Keluarga Sakinah, Keluarga Idaman (2)

Oleh Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri MA.

Kriteria Pernikahan Islami.

Dari hadits ‘Aisyah diatas, kita dapat simpulkan bahwa pernikahan yang dibenarkan oleh islam ialah pernikahan yang memiliki beberapa kriteria berikut:
Wali Yang Menyetujui dan Merestui Pernikahan Tersebut.
Islam benar-benar menjaga dan menghormati hak-hak manusia, yaitu dengan mengajarkan syari’at yang dapat menjamin keutuhan hak setiap orang, termasuk hak kaum wanita/ istri.
Kaum wanita pada umumnya senantiasa diselimuti oleh berbagai kelemahan, dimulai dari kelemahan fisik, pengalaman, keberanian, kesabaran, dan hingga perasaan. Islam dalam syari’at pernikahannya benar-benar memperhatikan fenomena ini. Oleh karenanya Islam mensyaratkan agar pernikahannya dilangsungkan oleh ayah /walinya, guna melindungi mereka agar tidak menjadi korban orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dengan memanfaatkan berbagai kelemahan tersebut.
Sebagaimana kaum wanita juga bersifat pemalu, sehingga mereka sering kali tidak dapat mengutarakan keinginannya dengan baik, apalagi yang berhubungan dengan pernikahan. Oleh karena itu sering kali seorang wanita bila ditanya tentang kesiapannya untuk menikah atau menerima lamaran seseorang ia tertunduk dan terdiam malu bahkan menangis. Sampai-sampai Rasulullah r menjadikan terdiamnya seorang gadis ketika ditanya tentang sikapnya terhadap lamaran seorang pria sebagai pertanda persetujuannya:
عن عائشة رضي الله عنها قالت: سألت رسول الله r عن الجارية ينكحها أهلها، أتستأمر أم لا؟ فقال لها رسول الله : (نعم تستأمر) فقالت عائشة: فقلت له: فإنها تستحي. فقال رسول الله r: (فذلك إذنها إذا هي سكتت) متفق عليه
“Dari ‘Aisyah semoga Allah meridhainya, ia menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah r tentang anak gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah ia dimintai pendapatnya atau tidak? Maka Rasulullah r bersabda : “Ya, ia dimintai pendapatnya”, maka ‘Aisyah berkata kepada beliau: Sesungguhnya ia malu. Maka Rasulullah r bersabda: Maka itulah persetujuannya, bila ia diam”. Muttafaqun ‘alaih
Oleh karena itu semua, islam mengharuskan agar pernikahan setiap wanita dilangsungkan oleh wali, demi mencapai berbagai tujuan di atas, dan demi membedakan antara pernikahan yang benar (syar’i) dari perzinaan:
Pada hadits ‘Aisyah di atas, beliau menyebutkan bahwa diantara kriteria pernikahan yang dibenarkan dalam syari’at islam ialah:
(يخطب الرجل إلى الرجل وليته أو ابنته)
“Yaitu seorang pria datang melamar kepada pria lain wanita yang dibawah perwaliannya atau anak gadisnya”.
Dan pada hadits lain, Rasulullah r lebih tegas lagi menyatakan:
(لا تزوج المرأة المرأة ولا تزوج المرأة نفسها فإن الزانية هي التى تزوج نفسها) رواه ابن ماجه والدارقطني وصححه الألباني
“Dari sahabat Abu Hurairah t dari Nabi r: “Seorang wanita tidaklah dapat menikahkan wanita lain, dan seorang wanita tidaklah menikahkan dirinya sendiri, sebab pelacurlah yang menikahkan dirinya sendiri.” Riwayat Ibnu majah, Ad Daraquthny dan dishahihkan oleh Al Albany.
Dan dalam hadits lain Rasulullah r bersabda:
(لا نكاح إلا بولي) رواه أحمد وأبو داود والترمذي وابن ماجة وصححه الألباني
“Tidaklah sah suatu pernikahan kecuali dengan adanya seorang wali.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albany.
Bahkan seandainya seorang wali telah dihadirkan ketika proses pernikahan, akan tetapi ia tidak menyetujui pernikahan tersebut, maka pernikahan tersebut tidak sah. Dengan demikian keberadaan wali bukan hanya sekedar suatu formalitas atau sekedar pelengkap semata yang tidak memiliki peran. Akan tetapi seorang wali benar-benar memiliki peran utama dalam proses pernikahan. Oleh karena itu Rasulullah r bersabda:
(أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل، فنكاحها باطل، فنكاحها باطل، فإن دخل بها فلها المهر بما استحل من فرجها، وإن اشتجروا فالسلطان ولي من لا ولي لها. رواه الخمسة إلا النسائي وصححه الألباني
“Wanita yang menikah tanpa izin dari walinya, maka pernikahannya bathil (tidak sah), maka pernikahannya bathil (tidak sah), maka pernikahannya bathil (tidak sah). Dan bila lelaki itu telah menggaulinya, maka ia berhak mendapat mahar sebagai ganti atas hubungan yang telah dilakukan oleh lelaki itu dengan dirinya. Dan bila para wali berselisih, maka penguasa adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albany.
