Prioritas Pembenahan Bagi Umat dan Bangsa; Sebuah Nasihat Bagi Politikus & Aktivis Dakwah Hizbiyyah (baca: Parte Kagak Syar’i)
Oleh Al Fadhil Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary
(Mudir Ma’had Adhwa’us Salaf, Bandung)
Sungguh kita tengah berada dalam arena fitnah yang berkepanjangan. Negeri yang aman kini telah berubah bentuk menjadi negeri yang mencekam dan menakutkan. Kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi bagian penting dalam tubuh para penegak dan penduduknya. Krisis politik, sosial, dan perekonomian terus menggoyang keutuhan negeri ini, diwarnai dengan kerusuhan, keributan, dan demonstrasi yang tak henti-hentinya. Bersamaan dengan itu, semua dekadensi moral, akhlaq, dan aqidah anak-anak bangsa telah mencapai klimaksnya, kewibawaan bangsa dan umat Islam pun yang mayoritas penduduknya lenyap, kehilangan keseimbangannya di tengah-tengah gempuran tekanan kaum kuffar. Quo Vadis bangsa Indonesia??
Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, amat disayangkan fenomena yang seperti ini disikapi oleh sebagian kaum dengan penuh emosi, hawa nafsu, dan arogansi sehingga bukan menghentikan krisis dan memadamkan api fitnah tetapi justru membuka pintu krisis baru dan menyalakan api fitnah yang kian membara. Mulai dari orasi-orasi di atas mimbar dalam rangka agitasi politik dengan memakai label penjagaan Islam, memompa semangat nasionalisme dengan memakai cap proteksi akan degradasi bangsa dan umat Islam, melawan dan memberontak penguasa / pemerintah dengan judul amar ma’ruf nahi mungkar, bahkan mengkafirkan kaum muslimin dengan alasan al wala’ wal bara’, hingga aksi pengeboman di berbagai tempat secara serempak dengan mengatasnamakan jihad. Wa ilallahil musytaka.
Hendaknya para pemimpin negara mengetahui kadar pemerintahan dan mengetahui akan tinggi kedudukannya, sesungguhnya pemerintahan itu adalah nikmat di antara nikmat-nikmat Allah ta’ala, barangsiapa yang menegakkannya dengan baik sesuai tuntutan-tuntutannya akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada taranya, sebaliknya jika tidak mengerti ukuran nikmat ini kemudian menyibukkan diri dengan kezholiman dan hawa nafsunya, dikhawatirkan akan tergolong pada sebagian musuh-musuh Allah. Pemimpin negara semestinya untuk tidak mengharap keridhoan seorang manusia di atas kebencian Allah disebabkan karena penyelisihan terhadap syari’at, harus dimengerti bahwa baiknya rakyat tergantung pada baiknya perjalanan penguasa. Satu hal lagi yang mesti diingatkan di sini bahwa sudah seyogyanya bagi para pemimpin negara untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar sesuai tuntunan syari’at, menutup pintu-pintu kejahatan dan kerusakan, serta melindungi negara dan rakyat dari kejahatan kaum kuffar dan orang-orang yang berniat jahat. Apabila ini semua telah terpenuhi maka kantong amalannya pemerintah sebanding dengan pahala seluruh ibadah rakyat negerinya. Ketika itu negeripun akan makmur dipenuhi dengan ketentraman dan keselamatan serta berkah dalam rizki dan kebutuhan-kebutuhan hidup.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, adapun rakyat, maka hendaknya menunaikan hak-haknya terhadap pemerintah di antaranya berupa taat dan mendengar pada setiap apa yang diperintah dan dilarangnya kecuali yang bersifat maksiat, ini adalah hak dan kewajiban yang paling besar terhadap pemerintah. Sebab ketaatan merupakan landasan yang kokoh dalam me-manage urusan-urusan negara dan rakyat. Pemerintah dan para pejabat adalah manusia biasa dimana mereka masih membutuhkan nasehat orang-orang yang ikhlas dan bimbingan orang-orang yang bertaqwa. Tugas yang mulia ini dipikul di atas pundak para ulama, merekalah yang melaksanakannya, kepada para ulama Islam serta da’i-da’inya yang ikhlas agar menegakkan apa yang Allah telah wajibkan atas mereka dari menerangkan yang haq, mengingatkannya dan mengarahkan waliyul amri / pemerintah kepada yang ma’ruf serta membantu mereka akan hal itu, mencegah mereka dari yang munkar, memperingatkannya, serta menjelaskan akan keburukan akibatnya dan bahayanya pada umat cepat maupun lambat, bukan malah menjadi pemicu terjadinya fitnah dan kekacauan atau malah berpangku tangan pura-pura tidak tahu dan tidak ada kepedulian akan perbaikan umat, bangsa, dan negara. Kemungkaran yang merajalela dan kerusakan yang tak dapat dibendung serta carut-marutnya wajah bangsa adalah sebah-sebab datangnya musibah dan turunnya adzab. Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS Ar Rum: 41).
Sesungguhnya kehinaan dan malapetaka yang menimpa bangsa ini adalah ketika bangsa ini menghendaki kemuliaan bukan dari Islam, ketika para penguasa dan rakyatnya meninggalkan agama dan cinta yang berlebihan terhadap dunia, hingga akhirnya Allah menimpakan kehinaan yang tidak ada jalan keluarnya kecuali dengan kembali kepada agama. Sebagaimana hal itu telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud dalam Sunannya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Jika masyarakat dilanda krisis aqidah, akhlaq, dan moral, dilanda krisis ekonomi dan krisis politik yang dilematis, maka pembenahan pertama yang mesti dilakukan ialah pembenahan aqidah dan moral dengan segala kemampuan, sebab memperbaiki masalah yang paling berbahaya adalah hal yang disepakati oleh setiap insan berakal. Ketahuilah bahwa kerusakan yang diakibatkan keyakinan / aqidah manusia dari kesyirikan, khurofat, kebid’ahan, dan kesesatan seribu kali jauh lebih berbahaya daripada kerusakan yang ditimbulkan dari rusaknya hukum / undang-undang dan yang lainnya. Terbukti, ketika Allah mengutus para rosul ke tengah-tengah kaum yang dipenuhi dengan penyimpangan-penyimpangan, aqidah yang rusak, moral yang bejat, pola pikir yang salah, dan sistem hukum yang tak beraturan dan menyalahi syari’at, Allah tidak membebani mereka (para rosul) -pada permulaannya- untuk segera mengadakan pembaharuan sistem dalam keadaan umat dikelilingi dengan penyimpangan moral dan aqidah, tetapi justru langkah awal yang ditempuh oleh para rosul adalah pembenahan aqidah dan moral. Para Nabi dan Rosul tidaklah datang dalam rangka menggulingkan negara dan menegakkan negara yang baru, tidak menginginkan kekuasaan, dan tidak pula membentuk organisasi untuk itu, tetapi mereka datang memberi hidayah kepada manusia dan menyelamatkannya dari kesesatan dan kesyirikan, serta mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya. Inilah jalan lurus yang Allah telah syari’atkan seluruh para nabi dari yang paling awalnya hingga yang paling akhirnya, dan Dialah Allah Maha Pencipta, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui akan tabiat manusia dan apa yang bermaslahat untuk mereka. Allah berfirman, “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan) dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS Al Mulk: 14).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik para sahabatnya di atas kitab dan hikmah / sunnah, di atas keimanan, kejujuran, serta tauhid, keikhlasan karena Allah dalam setiap amalan, jauh dari uslub-uslub politik dan dari larut dalam hal jabatan yang tinggi.
Dengan demikian jalan yang harus ditempuh dalam mengembalikan kemuliaan Islam, kaum muslimin, bangsa, dan negara ialah:
Pertama: pembenahan dan pembentukan aqidah dan permuniannya dari kesalahan-kesalahannya.
Kedua: mentarbiyah setiap individu-individu masyarakat dan membangun kepribadiannya di atas landasan hukum-hukum Islam dan adab-adabnya sesuai dengan apa yang telah diwariskan kepada kita dari tiga generasi pertama. Inilah jalan penyelamat dan dari sinilah permulaannya yakni mentarbiyah dengan Islam yang bersih dari khurofat dan bid’ah, dari kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya dan dari pola pikir yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah serta metodologi salaful ummah. Wal ilmu indallah.
Sumber:
Kumpulan artikel buletin Al Wala’ wal Bara’ . Judul asli: Prioritas Pembenahan Aqidah.
Al Wala’ wal Bara’ Edisi ke-17 Tahun ke-1 / 11 April 2003 M / 08 Shafar 1424 H
Posted on 4 April 2009, in aqidah islam, hizbiyah & harokah, manhaj, Nasihat and tagged aqidah, dakwah, demokrasi, pemilu, PKS, politik, tauhid. Bookmark the permalink. 6 Komentar.





bismillah washolatu wassalamu ‘al Rasulillah wa ‘ala alihi washohbihi ajmain
membaca tulisan abu faqih yang d posting oleh ummi iffah, membuat an menjadi heran. Ana pengen menyampaikan unek2 yang ana rasakan, semoga ummi iffah mw melanjutkannya ke forum my quran.
Melihat tulisan abu faqih, beliau selalu mendeskreditkan dakwah salafy yang selalu menerangkan kebhatilan dan penyimpangan dakwah IM, HT, JT dan selainnya. Beliau mengatakan hal demikian dengan istilah “membunuh karakter”. Tapi disisi lain, beliau sendiri menyudutkan salafi yang beliau katakan “salafi” dengan segala argumennya. Beliau membawa ayat, fadzakkir fainna dzikro tanfaul mukminin. Yang menjadi pertanyaan ana, apakah memperingati umat dengan penyimpangan2 yang dilakukan oleh mereka (IM, JT, HT dll) tidak kamu katakan fadzakkir?? sedangkan tulisan2 kamu yang menyudutkan ‘salafi’ kamu katakan fadzakkir?? Memang ana akui, sebagian ikhwah yang kamu katakan ‘salafi’ masih memiliki banyak kekurangan terutama dari segi akhlaq dan hikmah di dalam berdakwah. Seandainya ada sebagian ikhwah yang seperti itu, apakah kita akan menyamaratakan semua yang mengaku diatas manhaj salaf?? Kesalahan person tidak bisa dikaitkan kepada kesalahan manhaj mereka secara umum. Contoh ekstrimnya begini, tidak diragukan lagi, sholat jum’at merupakan syiar agama Islam, tetapi ada beberapa kejadian ketika seseorang sholat jum’at terutama di masjid2 kampung, pergi dengan sandal jelek dan pulang dengan sandal bagus. Apakah dengan perbuatan seseorang ini yang pergi kemasjid menunaikan sholat jum’at kita katakan secara umum, umat islam sebagai penilep sandal?? Kalla tsumma kalla. Kemudian, dari tulisan yang kamu sampaikan kamu tidaklah memberi solusi melainkan mengombar bara fitnah. Dari manhaj dakwah Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam, beliau ketika memperingatkan kesalahan para sahabatnya dari suatu kesalahan, maka beliau memberi solusi pemecahan bagi mereka. Sebagai contoh kecil, dalam hadits Abu Syuraih (ana rasa kamu mengetahui hadits ini, karena kamu sendiri mengaku sebagai profesor dalam manhaj salaf, ini ana katakan dari tulisan kamu sendiri yang mengatakan kajian ‘salafi’ tidak ada apa2nya, kemudian kamu kaitkan dengan seorang professor yang menilai mahasiswa). Dalam hadits tersebut, Rasulullah melarang Abu Syuraih memakai kunyah Abul Hakam, karena Al-Hakam adalah nama dari salah satu nama ALLAH. Maka Rasulullah memberi solusi dengan menyuruh sahabtnya mengganti namanya dengan nama anaknya paling tua yang bernama Syuraih, maka jadilah ia bernama Abu Syuraih. Para ‘salafi’ yang kamu deskreditkan, ketika membahas penyimpangan dakwah IM, JT, HT dll, selalu memberi solusi dengan kembali kepada manhaj salaf. Sedangkan kamu?? Kemana kamu arahkan umat ini???
Mengenai penamaan firqoh, sebutkan siapa firqoh najiyah yang kamu maksudkan?? Apakah yang mencampuradukkan antara kebhatilan dan kebenran?? Mencampuradukkan antara manhaj salah dan manhaj harokah??
Mengenai sikap fanatik?? Benarkah untuk mencegah sikap fanatik kita harus mengambil ilmu dari seluruh pemahaman?? Mencomot sana sini dan mengatakan, ‘toh ada benernya’. Alangkah sama akal kita dengan tong sampah, jika semuanya boleh masuk. Yang hak dan yang bathil semua dijadikan satu. Lalu salahkah jika ada yang membahas kesalahan suatu kitab dengan maksud menasihati umat agar tidak terjatuh kepada kesalahan tersebut?? Sepeti Syaikh Rabi (hafidzahullah) yang menasihati ummat karena kesalahan2 Hasan AL Banna, Sayid Quthb dan lain2 dalam rangka menasihati ummat?? Jika dikatakan Hasan AL-Banna, Sayid Quthb dan semisalnya mendapat tazkiyah dari ulama2 sebelumnya, maka kita bandingkan, tazkiyah ulama tersebut dengan peringatan yang dilakukan oleh Syaikh Rabi. Bukankah Jarh yang rinci lebih didahulukan daripada Ta’dil yang masih bersifat umum wahai “profersor”?? Jika ada ustadz2 atau ikhwah2 yang melarang membaca buku2 mereka (Hasan Al-Banna, Sayid Quthb dan semisal) hal ini tidaklah bersikap menyudutkan mereka (Hasan Al-Banna, Sayid Quthb dan semisalnya). Melainkan hal ini menolong mereka (Hasan Al-Banna, Sayid Quthb dan semisalnya), agar kesalahan2 mereka tidak banyak tersebar dan diikuti kebanyakan orang yang tidak paham. Bukankah orang yang menunjukkan kepada sunnah yang jelek dosa orang yang mengikutinya akan kembali kepadanya wahai ‘profesor’? Ana juga pengen tahu, ketika kamu mempunyai seorang anak, apakah kamu akan membacakan seluruh buku2 kepada anakmu tanpa menyaringnya mana yang benar dan man yang salah?? Apakah kamu akan menyuapi anakmu dengan seluruh pemikiran2?? Katakanlah wahai kaum!!!
Dari tulisan kamu wahai professor, yang ana tangkap adalah sikap kamu dalam upaya menggabung2kan antara salafiyah dan harokah, antara al haq dan yang bathil. Kemudian kamu membungkusnya dengan kata2 manis mengharapkan keadilan, agar salafiyun menerima Hasan Al-Banna Sayyid Quthb dan semisalnya, memperlajari buku mereka. Kamu berharap salafiyun diam tidak mengingkari kesalahan2 IM, JT dan HT?? Allahu musta’an. Jika benar ini maksud tulisanmu, maka inikah hakikat ‘adil?? Bukankah ini justru bersikap dzolim yakni meletakkan sesiatu bukan pada tempatnya??? Untuk salafiyun, nasehat ana, antum telah berada di atas manhaj yang haq, seperti perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah,”Bukanlah suatu aib, seseorang yang menunjukkan manhaj salaf, menisbatkan diri kepadanya, serta berbangga dengannya, akan tetapi wajib bagi kita untuk menerimanya, karena madzhab salaf tidak ada padanya kecuali kebenaran”. Akan tetapi ikhwah fillah, hiasilah hidup kita dengan akhlaq karimah, berdakwah dengan hikmah, serta menjauhi sikap adu domba. Bukankah sebelum Rasulullah memulai dakwah tauhidnya, beliau terlebih dahulu telah dikenal dengan akhlaknya yang mulia, terkenal dengan kejujuran dan amanah nya, suka menyambung silaturahmi, dan akhlak2 terpuji lainnya. Janganlah kita sibuk membahas masalah perpecahan dan tenggelam di dalamnya. Innallah ma’ana.
Wassholatu wassalamu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.
terimakasih… antum disamping mengingatkan ikhwan-ikhwan salafiyyin agar selalu menyampaikan dakwah dengan hikmah. juga memberikan nasehat kepada saudara-saudara kita yang masih belum tahu tentang hakikat salafy.
Salafy itu adalah… orang yang tahu mana yang haq dam mana yang bathil dan berlemah lembut terhadap sesama makhluk, bahkan binatang yang paling kecil/remeh sekalipun.
semoga ada manfaatnya khususnya untuk ana
assalamu’alaikum,
ana minta ijin buat copy beberapa file antum.
syukron
wassalamu’alaikum
wah ana juga minat ni
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Akh, minta ijin untuk mengcopi artikel ini di blog ana.
Syukron sebelumnya.
Ping-balik: Prioritas Pembenahan Umat « CahFisika05