Mohon Nasihati Ane, Ane Lagi Kena Penyakit Futur
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Temen2 semua yang kucintai karena Allah, ana lagi terkena penyakit yang parah, ane lagi futur, mohon nasihat antum semua buat ane….
Baarakallaahu fiikum wa ahlikum
Wassalaam’alaikum wa Jazaakumullahu khairaa
Posted on 6 Agustus 2009, in Nasihat and tagged futur, mohon nasihat, nasihati ane, sakit. Bookmark the permalink. 17 Komentar.





assalamu’alaikum
mungkin penyakit futur juga bisa disebabkan karena antum dalam blognya sering berdebat panas dengan para aktivis harokiyyun.
ketikasaudara kita para aktivis harokiyyun itu sudah kehabisan akal dan pendapat ra’yu nya. mereka pun diam seribu bahasa. dan bisa jadi antum seperti kehilangan lawan sparing :-).
oleh sebab itu mari kita sama-sama ikhlas dalam menasehati saudara-saudara kita, karena Allah bukan karena ingin menang-menangan debat.
Futur? apa itu ya…??
:) sekaran, semangat itu sudah kembali kan akhi? ;)
Ana menunggu judul posting “Mohon doa restunya, ana mau nikah sebentar lagi..” di blog ini ^_^
Ditunggu ya akhi..
Antum apa kabarnya akh? Semoga selalu dalam perlindungan Allah Ta’ala.
Ana sudah lama ga mengerti kabar2 saudara2 kita yang lain. O iya, udah nikah belum? Lulus udah kan?
alhamdulillah mas bulan agustus ini ana dah lulus, ana belum nikah, hehe…
smoga bisa segera nikah..hehe…amin
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..
Ana uhibbuka fillah..
Saya rindu saat2 pertama kali ngeblog… sungguh, sangat kangen saya dengan situasi saat itu, di mana saya sering berinteraksi dengan para ikhwah, menemukan kedamaian saat berkunjung, menebar salam, dan saling mendoakan. hiks..
Cuma curhat doank..
“Kalaulah seandainya dosa dan maksiat itu mengeluarkan aroma maka sungguh kita tak akan mampu menyembunyikan betapa besar dosa yang telah kita lakukan.”
akhi antum bisa main ke pondok, disana dah ada kajian rutin ust beni ma ust abu isa. lingkungnnya juga masih hijau ga spt dijatinagor yg sudah ramai dan padat, atau datang aja ke tempat pak duduk di cilembu, bagus kok masih asri
Diriwayatkan dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan perkara yang haram juga jelas. Dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar dan meragukan. Banyak orang yang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga dirinya dari hal-hal yang samar dan meragukan itu maka niscaya akan terpelihara agama dan harga dirinya. Dan barangsiapa yang nekad menerjang hal-hal yang samar dan meragukan itu maka dia terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembalakan hewannya di sekitar daerah larangan, hampir-hampir saja dia memasukinya. Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila daging itu baik maka baiklah seluruh anggota badan. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota badan. Ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599]).
Makna qalb
Dalam bahasa Arab jantung disebut ‘qalb’, terkadang kata ‘qalb’ juga dipakai untuk menyebut akal (lihat Al-Mu’jam Al-Wasith, 2/753). Al-Farra’ -seorang pakar bahasa Arab- mengatakan bahwa makna qalb dalam ayat (yang artinya), “Bagi orang yang memiliki qalb.” (QS. Qaf : 37) ialah akal (kamus Mukhtar Ash-Shihah, alwarraq.com). Dalam terjemah Al-Qur’an ke bahasa Indonesia yang di tas-hih oleh Departemen Agama ‘qalb’ diartikan sebagai ‘hati’ (lihat Al-Qur’an dan Terjemahnya, hal. 520. Penerbit Syaamil). Wal hasil, di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan bahwa akal itu letaknya di dalam hati.
An-Nawawi rahimahullah mengatakan (Syarh Muslim, 6/108-109), “Di dalam hadits ini terdapat penegasan agar (manusia) berupaya memperbaiki hati serta menjaganya dari kerusakan. Sekelompok ulama berargumen dengan hadits ini untuk menyatakan bahwa akal terletak di dalam hati bukan di kepala (otak), dan dalam hal ini terdapat khilaf yang masyhur. Pendapat para ulama madzhab kami (madzhab Syafi’i) dan mayoritas mutakallimin menyatakan bahwa akal terletak di dalam hati.” Pendapat serupa juga disampaikan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dengan menyebutkan dalil-dalilnya ketika menjelaskan kandungan hadits ini (lihat Fath Al-Bari, 1/158).
Hati yang hidup, mati, dan sakit
Untuk memperjelas hal ini, marilah kita simak penuturan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berikut ini. Beliau mengatakan (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Albani, hal. 274-275), “Ketahuilah, sesungguhnya hati bisa hidup dan bisa mati, bisa sakit dan bisa sehat. Hati merupakan unsur (non-fisik) yang paling agung di dalam tubuh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya, “Apakah sama antara orang yang dahulunya mati kemudian Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya untuk berjalan di antara manusia, dengan orang yang senasib dengannya namun tetap terkungkung di dalam kegelapan dan tidak bisa keluar darinya.” (QS. Al-An’aam : 122). Maksudnya orang tersebut sebelumnya mati karena tenggelam dalam kekafiran, kemudian Kami (Allah) pun menghidupkan jiwanya dengan iman.”
Beliau melanjutkan, “Hati yang sehat dan hidup apabila disodori kebatilan dan perkara-perkara yang buruk maka nalurinya akan mendorong untuk menjauhi hal itu dan membencinya serta tidak mau memperhatikannya. Berbeda keadaannya dengan hati yang mati. Hati yang mati tidak mampu membedakan baik dan buruk. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Celakalah orang yang tidak memiliki hati yang dapat mengenal perkara ma’ruf dan mungkar.” Begitu pula halnya hati yang sakit karena terjangkit syahwat. Maka hati (yang sakit) semacam itu -karena kelemahannya- akan condong kepada kebatilan dan keburukan yang disodorkan kepadanya bergantung pada kuat-lemahnya penyakit tersebut.” (hal. 275)
Dua macam penyakit hati
Kemudian Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah memaparkan, “Penyakit hati ada dua macam, sebagaimana yang telah disinggung di depan : penyakit syahwat (keinginan yang terlarang) dan penyakit syubhat (penyimpangan cara berpikir). Penyakit yang paling buruk di antara keduanya adalah syubhat, dan syubhat yang paling buruk adalah yang terkait dengan masalah takdir. Terkadang hati itu menderita sakit dan semakin bertambah parah namun orangnya tidak menyadari hal itu. Hal itu bisa saja terjadi karena dia tidak mau mengenali hakikat kesehatan hatinya dan sebab-sebab untuk menjagaya. Bahkan terkadang hati seseorang mati namun dia tidak menyadari kematiannya. Ciri yang menunjukkan keadaan itu adalah tatkala [1] dosa yang timbul akibat melakukan perbuatan buruk/maksiat tidak bisa lagi membuat hatinya terluka, begitu pula [2] ketika kebodohannya terhadap kebenaran dan ketidak mengertiannya mengenai aqidah yang keliru sudah tidak terasa menyakitkan baginya. Sebab apabila hati masih hidup tentu akan bisa merasakan sakit karena mengalirnya sesuatu yang buruk (dosa) kepadanya, dan merasa sedih dan terluka akibat kebodohan dirinya terhadap kebenaran, dan besarnya rasa sakit itu bergantung pada kadar kehidupan yang ada padanya. (Sebagaimana dikatakan oleh penyair), “Luka yang bersarang di tubuh mayit, tentu tidak lagi menyakitinya.”.” (hal. 275)
Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-Maa’idah : 13).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 225)
Berjuang melawan penyakit
Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan dalam Syarahnya, “Terkadang orang merasakan penyakit yang bersarang di dalam hatinya, namun dia mau menahan rasa pahit yang sangat karena menelan obat dan berusaha tetap sabar untuk menyembuhkan dirinya. Maka dia lebih menyukai merasa sakit karena proses pengobatan yang harus dijalaninya begitu susah (daripada membiarkan penyakitnya terus menjalar). Sesungguhnya obat untuk penyakit hati adalah dengan berjuang menyelisihi hawa nafsu. Padahal perkara itu -menyelisihi nafsu- adalah sesuatu yang sangat sulit dan berat bagi jiwa manusia. Namun, memang tidak ada obat lain yang lebih manjur daripada obat itu. Terkadang, ketika berusaha untuk melatih jiwanya untuk sabar kemudian ternyata tekadnya memudar di tengah jalan sehingga hal itu membuatnya tidak mau lagi bertahan; karena begitu lemah ilmu, keyakinan, dan kesabaran dirinya. Hal itu sebagaimana halnya orang yang berusaha menempuh suatu jalan menuju daerah yang aman namun jalan itu diliputi dengan hal-hal yang menakutkan. Padahal si penempuh jalan itu pun menyadari bahwa apabila dia mau bersabar niscaya rasa takut itu akan lenyap dan berakhir dengan rasa aman. Untuk itulah dia memerlukan kekuatan sabar dan keyakinan yang kokoh terhadap tujuan yang akan dicapai. Kapan saja sabar dan keyakinannya melemah, maka dia akan berputar haluan meninggalkan jalan itu dan tidak mau repot-repot merasakan beratnya kesulitan yang ada di sana. Apalagi jika tidak ada teman (baik) yang menyertainya sehingga dia merasa gentar berjalan sendirian (di atas kebenaran), maka dia pun mengeluh, “Di manakah orang-orang (baik) itu, di saat aku membutuhkan mereka; sehingga aku bisa meniru mereka!”. Inilah keadaan yang menimpa kebanyakan orang, dan itulah penyebab kehancuran mereka. Sesungguhnya orang yang benar-benar sabar dan tulus tidak akan merasa gentar hanya karena sedikitnya teman ataupun karena kehilangan kawan; hal ini akan bisa dia rasakan ketika hatinya senantiasa merasakan kebersamaan (persahabatan) dengan generasi yang pertama, yaitu (sebagaimana makna firman Allah), “Orang-orang yang diberikan kenikmatan oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisaa’ : 69)….” (hal. 275)
Beliau kembali menuturkan, “Tanda sakitnya hati adalah ketika dia berpaling dari mengkonsumsi asupan gizi yang bermanfaat dan cocok (bagi kesehatan hatinya) menuju asupan-asupan yang berbahaya, serta ketika dia berpaling meninggalkan obat yang manjur kepada obat yang membahayakannya. Maka di sini ada empat perkara : [1] asupan yang bermanfaat, [2] obat yang menyembuhkan, [3] asupan yang membahayakan, dan [4] obat yang membinasakan. Hati yang sehat akan memilih sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang berbahaya dan menyakiti. Sedangkan hati yang sakit justru sebaliknya. Asupan paling bermanfaat adalah asupan iman, sedangkan obat paling bermanfaat adalah obat Al-Qur’an, dan masing-masing dari keduanya (iman dan Al-Qur’an) juga menyimpan asupan sekaligus obat. Sehingga orang yang menginginkan kesembuhan dengan selain (bimbingan) Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia tergolong ajhalul jaahiliin (orang yang paling bodoh) dan termasuk deretan adhalludh dhaalliin (orang yang paling sesat)…” (hal. 276).
Menimba ilmu, jalan untuk mendapatkan obat
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Menuntut ilmu termasuk amal kebaikan yang paling utama, sedangkan kebaikan-kebaikan itu akan melenyapkan kejelekan. Maka sangat layak jika menuntut ilmu karena mengharapkan wajah Allah menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa yang telah lalu. Dalil-dalil menunjukkan bahwa mengikuti kejelekan dengan kebaikan akan dapat menghapuskan kejelekan. Lantas bagaimanakah lagi dengan suatu amal yang tergolong kebaikan paling utama dan ketaatan yang paling mulia! Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, beliau pernah berkata, “Sesungguhnya ada seorang yang keluar dari rumahnya sedangkan dia menanggung dosa yang banyak sebagaimana bukit Tihamah, tatkala dia mendengar ilmu (disampaikan) maka dia pun merasa takut, kembali (taat) dan bertaubat. Maka pulanglah dia ke rumahnya dalam keadaan bersih dari dosa. Oleh sebab itu janganlah kalian memisahkan diri dari majelis para ulama.” (Al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 80).
Jazakallahu khaira ya akhana Ari…
nasihat yg indah…
nasihat yang berbobot dan bermanfaat buat kita semua
semangat Akhi
nah dolan nang bekasi ae, ane iso dadi konco kok, engkok bareng ae budhal kajian, nambah ilmu, piye???
:mrgreen:
mboh iki opoo toh akh…..
Nasihat mas Andy kemaren, lewat ceting makasih ya mas…::
admin: assalamu’alaikum pakdhe
Abu Thalib al Atsary: waalaikumusalam
admin: mas, aq lagi futur, nasihati aqu ndang
Abu Thalib al Atsary: nopo seh kok futur barang
admin: mboh iki…
Abu Thalib al Atsary: lagi bosen karo rutinitas thok kali…efeke dadi ke futur
Abu Thalib al Atsary: coba refreshing aja
admin: mungkin itu salah satune
Abu Thalib al Atsary: syaikh al Albani pernah ngajak shahabat dekate pergi jalan2
Abu Thalib al Atsary: beliau bilang: Kalau jalan2 ini berguna untuk memulihkan semangat ibadah maka ini adl sesuatu yg bermanfaat dlm agama
Abu Thalib al Atsary: bukan sesuatu yg tercela dan tidak bermanfaat
Abu Thalib al Atsary: sejak moco omongane syaikh al Albani kuwi yen aku suntuk ya wis…motor tak nggo muter2 kota
Abu Thalib al Atsary: ndelok danau dsbnya
Abu Thalib al Atsary: biasane cuma suntuk sesaat itu..cuma yen dibiarkan terus bisa menjerumuskan kita ke yg lebih parah
Abu Thalib al Atsary: sebelum lebih parah langsung aja diusir dgn ganti suasana
Abu Thalib al Atsary:
admin: Jazakallahu khaira….
admin: tp aq beberapa hari lalu juga habis naiki gunung….tp rasa “futur” ini masih belum hilang2
Abu Thalib al Atsary: jalan2 ringan wae..jangan yg berat2
admin: duh…klo di bandung pengen jalan2 ntar malah tambah futur….
Abu Thalib al Atsary: hahaha…ato ketemu konco…sing apik tapi
admin: banyak “pemandangan” jelek
Abu Thalib al Atsary: ngerti lah bandung..hehe
admin: iyoh
Abu Thalib al Atsary: coba ketemu konco2 wae…tapi ndak usah ngomongke sing berat2
Abu Thalib al Atsary: aku nak ketemu karo Ibnu Saini jarang ngomongke masalah kajian dsbnya
admin: konco2 banyak yg pulang, liburan….konco2 IPDN lagi pada sibuk skripsi mereka
Abu Thalib al Atsary: ngobrol wae biasa
admin: iyoh insya ALlah
Abu Thalib al Atsary: lagi liburan tho saiki
admin: iyah liburan kuliah, masuk lagi bulan september insya ALlah
Abu Thalib al Atsary: ora ono konco sing ono ning kono babar blas ? hehe
Abu Thalib al Atsary: wis tau kenal ikhwan2 jakarta durung?
Abu Thalib al Atsary: sing ning UI
admin: ana gak begitu kenal dg ikhwan UI ato jakarta
admin: jarang rono soale mas
Abu Thalib al Atsary: sekali2 rono tho…ben nggak suntuk sapa ngerti nambah wawasan
Abu Thalib al Atsary: tak kenalke
admin: konco2 rata2 ning yogjo
admin: yo insya Allah, kapan2 tak dolan ning jakarta
Abu Thalib al Atsary:
—
kok masih kosong yah?
قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