Hukum ini bukan hanya berlaku pada wanita yang belum pernah menikah atau yang disebut dengan perawan, akan tetapi berlaku juga pada wanita yang pernah menikah atau yang disebut dengan janda. Sebagai salah satu dalilnya ialah ayat berikut:
}وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْاْ بَيْنَهُم بِالْمَعْرُوفِ { البقرة 232
“Apabila kamu mentalak istri-istrimu lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan mantan suaminya bila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang baik (ma’ruf).” (Surat Al Baqarah 232)
Ayat ini diturunkan berkenaan kisah saudara wanita sahabat Ma’qil bin Yasar t, sebagaimanya yang ia kisahkan sendiri:
زوجت أختا لي من رجل، فطلقها حتى إذا انقضت عدتها، جاء يخطبها، فقلت له: زوجتك وفرشتك وأكرمتك، فطلقتها ثم جئت تخطبها؟! لا والله لا تعود إليك أبدا. وكان رجلا لا بأس به، وكانت المرأة تريد أن ترجع إليه، فأنزل الله هذه الآية }فلا تعضلوهن{ فقلت: الآن أفعل يا رسول الله، قال: فزوجها إياه. رواه البخاري.
“Aku pernah menikahkan saudariku dengan seorang pria, kemudian pada suatu saat ia menceraikannya, hingga ketika masa iddahnya telah berlalu, ia datang untuk melamarnya kembali, maka sayapun berkata kepadanya: Aku pernah menikahkanmu (dengannya), aku pernah pasrahkan dia kepadamu, dan aku pernah memuliakanmu dengannya, kemudian engkau ceria dia, dan sekarang engkau datang melamarnya kembali?! Tidak, sungguh demi Allah, selama-lamanya ia tidak akan pernah menjadi istrimu lagi. Padahal dia adalah pria yang baik, dan saudariku juga ingin untuk kembali membina pernikahan dengannya, maka Allah menurunkan firman-Nya berikut ini : { maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka} (Mendengar ayat ini) aku-pun berkata: Sekarang juga saya akan aku laksanakan wahai Rasulullah. Perawi kisah ini menuturkan: Kemudian ia-pun menikahkan saudarinya kepada mantan suaminya tersebut. (Riwayat Al Bukhary)
Pada kisah ini, Allah Ta’ala melarang kaum lelaki yang menjadi wali, dari menghalangi wanita yang berada dibawah perwaliannya untuk dinikahi oleh pria yang pernah menikahinya. Seandainya wanita yang telah menjanda dibolehkan untuk menikah tanpa wali, maka tidak perlu adanya larangan semacam ini, sebab pada kisah yang menjadi penyebab diturunkan ayat ini, wanita tersebut berhasrat untuk menerima kembali lamaran mantan suaminya. Sehingga bila ia dibenarkan untuk menikah tanpa wali, maka dengan mudah baginya untuk langsung menikah dengan mantan suaminya. Akan tetapi karena pernikahan tidak dibenarkan tanpa adanya wali, maka Allah menurunkan larangan terhadap perbuatan wali tersebut, yaitu menghalangi pernikahan mereka berdua.
Dan bagi wanita yang tidak memiliki wali yang dapat menikahkannya, maka yang berhak menikahkannya adalah pemerintah yang sah, dalam hal ini, petugas DEPAG (KUA) atau KJRI atau KBRI, sebagaimana ditegaskan dalam hadits di atas:
فالسلطان ولي من لا ولي لها. رواه الخمسة إلا النسائي وصححه الألباني
” penguasa adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali.”
Dari penjelasan diatas jelaslah bahwa wanita yang menikah tanpa dihadiri oleh wali atau orang yang ia tunjuk untuk mewakilinya dan tanpa persetujuan wali, maka pernikahannya batal dan tidak sah. Dan bila tidak sah, maka seperti yang ditegaskan pada salah satu hadits di atas:
(فإن الزانية هي التى تزوج نفسها)
“pelacurlah yang menikahkan dirinya sendiri.”
Adapun guru ngaji atau pemuka masyarakat atau direktur perusahaan atau majikan pekerjaan atau ketua penampungan dan yang serupa, maka mereka semua tidaklah berhak untuk menikahkan seorang wanita yang bukan anak atau saudaranya. Dan wanita yang telah terlanjur mereka nikahkan tanpa sepengetahuan dan persetujuan walinya (orang tua wanita tersebut) maka pernikahan tersebut tidak sah, sehingga hubungan antara wanita tersebut dengan pasangannya adalah hubungan yang haram alias zina.
Sebagaimana guru ngaji atau ketua penampungan tak ubahnya bagaikan mucikari (pengelola rumah pelacuran), karena sama-sama tidak berhak menikahkan.

Pengantin Pria Membayar Mahar/Mas Kawin Kepada Pengantin Wanita.

Pada hadits ‘Aisyah semoga Allah meridhainya dinyatakan bahwa diantara kriteria pernikahan yang dibenarkan dalam islam ialah dengan ditunaikannya mas kawin/ mahar. Mas kawin merupakan pertanda bagi penghargaan kepada wanita yang dinikahi dan bukan sebagai uang sewa atau pembelian. Oleh karena itu mas kawin dalam Al Qur’an disebutkan sebagai nihlah (pemberian yang diberikan dengan penuh ketulusan).
}وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً{ النساء 4
“Dan berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh ketulusan.” (An Nisa’ 4)
Dan dalam hadits Nabi r bersabda:
عن أبي هريرة t قال: قال رسول الله r: (من تزوج امرأة على صداق وهو ينوي أن لا يؤديه إليها فهو زان، ومن ادان دينا وهو ينوي أن لا يؤديه إلى صاحبه فهو سارق) رواه عبد الرزاق والبزار والبيهقي وصححه الألباني.
“Dari sahabat Abu Hurairah t ia berkata: Rasulullah r bersabda: “Siapa saja yang menikahi seorang wanita dengan suatu mas kawin/ mahar, sedangkania berniat untuk tidak menunaikan kepadanya mas kawin tersebut, maka ia adalah pezina, dan barang siapa yang menghutang suatu piutang, sedangkan ia berniat untuk tidak membayar kepada pemiliknya, maka ia adalah pencuri.” (Riwayat Abdurrazzaq, Al Bazzar, Al Baihaqi, dan dishahihkan oleh Al Albany.
Dalam kacamata Islam, pernikahan adalah ikatan/akad penghormatan dan penghargaan dari kedua belah pihak, dan bukan akad perniagaan. Oleh karena itu mas kawin bukanlah uang sewa atau sebagai uang pembelian, melainkan sebagai tanda penghargaan dari suami kepada istri.
Karena Mas kawin adalah sebagai simbul penghargaan, dan penghormatan, maka dalam syari’at Islam, mas kawin yang paling baik adalah yang paling mudah dan murah, sebagaimana disabdakan oleh Nabi r:
(خير الصداق أيسره) رواه الحاكم والبيهقي
“Sebaik-baik mas kawin/mahar ialah yang paling mudah/murah”. (Riwayat Al Hakim dan Al Baihaqy)
Inilah pernikahan dalam Islam, suatu ikatan yang didasari oleh penghargaan, penghormatan, dan kepercayan dari kedua belah pihak. Sehingga tidak mengherankan bila setelah terjalin tali pernikahan antara dua insan, syari’at Islam mewajibkan kepada keduanya untuk menjalankan tugasnya dengan tanpa pamprih, sehingga terjalinlah hubungan yang romantis. Istri berkewajiban untuk mentaati suaminya dan suami berkewajiban untuk menafkahi, melindungi dan mendidik istri.
Rasulullah r bersabda tentang kewajiban istri kepada suaminya
(لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها ) رواه الترمذي وصححه الألباني
“Seandainya aku dibolehkan untuk memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aku akan perintahkan kaum istri untuk bersujud kepada suaminya.” (Riwayat At Tirmizy dan dishahihkan oleh Al Albany.)
Dan tentang kewajiban suami terhadap istrinya, Rasulullah r bersabda:
(كفى بالمرء إثما أن يحبس عمن يملك قوته ) رواه مسلم
“Cukuplah bagi seseorang sebagai dosa besar, bila ia menahan nafkah orang yang di bawah kekuasaannya.” (Riwayat Muslim)
Karena asas hubungan yang didasari oleh keikhlasan dan penghargaan semacam inilah, Allah menjadikan tugas yang dilakukan oleh masing-masing dari suami istri sebagai bagian dari amalan ibadah, sampai-sampai Rasulullah r bersabda:
(وفي بضع أحدكم، صدقة. قالوا يا رسول الله، أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال: أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه فيها وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال، كان له أجر) رواه مسلم
“Dan pada hubungan intim kalian adalah amalan shodaqoh. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Bagaimana salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya, kok ia mendapatkan pahala? Beliau menjawab: Apa pendapatmu bila ia melampiaskannya dengan cara-cara yang haram, bukankah ia akan berdosa karenanya? Demikian juga bila ia melampiaskannya dengan cara-cara yang halal.”. Riwayat Imam Muslim.
Demikian juga halnya dengan setiap kewajiban yang dijalankna oleh seorang istri kepada suaminya, bahkan ketaatan istri kepada suaminya merupakan salah satu sebab dimudahkannya ia untuk masuk surga:
(إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها وحصنت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها : (ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت) رواه أحمد والطبراني وصححه الألباني
“Bila seorang wanita menjalankan shalat lima waktu, puasa bulan ramadhan, menjaga kemaluannya (tidak berzina) dan taat kepada suaminya, kelak akan dikatakan kepadanya: “Masuklah ke surga dari pintu-pintu surga yang engkau suka”. Riwayat Ahmad, At Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albany.
Demikianlah hubungan yang romantis, dan tulus, sehingga dengan hubungan yang indah ini, akan tercapai keluarga yang damai sejah tera. Dan kisah berikut adalah salah satu gambaran nyata dari hubungan suami istri yang romantis:
عن عكرمة عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: إني لأحب أن أتزين للمرأة كما أحب أن تتزين لي، لأن الله عز وجل يقول: } وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوف {وما أحب أن أستنطف جميع حق لي عليها لأن الله عز وجل يقول } وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ {. رواه ابن أبي شيبة والبيهقي
“Dari Ikrimah ia mengisahkan dari sahabat Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- bahwasannya beliau berkata: “Sungguh aku suka berdandan dihadapan istriku, sebagaimana aku suka bila ia berdandan dihadapanku. Yang demikian itu karena Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan para wanita/istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf (baik).” Dan saya tidak ingin menuntut seluruh hak-ku atasnya, karena Allah Azza wa Jalla berfirman: “Akan tetapi para suami, mempunyai suatu tingkat kelebihan daripada istrinya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqy)

Pernikahan Diumumkan Di Masyarakat.
Diantara kriteria pernikahan yang selaras dengan syari’at islam ialah: pernikahan dilangsungkan dihadapan para saksi atau dengan diumumkan kepada masyarakat melalui pesta pernikahan. Tuntunan ini guna menjaga kehormatan tali pernikahan yang telah terjalin antara pria dan wanita. Sebab bila masyarakat telah mengetahui bahwa seorang wanita telah dinikahi oleh seorang pria, maka tidak akan ada lagi pria lain yang melamarnya, atau ceroboh menggodanya dst. Dan bila dikemudian hari wanita tersebut hamil dan melahirkan anak, tidak ada orang yang meragukan status kehamilan dan anaknya tersebut. Oleh karena itu Rasulullah r benar-benar menekankan akan pentingnya pesta pernikahan, sampai-sampai beliau bersabda:
(فصل ما بين الحلال والحرام الصوت بالدف) رواه أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجة والحاكم
“Perbedaan antara perbuatan halal (pernikahan) dari perbuatan haram (perzinaan) ialah dengan ditabuhnya rebana.” (Riwayat Ahmad, At Tirmizy, An Nasa’i, Ibnu Majah dan Al Hakim.

Dan ketika ada salah seorang sahabat Nabi yang menikah, yaitu sahabat Abdurrahman bin Auf t , beliau memerintahkannya untuk membuat pesta walimah, sebagaimana yang dikisahkan dalam riwayat berikut:
عن أنس بن مالك t أن النبي r رأي على عبد الرحمن بن عوف أثر صفرة، فقال: ما هذا؟ قال: يا رسول الله إني تزوجت امرأة على وزن نواة من ذهب. قال: (فبارك الله لك، أولم ولو بشاة) متفق عليه
“Dari sahabat Anas bin Malik t, bahwasannya pada suatu hari Nabi r menyaksikan pada diri Abdurrahman bin ‘Auf terdapat bekas minyak Za’faran, maka Beliau bertanya: Apakah ini? Sahabat Abdurrahman-pun menjawab: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan mas kawin berupa emas seberat biji kurma. Beliau bersabda: Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu. Buatlah pesta walimah walau hanya dengan menyembelih seekor kambing.” Muttafaqun ‘alaih.

4. Pasangan Yang Shaleh dan Shalehah.

Pernikahan adalah suatu akad yang menyatukan antara dua insan dengan ikatan yang suci. Oleh karena itu Islam memerintahkan umatnya untuk selektif dalam menentukan pilihan, agar pernikahan yang mereka jalin benar-benar menjadi nikmat dan keberkahan dalam hidup. Dan agar pernikahan yang mereka jalin benar-benar menjadi salah satu tanda akan ke-Agungan dan ke-Esaan Allah, sebagaimana yang Allah firmankan:
} وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ { الروم 21
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu menyatu dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar Rum 21).
Oleh karena itu Rasulullah r ketika menjelaskan kepada umatnya tentang berbagai alasan yang dijadikan masyarakat sebagai standar dalam menentukan pasangan hidup/istri, beliau menganjurkan agar faktor iman dan ketakwaan sebagai standar utama dalam menentukan pilihan.

Beliau r bersabda:
(تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك) متفق عليه
“Wanita itu (biasanya) dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka hendaknya engkau memilih wanita yang beragama (bertakwa), niscaya engkau akan beruntung.” Muttafaqun ‘alaih.
Diantara kriteria wanita yang shaleh ialah sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut:
}الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ{
“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lainnya (kaum wanita), dankarena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shaleh ialah yang ta’at (kepada Allah Ta’ala dan kepada suaminya) lagi memelihara diri ketika suaminya sedang tidak ada, berikat pemeliharaan Allah terhadap mereka .” An Nisa’ 34.
Pada suatu hadits, Rasulullah r lebih merinci tentang kriteria wanita shaleh, yang layak untuk dijadikan pasangan hidup:
(خير النساء التي إذا نظرت إليها سرتك، وإذا أمرتها أطاعتك وإذا غبت عنها حفظتك في نفسها ومالك) قال: وتلا هذه الآية }الرجال قوامون على النساء …{ الى آخر الآية. رواه ابن جرير وأبو داود الطيالسي والحاكم
“Sebaik-baik wanita ialah wanita yang bila engkau memandang kepadanya, ia akan membuatmu senang, dan bila engkau memerintahnya niscaya ia mentaatimu, dan bila engkau meninggalkannya, ia menjaga kehormatanmu dalam hal yang berikaitan dengan dirinya dan hartamu. Dan kemudian Rasulullah r membaca ayat berikut, yang artinya: “”Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, …”hingga akhir ayat.” Riwayat Ibnu jarir, Abu Dawud At Thoyalisy dan Al Hakim.
Demikian juga halnya dengan kriteria pasangan pria, Rasulullah r mengajarkan agar standar pilihannya ialah kesholehan dan akhlaq yang mulia:
(إذا خطب إليكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه، إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض) رواه الترمذي وسعيد بن منصور والطبراني والبيهقي وحسنه الألباني
“Bila telah datang (untuk melamar) kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan perangainya (akhlaqnya), maka nikahkanlah dia, bila kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang merajalela.” Riwayat At Tirmizy, Sa’id bin Mansur, At Thabrany, Al Baihaqy dan dihasankan oleh Al Albany
Sebagian ulama’ menjelaskan maksud dari fitnah dan kerusakan yang disebutkan dalam hadits dengan berkata: “Yang demikianitu karena bila kalian tidak akan menikahkan wanita-wanita kalian melainkan dengan orang yang kaya, berkedudukan, maka akan menyebabkan kebanyakan wanita-wanita kalian tidak bersuami dan kebanyakan lelaki kalian tidak beristri, dan kemudian merajalelalah perzinaan. Dan bisa saja para wali merasa dipermalukan, sehingga timbullah fitnah (peperangan) dan kekacauan. Bila demikian, maka kesinambungan generasi penerus akan terancam, berkurang jumlah orang shaleh, dan juga orang-orang yang menjaga kehormatannya.”.([4])
Bila islam mengajarkan agar senantiasa memilih pasangan hidup yang sholeh dan shalihah, maka sebaliknya Islam juga memperingatkan umatnya agar tidak memilih pasangan hidup yang tidak baik. Hal ini karena pilihan adalah standar jati diri seseorang, Allah Ta’ala berfirman:
}الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ { النور 26
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik( pula).” An Nur 26.
Sebagian ulama’ ahli tafsir menafsirkan: ayat ini bahwa ada kaitannya dengan ayat ke-3 dari surat yang sama, yaitu firman Allah Ta’ala:
} الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ { النور 3
“Lelaki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh lelaki yang berzina atau lelaki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” An Nur 3. Sehingga penafsiran ayat ini menunjukkan bahwa lelaki yang tidak baik adalah pasangannya wanita yang tidak baik pula, dan sebaliknya wanita yang tidak baik adalah pasangannya orang yang tidak baik pula. Dan haram hukumnya bagi lelaki baik atau wanita baik untuk menikahi wanita atau lelaki yang tidak baik.([5])
Sebagian ulama’ menjabarkan penafsiran ini dengan lebih jelas lagi: Barang siapa yang menikahi wanita pezina yang belum bertaubat, maka ia telah meridhai perbuatan zina, dan orang yang meridhai perbuatan zina seakan ia telah berzina. Dan bila seorang lelaki rela bila istrinya berzina dengan lelaki lain, maka akan lebih ringan baginya untuk berbuat zina. Bila ia tidak cemburu ketika mengetahui istrinya berzina, maka akankah ada rasa sungkan di hatinya untuk berbuat serupa?! Dan wanita yang rela bila suaminya adalah pezina yang belum bertaubat, maka berarti ia juga rela dengan perbuatan tersebut, dan barang siapa yang rela dengan perbuatan zina, maka ia seakan-akan telah berzina. Dan bila seorang wanita rela bila suaminya merasa tidak puas dengan dirinya, maka ini pertanda bahwa iapun melakukan hal yang sama. Dan ini merupakan sunnatullah di alam semesta ini: balasan suatu amalan adalah amalan serupa

Dalam suatu pepatah dinyatakan
عفوا تعف نساؤكم وأبناؤكم وبروا أباءكم يبركم أبناؤكم
Jagalah dirimu niscaya istri dan anakmu mu akan menjaga dirinya dan berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anakmu akan berbakti kepadamu.”([6])
Dan dalam pepatah arab lainnya dinyatakan:
الزنا دين قضاؤه في أهلك
“Perbuatan zina adalah suatu piutang, dan tebusannya ada pada keluargamu.”
Dan pada hadits berikut terdapat suatu isyarat yang menguatkan keterangan ulama’ di atas:
عن أبي أمامة t قال : إن فتى شابا أتى النبي r فقال : يا رسول الله ! ائذن لي بالزنى. فأقبل القوم عليه فزجروه وقالوا مه مه ! فقال : (ادنه. فدنا منه قريبا. قال: فجلس. قال: أتحبه لأمك ؟ قال : لا والله، جعلني الله فداك . قال : ولا الناس يحبونه لأمهاتهم . قال: أفتحبه لابنتك ؟ قال : لا والله يا رسول الله ! جعلني الله فداك . قال : ولا الناس يحبونه لبناتهم . قال أتحبه لأختك ؟ قال: لا والله جعلني الله فداك. قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم . قال أتحبه لعمتك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداك . قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم . قال أتحبه لخالتك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداك . قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم . قال: فوضع يده عليه وقال : اللهم اغفر ذنبه وطهر قلبه وحصن فرجه) . فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء. رواه أحمد والطبراني والبيهقي وصححه الألباني
“Dari sahabat Abu Umamah t, ia mengisahkan: “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi r lalu ia berkata: Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina. Maka sepontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: Apa-apaan ini! Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya: “Mendekatlah”, maka pemuda itupun mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Rasulullah r kemudian besabda kepadanya: “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu? Pemuda itu menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah r bersabda: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka. Rasulullah r kembali bertanya: Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu? Ia menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu, Rasulullah r menimpalinya: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka. Kemudian beliau bertanya lagi: Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu? Ia menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah r menimpalinya: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka. Rasulullah kembali bertanya: Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)? Ia menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah r menimpalinya: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka. Rasulullah kembali bertanya: Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)? Ia menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah r menimpalinya: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka. Kemudian Rasulullah r meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, lalu berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Maka semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong). ” Riwayat Ahmad, At Thabrani, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany.
Rasulullah r pada kisah ini mengingatkan pemuda tersebut agar memperlakukan orang lain dengan perilaku yang baik dan ia sukai bila perilaku tersebut mengenai dirinya. Dan beliau menjelaskan bahwa setiap wanita yang akan ia zinai, memiliki ayah atau saudara laki-laki, atau kerabat laki-laki atau suami, dan mereka semua pasti tidak rela bila anak atau saudara wanitanya atau istrinya dizinai oleh seseorang, sebagaimana iapun tidak suka bila perbuatan zina tersebut menimpa anak atau saudara wanitanya atau istrinya. Sehingga pada kisah ini terdapat isyarat bahwa bila kita tidak menjaga perasaan orang lain yaitu dengan menzinai anak atau saudara wanita mereka, maka tidak mengherankan bila pada suatu saat ada oranag lain yang memperlakukan kita dengan perilaku yang serupa.
Oleh karena itu hendaknya masing-masing dari kita bertanya kepada hati nurani masing-masing: Relakah anda bila anak gadismu, atau saudara wanitamu atau ibumu dizinai oleh orang lain? Bila tidak rela, maka janganlah anda berzina dengan anak atau seudara wanita orang lain atau ibu orang lain.
Dan bila anda telah tega menzinai anak atau saudara wanita atau ibu seseorang, maka semenjak itu ingatlah selalu bahwa pada suatu saat perbuatan yang serupa akan menimpa anak gadis anda atau saudara wanita anda atau bahkan ibu anda.
Diantara kriteria pasangan yang shaleh ialah bila ia tidak rela untuk menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan mahramnya dengan ikatan selain pernikahan, misalnya dengan berpacaran atau kenalan atau yang serupa. Perbuatan ini tidak diragukan lagi telah menodai kehormatan dan kepribadian seorang wanita muslimah yang baik, sekaligus mencerminkan rendahnya harga dirinya. Sebagaimana perbuatan ini nyata-nyata diharamkan dalam syari’at Islam. Rasulullah r bersabda:

(لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها ذو محرم) متفق عليه
“Janganlah sekali-kali seorang lelaki berada disuatu tempat berduaan dengan seorang wanita, melainkan bila wanita tersebut ditemani oleh mahramnya.” Muttafaqun ‘alaih.

Dan pada hadits lain beliau menyatakan:
(ألا لا يخلون رجل بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان) رواه أحمد والترمذي وصححه الألباني
“Ketahuilah, tidaklah sekali-kali seorang lelaki berada disuatu tempat berduaan dengan seorang wanita, melainkan setan akan menjadi orang ketiganya.” Riwayat Ahmad, At Tirmizy dan dishahihkan oleh Al Albany.
Bila setiap wanita berfikir jernih dan jauh dari bisikan setan dan dorongan nafsu birahinya, niscaya ia tidak akan pernah sudi untuk diajak berpacaran oleh seorang lelaki. Hal ini dikarenakan –biasanya- alasan orang yang berpacaran ialah untuk saling menjajagi atau mencoba. Bukankah alasan ini adalah sama saja menghinakan kaum wanita, sehingga memposisikannya bak barang dagangan, sehingga bisa dicoba dulu, bila cocok maka jadi dibeli dan bila tidak maka dikembalikan begitu saja. Penjajagan dan percobaan dengan cara bergandengan tangan, berduaan ditempat yang jauh dari pandangan orang lain, bahkan mungkin sampai melakukan perbuatan yang nyata-nyata tidak dibenarkan dalam islam, misalnya berpelukan, dan bahkan mungkin berciuman, dan tidak jarang sampai melakukan perzinaan besar layaknya suami dan istri. Na’uzubillahi min zalika.
Betapa banyak wanita yang setelah sekian lama berpacaran dan dicoba berbagai hal yang ada pada dirinya, kemudian dicampakkan serta ditinggalkan?. Dan betapa banyak lelaki yang berpacaran dengan sekian banyak wanita, semuanya ia lakukan dengan alasan saling menjajagi dan mengenal?. Bila halnya demikian ini, maka apa bedanya wanita-wanita tersebut dengan barang dagangan, yang dengan bebas dapat dicoba dan dijajaginya oleh setiap orang yang ingin membelinya ?!
Akankan kepribadian, kehormatan dan keluhuran diri seorang wanita dapat terjaga setelah sekian lama ia dijajagi oleh seorang lelaki atau bahkan oleh sekian lelaki?! Sadarlah wahai saudaraku, renungkanlah hal ini dengan hati yang jujur dan bersih dari godaan hawa nafsu, niscaya anda akan dapat memahaminya dengan baik.
Pertanyaan selanjutnya yang semestinya senantiasa diingat-ingat oleh setiap muslim yang mendambakan keluarga yang damai, tentram dan bahagia: Mungkinkah keluarga yang damai dan diberkahi Allah Ta’ala akan dapat dicapai bila benih-benih rumah tangga kita dibangun dengan cara-cara yang haram semacam ini?
Bila Islam melarang umatnya untuk menikahi orang yang tidak baik akhlaqnya, walaupun ia adalah seorang muslim atau muslimah, maka sudah barang tentu Islam melarang umatnya untuk menikahi orang-orang musyrik.
} وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ { البقرة 221
“Dan janganlah engkau menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman . Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menawan hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukminah) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang beriman lebih baik dari lelaki musyrik, walaupun ia menawan hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga, dan ampunan-Nya dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran.” Al Baqarah 221.

-bersambung insya Allah-

catatan kaki:

[4] ) Tuhfatul Ahwazy, oleh Al Mubarakfuri 4/173.
[5] ) Baca Tafsir Ibnu Jarir At Thobary 18/108, Tafsir Al Qurthuby 12/211, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 15/322, dan Tafsir Ibnu Katsir 3/278.
[6] ) Majmu’ fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 15/315-323.

About these ads

Posted on 19 Juli 2009, in Pernikahan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum, mhon minta penjelasan tentang hukum org brpacaran .syukran pak ustadz, mhon bls ke email sy.

  2. Didalam tulisan ini terdapat hadist “Perbedaan antara perbuatan halal (pernikahan) dari perbuatan haram (perzinaan) ialah dengan ditabuhnya rebana.” (Riwayat Ahmad, At Tirmizy, An Nasa’i, Ibnu Majah dan Al Hakim. Apakah hadist tersebut shahih? Loh bukankah alat musik ataupun musik itu sendiri haram dalam islam? kenapa bertentangan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 21.343 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: