“Jangan Lihat Siapa yang Bicara, Tapi Lihat Apa yang Dibicarakan”?

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum, ada sekelompok orang yang mengatakan “jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” Apa ini benar? (081586190***)

Jawaban:
Wa’alaikumussalaam warahmatullaah. Ucapan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah ushul fiqh, sehingga kita tidak usah dipusingkan dengan ucapan tersebut.
Ucapan tadi sengaja dipopulerkan oleh orang-orang yang bermanhaj di sana senang di sini senang, sehingga mereka mengambil ilmu atau belajar dari siapa saja karena berpegang dengan ucapan tadi.
Bahkan yang benar adalah kita mengambil ilmu dari orang yang lurus manhajnya yaitu dari ahlus sunnah wal jama’ah bukan dari sembarang orang apalagi dari ahli bid’ah.
Al-Imam Ibnu Sirin mengatakan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqaddimah Shahiih Muslim)
Beliau juga mengatakan: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) pada awalnya tidaklah menanyakan tentang sanad hadits. Maka ketika terjadi fitnah (munculnya berbagai firqah sesat seperti Khawarij, Syi’ah-Rafidhah dan lainnya), mereka berkata: “Sebutkan kepada kami sanad kalian. Maka dilihat apabila datang dari ahlus sunnah maka diterima haditsnya dan apabila datang dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya.” (Ibid.)

Memang, kita tidak memungkiri bahwa bisa jadi setiap orang termasuk ahli bid’ah mengatakan sesuatu yang benar. Akan tetapi apakah kita menjamin bahwa mereka tidak mencampurinya dengan kebathilan? Atau mereka menyampaikannya tetapi dengan tafsiran yang salah? Atau apakah kita dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah?
Ketika mereka menyampaikan ayat, hadits atapun ucapan para ulama, mereka ubah lafazhnya atau diselewengkan tafsirnya sesuai dengan hawa nafsu mereka?

Ketika datang ahli bid’ah kepada seorang ulama salaf, ingin menyampaikan satu kalimat atau satu ayat, maka ulama tadi mengatakan: “Tidak, walaupun setengah kata (saya tidak akan mendengarkannya).” Dan ketika ditanya: “Mengapa engkau tidak mau mendengarkan ayat yang akan dibacakannya?” Maka sang ulamapun menjawab: “Saya takut kalau dia membaca satu ayat lalu dia ubah lafazhnya dan hal ini menancap di hatiku sehingga akupun menjadi sesat karenanya.”

Tidakkah kita takut terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan akibat mengambil ilmu dari siapa saja? Hendaklah kita lebih berhati-hati dan waspada dalam mengambil ilmu karena ilmu ini adalah agama yang akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah di hari kiamat nanti.

Di samping itu, kalau kita mengambil ilmu dari ahli bid’ah maka hati kita akan condong kepadanya sehingga mentolerir kesalahan dan penyimpangannya yang akhirnya lambat laun kita mengikutinya secara sempurna, yang pada awalnya kita hanya ingin mengambil kebaikannya saja, nas`alullaahas salaamah.

Apakah ahlus sunnah tidak memiliki kebaikan atau kurang kebaikannya sehingga kita harus mengambil ilmu dari ahli bid’ah?
Bukankah masih banyak ahlus sunnah yang mendakwahkan Islam berdasarkan pemahaman salafush shalih? Berhati-hatilah dalam mengambil ilmu, mudah-mudahan Allah menunjukki kita semua kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahul Muwaffiq.

((Sumber: Buletin Al-Wala’ Wal-Bara’ Bandung, edisi ke-23 Tahun ke-3 / 06 Mei 2005 M / 27 Rabi’ul Awwal 1426 H))

About these ads

Posted on 5 Desember 2008, in manhaj, Nasihat and tagged , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. abu yahya al kadiri

    ana juga pernah mendengar dari salah seorang ustad bahwa

    nukilan di atas adalah ucapan dari sahabat Ali bin Abu thalib.

    namun demikian bukan berarti bisa dipahami sebagaimana

    orang2 sekarang yang bermanhaj gado2 alias disini senang

    disana senang. terlebih lagi pada zaman penuh fitnah seperti

    sekarang ini. seandainyapun benar nukilan ini benar dari

    seorang sahabat Rosululloh maka tidaklah salah karena

    memang pada zaman itu islam masih suci belum terkotori

    oleh berbagai syubhat dan bid’ah2..

    wallohua’lam

  2. Maz AMir…

    Kapan Skripsi selesai kang??

    Nikahnya kapan?? Hehe..

    Ayo… Smangat biar bisa cepet nikah, hehe

    insya Allah bulan ini kudu selesai Pram…beuh…lieur banyak banget…. hehe…
    NIkah? insya Allah, secepatnya bos, kasihan yg dah nungguin..hohoho…tunggu ajah undangannya…
    ente balik ke kosan kapan? jng lupa oleh2 dr JKT yah…

  3. Assalamualaikum….

    Benarkah kata-kata ini datang dari ucapan Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu? Mohon penjelasannya jika ianya benar.

    Jazakumullah khairon.

  4. Assalamualaikum…
    damang…?
    gimana skripsi?
    masji depan kumaha?
    lebaran ni kebagian daging lagi g? ^_^

    wa’alaikumussalam mas..
    alhamdulillah damang… nih lagi capek bikin skripsi..hehe..
    antum dmn skrg? al irsyad libur ga?

    ust said nyuruh ke mahad, bantuin ngurusin kurban..hehe…insya Allah daging dapat, tp ga tahu nih dari mbak Sita ksh kurban lg ato ga…moga ajah dapat lagi..-ngarep-

  5. jangan lihat siapa yg bikin blog tapi lihat isinya

    gitu kan, om,,,,

    he he he….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 22.024 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: