(Catatan Terbuka untuk IMAM SAMUDRA) WAJAR KALAU ANDA KELIRU (2)

Oleh Al-Ustadz Abu Umar Basyir

Anda sudah bagus ketika khawatir terkena sum’ah alias gila popularitas setelah Anda merasa sudah dianugerahi kemampualn melakukan ‘jihad’. Tapi coba tambahkan sedikit dengan rasa khawatir, kalau-kalau perbuatan Anda itu salah. Seperti sudah kami ungkapkan di atas, ucapan Ibnu Mas’ud yang bagitu masyhur,

Berapa banyak orang yang berniat baik, tetapi tidak mendapatkan kebaikan tersebut.”[1]

Atau ucapan Ibnu Taimiyyah soal amar ma’ruf nahi munkar,

Hendaknya amar ma’ruf yang kalian lakukan betul-betul dilakukan dengan ma’ruf, dan jangan sampai nahi munkar yang kalian lakukan justru menjadi kemunkaran.”[2]

Pengenalan terhadap sisi kebenaran, termasuk pekamnaan jihad, tidak cukup hanya dengan membaca literature dan penjelasan tertulis dalam buku-buku, juga dengan berdiskusi bersama teman-teman sepemikiran, tapi juga panduan langsung dari para ulama. Di sini, tampaknya Anda harus berlapang dada untuk tidak selamanya bangga dengan gaya otodidak yang Anda terapkan dalam memahami dan mengamalkan Islam ini. Panduan itu bisa langsung Anda dapatkan dengan berkomunikasi bersama para ulama Ahlussunnah di berbagai Negara Islam, termasuk Timur Tengah, bisa juga melalui perantaraan para penuntut ilmu yang lebih senior.

Bagus, ketika Anda khawatir, kalau penulisan otobiografi Anda sendiri memancing hal-hal yang kurang diridhai oleh Allah. Tetapi seharusnya, langkah yang Anda pilih justru mengurungkan penulisan tersebut. Seperti sikap Anda yang membuat aksi jihad di titik-titik ikhtilaf, lebig baik Anda urungkan. Karena, selain menuliskan otobiografi setengah hati yang Anda ragukan keabsahannya itu, Anda masih bisa menulis hal-hal lain yang Anda yakini benar. Selain berjuang di titik-titik ikhtilaf yang Anda sendiri masih meragukannya –meski dengan kadar seujung kuku- Anda masih bisa melakukan aktivitas dakwah yang sangat Anda yakini benar.

Saat bom Bali pada akhirnya merenggut korban bukan hanya dari kalangan wisatawan asing, tapi juga sebagian kaum muslimin, Anda sudah cukup jantan mengakui kesalahan tersebut. Namun istilah bahwa itu hanya human error, alias kesalahan manusiawi, sama sekali tidak bisa ditoleransi.

Saat Anda memutuskan untuk merencanakan peledakan itu –setulus apapun niat Anda- dengan inisiatif sendiri, dalam sandaran hokum yang Anda sendiri sudah mangaku masih samar-samar –bahkan pada hakikatnya adalah kesesatan belaka- Anda sudah keliru, dan untuk itu Anda harus bertobat. Lalu, ketika dengan upaya itu, Anda membunuhi turis-turis asing, setelah para ulama Ahlussunnah jelas-jelas melarangnya, Anda telah berbuat kekeliruan lagi. Keyakinan Anda bahwa para turis asing itu pasti bukan orang sipil, juga rancu, hanya sebatas dugaan. Kemudian, setelah peledakan itu sebagian kaum muslimin mati akibat ledakan bom, Anda kembali melakukan sebuah dosa besa.

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Seseorang membunuh seorang muslim bisa terjadi karena tiga hal. pertama, karena betul-betul tidak sengaja. Dalam hal ini pembunuh wajib membayar diyyat. Kalau Anda mengklaim pembunuhan ini murni tanpa kesengajaan, mana diyat Anda untuk mereka semua?

Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Yang kedua, dengan sengaja. Hukumnya tertera dalam ayat tersebut. Yang ketiga, setengah sengaja. Artinya, seseorang melakukan sesuatu yang sudah jelas beresiko membunuh seorang muslim. Dalam kasus ini, pelaku jelas telah melakukan dosa besar, meski tidak sebesar ketika membunuh dengan sengaja. Untuk hukumannya, dikembalikan kepada hakim, dan perlu juga dikonsultasikan dengan para wali terbunuh. Apa yang sudah Anda lakukan untuk semua itu? Selesaikah dengan mengatakan bahwa semua itu hanya human error? Cukupkah hanya dengan mengucapkan istighfar? Sementara terbunuhnya kamu muslimin tersebut, bukan hanya karena factor sebuah tindakan setengah sengaja, tapi karena perbuatan batil yang dilabeli dengan jihad. Sebuah kebatilah yang berjubah kebenaran. Maka dosa tersebut menjadi semakin besar, menjadi berlipat ganda.

Kalau Anda memohon ampun kepada Allah, Anda bukan saja berkewajiban menyesalinya, tapi juga meninggalkan segala obsesi untuk melukan hal yang sama (peledakan, bom bunuh diri), bertekad untuk tidak akan pernah melakukannya legi, dan minimal meminta maaf kepada para wali korban muslim serta membayar diyat mereka. Bila Anda tidak mampu, mintalah maaf kepada mereka.

Untuk itu, Anda tidak bisa beralasan, ‘Maaf, saya terpaksa tanpa sengaja membunuh anak, saudara, suami atau istri Anda, demi tuntutan pembebasan kaum muslimin yang ditawan Amerika di negri ini dan itu!’ Karena alas an itu jelas buntu, alias tidak sambung.

Kami yakin Anda tidak akan begitu angkuh untuk tidak menyadari segala kekeliruan itu. Anda telah berpaling dari memminta fatwa dan petunjuk para ulama Ahlussunnah untuk aksi maut yang Anda lakukan bersama rekan, dan lebih memilih merujuk kepada para syaikh mujahid, menurut rekaan Anda, seperti Syaikh Yasin, Abdullah Azzam –rahimahumallah-, dan Syaikh Usamah bin Ladin. Ternyata kemudian Anda justru melangkah satu jenjang lebih jauh dari mereka di sisi kenekatan berfatwa. Artinya, aksi Bom Bali yang kalian lakukan –menurut berat persangkaan kami- pasti juga tidak akan disetujui oleh seorang Usamah bin Ladin sendiri. Di saat berbagai pakar dan ilmuwan muslimin berupaya membuktikan bahwa tragedy WTC bukanlah ulah dan hasil kerja para militant muslim, dan Usamah bin Ladin terbebas dari tuduhan itu, Anda justru berbangga dengan membidani lahirnya Bom Bali!

-Insya Allah bersambung-

Catatan kaki:

[1] Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya nomor 210, dengan tahqiq Abdullah Hasyim Yamani. Sanadnya dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah al-Hadits ash-Shahihah dengan nomor 2005. Lihat Majma’uz Zawa-id I : 181.

[2] Lihat Amar Ma’ruf Nahi Munkar oleh Ibnu taimiyyah hal. 39.

((Disalin dari buku TERORIS melawan TERORIS “Terima Kasih” Imam Samudra, Telaah dan renungan atas 3 buku terdahulu: ‘Aku Melawan Teroris’, ‘Siapa Teroris?’ dan ‘Mereka Adalah Teroris…’, karya Abu Umar Basyir, halaman 184-189, penerbit Mawazin))

About these ads

Posted on 27 Mei 2008, in Firqoh, manhaj, Nasihat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. DAKWAH SALAFIYAH BUKAN MURJI’AH

    (Bagian 3 : Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Khalid Al-Anbari Bebas dari Murji’ah)

    Oleh :

    Al-Ustadz Abdurrahman bin Thoyyib as-Salafy, Lc.

    (Alumnus Islamic University of Madinah)

    Ada Apa dengan Syaikh Ali Al-Halabi dan Syaikh Kholid Al-Anbari –hafizhahumallahu-

    Diantara sekian banyak para masyayikh dakwah Salafiyah yang tidak selamat dari tuduhan Murji’ah yang dilontarkan oleh para harokiyyin, sururiyin dan takfiriyin adalah Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-Ambari -hafidzahumallohu-.

    Dan yang amat disayangkan adalah adanya fatwa Lajnah Daimah yang juga ikut serta mendukung orang-orang tersebut dengan menuduh bahwa di dalam beberapa kitab kedua Syaikh tersebut terdapat pemikiran Murji’ah. Padahal kalau ditilik kembali kitab-kitab mereka tersebut sangat jauh dari pemikiran Murji’ah. Mereka adalah masyayikh Ahlu Sunnah yang jauh dari pemikiran Murji’ah, aqidah mereka aqidah Salaf Ashabul Hadits khususnya yang berkaitan dengan masalah iman. Oleh karenanya Syaikh Ali bin Hasan dan Syaikh Kholid menulis jawaban terhadap fatwa Lajnah Daimah tersebut. Mereka berdua meminta kepada Lajnah Daimah untuk membuktikan dengan jelas mana pemikiran Murji’ah yang terdapat dalam kitab mereka.

    Adapun Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi -hafidzahullahu-, maka dalam menanggapi fatwa Lajnah Daimah serta tuduhan Murji’ah ini beliau banyak menulis kitab yang menjelaskan kepada siapa saja yang hatinya masih bersih, akan jauhnya beliau dari Aqidah Murji’ah. Maka barangsiapa yang telah teracuni oleh syubhat bahwa Syaikh Ali Murji’ah atau sebagian buku beliau ada pemikiran Murji’ah hendaklah membaca kitab-kitab berikut ini agar dia tidak berbicara kecuali dengan ilmu dan bukti yang nyata: Al-Ajwibah Al-Mutalaaimah ‘Ala Fatwal Lajnah Ad-Daimah, At-Ta’rif Wat Tanbi`ah, At-Tanbihaat al-Mutawaa`imah, Al-Hujjah Al-Qo`imah ‘ala Fatwal Lajnah Ad-Daimah, Ar-Roddul Burhani, Kalimatun Sawaa’ dan lain-lain.

