Beranda > Nasihat, aqidah islam > BAHAGIA DENGAN HUSNUL KHATIMAH, SENGSARA DENGAN SU’UL KHATIMAH (1)

BAHAGIA DENGAN HUSNUL KHATIMAH, SENGSARA DENGAN SU’UL KHATIMAH (1)

Penulis: Khalid bin ‘Abdurrahman asy-Syayi’

Keadaan seseorang saat tutup usia memiliki nilai tersendiri, karena balasan baik dan buruk yang akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia. Sebagaimana dalam hadits yang shahih:

إنّما الأعمال بالخواتيم

Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR. Bukhari dan selainnya)

Oleh sebab itulah, seorang hamba Allah yang shalih sangat merisaukannya. Mereka melakukan amal shalih tanpa putus, merendahkan diri kepada Allah agar Allah memberikan kekuatan untuk tetap istiqamah sampai meninggal. Mereka berusaha merealisasikan wasiat Allah ‘Azza wa Jalla:

((يأيّها الّذين ءامنوا التّقوا الله حقّ تقاته ولا تموتنّ إلّا وأنتم مّسلمون))

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri).” (QS. Ali Imran: 102)

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dalam shahih-nya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan:

سمعت رسول الله يقول: (إنّ قلوب بني آدم كلّها بين أصبين من أصابع الرّحمن كقلب واحد يصرّفه حيث يشاء), ثمّ قال رسول الله: (اللّهمّ مصرّف القلوب صرّف قلوبنا على طاعتك)

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendak-Nya,” kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatan-Mu.”

Itulah pentingnya kondisi tutup usia. Sementara itu, kondisi seseorang pada detik-detik terakhir kehidupannya ini, tergantung amal perbuatan pada masa lampau. Barangsiapa yang berbuat baik di saat waktu dan usianya memungkinkan, maka insya Allah ‘Azza wa Jalla akhir hidupnya baik. Dan jika sebaliknya, maka sudah tentu kejelekan yang akan menimpanya. Allah tidak akan pernah menzhaliminya, meskipun sedikit.

Mengingat pentingnya masalah ini dan keharusan memperhatikannya, maka dengan memohon kepada Allah, tulisan ini kami untuk menjadi pengingat kita semua.

HUSNUL KHATIMAH

Husnul khatimah adalah akhirnya yang baik. Yaitu seorang hamba, sebelum meninggal, ia diberi taufiq untuk menjauhi semua yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala/ dia bertaubat dari dosa dan maksiat, serta semangat melakukan ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi ini.

Dalil yang menunjukan makna ini, yaitu hadits shahih dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده خيرا استعمله قالوا: كيف يستعمله؟ قال: يوفّقه لعمل صاله قبل موته. رواه الإمام أحمد والترمذي وصحح الحاكم في الكستدرك

Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?” Rasulullah menjawab, “Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal.” (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al-Hakim dalam Mustadrak)

Husnul khatimah memiliki beberapa tanda, di antaranya ada yang diketahui oleh hamba yang sedang sakratul maut, dan ada pula yang diketahui orang lain.

Tanda husnul khatimah, yang hanya diketahui hamba yang mengalaminya, yaitu diterimanya kabar gembira saat sakratul maut, berupa ridha Allah sebagai anugerah-Nya. Allah Subhanahun wa Ta’ala berfirman:

((إنّ الّذين قالوا ربّنا الله ثمّ استقموا تتنزّل عليهم الملئكة ألّا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنّة الّتى كنتم توعدون))

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’”(QS. Fushilat: 30)

Kabar gembira ini diberikan saat sakratulmaut, dalam kubur dan ketika dibangkitkan dari kubur. Sebagai dalilnya, yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

من أحبّ لقاء الله أحبّ لقائه, ومن كره لقاء الله كره الله لقائه, فقلت: يانبي الله! أمرحبة الموت, فقلّنا: نكره الموت؟ فقال: ليس كذلك, ولكن المؤمن إذا بشّر برحمة الله ورضوانه وحبّته أحبّ لقاء الله, وإنّ كافر إذا بشّر بعذب الله وسخطه كره لقاء الله وكره الله لقائه

Barangsiapa yang suka bertemu Allah, maka Allah-pun suka untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak suka bertemu Allah, maka Allah pun benci untuk bertemu dengannya.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Nabi Allah! Apakah (yang dimaksud) adalah benci kematian? Kita semua benci kematian?” Rasulullah menjawab. “Bukan seperti itu. Akan tetapi, seorang mukmin, apabila diberi kabar gembira tentang rahmat dan ridha Allah serta Surga-Nya, maka ia akan suka bertemu Allah. Dan sesungguhnya, orang kafir, apabila diberi kabar tentang azab Allah dan kemurkaan-Nya, maka ia akan benci untuk bertemu Allah, dan Allah-pun membenci bertemu dengannya.”

Mengenai makna hadits ini, al-Imam al-Khatthabi mengatakan: “Maksud dari kecintaan hamba untuk bertemu Allah, yaitu ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karenanya, ia tidak senang tinggal terus-menerus di dunia, bahkan siap meninggalkannya. Sedangkan makna kebencian adalah sebaliknya.”

Imam Nawawi berkata, “Secara syari’at, kecintaan dan kebencian yang diperhitungkan adalah, saat sakratul maut, saat taubat tidak diterima (lagi). Katika itu, semuanya diperlihatkan bagi yang sedang naza’ (proses pengambilan nyawa), dan akan nampak baginya tempat kembalinya.”

-Bersambung insya Allah-

Categories: Nasihat, aqidah islam
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.