yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) manhajnya salafush shalih dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi yang utama.
♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin
Berdakwah kepada perorangan/ tokoh tertentu atau dakwah yang dinisbatkan kepada Hasan al-Banna as-Shufi, dan ini merupakan dakwah yang baru, yang umurnya tidak lebih dari tujuh puluh tahun.[2]
PEMIKIRAN
♥ Dakwah Salafiyah
Mereka adalah Ahlussunnah karena mereka mengambil sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak mendahulukan pendapat siapapun di atas sunnah beliau. Kitab-kitab mereka sebagai saksinya. Sebagai contoh lihatlah kitab as-Sunnah oleh al-Khallal, as-Sunnah oleh Ibnu Abi ‘Ashim, dll. Mereka adalah Jama’ah karena mereka bersatu di atas Sunnah.
♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin
Pemikiran dakwah mereka adalah hasil kolaborasi antara dakwah salafiyyah (ala mereka), metode suniyyah (menurut prasangka mereka) dan hakekat shufiyyah (dan inilah intinya).
PENDIRI
♥ Dakwah Salafiyah
Rasulullah Muhamamd bin Abdillah ‘alaihishshalatu was salam.
♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin
Hasan al-Banna as-Shufi.
TOKOH-TOKOHNYA
♥ Dakwah Salafiyah
Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Said bin Zaid, Aisyah, Hafshah, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Musa al-Asyari, Abdullah bin Mas’ud, dan selain mereka (dari kalangan para sahabat), kemudian al-Hasan al-Basri, Muhammad bin Sirrin, Said bin Jubair, Said bin al-Musayyib, dan selain mereka (dari kalangan para tabi’in), kemudian Malik bin Anas, al-Auza’i, as-Syafi’i, Yahya al-Qathan, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, dan selain mereka, dan pada zaman kita sekarang ini seperti syaikh Abdul Aziz bin Baaz, syaikh al-Albani, syaikh Shalih al-Fauzan, syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, syaikh Muqbil al-Wadi’i, syaikh Rabi’ al-Madkhali, dan selain mereka dari orang-orang yang menempuh jalan mereka.
♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin
Hasan al-Banna as-Shufi, Umar at-Tilimsani yang menganggap remeh masalah berdo’a kepada kubur, Hasan al-Hudhaibi yang berusaha mendekatkan antara sunnah dengan Syi’ah, Hamid Abu Nashr, Muhammad Ghazali al-Mu’tazili, Fathi Yakan yang mencela salafiyyin, Musthafa as-Siba’i yang telah menyenandungkan qashidah di depan kuburan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta kesembuhan dan ia juga berusaha untuk mendekatkan antara sunnah dengan Syi’ah, dan di zaman ini adalah az-Zindani yang telah menghadiri pertemuan persatuan antaragama, dan ia juga pembela system demokrasi.
AL-WALA’ WAL BARA’ (LOYALITAS DAN KEBENCIAN)
♥ Dakwah Salafiyah
Siapa saja yang memiliki aqidah seperti para ulama salaf, dan mengamalkan apa yang mereka tulis di kitab-kitab mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia adalah saudara mereka (salafiyyin) dan kekasih bagi mereka dimanapun mereka berada di muka bumi ini. Akan tinggi derajat seseorang di sisi mereka karena ketakwaannya dan sebaliknya akan rendah pula karena penyelisihannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah.
♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin
Mereka menetapkan al-Wala’ wal bara’ di dalam diri tokoh-tokoh mereka dan pemimpin mereka, walaupun tokoh dan pemimpin mereka tersebut sangat besar penyilisihannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah. Maka, barangsiapa yang bergabung bersama mereka maka ia memiliki gelar yang berkilau walaupun ahli khurafat. Dan barangsiapa yang tidak bergabung bersama mereka maka ia diolok-olok, meskipun dari kalangan ulama rabbaniyyin. Dan jika mereka melihat ada di antara mereka yang belajar kepada Ahlussunnah, maka mereka akan memboikot dan mentahdzirnya –memperingatkan agar manusia waspada terhadapnya-setelah ia tidak mau menerima tipudaya (seruan) mereka.
DI ANTARA DAKWAH-DAKWAH INI MANAKAH YANG MASUK DALAM KATEGORI FIRQAH AN-NAJIYAH (GOLONGAN YANG SELAMAT)
♥ Dakwah Salafiyah
Dakwah inilah yang masuk kategori firqah an-Najiyah –insya Allah-, yang demikian karena dakwah ini selamat dari terjerumus ke dalam bid’ah dan hal-hal yang baru dalam masalah agama di dunia ini, dan selamat pula dari adzab Allah Subhanahu wata’ala di akhirat kelak insya Allah. Karena dakwah ini benar-benar jujur dalam ittiba’ (mengikuti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
♥ Dakwah Ikhwanul Muslimin
Dakwah ini termasuk kelompok-kelompok sesat yang menyelisihi dakwahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian itu karena mereka melakukan bid’ah di dunia ini maka ditakutkan akan terkena adzab Allah di akhirat kelak.
Catatan Kaki:
[1] Diterjemahkan oleh Fachri bin Komari dengan koreksi Ust. Abdurrahman Tahyyib, Lc. dari risalah yang berjudul Ithaaful Maharah bil Muqaaranah al-Mukhtasharah Bainal Firaq al-Mu’asirah hal. 15-20.
[2] Ini pada saat ditulisnya makalah ini. Adapun sekarang kurang lebih sudah berusia 80 tahun, karena Ikhwanul Muslimin didirikan pada tahun 1346 H. (Ed)
((Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah vol. 6 No. 5 Edisi 37 – 1429 H))
DIarsipkan di bawah: manhaj









saya yakin yang membuat ini tidak banyak tahu tentang al ikhwan, coba baca bukunya lebih banyak lagi, mana yang tidak dilandaskan pada al qur’an & sunah
akan lebih baik klu anda konsen bagaimana kritenisasi merajalela, maksiat dimana2, kemiskinan tidak terbendung
Salafy selalu perhatian terhadap masalah kristenisasi, maksiat dan kemiskinan. Namun hal itu tidak membuat kita lantas mentolerir bid’ah dan khurafat yang dilakukan oleh para tokoh pergerakan seperti Ikhwanul Muslimin.
namun akhirnya saya keluar karena tidak sepaham dengan IM mengenai masalah bai’at, setelah saya keluar saya jadi semakin tahu bahwa banyak perbedaanya antara manhaj IM dengan manhaj Ahlussunnah.
Saya pernah membaca salah satu situs IM (www.al-ikhwan.net) dan ada beberapa masalah yang disanggah oleh penulisnya, namun sepertinya penulis ini jahil terhadap masalah sunnah dan alur pikirannya sudah terpola dengan manhaj IM-nya.
Saya sendiri dulunya anggota IM hingga anggota inti jenjang madya (mereka menyebutnya “muntasib”
benarkah hanya salafy yang berdiri di atas sunnah rosululloh SAW ? Apakah klaim seperti itu tidak terlalu kepagian ? Sesungguhnya begitu banyak jama’ah di era ini, dan masing-masing saling klaim yang paling benar dan membid’ahkan yang lainnya ( tentu dengan argumentasi masing-masing yang dianggap paling shahih ). Adanya klaim seperti itu hanya akan merugikan umat ini, bukan berarti saya mengabaikan hal-hal yang buruk yang ada pada masing-masing jama’ah ( termasuk jama’ah salafy ) namun tidak bisakah duduk bersama-sama untuk mencari kesepakatan tentang umat ini ? serta memberi penghormatan yang semestinya kepada perbedaan selama itu tidak menyangkut hal yang prinsip yang telah menjadi ijma’ para ulama. Terus terang saya melihat salafy pada kutub ekstrim yang melihat segala sesuatu secara ketat sementara Ikhwan hanyalah jama’ah yang mencoba berada di sisi moderat / pertengahan.
Bayangkan oleh Anda saya pernah menghadiri pengajian yang diadakan oleh Salafy di salah satu perguruan tinggi di Bandung, sang ustadz berkata, ” Lebih baik ke tempat pelacuran daripada ke majelisnya Aa Gym ( Abdullah Gymnastiar ) ” . Wah jika statemen itu didengar oleh orang awam itu bisa menjadi pembenaran terhadap prostitusi sebab orang jarang cek lagi maksud dari sang ustadz apa, hanya saja ketika memberi contoh dengan begitu telanjangnya seperti itu kok rasanya jadi tidak kena ya tujuan dakwahnya, ternyata saya banyak menemukan hal-hal seperti itu di majelis-majelis salafy. Karena itu menurut saya saat ini memikirkan bagaimana agar umat ini bisa bekerja bersama-sama untuk mewujudkan kembali peradaban Islam adalah hal yang penting daripada sekedar saling klaim kebenaran.
Terima kasih
Saudaraku Sudiono.
Menilai isi manhaj salaf bukan pada orang perorang / atau ustadz. Tetapi untuk melihat akan nilai kesempurnaan manhaj salaf atau cara kita mengambil ajaran agama islam ini berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dan dengan pemahaman para sahabat.
Kalu antum katakan Salafy ekstrem karena melihat segala sesuatu secara ketat. Pernyataan antum ini masih besifat umum, dalam hal apakah??? Karena manhaj salaf menilai segala sesuatu berdasarkan dalil dr Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW yang shahih berdasarkan pemahaman para Sahabat, bukan menilai sesuatu berdasarkan ro’yu atau hawa.
Alhamdulillah saya sebelum mengenal manhaj salaf, pernah di LEMKARI at ISLAM JAMAAH, IM dan HTI, sejak SMA tahun 1985 saya sudah masuk pengkaderaan IM, dipersiapkan katanya utk jadi murobi2an. Merasa takjub saya terhadap diri sendiri bisa memberikan materi liqo kepada adik kelas.Tetapi bersamaan dengan itu saya diajak teman utk menghadiri kajian ustadz di jakarta yang bermanhaj salaf.
Tiba berubah jadi pertanyaan dalam diri saya? Apakah semudah itu saya dapat memberikan materi Ilmu Agama Islam ini kepada adik - adik kelas saya. Ternyata kesimpulan saya saya harus belajar dan tidak sembarang orang dapat memberikan materi ilmu islam ini. Jika itu terjadi seperti sekarang ini kita lihat mengganggap sepele terhadap Bid’ah, kurafat,perbuatan syirik.
Maka semua ini harus dilawan secara keras karena ini musuh Umat dr dalam Islam sendiri. Disampaikan dalil - dalilnya dan tidak ada toleransi dalam hal ini.
Belajarlah untuk diri kita, keluarga agar kita terselamtkan dari siksa api neraka, karena kita melakukan amalan dalam beribadah kepada Allah tidak sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya( Alloh Rido kepada mereka )
Bangunlah peradaban islam dari diri kita dan keluarga kita, jika setiap muslim sudah membangun peradaban islam dr diri dan keluarganya dengan izin Allah peradaban islam yang saya, antum dan kita semua cita-citakan akan terbangun.
stop bertikai saudaraku ikhwanul muslimin dan salafy!!!
hakikat dakwah salafiy yg hakiki
(disalin dari buku “Aulawiyaat Al Harakah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qadimah” karya Dr.Yusuf Al Qaradhawy, Maktabah Wahbah, Kairo. 1991M)
Yang dimaksud dengan Pemikiran Salafy di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.
Kriteria Manhaj Salafy yang Benar
Yaitu suatu manhaj yang secara umum berpijak pada prinsip berikut :
1. Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (terjaga dari kesalahan), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
2. Mengembalikan masalah-masalah mutasyabihat (yang kurang jelas) kepada masalah muhkamat (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni (dugaan) kepada yang qath’i (pasti-meyakinkan).
3. Memahami perkara furu’ (cabang) dan juz’i (parsial), dalam kerangka/bingkai prinsip dan masalah fundamental.
4. Menyerukan Ijtihad dan pembaruan. Memerangi Taqlid dan kebekuan.
5. Mengajak untuk ber-iltizam (komitmen) dengan akhlak Islam, bukan meniru trend.
6. Dalam masalah fiqh, berorientasi pada kemudahan bukan mempersulit.
7. Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
8. Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
9. Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
10. Menekankan sikap ittiba’ (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat ikhtira’ (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.
Inilah inti manhaj salafy yang merupakan ciri khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai penaklukan (futuhat). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran. Mendirikan “negeri ilmu dan Iman”. Membangun peradaban rabbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.
Citra Salafiyah Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra
Istilah Salafiyah telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap Salafiyah. Orang-orang yang pro-salafiyah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah manhaj perdebatan dan polemik, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiyah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiyah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan ruh (esensi).
Sedangkan pihak yang kontra-salafiyah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiyah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiyah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan salafiyah dan membelanya mati-matian pada masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul Qayyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan pembaruan Islam pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.
Mereka telah menumpas faham taqlid, fanatisme madzhab fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi ‘ashobiyah madzhabiyah ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah Raf’ul malaam ‘an al A’immatil A’lam karya Ibnu Taimiyah.
Demikian gencar serangan mereka terhadap tasawwuf karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab Al-Hulul Wal-Ittihad (jawa:manunggaling kawula gusti – menyatunya manusia dengan Tuhan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan tasawwuf untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari Majmu’ Fatawa karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Imam Ibnul Qayyim. Yang termasyhur ialah Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, dalam tiga jilid.
Mengikut Manhaj Salaf, Bukan Sekedar Mengikuti Ucapannya
Yang pelu saya (Syaikh al Qaradhawy) tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal yang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (parsial-potongan), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.
Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam taqlid yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul Qayyim
Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Rabbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.
Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.
Beliau adalah seorang laki-laki rabbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul Qayyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.
Namun, orang seringkali melupakan, sisi dakwah dan jihad dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna Salafiyah yang sesungguhnya.
Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan salafiyah, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa misi salafiyah, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pemimpin redaksi majalah Al-Manar yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa bendera salafiyah ini, menulis Tafsir Al-Manar dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Rasyid Ridha adalah seorang pembaharu (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca tafsirnya, seperti : Al-Wahyu Al-Muhammadi, Yusrul-Islam, Nida’ Lil-Jins Al-Lathief, Al-Khilafah, Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqallid dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan Manar (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran salafiah-nya.
Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah emas yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah yang berbunyi:
“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”
Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.
Wallahu A’lam