    Diantara yang beliau ucapkan dalam menanggapi fatwa Lajnah Da`imah adalah: “Oleh karena ucapan ulama meski tinggi derajat dan kedudukannya, bisa diterima dan bisa ditolak serta kemungkinan bisa salah bisa benar, maka saya ingin menulis sebuah dialog ilmiah yang ringkas untuk menjawab fatwa lajnah yang terhormat. Semoga apa yang akan saya sampaikan ini dari hujjah-hujjah dan dalil-dalil menjadi penjelas bagi jalan kebenaran. Semoga rahmat Alloh bagi Imam Abdurrohman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab yang telah berkata :

    “Wajib bagi orang yang masih mengasihi dirinya, apabila membaca kitab-kitab para ulama dan melihat isinya serta mengetahui ucapan mereka agar dia menimbangnya dengan Al-Qur’an dan sunnah. Karena setiap mujtahid dari kalangan para ulama dan yang mengikuti mereka serta yang menisbatkan diri kepada mereka haruslah menyebutkan dalilnya. Kebenaran hanya satu dalam setiap permasalahan dan para imam-imam itu diberi pahala akan ijtihad mereka. Orang yang bijak ketika membaca ucapan mereka dan mempelajarinya, dia menjadikannya sebagai jalan untuk mengetahui permasalahan dan untuk mengetahui yang benar dan salah dengan melihat dalil-dalilnya…” Dari sinilah saya ingin memulai jawaban saya dengan penuh hormat terhadap para masyayyikh yang mulia dan semoga ucapanku dan dialog ini -insya Alloh- sesuai dengan apa yang ada dalam hati kami dari penghormatan terhadap mereka…”[1]. (Selesai ucapan beliau)

    Terlebih lagi fatwa tersebut tidak disepakati oleh seorang alim robbani faqiihul ummah yang juga anggota kibarul ulama serta anggota Lajnah Daimah yaitu Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin rahimahullahu. Inilah pendapat beliau tentang fatwa tersebut : “Ini adalah suatu kesalahan dari lajnah dan aku merasa terganggu dengan adanya fatwa ini. Fatwa ini telah memecah-belah kaum muslimin di seluruh negeri sampai-sampai mereka menghubungiku baik dari Amerika maupun Eropa. Tidak ada yang dapat mengambil manfaat dari fatwa ini melainkan takfiriyun (tukang mengka­firkan) dan tsauriyun (para pemberon­tak).” Beliau juga berkata : “Saya tidak suka keluarnya fatwa ini, karena membuat bingung manusia. Dan nasehatku kepada para penuntut ilmu agar tidak terlalu berpegang teguh dengan fatwa fulan atau fulan.”[2] (selesai ucapan syaikh)

    Dan renungkanlah -wahai saudaraku ­ucapan emas dari seorang ahli ushul serta imam dan khotib Masjidil Rasul; Fadhilatusy Syaikh Husein bin Abdul Aziz Alu Syaikh -hafidzahullahu-. Beliau pernah ditanya : “Fadhilatusy Syaikh – jazakumullahu khoiron- : Apa pendapat Anda tentang fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Da`imah seputar dua kitab Syaikh Ali bin Hasan -hafidzahullahu- “At-Tahdzir” dan “Shoihatu Nadzir”, bahwa kedua kitab tersebut menyeru kepada pemikiran Murji’ah, bahwasanya amal bukan syarat sahnya iman, padahal kedua kitab tersebut tidak membahas sama sekali tentang syarat sah atau syarat sempurnanya iman?!”

    Beliau menjawab :

    “Pertama-tama : wahai saudaraku! Syaikh Ali dan Masyayikh di atas manhaj yang satu. Dan Syaikh Ali, beliau adalah saudara besar seperti para masyayikh yang mengeluarkan fatwa tersebut. Beliau mengenal baik mereka dan mereka juga mengenal baik beliau. Mereka saling mencintai (karena Alloh -pent). Syaikh Ali telah diberi oleh Alloh ilmu dan pengetahuan -wa lillahil hamdu- yang akan dapat mengobati perkara ilmiah antara beliau dan Masyayikh. Dan perkara ini -alhamdulillah- masih di tengah perjalanan menuju titik terang kebenaran.

    Adapun Syaikh Ali dan guru beliau Syaikh Al-Albani dan yang di atas manhaj sunnah tidak diragukan lagi -walillahil hamdu- berada diatas manhaj yang diridhoi. Dan Syaikh Ali sendiri -walillahil Hamdu-termasuk yang membela manhaj Ahli sunnah wal jama’ah.

    Fatwa Lajnah tidaklah memvonis Syaikh Ali sebagai Murji’ah dan ini tidak mungkin dilakukan oleh Lajnah!! Lajnah hanya berbeda pendapat dan berdialog dengan Syaikh Ali. Adapun orang lain yang menginginkan dari munculnya fatwa ini untuk menvonis syaikh sebagai Murji’ah, maka aku tidak faham (apa maksud mereka). Dan saya kira saudara-saudaraku tidak memahaminya seperti itu. Mereka para Masyaikh sangat menghormati dan menghargai beliau.

    Dan Syaikh Ali telah menjawab dengan jawaban ilmiah dalam kitab “Al-­Ajwibah AI-Mutalaaimah ‘ala fatwal Lajnah Daimah” sebagaimana yang dilakukan oleh salafush sholeh. Tidaklah ada diantara kita seorang pun melainkan bisa diambil ucapannya atau ditolak kecuali Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam seperti yang dikatakan oleh Imam Malik rahimahullahu :

    كُلُّ كَلاَمٍ مِنْهُ ذُوْ قَبُوْلٍ وَمِنْهُ مَرْدُوْدٌ سِوَى الرَّسُوْلِ

    Semua ucapan kadang bisa diterima

    dan terkadang bisa ditolak kecuali Rasul

    Demikianlah keadaan umat ini, terkadang ditolak dan terkadang diterima ucapannya. Akan tetapi manusia secara tabiatnya terkadang saat pembicaraan atau dialog terdapat sedikit nada keras sampai para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga demikian, seperti yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dan selain mereka dari kalangan para sahabat.

    Kesimpulannya bahwa fatwa ini menurutku tidak memvonis dan tidak menghukumi Syaikh Ali Murji’ah, akan tetapi fatwa tersebut hanyalah suatu dialog seputar buku beliau. Dan Syaikh Ali –semoga Alloh selalu memberinya taufiq- ketika menulis “Al-Ajwibah al-Mutala`imah” setelah munculnya fatwa tersebut bukan untuk membantah, namun hanya sekedar menjelaskan manhaj beliau dan guru beliau Syaikh Al-Albani rahimahullahu. Kami yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Syaikh Ali dan guru beliau Syaikh Albani rahimahullahu amat jauh sekali dari pemikiran Murji’ah seperti yang telah aku katakan dahulu.

    Syaikh Ali misalnya kalau aku tanya tentang apa itu iman? demikian juga dengan Syaikh Al-Albani, maka tidaklah kami dapatkan sedikitpun dari ucapan mereka yang berbau Murji’ah yaitu bah­wasanya amal bukan termasuk bagian dari iman. Bahkan ucapan-ucapan Syaikh Al-Albani rahimahullahu jelas-jelas menyatakan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dalam lisan dan perbuatan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemak­siatan.

    Saya kira Syaikh Ali menyetujuiku dalam hal ini yaitu bahwasanya fatwa lajnah bukan seperti yang didangungkan oleh sebagian orang bahwa Syaikh Ali itu Murji’ah. Sekali-kali tidak, mereka para Masyayikh tidak mengucapkan seperti ini. Mereka hanya berdialog seputar kitab tersebut. Dan tidaklah para salaf dahulu berdialog kecuali karena rasa kasih sayang dan kecintaan mereka terhadap sunnah dan untuk membela sunnah. Terlebih lagi dialog tersebut bukan tentang keseluruhan kitab akan tetapi bagian kecilnya saja.

    Samahatusy Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh mufti Kerajaan Saudi Arabia ter­masuk orang yang amat cinta terhadap Syaikh Ali dan aku tahu benar akan hal ini. Beliau sangat amat menghormati dan selalu mendoakan Syaikh Ali sampai setelah Syaikh Ali berjumpa dengan beliau, Samahatusy Syaikh tetap seperti itu.

    Beliau juga amat menghormati dan mencintai Syaikh Al-Albani rahimahullahu dan dahulu kala. Aku mengetahui hal ini semenjak Samahatus Syaikh mengajar di kuliah Syariah tahun 1406 H, beliau selalu menyebut nama Syaikh dengan pujian dan doa.

    Syaikh Al-Albani dan para masyayikh di Saudi Arabiah dipersatukan oleh satu hal yaitu manhaj salafush sholeh. Seandainya kita bersatu diatas hawa nafsu maka sungguh kita akan berpecah-belah. Akan tetapi inilah perwujudan kasih sayang yang benar dan jujur.

    Adapun kalau ada orang ketiga yang mengambil fatwa Lajnah Daimah ini dan bergembira ria karena sesuai dengan hawa nafsu mereka, tapi mereka mening­galkan yang tidak sesuai dengan mereka maka inilah jalannya ahli bid’ah.” (Selesai jawaban beliau sampai di sini)[3]

    Demikian pula dengan Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-Anbari -hafizhahullahu- yang juga tertimpa musibah dengan datangnya fatwa lajnah yang mencekal buku beliau “Al-Hukmu Bighoiri Maa Anzalallohu”. Padahal beliau termasuk masyayikh Dakwah Salafiyah yang gigih memperjuangkan aqidah ahli sunnah sekaligus memerangi bid’ah serta hizbiyah dan amat jauh dari Murji’ah. Terlebih kitab beliau tersebut telah mendapat pujian dari para ulama semisal Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullahu dan Syaikh DR. Sholeh bin Ghonim Sadlan hafizhahullahu, Dosen pasca sarjana di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud.

    Adapun pujian Syaikh Al-Albani rahimahullahu maka beliau mengatakan : “Saudara Kholid bin Ali Al-Anbari telah menghadiahkan kepadaku kitab karangannya “Al-Hukmu Bighoiri Maa Anzalallohu” dan aku meodapati kitab tersebut telah memenuhi temanya yang tidak butuh lagi tambahan penjelasan.” [4]

    Syaikh Sholeh bin Ghonim as-Sadlan hafizhahullahu berkata : “Aku mendapatkan kitab Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-Anbari yang berjudul “al-Hukmu bighoyri ma anzalallahu”… telah menepati judulnya dalam berpegang teguh dengan metode kenabian serta jalannya salafush shalih dalam segala permasalahannya. Semoga Alloh menganugerahkan kepada beliau pahala akan apa yang telah beliau bahas dan teliti. Dan semoga Alloh memberikan manfaat lewat kitab beliau ini, kaum muslimin baik para ulama, cendekiawan, masyaikh, penuntut ilmu, para dai maupun masyarakat umum.

    Beliau memulai kitabnya ini dengan menjelaskan macam-macam kufur akbar yang mengeluarkan dari Islam, berupa kufur takdzib, juhud, ‘inad, i’rodh, syak dan nifaq. Dan bahwasanya kekufuran itu bisa dengan keyakinan, ucapan maupun amal perbuatan. Beliau juga menyinggung tentang kekufuran menurut Murji’ah yang menyempitkan hanya pada kufur takdzib di dalam hati saja.

    Beliau juga berkata, bahwa kitab ini ditulis dengan metode ilmiah yang kokoh, tidak ada caci maki maupun celaan yang buruk. Kitab ini amat spesial di dalam pembahasannya. Dan penulis di dalam masalah perincian hukum orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh telah sesuai pendapatnya dengan pendapat Samahatul Walid Mufti Kerajaan Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz[5], Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.” (selesai ucapan beliau)

    Fatwa lajnah ini pun juga ditentang dan disalahkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin seperti yang telah berlalu diatas dan bahwasanya tidak ada yang dapat mengambil manfaat dari fatwa ini melainkan takfiriyin dan tsauriyin (revolusionis). Begitu juga dengan Syaikh Sholeh As­-Sadlan yang tidak bisa menerima fatwa tersebut.[6]

    Syaikh Kholid pun menanggapi fatwa ini dengan menulis sebuah makalah yang berjudul “Al-Maqoolaat Al-Anbariyah fi Tahkiimil Qowaaniin Al-Wadh’iyah”, diantaranya beliau mengatakan : “Tidak tersembunyi lagi bagi anda sekalian bahwa mewajibkan, mengharamkan hanyalah hak Alloh dan Rasul-Nya seba­gaimana yang telah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu. Oleh ka­renanya, saya memohon kepada anda sekalian untuk menjelaskan hujjah-hujjah syar’i mengenai keputusan Lajnah yang terhormat yang melarang dicetaknya kembali kitab (Al-Hukmu..) yang telah terbit sejak lima tahun yang lalu…”

    Maka di sini penulis menasehatkan kepada siapa saja yang telah termakan isu atau syubhat bahwa buku Syaikh Kholid ini berada diatas manhaj Murji’ah agar dia membaca sendiri buku tersebu dan meneliti manakah pemikiran Murji’ah yang dituduhkan itu!!! Demikian pula yang menuduh Syaikh Kholid Murji’ah agar dia membaca karangan Syaikh Kholid yang berjudul Murjiatul Ashr (Murji’ah abad ini). Buktikan apakah beliau Murji’ah atau malah sebaliknya membantah Murji’ah!!!

