Beranda > Hadits, fiqih > INDAH NIAN KESUCIAN

INDAH NIAN KESUCIAN

Oleh Akhuna Abu Hasan Putra

Para pembaca sekalian, pernahkah kita berfikir bagaimana ketika nanti di akhirat seorang muslim dapat dikenali kemuslimannya? Bagaimana cara membedakan antara orang muslim dengan orang kafir? Dan bagaimana nanti Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengenali umatnya, padahal manusia dikumpulkan sejak dari umat Nabi Adam ‘alaihis salam sampai umat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam? Sungguh hal ini ibarat “mencari jarum dalam jerami”. Tengok saja saat ribuan manusia berkumpul di tempat keramaian, nyaris kita tidak dapat membedakan mana orang Islam dan mana orang kafir. Apalagi kelak, pada hari di mana manusia lari dari saudaranya, lari dari bapak dan ibunya, serta lari dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya, yang satu menyalahkan yang lainnya. Pada hari itu terlihat ada wajah yang berseri-seri tertawa gembira. Namun ada pula wajah-wajah yang tertutup debu, wajah mereka suram tertutup kegelapan karena ditimpa kehinaan dan kesusahan.

Dikenali dengan Bekas Wudhu

Semua pertanyaan di atas telah terjawab dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika datang ke pemakaman, beliau mengucapkan,”Kesejahteraan atas kalian wahai penghuni perkampungan (kubur) kaum mukmin, dan insya Alloh kami akan menyusul kalian. Alangkah inginnya hatiku hendak melihat saudara-saudaraku!”. Para sahabat berkata,“Bukankah kami ini saudara engkau, Ya Rosululloh?”. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Kalian ini adalah sahabatku, adapun saudara-saudaraku ialah orang-orang yang belum muncul.” Para sahabat bertanya,“Bagaimana engkau dapat mengetahui keadaan umat yang belum muncul itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Bagaimana pendapat kalian bila seandainya ada orang mempunyai seekor kuda berwarna putih cemerlang pada dahi dan kakinya yang berada di tengah-tengah kuda berwarna hitam pekat, bukankah ia dapat mengenal kuda itu?”. “Dapat wahai Rasulullah,” ujar mereka. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Demikianlah halnya mereka itu, mereka datang dalam keadaan putih cemerlang bertanda dengan wudlu’. Sedangkan aku menjadi perintis mereka menuju telaga. Ketahuilah, sesungguhnya akan ada beberapa orang yang ditolak masuk telaga seperti onta sesat yang diusir, aku menyeru mereka,‘Mari kesini!’ , lalu dikatakan ,‘Sesungguhnya mereka (yang diusir itu) adalah orang-orang yang menyeleweng sepeninggalmu’, maka aku katakan, “(Kalau begitu) Celaka, celaka mereka”. (HR.Muslim)

Keutamaan Wudhu

Subhanalloh, ternyata kesucianlah yang membuat kita dikenal di akhirat nanti. Bekas wudhu’ menjadi bukti keimanan kita. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,“Apabila seorang hamba mu’min berwudhu’, lalu ia mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan oleh matanya tatkala melihat (hal-hal yang haram) bersamaan dengan air atau bersama tetesan air terakhir. Bila ia mencuci kedua tangannya, keluar dari kedua tangannya bersamaan dengan air atau tetesan air yang terakhir (dosa-dosa yang dilakukan oleh tanyannya). Dan bila ia mencuci kedua kakinya, akan keluar dosa-dosa yang dilakukan oleh kedua kakinya bersamaan dengan air atau bersamaan dengan tetesan air yang terakhir, hingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Muslim).

Wudhu’ ialah menggunakan air yang suci untuk membersihkan hadats dengan tata cara yang sudah diatur di dalam Islam. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah tidak akan menerima shalat seseorang sebelum ia berwudhu.” (HR. Bukhori Muslim). Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu berkata,“Barangsiapa berwudhu’ seperti yang dicontohkan Rosululloh, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Perjalanannya menuju masjid dan sholatnya sebagai tambahan pahala baginya.” (HR. Muslim). Maka sudah selayaknya bagi segenap kaum muslimin untuk mencontoh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam segala hal, termasuk di dalam berwudhu’.

disalin dari kumpulan file buletin at-Tauhid – LBIA

Categories: Hadits, fiqih
  1. 7 September 2008 pukul 00:00 | #1

    subhanalloh… bagus sekali nih untuk pengingat kita. terkadang,kita tidak begitu peduli terhadap hal yang satu ini untuk dilaksanakan. apalagi bila kita dalam aktifitas biasa,tidak sedang akan beribadah seperti sholat maupun tilawah. semoga kita lebih menyadari betapa pentingnya wudhu. apalagi kalau kita tidak ingin tidak dikenali Rosululloh SAW kelak di akhirat.

  1. Belum ada trackback.