    Jika demikian ini keadaannya, masihkah kita berani menuduh Dakwah Salafiyah sebagai Murji’ah atau Jahmiyah?I

    “Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Alloh. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. AI-Bagarah : 281)

    إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

    “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. AI-Fajr : 14)

    Begitu jelasnya bukti-bukti akan jauhnya Syaikh Al-Albani, Syaikh Ali Al-Halabi dan Syaikh Kholid Al-Anbari dari Murji’ah, namun masih ada saja orang yang buta akan hal ini.

    الْحَقُّ شَمْسٌ وَالْعُيُوْنُ نَوَاظِرُ لَكِنَّهَا تَخْفَى عَلَى الْعَمْيَانِ

    Kebenaran bak matahari dan mata-mata ini yang melihatnya

    Akan tetapi matahari itu tersembunyi bagi si buta

    أَصَمَّكَ سُوْءُ فَهْمِكَ عَنْ خِطَابِيْ وَأَعْمَاكَ الضَّلاَلُ عَنْ اهْتِدَاءِ

    Kejelekan pemahamanmu membuatmu tuli dari ucapanku

    Dan kesesatan membuat dirimu buta dari petunjukku

    Sebagai penutup, simak dan renungkan ucapan berharga dari seorang doktor spesialis kelompok-kelompok sempalan, Syaikh DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql -hafizhahullahu- :

    “Tidak semua orang yang dituduh Murji’ah dia benar Murji’ah. Terlebih di zaman ini, karena tukang-tukang pengkafiran dan orang-orang ekstrim dari kalangan Khowarij atau yang seperti mereka yang bodoh akan kaidah-kaidah salaf tentang vonis, menuduh orang yang menyelisihi mereka dari kalangan ulama maupun penuntut ilmu dengan Murji’ah. Dan kebanyakan yang digembar-gemborkan mereka adalah masalah berhukum dengan selain hukum Alloh dan masalah wala’ serta baro’.

    Dan terkadang sebagian yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan sunnah ikut andil dalam menuduh tanpa adanya kehati-hatian. Bahkan sebagian penuntut ilmu yang sudah tinggi keilmuaannya ketika menulis masalah takfir pada zaman ini menuduh orang yang menyelisihinya dalam masalah yang juga diperselisihkan oleh salaf dengan tuduhan Murji’ah. Padahal permasalahan­nya jika diteliti kembali tidak termasuk prinsip Murji’ah.”[7]

    (Selesai)

    (Sumber : Majalah adz-Dzakhiirah; Edisi 21; Rajab 1427-Agustus 2006; Dinukil dengan sedikit perubahan dan pembenahan)

    -OOO-OOO-

    HOME

    Bagian 1

    Bagian 2

    Download Artikel PDF (ZIP)

    [1] Al-Ajwibah al-Mutala`imah ‘alal Fatwa Lajnah Da`imah (hal. 4)

    [2] at-Ta’rif wat Tanbi’ah (hal. 15)

    [3] Ar-Roddul Burhani (hal. 256-259).

    [4] Muqoddimah Al-Hukmu Bighoiri Maa Anzalallohu (hal. 9)

    [5] Syaikh Khalid al-Anbari berkata : “Menceritakan kepadaku orang yang terpercaya bahwa para takfiriyun mencoba untuk membujuk Syaikh Bin Baz agar mencekal kitab ini dan mereka berusaha untuk menjelek-jelekkannya akan tetapi syaikh membantah mereka hingga mereka pun gagal. Akan tetapi sepeninggal Syaikh mereka berhasil (menjalankan makarnya).”

    [6] Lihat al-Hukmu (hal. 16)

    [7] Al-Qodariyah wal Murji’ah (hal. 121) karya DR. Nashir al-Aql.

  2. DAKWAH SALAFIYAH BUKAN MURJI’AH

    (Bagian 2 : Syaikh Al-Albani Bukan Murji’ah)

    Oleh :

    Al-Ustadz Abdurrahman bin Thoyyib as-Salafy, Lc.

    (Alumnus Islamic University of Madinah)

    Syaikh Al-Albani Sangat Jauh Dari Murji’ah

    Sudah tidak asing lagi bagi para penuntut Ilmu syar’i akan biografi beliau rahimahullahu. Kitab-kitab beliau yang amat sangat banyak sekali merupakan saksi hidup akan jihad beliau dalam membela kalimat tauhid dan aqidah shohihah serta dalam menghidupkan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Namun merupakan sunnatullah adanya orang-­orang yang memusuhi wali-wali Alloh, se­bagaimana yang telah Dia firmankan :

    “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan­-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka mem­bisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am : 112)

    Dan sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam : “Senantiasa akan ada dari umatku sekelompok orang yang tegak di atas agama Alloh. Tidak memadharatkan mereka orang-orang yang menghina maupun yang menyelisihi mereka hingga datangnya perkara Alloh sedang mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Bukhori) Imam Bukhori rahimahullahu menjelaskan bahwa sekelompok orang tersebut adalah para ahlu ilmi (ulama).[1]

    Diantara hal yang membuktikan bahwa beliau amat sangat jauh dari Murji’ah terlebih Jahmiyah adalah sebagai berikut

    1. Aqidah beliau dalam masalah Iman[2]

    Beliau rahimahullahu berkata dalam ta’liq Aqidah Thohawiyah ketika mengomentari ucapan Imam Thohawi rahimahullahu “Iman adalah ucapan dilisan dan keyakinan dalam hati”, Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata :

    “Ini adalah aqidah Hanafiyah Maturidiyah yang berseberangan dengan salaf serta jumhur ulama seperti Malik, Syafi’i, Ahmad, Al-Auza’i dan selainnya. Mereka semuanya menambahkan amal perbuatan diatas ucapan dan keyakinan. Bukanlah perselisihan antara kedua madzhab hanya perselisihan yang abstrak (tidak ada wujudnya) seperti yang dikatakan oleh (Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi) dengan alasan mereka semua sepakat bahwa pelaku dosa besar tidak keluar dari keimanan dan bahwasanya semua di bawah kehendak Alloh, jika Alloh menghendaki maka Alloh akan mengadzabnya dan jika Alloh menghen­daki maka Alloh akan mengampuninya.

    Sesungguhnya kesepakatan ini meskipun benar, namun seandainya madzab Hanafi tidak menyelisihi jumhur dengan sebenar-benarnya penyelisihan dalam pengingkaran mereka bahwa amal bukan termasuk Iman maka sungguh mereka akan menyepakati bersama jumhur bahwa iman itu bisa bertambah (dan bisa berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan sesuai dengan dalil dari Al-Qur’an dan sunnah serta atsar para salaf. Sebagian dalil-dalil tersebut telah disebutkan oleh Imam Ibnu Abil ‘Izzi (hal.384-387) [344-342], akan tetapi madzhab Hanafi bersikeras untuk menyelisihi dalil-dalil yang jelas tersebut dalam hal bertambah dan berkurangnya iman. Mereka berusaha untuk menta’wilkan dalil-dalil tersebut dengan ta’wil yang dipaksakan bahkan ta’wil yang batil.

    Imam Ibnu Abil ‘Izzi menye­butkan pada hal.(385) [342] sebagian dari ucapan mereka. Bahkan diriwayatkan dari Abi Mu’in An-Nasafi bahwa dia mencela keabsahan hadits “iman memiliki 70 lebih cabang…” meskipun para imam-imam hadits berhujjah dengan hadits tersebut diantaranya Imam Bukhori dan Imam Muslim di dalam kedua kitab shohih mereka. Hadits tersebut tercantum dalam Silsilah Shohihah no.1769.

    Tidaklah hadits ini ditolak melainkan karena menyelisihi madzhab mereka! Kemudian bagaimana mungkin perselisihan ini hanyalah perselisihan yang abstrak, sedangkan mereka membolehkan bagi orang yang sangat fajir/fasik diantara mereka untuk mengatakan : Imanku seperti imannya Abu Bakar bahkan seperti imannya para nabi dan rasul, Jibril dan Mikail -alaihimush sholatu was Salam!

    Bagaimana hal tersebut bisa dibenarkan sedangkan menurut madzhab mereka tidak boleh bagi seorangpun meskipun dia fasik/fajir untuk mengatakan : saya mukmin insya Alloh Ta’ala. Bahkan mereka mengharuskan untuk mengatakan : Saya mukmin dengan sebenar-benarnya!

    Alloh Ta’ala berfirman :

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni’mat) yang mulia.” (QS.Al-Anfal : 2-4)

    “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Alloh?” (QS. An-­Nisa’ : 122)

    Berdasarkan hal ini semua mereka tenggelam dalam kefanatikan mereka. Mereka menyebutkan bahwa barangsiapa yang mengatakan saya mukmin insya Alloh maka dia telah kafir. Tidak cukup di sini saja, bahkan mereka menyatakan bahwa tidak boleh bagi seorang yang bermadzhab Hanafi untuk menikah dengan perempuan dari madzhab Syafi’i! Tapi sebagian mereka membolehkan dengan alasan seperti ahli kitab (yang dibolehkan bagi seorang muslim mengawini perempuan-­perempuan mereka).

    Dan saya pernah kenal seorang dari syaikh madzhab Hanafi yang putrinya dilamar oleh salah seorang syaikh madzhab Syafi’i namun lamarannya ditolak dengan mengata­kan: Seandainya anda bukan dari madzab Syafi’i! Apakah setelah penjelasan seperti ini masih ada keraguan bahwa perselisihan ini bukan sembarangan? Barangsiapa yang ingin perincian dalam masalah ini silahkan lihat kembali kitab Al-Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu karena kitab ini merupakan kitab terbaik dalam pembahasan tentang iman.”[3] (selesai penukilan ucapan Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

    Beliau rahimahullahu juga berkata ketika mem­bantah salah seorang yang mencela Musnad Ahmad rahimahullahu :

    “Sesungguhnya orang ini[4] bermadzhab Hanafi dan beraqidah Maturidi. Telah diketahui bersama bahwa mereka tidak mengatakan seperti apa yang ada dalam Al-Qur’an dan sunnah serta atsar para sahabat bahwasanya iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang dan bah­wasanya amal termasuk bagian dari ke­imanan. Ini adalah aqidah jumhur ulama salaf dan kholaf selain madzhab Hanafi. Mereka (orang madzhab Hanafi) bersikeras untuk menyelisihi salaf dalam masalah ini bahkan sebagian mereka menyatakan bahwa aqidah seperti di atas adalah aqidah kufur dan murtad -wal ‘iyadzu billah-.

    Disebutkan dalam kitab Al-Bahru Ar-Roo`iq bab Al-Karohiyah (VIII/205) oleh Ibnu Najim Al-Hanafi bahwasanya “iman tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang karena iman menurut kami bukan bagian dari amal.” Ini jelas-jelas menyelisihi hadits Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah ditanya : “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab : “Iman kepada Alloh dan Rasul-Nya…” (HR. Bukhori dan selainnya. Bisa dilihat dalam At-Targhib II/107).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memperinci masalah keberadaan iman merupakan bagian dari amal dan bahwasanya iman itu bertambah dan berkurang dalam kitab beliau Al-Iman. Silahkan lihat.

    Aku (Syaikh Al-Albani) katakan “Inilah yang selalu aku katakan sejak lebih dari 20 tahun yang lalu untuk menguatkan madzhab salaf dan aqidah Ahlu Sunnah -walillahi al-hamdu- tentang masalah iman. Tapi sekarang tiba-tiba muncul sebagian orang yang bodoh lagi ingusan yang menuduh kami sebagal Murji’ah !! Kepada Allohlah kami mengadukan kebodohan, kesesatan dan kejahatan mereka.”[5] (selesai sampai di sini ucapan Syaikh Al-Albani)

    Inilah aqidah Syaikh Al-Albani rahimahullahu yang menyatakan bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang dan bahwasanya iman itu bercabang. Beliau juga membolehkan istitsna’ dan bahwasanya amal termasuk bagian dari keimanan. Dari sini beliau telah mendapat rekomendasi (secara logis konsekuensi) dari para imam-imam salaf seperti Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hanbal, dan Imam Al-Barbahari – rahimahumullahu jami’an- bahwasanya beliau telah terlepas dan selamat dari Murji’ah mulai awal sampai akhir. Bahkan beliau adalah bumerang bagi Murji’ah. Oleh karenanya beliau mentahqiq kitab-kitab yang menguatkan aqidah salaf ini seperti Kitabul Iman karya Ibnu Abi Syaibah, Kitabul Iman karya Abu Ubeid dan Kitabul Iman oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rahimahumulahu jami’an-.

    Di dalam majelis ta’lim pernah dibaca­kan kepada beliau fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullahu tentang pengkafiran orang yang mencela dan memperolok (Alloh, Rasul dan agama-Nya –pent.) lalu beliaupun menguatkannya dan bahwasanya inilah yang juga beliau yakini.[6]

    Dan didalam majlis ta’lim yang sudah dikenal antara Syaikh rahimahullahu dengan penulis ini (i.e. Syaikh Kholid Al-Anbari -hafizhahullahu-), beliau dengan jelas­, menyatakan bahwa kekufuran itu bisa dengan perbuatan seperti sujud kepada berhala, membuang mushaf di tempat kotor, dan bisa juga dengan ucapan seperti memperolok dan mencela Alloh dan Rasul.

    Beliau juga menyatakan bahwa kekufuran itu ada enam macam, yaitu :

    1. Takdzib (pendustaan dengan hati dan lisan).
    2. Juhud (pendustaan dengan lisan saja).
    3. ‘Inad (menentang).
    4. I’rodh (berpaling).
    5. Nifaq (munafik).
    6. Syak (Ragu)

    Beliau menyatakan bahwa Murji’ah adalah orang-orang yang menyatakan bahwa kufur itu hanyalah takdzib saja. Murji’ah mengatakan bahwa setiap orang yang dikafirkan Alloh adalah yang tidak ada pembenaran dalam hatinya tentang Alloh Ta’ala.[7]

    Adapun masalah apakah kafir atau tidakkah orang yang meninggalkan jinsul (jenis) amal atau aahadul (individu) amal?[8] maka Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata “Siapakah yang mengatakan kaidah seperti ini?! Apakah Alloh dan Rasul-­Nya?! ini adalah ucapan yang tidak bermakna! Kita katakan : Barangsiapa yang dikafirkan Alloh dan Rasul-Nya maka dia yang disebut orang kafir dan barangsiapa yang tidak dikafirkan oleh Alloh dan Rasul-Nya maka dia bukan orang kafir. Inilah yang benar. Adapun masalah jinsul amal atau na’ul (macam) amal serta aahadul amal maka ini hanyalah filsafat yang tidak ada manfaatnya.”[9] Kalau ada yang mengatakan bahwa kafir orang yang meninggalkan jinsul amal maka bagaimana pendapatnya tentang hadits syafaat Alloh bagi orang­orang yang tidak beramal kebaikan sama sekali?”[10]

    Demikian pula dengan masalah apakah amal termasuk syarthul kamal (syarat kesempurnaan) ataukah syarthus shihah (syarat sahnya iman), maka ini juga termasuk masalah yang muhdats (baru) yang tidak pernah dikatakan oleh para ulama salaf, yang ada dari mereka -para salaf- adalah amal terma­suk bagian dari iman.[11]

    Adapun kalau ada yang membawa ucapan salaf (Iman adalah ucapan, per­buatan dan niat. Salah satu dari ketiganya tidak sah (mencukupi) kecuali dengan adanya yang lain) untuk menyatakan bahwa amal adalah syarat sahnya iman dan kafir orang yang meninggalkan jinsul amal,[12] maka apakah orang yang tidak berniat dalam berucap atau berbuat itu kafir?! dan kafirkah orang yang beramal, dan berucap serta berniat namun tidak sesuai dengan sunnah seperti ungkapan sebagian salaf tentang iman?!

    Apakah Syaikh Al-Albani rahimahullahu hanya menyempitkan kekufuran pada juhud atau takdzib saja? Inilah jawaban murid beliau Syaikh Ali bin Hasan –hafidzahullahu- ­akan syubhat ini[13] : “Terkadang ada didalam ucapan Syaikh Al-Albani bahwa kekufuran itu dengan juhud dan takdzib! Maka sebagian orang[14] memahami bahwa Syaikh rahimahullahu menyempitkan kekufu­ran hanya pada juhud atau takdzib saja dan meniadakan macam-macam kekafi­ran yang lainnya seperti kufur iba’/istikbar (sombong), imtina’ (menolak), syak, nifak dan selainnya.”

    Pemahaman mereka terhadap ucapan Syaikh rahimahullahu ini batil karena penyebutan sesuatu tanpa selainnya bukan berarti meniadakan akan selainnya tersebut. Bahkan mungkin bisa jadi penyebutan tersebut berlandaskan kebanyakan atau mayoritas. Penyebutan seperti ini juga pernah diucapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam Majmu ‘Fatawa (III/354) : “Asal kekufuran itu ada pada pengingka­ran kepada Alloh.” Apakah dengan ini kita mengatakan bahwa beliau menyempitkan kekufuran hanya pada pengingkaran semata ?!

    Demikian pula Ibnul Qoyyim rahimahullahu mengatakan dalam Ahkam Ahlidz Dzimmah (III/1156) : “Kekufuran itu ada pada juhud.” Apakah akan kita katakan bahwa beliau menyempitkan kekufuran hanya pada juhud saja ?! Beliau juga mengatakan dalam Qosidah Nuniyah (II/453) dengan syarah Syaikh Kholil Harros rahimahullahu :

    الكُفْرُ لَيْسَ سِوَى اْلعِنَادِ وَرَدِّ مَا جَاءَ الرَّسُوْلُ بِهِ لِقَوْلِ فُلاَنِ

    Kekufuran itu tidak lain melainkan dengan ‘inad/penentangan dan menolak

    apa yang dibawa oleh Rasul karena ucapan seseorang

    Ucapan yang senada dengan yang di atas juga dikatakan oleh Syaikh Abdurrohman As-Sa’di rahimahullahu dalam Minhajus Salikin (hal.112) : “Telah disebutkan oleh para ulama -rohimahumullahu- perincian hal-hal yang bisa mengeluarkan seorang hamba dari Islam. Dan semua itu kembalinya kepada juhud (pengingkaran) terhadap apa yang dibawa Rasul baik secara keseluruhan atau sebahagiannya.” Apakah kita akan mengatakan bahwa beliau telah menyempitkan kekufuran hanya pada juhud saja ?!

    Lihatlah ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu yang akan menjelaskan semua ini dalam Majmu’ Fatawa (XX/98) tentang orang yang meninggalkan sholat : “Barangsiapa dari kalangan fuqoha’ yang memutlakkan/menyatakan bahwa tidak kafir kecuali yang juhudl menentang kewajibannya maka yang dia maksud dengan juhud tersebut telah mencakup takdzib akan kewajibannya dan imtina’ ketika mengucapkannya…”

    Lantas, apakah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dan Syaikh Abdurrohman As-Sa’di –rohimahumullahu jami’an- adalah Murji’ah karena ucapan mereka itu?!

    أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ

    “Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqoroh : 44)

    2. Rekomendasi ulama Ahlu Sunnah akan aqidah Syaikh Al-Albani

    Al-‘Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahu pernah ditanya sebagai berikut : “Sebagian orang menebarkan syubuhat tentang aqidah al-‘Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani hafizhahullahu dan mereka menisbatkan kepada beliau sebagai kelompok sesat seperti Murji’ah. Apa ucapan (nasehat) Anda terhadap mereka?”

    Beliau rahimahullahu menjawab : “Syaikh Nashiruddin Al-Albani termasuk saudara-saudara kita ahli hadits yang terkenal dari kalangan ahli sunnah wal jama’ah. Kita mohon kepada Alloh semoga Dia selalu memberikan kepada kita dan beliau taufiq serta pertolongan di atas kebaikan. Yang wajib bagi setiap Muslim adalah selalu bertakwa kepada Alloh dan merasa takut kepada Alloh (dari menuduh) para ulama dan janganlah dia berbicara kecuali diatas ilmu.”[15]

    Al-‘Allamah Faqiihuz Zaman Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullahu pernah ditanya : “Berkata sebagian orang : Sesungguhnya Syaikh Al-Albani rahimahullahu ucapannya dalam masalah iman adalah ucapan Murji’ah. Bagaimana menurut pendapat anda ?”

    Beliau rahimahullahu menjawab : “Aku katakan kepada kalian sebagaimana yang dikatakan oleh orang terdahulu :

    أَقِلُّوْا عَلَيْهِمْ لاَ أَبَا لِأَبِيْكُمْ مِنَ اللَّوْمِ أَوْ سَدُّ المَكَانَ الَّذِيْ سَدُّ

    Tinggalkan segala celaan terhadap mereka

    atau berbuatlah (kebaikan) sebagai­mana mereka telah berbuat

    Syaikh Al-Albani rahimahullahu adalah seorang alim ahli hadits dan faqih, meskipun lebih kuat ahli haditsnya dari faqih. Saya tidak pernah selamanya mendapatkan beliau memiliki ucapan yang menunjukkan bahwa beliau Murji’ah. Akan tetapi or­ang-orang yang ingin mengkafirkan manusia (kaum muslimin) menuduh beliau dan yang semisal beliau dengan tuduhan murji’ah! Ini semuanya hanyalah pemberian gelar yang buruk. Dan saya bersaksi akan keistiqomahan Syaikh Al-Albani rahimahullahu serta kebaikan aqidah dan keikhlasan beliau. Meskipun demikian kita tidak mengatakan bahwa beliau tidak pernah bersalah karena tidak ada seorang pun yang tidak bersalah melainkan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”[16]

    Beliau rahimahullahu juga berkata : “Barangsiapa yang menuduh Syaikh Al-Albani dengan Murji’ah maka dia telah keliru. Mungkin orang itu tidak tahu siapa Syaikh Al-Albani atau mungkin dia tidak tahu tentang siapa Murji’ah!! Syaikh Al-Albani adalah ahli sunnah rahimahullahu, pembela sunnah, imam dalam ilmu hadits, kita tidak mengetahui seorangpun yang menandingi beliau pada zaman ini. Akan tetapi sebagian orang -kita mohon kepada Alloh keselamatan- ada di dalam hatinya rasa hasad, jika melihat ada orang yang diterima oleh manusia diapun bersegera mengolok-oloknya seperti perbuatan orang-orang munafik

    “(orang-orang munafik) yaitu orang­-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya” (QS. At-Taubah:79)

    Beliau rahimahullahu telah kita kenal lewat buku-­buku beliau dan aku juga mengenal terkadang lewat majlis-majlis beliau. Beliau adalah salafi dalam aqidah dan selamat manhajnya. Akan tetapi sebagian orang yang ingin mengkafirkan hamba-hamba Alloh dengan hal-hal yang tidak Alloh kafirkan mereka dengannya menuduh dengan kedustaan dan kebohongan bahwa orang yang menyelisihi mereka dalam pengkafiran adalah Murji’ah. Oleh karena itu janganlah kalian mendengarkan tuduhan ini dari siapapun juga.”[17] (Selesai ucapan beliau)

    Al-‘Allamah Ahli Hadits Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad -hafidza­hullahu- berkata : “Syaikh Al-Albani seorang alim besar, ahli hadits terkenal, pembela sunnah, aqidah beliau benar dan beliau memiliki perjuangan dalam aqidah. Kitab-kitab beliau tentang aqidah semuanya selamat dan tidak ada seorang penuntut ilmu pun yang bisa lepas dari ilmu dan kitab-kitab beliau.”[18]

    Al-‘Allamah asy-Syaikh At-Tuweijiri rahimahullahu berkata “Syaikh Al-Albani adalah pembela sunnah, mencela Syaikh Al-Albani berarti mencela sunnah.”[19]

    Sungguh indah dan benar apa yang dikatakan oleh Abu Mu’awiyah Ali bin Ahmad bin Suuf –hafidzahullahu- : “Cukuplah Alloh sebagai pelindung dan penolong kami, Bagaimana bisa orang yang selama hidupnya memerangi bid’ah (Murji’ah-pent) dan para pelakunya dituduh sebagai Murji’ah?! Dan bagaimana bisa dikatakan orang itu berada di atas bid’ah sedang seluruh hidupnya selalu bersama sunnah?! Setiap orang yang melihat Imam (Al-Albani) dengan kedua matanya dia pasti akan melihat sendiri sunnah berjalan di atas bumi ini di dalam ucapan, pakaian dan gerak-gerik beliau. Akan tetapi orang-orang bodoh tidak bisa diam.Tidaklah karya-karya besar yang menghabiskan usia beliau dalam meneliti keshohihan hadits dari kelemahannya seperti Silsilah Shohihah dan Dho’ifah dan selainnya melainkan bukti yang paling konkret bahwa beliau tidaklah menyelisihi manhaj salaf dalam prinsip yang agung ini (masalah iman-pent).”[20] (selesai di sini ucapan beliau)

    Orang yang menuduh Syaikh Al-Albani dengan Murji’ah atau tuduhan yang lainnya[21] ibaratnya seperti yang dikatakan seorang penyair :

    لاَ يَضُرُّ الْبَحْرَ أَمْسَى زَاخِرًا أَنَّ رَمَى فِيْهِ غُلاَمٌ بِحَجَرِ

    Tidaklah memadharatkan samudera yang luas

    Jika seorang anak kecil melemparinya dengan batu kerikil

    كَنَاطِحِ صَخْرَةٍ يَوْمًا لِيُوْهِنَهَا فَلَمْ يَضُرُّهَا وَأَوْهَا قَرْنَهُ الْوَعِلُ

    Seperti kambing hutan yang menanduk batu besar untuk meruntuhkannya

    Tapi dia tidak bisa memadharatkannya dan kambing itu merusak tanduknya sendiri

    (Bersambung Bagian 3)

    (Sumber : Majalah adz-Dzakhiirah; Edisi 21; Rajab 1427-Agustus 2006; Dinukil dengan sedikit perubahan dan pembenahan)

    -OOO-OOO-

    Bagian 1

    HOME

    Bagian 3

    Download Artikel PDF (ZIP)

    [1] Lihat Shohih Bukhori dalam kitab AI-I’tishom bil kitab was sunnah bab kesepuluh. Dari sini juga kita ketahui kesalahan sebagian orang-orang harakah yang menafsirkan sekelompok orang tersebut adalah para “mujahidin?” (dan yang mereka maksud adalah Usamah bin Laden CS) bukan para ulama yang darah dan daging mereka telah bersatu dengan ilmu agama ini. Maka sungguh benar apa yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam : “Akan datang sebelum hari kiamat tahun-tahun yang menipu. Di dalamnya dibenarkan orang yang berdusta den didustakan orang yang benar/jujur dan akan dipercaya orang yang berkhianat tapi orang yang amanat tidak dipercaya. Dan akan muncul Ar-Ruwaibidhoh.” Para sahabat bertanya : “siapakah Ar-Ruwaidhoh itu?” Beliau menjawab : “Orang bodoh yang berbicara tentang (persoalan besar) umat ini.” (Lihat Ash-shohihah 1877) dan beliau juga bersabda “Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari Al-Ashoghir (orang bodoh atau ahli bid’ah- pent).”

    Syaikh al-Albani adalah seorang ahli hadits dan ulama terkemuka namun dicela, sedangkan Usamah bin Ladin adalah seorang insinyur/kontraktor yang bukan seorang alim namun dianggap sebagai ulama sekaligus sebagai pahlawan Islam?!!! Wa ilallohi musytaka (Hanya kepada Alloh kami mengadu). (Lihat pembahasan ulama tentang ath-Tho`ifah al-Manshuroh dalam kitab ath-Tho`ifah al-Manshuroh karya Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullahu.)

    [2] Kami nukil dari Murji’atul Ashr (hal. 65-69).

    [3] Syarh wa Ta’liq Aqidah ath-Thohawiyah (hal. 63).

    [4] Yang dimaksud adalah Muhammad Zahid al-Kautsari ghofarollahu lahu

    [5] Adz-Dzabbul Ahmad ‘an Musnadil Imam Ahmad (hal. 32-33).

    [6] Kaset Silsilah Huda wa Nur (no. 743) dan silahkan baca juga Silsilah ash-Shahihah (VII/143).

    [7] Dengar kaset ceramah beliau yang berjudul at-Tahrir li Masa`ilit Takfir.

    [8] Ini adalah istilah baru yang tidak dikenal oleh para ulama salaf. Istilah ini dikenalkan oleh Safar Hawali. Lihat footnote ar-Rod al-Burhani (hal. 146).

    [9] Ar-Roddul Burhani (hal. 146).

    [10] Lihat hadits ini dalam Silsilah ash-Shahihah (VII/129) dan Hukmu Tariki ash-Sholah (hal. 27-28) karya Syaikh al-Albani rahimahullahu.

    [11] Lihat ucapan Syaikh al-Albani dalam ad-Duror al-Mutalali`ah (hal. 113) dan Syaikh Ali Hasan dalam al-Ajwibah al-Mutala`imah (hal. 5,8). Untuk mendapatkan lebih terperinci lagi tentang apakah amal termasuk syarat sahnya iman atau syarat sempurnanya iman lihat kitab Tafshiilul Ijmal fi Syarthis Shihah wa Syarthil Kamal dan at-Ta’rif wa Tanbi’ah karya Syaikh Ali Hasan.

    [12] Seperti yang dinyatakan oleh Majalah an-Najah dalam artikel yang berjudul “Aqidah Jama’ah Salafiyah” (hal. 2).

    [13] Lihat at-Ta’rif wat Tanbi’ah (hal. 75-97).

    [14] Sebagaimana penulis artikel “Aqidah Jama’ah Salafiyah” dalam majalah an-Najah (hal. 4). Keadaannya dan apa yang tercantum di dalam makalah mereka ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh penyair :

    وَمَا لَِأقْوَالِهِمْ إِذَا كُشِفَتْ حَقَائِقًُ بَلْ جَمِيْعُهَا شُبَهُ

    Tidaklah ucapan-ucapan mereka jika disingkap

    Merupakan suatu kebenaran, akan tetapi semua ucapan mereka adalah syubuhat/kerancuan.

    [15] Ar-Roddul Burhani (hal. 73-74).

    [16] Ibid, (hal.71- 72).

    [17] Ibid (hal. 72).

    [18] Footnote ar-Roddul Burhani (hal. 75).

    [19] Murji’atul Ashr (hal. 64).

    [20] Lihat kitab at-Tibyaan li ‘alaqootil ‘amal bi musamma al-Iman (hal. 12) karya Abu Mu’awiyah Ali bin Ahmad bin Suuf dengan taqrizh DR,.Gholib bin ‘Ali al-‘Awaaji, DR. Abdullah bin Ibrahim az-Zahim (keduanya adalah dosen di Universitas Islam Madinah) dan DR. Abdullah bin Muhammad al-Qorni (dosen Ummul Quro’ di Makkah).

    [21] Seperti yang dilakukan oleh buletin “Sunni” (lebih tepat dibaca “Bid’i”) yang menuduh Syaikh al-Albani tanpa dalil dan bukti yang nyata sebagai pendusta umat. Alangkah miripnya mereka dengan kaum musyrikin Quraisy yang menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebagai pendusta. “Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Dan orang-orang kafir berkata : Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” (QS Shaad : 4).

  3. sadar lah wahai saudaraku
    hendaknya engkau hati-hati dalam berbicara
    apakah antum tahu apa itu MURJI’AH ?

    DAKWAH SALAFIYAH BUKAN MURJI’AH

    (Bagian 1: Hakikat Murji’ah Menurut Salafiyah)

    Oleh :

    Al-Ustadz Abdurrahman bin Thoyyib as-Salafy, Lc.

    (Alumnus Islamic University of Madinah)

    Pada akhir-akhir ini banyak sekali tuduhan-tuduhan miring yang dilontarkan kepada Dakwah Salafiyah yang mubarokah, terutama oleh para aktivis gerakan (harokah termasuk adanya gerakan Khowarij Kontemporer)[1] yang merasa telah banyak dibongkar kedok mereka oleh dakwah ini. Dan yang paling banyak atau sering mendapat tuduhan tersebut adalah Al-‘Allaamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani[2] rahimahullahu beserta murid-murid beliau -hafizhahumullahu-.

    Dan ini merupakan suatu kebiasaan ahli bid’ah sejak zaman dahulu sampai sekarang untuk menjauhkan umat dari para ulama Robbaniyyin yang berdakwah kepada tauhid serta menebarkan sunnah dan membasmi syirik serta bid’ah. Hal ini seperti yang telah dialami oleh Dakwah Salafiyah yang dijalankan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu yang dituduh dengan berbagai macam celaan, bahkan sebagian orang awam yangl termakan syubhat-syubhat mereka ketika mendengar gelar wahabi Iangsung merinding dan lari ketakutan.

    Diantara tuduhan yang sekarang lancar disebarkan adalah tuduhan bahwa Dakwah Salafiyah adalah Dakwah Murji’ah. Padahal kalau mereka mau membuka mata lebar-lebar dan membersihkan hati, sungguh mereka akan banyak beristighfar dan bertobat dari semua tuduhan ini.

    Siapakah Murji’ah menurut Ulama Salaf?

    Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata : “Adapun Murji’ah mereka mengatakan iman hanyalah ucapan tanpa amal per­ buatan, barangsiapa yang bersyahadat Laa ilaha illa Allohu wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu maka dia telah sempuma keimanannya. Imannya seperti imannya Jibril dan para malaikat meskipun dia membunuh (orang yang haram darahnya-pent) dia tetap dikatakan sebagai mukmin, dan meskipun dia meninggalkan mandi janabat serta tidak sholat. Mereka juga menghalalkan darah kaum muslimin. “[3]

    Waki’ bin Jarroh rahimahullahu berkata “Ahlu Sunnah mengatakan bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Adapun Murji’ah mengatakan bahwa iman adalah ucapan belaka tanpa perbuatan. Sedangkan Jahmiyah mengatakan iman hanyalah ma’rifah (pengenalan).”[4]

    Fadhl bin Ziyad rahimahullahu berkata : “Pernah Imam Ahmad ditanya tentang Murji’ah, lalu beliau berkata : Murji’ah adalah kelompok yang menyatakan iman itu hanyalah ucapan.”[5]

    Muhammad bin Husein Al-Ajurri rahimahullahu berkata : “Berhati-hatilah kalian -rohimakumullahu- dari ucapan orang yang mengatakan : Sesungguhnya imanku seperti imannya Jibril dan Mikail. Dan barang­siapa yang mengatakan : Saya adalah orang mukmin di sisi Alloh dan saya adalah orang yang sempurna keimanannya, maka ini adalah ucapan kelompok Murji’ah.”[6]

    Syuraih bin Nu’man rahimahullahu berkata : “Aku pernah bertanya kepada Yahya bin Salim Ath-Thoo`i ketika kami berada di belakang maqom Ibrahim (di masjidil Haram­ Mekah-pent). Apa yang dikatakan oleh Murji’ah? Beliau menjawab, Mereka mengatakan : Thowaf di Ka’bah bukan termasuk keimanan.”[7]

    Abdurrohman bin Mahdi rahimahullahu berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Syu’bah berkata kepada Syariik rahimahullahu : Mengapa engkau tidak memperbolehkan persaksian Murji’ah? Beliau menjawab : Bagaimana mungkin aku membolehkan persaksian kaum yang menyatakan bahwa sholat bukan termasuk keimanan?”[8]

    Berkata Imam Ibnu Baththoh Al-Akburi rahimahullahu (meninggal tahun 387 H) : “Berhati­-hatilah kalian -rahimakumullahu- dari bermajlis dengan suatu kaum yang keluar dari agama ini, karena mereka mengingkari Al-Qur’an dan menyelisihi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam serta keluar dari ijma ulama kaum muslimin. Mereka adalah kelompok yang mengatakan : Iman adalah ucapan tanpa amal perbuatan.

    Mereka juga mengata­kan : Sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla menurunkan kepada mereka kewajiban-kewajiban tapi tidak memerintahkan mereka untuk mengamalkannya dan tidak memadhorot­kan mereka jika mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban tersebut. Dan Alloh melarang mereka dari hal-hal yang haram, dan manusia tetap menjadi orang yang beriman (secara sempurna-pent) meskipun melakukan hat-hal yang dilarang tersebut.

    Sesungguhnya iman menurut mereka adalah mengakui kewajiban-kewajiban dan tidak perlu untuk dikerjakan dan mengetahui yang haram meskipun mereka halalkan. Mereka mengatakan : Sesungguhnya mengenal Alloh itu disebut sebagai iman yang tidak membutuhkan ketaatan. Sesungguhnya orang yang tahu tentang Alloh dengan hatinya maka dia adalah seorang mukmin dan orang yang beriman dengan lisannya serta mengakui dergan hatinya adalah orang yang sempurna ke­imanannya seperti Jibril. Iman itu tidak bertingkat dan tidak bertambah serta tidak berkurang. Tidak ada perbedaan antara manusia (dalam tingkatan keimanan­-pent), orang yang rajin (ibadah) dan yang malas, yang taat dan yang berbuat maksiat semuanya sama…”[9]

    Beliau juga berkata : “Berhati-hatilah katian –rahimahumullahu- dari orang yang mengatakan saya mukmin di sisi Alloh dan saya mukmin yang sempurna imannya, dan berhati-hatilah dari orang yang mengatakan imanku seperti imannya Jibril dan Mikail. Sesung­guhnya mereka adalah Murji’ah, kelompok sesat dan menyimpang dari agama…”[10]

    Berkata Imam Abdul Qohir bin Thohir Al-Baghdadi rahimahullahu (meninggal pada tahun 429 H) : “Mereka dinamakan Murji’ah karena mereka mengakhirkan amal per­huatan dari keimanan.”[11]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : “Murji’ah yang mengatakan iman adalah pembenaran dalam hati serta ucapan dengan lisan dan bahwasanya amal bukan termasuk iman, diantara mereka adalah fuqoha’ Kufah dan para ahli ibadah…”[12]

    Beliau juga berkata : “Adapun masalah istitsna’ (mengatakan insya Alloh,-ed) dalam Iman yaitu seseorang mengatakan : Saya mukmin insya Alloh, maka manusia ada tiga pendapat dalam hal ini : ada yang mewajibkan, ada pula yang mengharam­an dan ada juga yang membolehkan kedua-duanya. Dan pendapat ketiga inilah yang paling benar. Yang meng­haramkan istitsna’ adalah orang-orang Murji’ah dan Jahmiyah serta selain mereka dari orang-orang yang menyatakan bahwa iman itu satu (tidak bercabang,-pent)…”[13]

    Imam Ibnu Atsir rahimahullahu berkata : “Murji’ah adalah suatu kelompok (sempalan) dalam Islam yang meyakini bahwa makiat tidaklah memadhorotkan keimanan seba­gaimana tidak bermanfaat ketaatan bersama kekufuran. Mereka dinamakan Murji’ah karena keyakinan mereka bahwa Alloh mengakhirkanlmenjauhkan adzab dari mereka karena perbuatan maksiat…”[14]

    Dari ucapan-ucapan ulama salaf di atas dan yang lain yang tidak mungkin kami sebutkan semuanya di sini, telah jelas bagi kita tanda-tanda atau ciri-ciri Murji’ah sebenarnya. Inilah tanda-tanda Murji’ah menurut ulama salaf :

    1. Ucapan bahwasanya iman adalah ucapan lisan atau pembenaran hati atau ucapan dan pembenaran.
    2. Ucapan bahwasanya iman itu tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang. Dan bahwasanya iman itu tidak bercabang serta tidak bertingkat­-tingkat keimanan pemiliknya dan keimanan semua orang itu sama.
    3. Mereka mengharamkan istitsna’ dalam iman.
    4. Pernyataan bahwasanya meninggal­kan kewajiban dan melakukan yang dilarang tidak memadhorotkan ke­imanan dan tidak merubahnya.
    5. Menyempitkan kekufuran hanya dengan takdzib/pendustaan hati saja.
    6. Mensifatkan perbuatan kufur yang tidak bisa diganggu gugat kekufurannya seperti menghina/mengolok-olok (Alloh dan Rasul-Nya serta agama-Nya) dengan ucapan :Itu bukan kufur sebenarnya, namun hanya menunjuk­kan pendustaan dalam hatinya.

    Inilah ciri-ciri Murji’ah menurut Ahlu Sunnah, maka barangsiapa yang memiliki salah satu perangai darinya maka diaah Murji’ah khabits (yang busuk). Dan barangsiapa yang tidak memiliki sedikitpun tanda­-tanda tersebut maka diharamkan untuk dia dituduh dengan Murji’ah selamanya, karena daging/kehormatan para ulama dan penuntut ilmu itu beracun.[15]

    Dan Dakwah Salafiyah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah manusia yang pal­ing tahu tentang kebenaran serta paling kasih sayang kepada manusia. Mereka tidak menuduh siapapun juga dengan tuduhan batil/dusta, karena kehormatan adalah tanah larangan yang tidak boleh didekati kecuali dengan bukti yang jelas sejelas matahari di siang bolong. Mereka Ahlu Sunnah bukan sepertl kebanyakan (aktivis gerakan-pent) sekarang yang menuduh orang-orang yang tak bersalah dengan tuduhan-tuduhan batil karena dorongan hizbiyah (fanatik golongan) atau karena latar belakang dunia.[16]

    Siapakah yang Tidak Bisa Dikatakan Murji’ah Menurut Salaf?

    Para ulama salaf telah menyebutkan kepada kita tentang ciri-ciri orang-orang yang terlepas dan keluar dari Murji’ah, diantaranya

    1- Ucapan bahwasanya iman itu ucapan dan perbuatan.

    Abdullah bin Mubarok rahimahullahu pernah ditanya : “Apakah anda Murji’ah?” Beliau menjawab : “Saya mengatakan iman adalah ucapan dan perbuatan, bagaimana mungkin saya menjadi Murji’ah?!”[17]

    2- Ucapan bahwasanya iman itu bertambah dan berkurang.

    Imam Ahmad rahimahullahu, pernah ditanya tentang orang yang mengatakan bahwasanya iman itu bertambah dan berkurang ? Beliaupun menjawab: “Orang ini telah terlepas dari Murji’ah.”[18]

    Imam Al-Barbahari rahimahullahu. mengatakan “Barangsiapa yang mengatakan iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang maka dia telah keluar dari Murji’ah mulai dari awal sampai akhlrnya.”[19]

    3- Ucapan bahwasanya maksiat bisa mengurangi keimanan dan dapat memadhorotkannya.

    4- Bolehnya mengatakan saya mukmin insya Alloh.

    Abdurrohman bin Mahdi rahimahullahu berkata: “Apabila dia meninggalkan istitsna’ maka ini termasuk prinsip Murji’ah.”[20]

    5- Ucapan bahwasanya kekufuran bisa dengan perbuatan sebagai­mana kekufuran juga bisa disebabkan oleh keyakinan dan ucapan. Dan bahwasanya amal per­buatan terkadang bisa dianggap kafir tanpa melihat keyakinan.[21]

    Murji’ah Menurut Ahli Bid’ah Terdahulu

    Dahulu ahli bid’ah dari kalangan khowarij dan selainnya menuduh Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan Murji’ah, karena Ahlu Sunnah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar tidak kafir kecuali dengan adanya istihlal (penghalalan akan dosa tersebut) dan bahwasanya orang yang meninggalkan sholat karena malas tidak menyebabkannya kafir yang mengeluarkan dari Islam. Semua ini menjelaskan kepada kita bahwa tuduhan terhadap Ahlu Sunnah ini sudah ada sejak dahulu dan yang menuduh tersebut lebih dekat kepada bid’ah dari pada kepada sunnah.

    Disini kita cukupkan dengan menye­butkan dua atsar dari salaf

    1. Ishaq bin Rohawaih rahimahullahu menceritakan dari Syaiban bin Farukh bahwasanya dia pernah berkata : “Aku bertanya kepada Abdullah bin Mubarok : “Apa pendapatmu mengenai orang yang berzina, meminum khomer dan selainnya, apakah dia mukmin?” Abdullah bin Mubarok menjawab : “Aku tidak mengeluarkannya dari ke­imanan.” Syaiban berkata : “Dengan usiamu yang tua engkau menjadi Murji’ah?!” Abdullah bin Mubarok menjawab : “Wahai Abu Abdulah, sesungguhnya Murji’ah tidak mernerimaku. Aku mengatakan iman itu bertambah sedangkan Murji’ah tidak mengatakan seperti itu.”[22]

    2. Syaikh Al-‘Allamah Abul Fadhl As­-Saksaki Al-Hambali rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya sekelompok ahli bid’ah yang bernama Al-Manshuriyah menuduh Ahlu Sunnah sebagai Murji’ah karena mereka (Ahlu Sunnah) mengatakan bahwa orang yang meninggalkan sholat jika tidak diiringi dengan pengingkaran akan kewajibannya maka dia masih muslim menurut pendapat yang kuat dari madzhab Imam Ahmad. Mereka (ahli bid’ah) mengatakan : Pendapat ini menjadikan iman menurut mereka hanyalah ucapan tanpa amal perbua­tan.”[23]

    Padahal sangat jelas perbedaan antara hukum orang yang meninggalkan sholat karena malas menurut Ahlu Sunnah dan menurut Murji’ah. Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullahu berkata : “Ucapan (tentang tidak kafirnya orang yang meninggalkan sholat karena malas) telah dikatakan oleh sekelompok dari para imam yang mengatakan iman adalah ucapan dan perbuatan. Dan Murji’ah juga mengatakan seperti itu, akan tetapi Murji’ah mengatakan orang tersebut sempurna keimanannya.[24] Dan kami telah menyebutkan perbedaan ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah tentang orang yang meninggalkan sholat (Karena malas tapi masih mengakui hukum kewajibannya,-pent). Adapun ahli bid’ah seperti Murji’ah mereka mengatakan Orang yang meninggalkan sholat imannya sempurna jika dia masih meyakini kewajibannya.”[25]

    Bahkan mereka mengatakan Imannya seperti iman Jibril dan Mikail!! Adapun Salaf Ahli Hadits mereka mengatakan : “Sesungguhnya dia kurang imannya, dan berada di bawah kehendak Alloh, jika Dia berkehendak Dia akan mengadzabnya di neraka (meski tidak kekal didalamnya,-pent) dan jika Dia mau, Dia ampuni serta Dia masukkan kedalam surga-Nya.”[26]

    Imam Ash-Shobuni juga berkata : “Ahli hadits berselisih pendapat tentang seorang muslim yang meninggalkan sholat fardhu dengan sengaja. orang tersebut dikatakan kafir oleh Imam Ahmad bin Hambal dan sekelompok ulama salaf yang lain dan mereka mengeluarkannya dari agama Islam seperti yang tercantum dalam hadits shohih yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam : “Antara seorang hamba dengan kesyirikan adalah meninggalkan sholat, maka barangsiapa yang mening­galkan sholat ia kafir.”[27]

    Imam Syafi’i rahimahullahu beserta para sahabat-sahabat beliau dari ulama salaf -semoga rohmat Alloh atas mereka semua- berpendapat bahwa orang tersebut tidak kafir selama meyakini kewajibannya. Akan tetapi orang tersebut berhak untuk dibunuh, seperti orang murtad dari Islam yang juga berhak dibunuh. Mereka menafsirkan hadits diatas dengan : “Barangsiapa yang meninggalkan sholat dengan mengingkari kewajibannya (maka dia kafir)…”[28]

    Definisi Murji’ah Menurut Ahli Bid’ah Sekarang

    Orang-orang yang menyelisihi Ahlu Sunnah dan menuduh mereka dengan Murji’ah telah melakukan suatu kedustaan dan kebohongan. Tapi Alloh enggan melainkan menjatuhkan mereka kedalam lingkaran ahli bid’ah terdahulu yang juga sama-sama menuduh Ahlu Sunnah sebagai Murji’ah yang ekstrim.

    Jika ahli bid’ah terdahulu menuduh orang yang tidak mengkafirkan pelaku dosa besar seperti zina, minum khomer dan semisalnya dengan Murji’ah, maka orang-orang yang menyelisihi (Dakwah Salafiyah,-pent) sekarang menuduh orang yang tidak mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh tanpa adanya istihlal/penghalalan dengan tuduhan sebagai Murji’ah.[29]

    Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh pembuat makalah Aqidah Jama’ah Salafiyah di Majalah “An-Najah” dalam penutup hal. 5 : “Jika anda telah memahami bahwa aqidah “JS” (Jama’ah Salafiyah) dalam bab iman adalah aqidah Murji’ah Fuqaha’ dan aqidah mereka dalam bab kekafiran adalah aqidah Jahmiyah (Murji’ah Ekstrim), maka anda bisa memahami dengan baik :

    * (Kenapa ???) mereka sangat gigih memperjuangkan aqidah; kekafiran itu hanya karena istihlal semata, terlebih dalam kaitannya dengan realita para pemerintah yang mengganti syariat Alloh Ta’ala dengan undang-undang positif.
    * (Kenapa ???) mereka menganut aqidah sekte sesat Jahmiyah (yang telah dikafirkan oleh para ulama Ahlu Sunnah) supaya bisa menutup-nutupi kemurtadan dan kekafiran para pemerintah murtad hari ini dengan selimut syar’i…” (selesai penukilan sampai di sini)

    Maka kita katakan kepada pembuat makalah ini : “Inikah yang melatar belakangi kalian untuk menuduh Dakwah Salafiyah sebagai Murji’ah? Tidakkah kalian membuka mata Iebar-lebar untuk membaca ucapan para ulama salaf tentang ketidakkafiran orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh jika tidak diiringi oleh istihlal?!

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan tentang firman Alloh :

    وَ مَا لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولـئِكَ هُمُ الكَافِرُوْنَ

    “Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS.Al-Maidah : 44) sebagai kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam.”[30]

    Imam Abu Ubeid Al-Qosim bin Sallam rahimahullahu berkata : “Adapun pemutus dan saksi atas semua ini adalah firman Alloh, “Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” Dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : “Bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama.” Dan Atha’ bin Abi Robah berkata, “Kufrun Duna Kufrin” (Kekufuran yang tidak mengkafirkan/kufur kecil).” Sungguh jelas bagi kita bahwa hal tersebut tidak mengeluarkan dari Islam dan bahwasanya agamanya tetap berdiri meskipun dilumuri dosa…”[31]

    Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata : “Yang benar bahwa berhukum dengan selain hukum Alloh mencakup dua bentuk kekufuran, kufur kecil dan besar sesuai dengan keadaan orang tersebut. Apabila dia masih meyakini wajibnya berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh pada suatu kejadian dan dia menyimpang dari hukum Alloh dalam keadaan maksiat beserta keyakinannya bahwa dia berhak mendapat sanksi maka ini kufur kecil. Tapi jika dia meyakini tidak wajibnya berhukum dengan hukum Alloh, dan bahwasanya dia diberi pilihan sedang dia meyakini itu hukum Alloh maka ini termasuk kufur besar, tapi jika dia tidak tahu (hukum Alloh) dan dia keliru maka hukumnya seperti hukum orang yang khilaf. Kesimpulannya : Semua maksiat ter­masuk kufur kecil…”[32]

    Apakah mereka para ulama seperti Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Atho’ bin Abi Robah rahimahullahu, Abu Ubeid Al-Qosim bin Sallam rahimahullahu, Ibnul Qoyyim rahimahullahu dan selain mereka yang menyelisihi kalian itu adalah Murji’ah karena tidak mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh jika tidak ada istihlal???!!!

    Mengapa kalian hanya mengkhusus­kan pengkafiran ini hanya kepada pemerintah kaum muslimin saja? Bukankah ayat dalam surat Al-Maidah 44 tersebut umum mencakup siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Alloh?! Bukankah orang yang berbuat bid’ah dan yang berbuat maksiat itu juga berhukum dengan selain hukum Alloh ?! Alloh berfirman :

    أَمْ لَهُمْ شُرَكَــؤُاْ شَرَعُوْا لَهُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهِ

    “Apakah mereka mempunyai sembahan­-sembahan selain Alloh yang mensyariat­kan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh?” (QS. Asy-Syuura : 21)

    Bukankah kalian sendiri telah berhukum dengan selain hukum Alloh dengan mengkafirkan pemerintah kaum muslimin seenaknya saja?!

    مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ

    “Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qolam : 36)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : “Pewajiban dan penghara­man, dosa dan pahala serta takfir (pengkafiran) dan tafsiq (penfasikan) adalah hak Alloh dan Rasul-Nya saja. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menghukumi di dalamnya”[33].

    Ibnu al-Qoyyim rahimahullahu berkata dalam Qosidah Nuniyah-nya:

    الكٌفْرُ حَقُّ اللهِ ثُمَّ رَسُوْلِهِ بِالنِّصِ يَثْبُتُ؛ لاَ بِقَوْلِ فُلاَنِ

    مَنْ كَانَ رَبُّ العَالَمِيْنَ وَ عَبْدُهُ قَدْ كَفَّرَاهُ فَذَاكَ ذُوْالكُفْرَانِ

    (Penetapan sesuatu) kufur adalah hak Alloh kemudian Rasul-Nya

    Dengan penetapan nash bukan dengan ucapan si fulan

    Barangsiapa yang oleh Robb semesta Alam dan Rasul-Nya

    Dikafirkan maka dialah orang kafir

    Kalau kalian mengkafirkan pemerintah kaum muslimin karena tidak berhukum dengan hukum Alloh meskipun tidak diiringi oleh istihlal, maka mengapa kalian tidak mengkafirkan orang yang berbuat bid’ah atau maksiat?! Dan mengapa kalian tidak mengkafirkan orang tua dan saudara-saudara kalian sendiri yang masih berbuat bid’ah dan maksiat?! Dan mengapa kalian tidak mengkafirkan diri kalian sendiri yang juga masih berbuat bid’ah dan maksiat?! Tapi memang kalian ingin menelusuri jejak Khowarij yang membunuh Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, dengan alasan beliau tidak berhukum dengan hukum Alloh.

    Imam Al-Hafizh Abu Bakr Muhammad bin Al-Husein Al-Ajurri rahimahullahu berkata dalam kitabnya Asy-Syari’ah : “Diantara syubhat khowarij adalah (berpegangnya mereka dengan-pent) firman Alloh “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Alloh maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Mereka membacanya bersama firman Alloh : “Namun orang-orang kafir itu mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka” (Surat Al-An’am : 1). Apabila mereka melihat seorang hakim yang tidak berhukum dengan kebenaran mereka berkata : Orang ini telah kafir dan barangsiapa yang kafir maka dia telah mempersekutukan Tuhannya. Maka mereka para pemimpin-pemimpin itu adalah orang-orang musyrik.”[34]

    Al-Imam Al-Qodhi Abu Ya’la rahimahullahu berkata dalam masalah iman : “Khowarij berhujjah dengan firman Alloh Ta’ala “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Zhohirnya dalil mereka ini mengharuskan pengkafiran para pemimpin-pemimpin yang zholim dan ini adalah perkataan khowarij padahal yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah orang-orang yahudi.”[35]

    Abu Hayyan rahimahullahu berkata dalam tafsirnya: “Khowarij berdalil dengan ayat ini untuk menyatakan bahwa orang yang berbuat maksiat kepada Alloh itu kafir, mereka mengatakan : Ayat ini adalah nash pada setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh bahwa dia itu kafir.”[36]

    Abu Abdillah Al-Qurthubi rahimahullahu menukil perkataan dari Al-Qusyairi rahimahullahu : “Madzhab­nya khowarij adalah barangsiapa yang mengambil uang suap dan berhukum dengan selain hukum Alloh maka dia kafir.”[37]

    Dan siapakah yang kalian maksud dengan pemerintah kaum muslimin yang telah kafir dan murtad itu?! SBY kah atau Raja Fahd atau Raja Abdullah??? Jelaskan kepada umat dan umumkan bahwa aqidah kalian adalah aqidah Khowarij yang gemar lagi hobi mengkafirkan pemimpin kaum muslimin!!! Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu. Mengatakan : “Kelompok Khowarij adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin dan mengatakan kafir bagi setiap pelaku dosa. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka serta menghalalkan darah serta hartanya.”[38]

    Para salaf menyebutkan bahwa diantara ciri ahli bid’ah adalah mencaci maki atau melaknat pemimpin kaum muslimin, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahlu Sunnah lmam Al-Barbahari rahimahullahu di dalam kitabnya Syarhus Sunnah : “Apabila engkau melihat seseorang melaknat pemimpin kaum muslimin maka ketahuilah bahwa dia itu pengekor hawa nafsu (ahlu bid’ah)…”

    Ketahuilah wahai kaum Muslimin, bahwa pemikiran takfir seperti infah yang mendasari adanya peledakan dan pengeboman di beberapa negeri Islam. Maka berhati-hatilah dari pemikiran Khowarij ini dan dari orang-orangnya!!!

    Kemudian tanda kedua Murji’ah menurut ahli bid’ah sekarang adalah tidak adanya pengkafiran terhadap orang yang meninggalkan sholat karena malas, meski dia masih meyakini akan kewajibannya dan ini adalah jalan/metode pendahulu mereka seperti yang telah disebutkan di atas.

    Hal ini seperti yang dilakukan oleh Safar Hawali penulis kitab Zhohiratul Irja’ yang menuduh Syaikh Al-Albani sebagai Murji’ah. Dia mengatakan : “Dan tidaklah yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan sholat (karena malas­,-pent) tidak kafir melainkan yang telah kemasukan pemikiran Murji’ah, baik dia merasa atau tidak.”[39]

    (bersambung Bagian 2)

    (Sumber : Majalah adz-Dzakhiirah; Edisi 21; Rajab 1427-Agustus 2006; Dinukil dengan sedikit perubahan dan pembenahan)

    -OOO-OOO-

    HOME

    Bagian 2

    Download Artikel PDF (ZIP)

    [1] Telah sampai ke meja redaksi sebuah makalah yang berjudul “Aqidah Jama’ah Salafiyah dalam Tinjauan Syar’i”. Di dalamnya tertulis “Aqidah Jama’ah Salafiyah dalam masalan iman adalah Aqidah Murji’ah Fuqoha’ dan dalam masalah pengkafiran adalah Aqidah Murji’ah Ekstrim (Jahmiyah).”

    [2] Seperti yang dilakukan oleh DR. Safar Hawali –hadaahullahu- dalam kitabnya Zhohiratul Irja’ yang telah dibantah sendiri oleh Syaikh al-Albani rahimahullahu beserta murid beliau, Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullahu dalam kitab beliau yang berjudul ad-Duror al-Mutalali’a. Alhamdulillah pemerintah Saudi akhirnya mengetahui akan bahaya buku ini hingga tidak boleh disebarluaskan. (Lihat footnote ar-Raddul Burhani hal. 46 karya Syaikh Ali Hasan).

    [3] Syarhu Ushul I’tiqod Ahli as-Sunnah wal Jama’ah (III/1071) karya al-Lalika`i.

    [4] Ibid, (III/1072 no. 1873).

    [5] Kitabus Syari’ah (II/683 no. 302) karya Al-Ajurri.

    [6] Ibid, (II/687 no. 305).

    [7] Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqotin Naajiyah (II/899 no. 1255 : Kitabul Iman) karya Imam Ibnu Baththoh.

    [8] Kitabus Sunnah (I/334 n o. 692) karya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal.

    [9] Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqotin Naajiyah (II/893 : Kitabul Iman) karya Imam Ibnu Baththoh.

    [10] Ibid, (II/899).

    [11] Al-Farqu baynal Firoq (hal. 202) karya Al-Baghdadi.

    [12] Majmu’ Fatawa (VII/194).

    [13] Ibid, (VII/429)

    [14] An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar (hal. 351) karya Ibnu Atsir.

    [15] Murji’atul Ashr (hal. 54-55) karya DR. Khalid al-Anbari.

    [16] Ibid, (hal. 54).

    [17] As-Sunnah (III/566) karya Al-Khollal.

    [18] Al-Mukhtar fi Ushulis Sunnah (hal. 89) karya Ibnu al-Banna’.

    [19] Syarhus Sunnah (hal. 122) karya Imam al-Barbahari.

    [20] Asy-Syari’ah (II/283).

    [21] Murji’atul Ashr (hal. 60-61).

    [22] Musnad Ishaq (III/670).

    [23] Al-Burhan (hal. 96).

    [24] Apakah Dakwah Salafiyah yang dituduh dengan tuduhan Murji’ah berpendapat seperti ini?!! Tolong buktikan!!!

    [25] At-Tamhid (IV/242).

    [26] Murji’atul Ashr (hal. 56-58).

    [27] Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits (hal. 88-89) oleh Imam Ash-Shobuni.

    [28] Ibid.

    [29] Murji’atul Ashr (hal. 59).

    [30] Lihat pembahasan riwayat ini secara riwayatan dan dirayatan di dalam Qurrotul ‘Uyun karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly.

    [31] Kitabul Iman (hal. 54) karya Abu ‘Ubaid.

    [32] Madarijus Salikin (I/336-337) karya Imam Ibnu al-Qoyyim.

    [33] Majmu’ Fatawa (V/545).

    [34] Asy-Syari’ah (I/342).

    [35] Masa`il al-Iman (hal. 340-341).

    [36] Al-Bahrul Muhith (III/493).

    [37] Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an (VI/191).

    [38] Majmu’ Fatawa (VII/279).

    [39] Zhohirotul Irja’ (II/651).

  4. ya begitulah pandangan orang salafy maz’um(salafy pengakuan tok),padahal mereka adalah NEO MURJI’AH

  5. dasar pelindung thoghut, jelas2 kita iman seseorang belum sempurna kalo blm menjauhi thoghut…eh ente mlh ikut2an membela thoghut…astagfirullah sadar akhi…

  6. ass
    saudara penulis abu umar basyir ini tidak mengetahui kondisi sebenarnya. tapi berani nulis kayak gini.
    makanya jadi orang islam tu harus tabayun dulu jangan asal nulis.anda kl cari berita jangan cuma dari tv. banyak berita di tv yang banyak intervensi, sudah rancu.
    anda terbilang masih terlalu dini untuk menulis artikel2 seperti ini.
    tadi anda bilang pelaku peledakan wtc bukan osama pelakunya, itu membuktikan anda tu dangkal sekali pengetahuannya. anda hanya percaya sumber2 di tv….payah…dasar salafy…pro pemerintah…talking only…

  7. sayang… tidak terlalu berani dikritik… hanya mau mengkritik… tulisan saya aja di hapus…??

  8. aslmkm admin aboe zayd el posowy semoga ntm dalam kasih sayang Allah swt.
    alhmdulillah sy ucapkan kpd antum yang sudah membuat blog yang bagus sekali dan berguna terlebih jika diniatkan untuk allah semata.

    sy bersyukur dlm blog ini tulisannya begitu santun meskipun harus mengkritik, tidak seperti buku2 kritikan imam samudra yang saya tahu banyak sekali kata2 kasar yang kurang ahsan. jazakallah khoir

    namun kalo boleh saya ikut respon atas tulisan antum masih ada nada2 yang memvonis, dalm kutipan kata2
    “ibnu Mas’ud yang bagitu masyhur,
    “Berapa banyak orang yang berniat baik, tetapi tidak mendapatkan kebaikan tersebut.”[1]

    Atau ucapan Ibnu Taimiyyah soal amar ma’ruf nahi munkar,
    “Hendaknya amar ma’ruf yang kalian lakukan betul-betul dilakukan dengan ma’ruf, dan jangan sampai nahi munkar yang kalian lakukan justru menjadi kemunkaran.”[2]

    benarkah imam samudra tidak mendapat kebaikan atas apa yang dilakukannya?? tentu kita tdk bisa nilai, karena diapun punya dalil… dan sejauh yang saya lihat kata2 beliau berjuang pada titik2 ikhtilaf bukan berarti beliau meragukan kebenarannya.

    contoh yang mudah saja, umat islam melakukan sholat tarawih 11 atau 23 atau bahkan lebih, ada ikhtilaf disini, namun jika saya melakukannya 11 rakaat, bukan berarti saya meragukan yang 23 atau yang lain, terlebih lagi kalo antum sampai mengatakan saya (syam) ragu dengan sholat tarawihnya sendiri…

    begitu juga dengan beliau, sudah memaparkan filosofi jihad, dan saat2 jihad menjadi fardhu ‘ain yang sebagian di kutip dari kitabnya Ibn Taymiyah sendiri, walau ada perbedaan dengan ulama sekarang, tidak bisa kita katakan imam samudra ragu akan kebenaran kitab ibn Taymiyah … tidak bisa sama sekali, justru dia yakin kebenarannya namun dia sadar tidak semua ulama sepakat dalam hal ini.

    saya lihat perbedaan antara ulama sekarang dan dahulu dalam mengambil titik tolak dalam berfatwa soal jihad terletak pada perbedaan mereka -al ajilla wal afaadhil- dalam keadaan sosio-politiknya.

    masa ibn taymiyah adalah masa khilfah/mulkiyah, persatuan umat cukup bagus, dan beliau adalah tipe ulama yang berani turun ke lapangan , sehingga fatwa2nya terasa lebih menyentuh persoalan -Allahu ‘alam.
    sedangkan ulama sekarang tentu mengalami kesulitan dengan keadaan umat yang terpisah2 sekat nasionalisme, golongan2, ketiadaan khilafah, juga sedikit-banyak terpengaruh dengan kondisi sosio-politik negara tempat tinggalnya…?? tuduhan kah ini??? semoga tidak..

    tanpa bermaksud untuk meremehkan kualitas keilmuan dan keikhlasan mereka -al ajilla wal afadhil- saya rasa… para ulama masih kesulitan bersatu faham dalam menentukan status jihad di palestina, yang notabene sudah berumur lebih tua dari sebagian kita… bagaimana lagi dengan status jihad di negeri2 yang baru mengalami ujian berupa peperangan??? chechnya? afghan? irak? bahkan untuk kasus di maluku dan poso sy dengar tidak semua ulama sepakat??? itu artinya ada ikhtilaf… dan apakah berarti orang yang berjihad diposo masih ragu dengan status jihad itu???

    untuk yang terakhir, mungkin harus diklarifikasi adalah tulisan antum ttg ulama mujahid ‘rekaan’ imam samudra… apa maksudnya???

    apakah kalau imam samudra tidak mengatakannya dibuku, artinya mereka bukan ulama mujahid??? wahkalo benar demikian, antum seperti katak dalam tempurung, selfminded melihat kelebihan diri sendiri sehingga enggan melihat keutamaan orang lain yang diakui oleh dunia…

    Syeikh Abdullah ‘Azzam pernah berguru kpd Syeikh Al-albany, begitu kata beliau dalam buku tarbiyah Jihadiyah-nya.. beliau sudah menjadi dosen pengajar di universitas2 islam, selagi saya belajar dibangku SD.. langkah beliau nyata membela yang tertindas, membersihkan akidah para pemuda disana dengan taujih2nya, bahkan ikut mengokang senjata, beliau kerahkan pemuda2 islam, dan memberikan visi yang jelas bagi arah perjuangan jihad islam kedepan… yakni membebaskan palestina…!!!

    jika sblm imam samudra mengatakannya, saya mengatakan fakta demikian, maka antum bilang bahwa syeikh Abdullah Azzam adalah ulama Mujahid hasil rekaan Syamsul AlFathy??? wah, kalo begitu antum terlalu memuji saya…

    syeikh Ahmad Yasin rahimahullah sudah kita kenal sebagai ornag yang total dalam menentang israel, total dalam jihad, selagi normal, beliau ikut bersama2 pemuda ahli jihad, selagi lumpuh beliau pakai lisannya untuk mengobarkan semangat jihad, ilmunya diakui oleh banyak orang… perjuangnnya searah dengan keinginan umat islam palestina… bahkan jika semua orang menolak mengakui kalau beliau itu mujahi dan ulama, maka pasti orang palestina berada dibelakang beliau menghadapi cercaan manusia… rekaankah itu???

    adapun usamah bin ladin sy lebih baik tawakkuf… Allahu’alam

  9. Apa maksud dari komentar “narakushutdown” di atas ?

    Kalau yang dimaksud adalah ‘anggapan bahwa dengan menyanggah argumennya Imam Samudra maka kita dianggap termasuk bersaudara dengan orang-orang kafir yang tewas akibat Bom Bali’ maka saya khawatirkan orang yang menamai dirinya “narakushutdown” terkena fitnah kelompok takfiri

    Kalau maksudnya hanya bercanda dan iseng memberi komentar, alangkah baiknya kalau waktunya diisi dengan menimba ilmu dari para ulama bermanhaj salaf. Hal itu akan lebih baik dan utama untuk dilakukan.

  10. narakushutdown

    maaf saya membunuh saudaramu yang kafir itu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 22.749 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: