Ada Apa Antara al Ikhwanul Muslimin dengan Yahudi dan Nashrani ??

Oleh Al Ustadz Abdullah Taslim

Dalam kitab “Al Ikhwanul Muslimun Ahdaatsun Shana’atit Taarikh” (cet. Daarud Da’wah, tiga juz) yang ditulis oleh salah seorang pendiri dan tokoh besar IM yang bernama Mahmud ‘Abdul Halim, pada sub judul “Fii Qadhiyyati Falisthiin (Masalah Palestina)” (juz 1/hal. 409), ketika penulis berbicara tentang sebuah tim gabungan Amerika dan Inggris yang berkunjung ke negara-negara Arab untuk membicarakan masalah Palestina, dalam sebuah pertemuan di Mesir dengan tim tersebut, Hasan Al Banna (pimpinan IM) hadir sebagai wakil dari Pergerakan Islam dan menyampaikan sebuah ceramah, yang redaksinya adalah sebagai berikut (langsung kami terjemahkan):

…Dan pembahasan yang akan kami sampaikan merupakan sebuah point yang simpel dari tinjauan agama, (akan tetapi) karena point ini mungkin saja tidak dipahami di dunia barat, oleh karena itulah saya ingin menjelaskan point ini dengan ringkas: maka saya ikrarkan bahwa permusuhan kita terhadap orang-orang Yahudi bukanlah merupakan permusuhan (atas dasar) agama, karena Al Quran yang mulia menganjurkan (kita) untuk bersahabat karib dan berteman dekat dengan mereka[1], dan (syariat) islam (sendiri) adalah syariat yang bersifat kemanusiaan sebelum menjadi syariat yang bersifat qaumiyyah (untuk kaum/bangsa tertentu), dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji mereka (orang-orang Yahudi) serta menjadikan adanya kesesuian antara kita dan mereka, (Allah berfirman):

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (QS. Al ‘Ankabuut: 46)

Dan ketika Al Quran ingin membicarakan masalah orang-orang Yahudi, Al Quran membicarakannya dari segi ekonomi dan undang-undang (saja), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, …” (QS. An Nisaa’: 160)[2]

Ucapan Hasan Al Banna ini juga dinukil oleh As Siisy sendiri dalam kitabnya yang lain yang berjudul “Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin” (1/262, cet. Daaruth Thibaa’ati Wan Nasyri Wash Shautiyyaat juz 1-2 dan Daarul Qabas juz 3-4, 4 juz).

Masih dalam kitab “Hasan Al Banna, Mawaaqifu fiid Da’wati Wat Tarbiyyah” (hal. 163) penulis menukil ceramah Hasan Al Banna tentang beberapa kewajiban yang sangat ditekankan bagi media massa islam, di dalam ceramah tersebut, dia berkata:

“Yang keempat: menetapkan suatu hakekat yang mulia dan agung yang pura-pura dilalaikan oleh banyak kalangan yang mempunyai tendensi tertentu dan mereka berusaha untuk mengaburkan dan menyembunyikan hakekat ini, yaitu: bahwa (agama) islam yang hanif (lurus) ini tidaklah memusuhi suatu agama (tertentu), atau memerangi ideologi (tertentu), serta tidak berbuat zhalim terhadap orang-orang yang tidak beriman (non muslim) sedikit pun, dan tidaklah ajaran islam (dianggap) membuahkan hasil (yang baik) sampai ajaran tersebut (mampu) menumbuhkan (dalam diri) suatu masyarakat yang yang setanah air perasaan cinta, keharmonisan, tolong-menolong dan kedamaian (di antara mereka) bagaimanapun berbedanya agama (yang) mereka (anut) dan bertentangannya ideologi (yang) mereka (yakini).”

Dan masih banyak ucapan dan sikap Hasan Al Banna dan tokoh-tokoh IM secara umum selain yang kami sebutkan di atas, yang untuk lebih ringkas kami akan sebutkan kesimpulannya sebagai berikut:

Dalam sebuah perayaan IM Hasan Al Banna mengundang beberapa tokoh dan pendeta Nashrani dan menempatkan tempat duduk mereka di antara orang-orang anggota IM, dan dalam kesempatan tersebut juga Hasan Al Banna menyampaikan sebuah pidato yang di dalamnya dia memanggil/menyebut orang-orang Nashrani dengan sebutan “Ikhwaaninaal Masiihiyyiin” (saudara-saudara kami yang beragama Nashrani) (lihat kitab “Hasan Al Banna, Mawaaqifu fiid Da’wati Wat Tarbiyyah” hal. 120). Dalam kitab yang sama (hal. 264-265), Hasan Al Banna menyebutkan bahwa (agama) Islam melarang (seorang) muslim untuk berfanatik terhadap agamanya. Lihat juga surat yang ditulis oleh Hasan Al Banna kepada orang-orang Yahudi (yang tinggal di Mesir), yang dinukil oleh ‘Abbas As Siisy dalam kitabnya “Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin” (1/194). Juga surat Hasan Al Banna kepada seorang pembesar agama Nashrani di Mesir dalam kitab Hasan Al Banna sendiri yang berjudul “Mudzakkiraatid Da’wati Wad Daa’iyah” (hal. 282, cet. Mathaabi’uz Zahraa’ lil I’laamil ‘Araby, thn 1410 H).

Kenyataan di atas juga dipertegas oleh salah seorang tokoh generasi pertama IM yang bernama Jabir Rizq dalam kitabnya “Hasan Al Banna bi Aqlaami Talaamidzatihi wa Mu’aashiriihi” (hal. 185, cet. Daarul wafaa’, cet. 3, thn 1410 H), yang menukil ucapan salah seorang tokoh generasi pertama IM lainnya Dr. Hassaan Hathuut yang menceritakan hubungan mesra Hasan Al Banna dan anggota IM secara umum dengan orang-orang yang beragama Nashrani, ucapan ini juga dinukil dalam majalah “Al Ummah” yang terbit di Qathar (hal 188, edisi ke-55, bulan Rajab 1405 H).

Dalam kitab “Tashawwurul Ikhwanil Muslimiin lil Qadhiyyatil Falisthiiniyyah” (hal.23, cet. Daarut Tauzii’ wan Nasyril Islaamiyyah), penulis Dr. ‘Abdul Fattaah Muhammad Al ‘Uwais menyebutkan bahwa untuk membuktikan ketidakfanatikan mereka terhadap agama islam, IM menyertakan dua orang yang beragama Nashrani yang bernama Wuhaib Daus dan Akhnuukh Luwis Akhnuukh, sebagai anggota sebuah tim di bawah naungan IM yang membidangi masalah politik (Keterangan ini juga disebutkan dalam majalah “Liwa-ul Islam” (hal. 39, edisi pertama tahun ke-45, bulan Ramadhan 1410 H). Bahkan dalam kitab tersebut penulis menegaskan bahwa sikap ini dipegang teguh dan dipertahankan oleh para mursyid (pimpinan) IM dari dulu sampai sekarang, dalam bentuk kunjungan pimpinan-pimpinan IM tersebut ke beberapa tokoh-tokoh Nashrani dan yayasan-yayasan mereka, seperti yang dilakukan oleh pimpinan-pimpinan IM: Hasan Al Banna, Hasan Al Hudhaiby, ‘Umar At Tilmisaany, dan Muhammad Haamid Abun Nashr.

Dalam kitab “Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin” (2/35) tulisan ‘Abaas As Siisy, penulis mencantumkan sebuah foto bersama pimpinan umum IM yang didampingi seorang wakil dari pihak gereja di sebelah kirinya. Juga dalam kitab yang sama (2/46), foto bersama pada perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Iskandariyyah: pimpinan umum IM di samping kanannya seorang wakil dari pihak gereja.

Kenyataan di atas juga dipertegas oleh pimpinan umum IM yang ke-3 ‘Umar At Tilmisaany dalam sebuah makalahnya yang berjudul: “Wa Aina Nashiibuna Min Haadzal Hubb?” yang dinukil dalam majalah IM yang bernama “Majallatud Da’wah” (hal. 2-3, edisi ke-14 thn ke-26/388, bln Sya’baan 1397 H). Juga oleh pimpinan umum IM berikutnya Muhammad Haamid Abun Nashr dalam kitabnya “Haqiiqatul Khilaafi Bainal Ikhwaanil Muslimiin wa ‘Abdun Naashir” (hal. 33, cet. Daarut Tauzii’ wan Nasyril Islaamiyyah, cet ke-2 thn 1408 H).

Berkata salah seorang tokoh besar IM yang terkenal, Yusuf Al Qardhaawy dalam kitabnya “Aulawiyyatul Harakatil Islaamiyyah fiil Marhalatil Qaadimah” (hal. 168, cet. Muassasatur Risaalah, cet. ke-12 thn 1411 H):

“Aku ingat, beberapa tahun yang lalu aku pernah diundang untuk berpartisipasi dalam sebuah pertemuan (yang bertajuk) “Ash Shahwatul Islaamiyyah wa Humuumul Wathanil ‘Araby (kebangkitan islam dan cita-cita bangsa arab)” yang diselenggarakan oleh “Muntadal Fikril ‘Araby” di ibukota negara Yordania, ‘Amman. Yang diundang untuk menghadiri pertemuan tersebut adalah orang-orang muslim, Nashrani, orang-orang yang berpaham komunis, kebangsaan (nasionalis), dari berbagai macam kelompok dan pemikiran… Dan termasuk hal yang tidak aku lupakan, apa yang disampaikan kepadaku oleh salah seorang ikhwan peserta yang beragama Nashrani yang (berpaham) nasionalis, ketika kami sedang (menyantap) hidangan makan siang, dia berkata kepadaku: ‘Sungguh kami telah merubah penilaian kami terhadap Anda saat ini juga’, aku bertanya: ‘Bagaimana penilaian kalian terhadapku (sebelum petemuan ini)?’, dia menjawab: ‘(Kami menilai) anda adalah orang yang fanatik (terhadap agama islam) dan ekstrim’, aku bertanya (lagi): ‘Dari mana timbulnya penilaian kalian tersebut?’, dia menjawab: ‘Aku tidak tahu, akan tetapi, terus terang itulah pandangan dan penilaian kami terhadap anda dulunya’, (kemudian) aku bertanya: ‘Sekarang (bagaimana penilaian kalian)?’, dia menjawab: ‘Kami mengetahui setelah kami mendengar, menyaksikan, berdialog dan berinteraksi secara langsung, suatu (kenyataan) yang (membuat) kami (harus) merubah penilaian buruk kami yang dulu kami tujukan kepada Anda, sungguh kami dapati anda sebagai seorang yang menghargai pembicaraan, selalu menggunakan pertimbangan akal, mau mendengarkan berbagai macam sudut pandang yang berbeda, tidak tegang dan kaku, bahkan melebihi yang lain dalam sikap luwes dan toleransi …dst.’”

Nukilan-nukilan yang kami sampaikan di atas sengaja tidak kami komentari, karena kebatilan dan penyimpangannya terlalu jelas bagi orang yang berakal, apalagi orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agama islam, seperti jelasnya matahari di siang bolong!


[1] Silahkan pembaca menilai sendiri betapa jauhnya ucapan ini menyimpang dari kebenaran, karena semua orang muslim – bahkan orang awam sekalipun – mengetahui bahwa inti permusuhan kita terhadap orang-orang yahudi dan semua orang-orang kafir lainnya adalah permusuhan karena agama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120)

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. An Nisaa’: 101)

Dan masih banyak ayat-ayat yang semakna dengan dua ayat di atas.

[2] Penggalan terakhir ayat ini justru menunjukkan bahwa permusuhan kita dengan orang-orang Yahudi adalah karena agama:

“…dan karena mereka (orang-orang Yahudi) banyak menghalangi (manusia) dari jalan (agama) Allah.” (QS. An Nisaa’: 160)

Ucapan Hasan Al Banna ini juga dinukil oleh salah seorang tokoh besar IM lainnya, ‘Abbas As Siisy dalam kitabnya “Hasan Al Banna, Mawaaqifu fiid Da’wati Wat Tarbiyyah” (hal. 288, cet. Daarul Qabas, cet. ketiga). Kemudian juga dalam kitab tersebut hal. 319, pada sub judul: Bayaanu Fadhiilatil Mursyid fiil Mu’tamarish Shahafiy bil Markazil ‘Aam (Penjelasan yang Mulia Mursyid/Pimpinan IM Dalam Sebuah Konferensi Pers di Markas Besar IM)”, berkata ‘Abbas As Siisy:

“Dalam konperensi pers yang diselenggarakan di gedung markas besar (IM) dalam rangka ulang tahun ke-20 berdirinya kelompok IM, ustadz mursyid IM (Hasan Al Banna) menyampaikan sebuah ceramah, yang di dalamnya dia berkata: ‘… Pergerakan IM bukanlah kelompok pergerakan yang ditujukan untuk melawan akidah (ideologi), agama, ataupun kelompok tertentu, karena sesungguhnya perasan yang menguasai jiwa-jiwa pendiri pergerakan ini adalah bahwa sesungguhnya kaidah-kaidah pokok yang semua agama yang dibawa oleh para Rasul ‘alaihi salam saat ini sungguh telah terancam oleh Al Ilhaadiyyah (pemahaman yang menentang dan mengingkari agama) dan Al Ibaahiyyah (pemahaman yang menghalalkan/membolehkan segala sesuatu yang diharamkan dalam agama), maka wajib bagi orang-orang yang beriman kepada agama-agama ini untuk saling bahu-membahu dan mengarahkan usaha keras mereka untuk menyelamatkan umat manusia dari dua bahaya yang sedang menyusup secara perlahan-lahan ini. Dan IM tidaklah membenci dan menyembunyikan rasa antipati (dalam hati mereka) terhadap orang-orang asing yang tinggal sementara di negara-negara arab dan negara-negara Islam, sampai pun orang-orang Yahudi yang tinggal di negara ini (Mesir) tidak ada yang lain antara kita dan mereka kecuali hubungan-hubungan yang baik.’”

[Disalin dari artikel berjudul MENYINGKAP HAKIKAT AL-IKHWANUL MUSLIMIN yang ditulis oleh Al Ustadz Abdullah Taslim hafizhahullah. Bagi yang ingin mempelajari lebih lengkap tentang penyimpangan sekte Al Ikhwan Al Muslimin silakan download ebooknya di http://pakdenono.com/download/menyingkap_tabir_im.zip ]

About these ads

Posted on 8 Oktober 2009, in Firqoh, hizbiyah & harokah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 22 Komentar.

  1. faisal al farizi

    salah satu I’tiqad dari IM adalah saling menolong terhadap apa yang telah disepakati dan saling toleransi terhadap apa yang diperselisihkan.
    ini adalah sebuah pemahaman yang batil, karena secara langsung ataupun tidak telah menggugurkan kewajiban NAHI MUNKAR. jadi menurut IM yang penting bersatu dulu, walaupun dengan aqidah gado-gado. walhasil, IM sangat getol dalam menggembar-gemborkan persatuan dengan syiah yang jelas-jelas sesat.

    kemudian, jika kita amati I’tiqad dari “Dr. yasuf Qordhowi”
    amat menyimpang dari manhaj yang haq, kata beliau “perselisihan kita dengan yahudi hanyalah masalah tanah”.

    sangat jelas keanehan aqidah dari Dr. yang satu ini. kemudian beliau juga menghalalkan musik padahal ada hadist yang mengharamkannya. di al Quran juga ada kata lahwal hadits di surat LUQMAN ayat 6 yang kata ibnu abbas maknanya MUSIK

    terlalu banyak penyimpangan IM yang tidak diketahui oleh mereka yang mengaku pengikut IM. mereka cuma bisa taqlid buta dan mengandalkan RO’yu dalam berdalil.

    SALAFI SANGAT INGIN ADANYA PERSATUAN, NAMUN HARUS DIATAS TAUHID DAN SUNNAH BERDASAR MANHAJ SAHABAT BUKAN PERSATUAN DENGAN AQIDAH GADO-GADO SEPERTI YANG DI INGINKAN IM.

    HASAN AL BANA PUN TAK KALAH BANYAK KESESATANNYA, MULAI DARI PENYIMPANGAN TAUHID ASMA WASIFAT HINGGA BELIAU PUN TERNYATA SEORANG PENGIKUT TARIQAT HUSHAFIAH.
    SUKA MENARI DAN BERNYANYI DALAM MASJID, HAL INI BISA DILIHAT DI KITAB YANG DIKARANG DIA SENDIRI “MUDZAKIRATU DAWAH WA DAIYAH”

  2. MKSH SODARA ARDIAN..sgt ilmiah.sy suka dgn cara anda menyampaikan, sy cm ikut menyimak aja..ga brani comen..boleh copy paste comennya ga??

  3. hm..ternyata tidak ditampilkan komentar saya mengenai ini,,

    sepanjang pengetahuan saya hanya dunia barat yg menganggap Al Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al Banna itu berbahaya ,, mereka mengaitkan AIM dengan ajaran Wahabi,,

    sekiranya melihat apa yg dikatakan Dr. Yusuf Qardhawi sebagai pemasukan,,

    karena tulisan yg diatas tidak sesuai keadaan menurut pandangan orang2 timur tengah sewaktu saya disana,,

  4. sekedar info saudara2 q,, dicek lagi kebenarannya,, karena saya pernah membaca buku tentang hadits2 dhoif dan ternyata isinya men-dhoifkan sebagian besar hadits Imam Bukhori dan Imam Muslim,, dan juga ada buku yg jika dilihat dari nama pengarangnya bernama Islam tapi ternyata isinya menjelek2an Islam,, setelah saya teliti ternyata buku tersebut dibuat oleh yg bukan Islam,,

  5. duh .. jgn asal koment deh klo g punya ilmu (bkn brarti saya lbh berilmu dr anda).
    plajari bahasa arab trz baca tuh kitab rujukan yang di cantumin sm ustadz baru koment bahasa arab blm bs ngaji cm nguping doank dah brani bilang yg mana yg bnr yg mana yg salah,,ati2 om !!!
    org yg ikhlas tu ga bkal nunjukin klo dia berbuat baik,tp IM gembar gembor malah nuduh king fahd ga bantu palestine,, duh … mana mungkin kerajaan saudi ga bantu kaum muslimin yg tertindas !!! mnuduh tanpa bukti = fitnah !!!

  6. Alhamdulillah, syukron atas informasinya …
    Ana bersyukur bisa bergabung dengan jamaah IM, ternyata yang antum pahami tentang tulisan IM diatas gak gitu2 amat, kita sih memahaminya berbeda.
    Tapi yang penting sekarang kami telah berada pada tuntutan untuk merubah masyarakat, membimbing mereka, di semua lini kehidupan. Kami sibuk untuk meningkatkan ibadah, ilmu, pengetahuan, kesehatan sebagai bekal khidmatul ummah.
    Jujur saja tidak pernah kami diajarkan untuk membenci Ahlus Sunnah, karena kami juga Ahlus Sunnah, tidak pernah kami diajarkan membenci Salafy, HTI, JT atau yang jamaah yang berjuang untuk Islam, kecuali bila ada perbuatannya yang menyimpang.
    Bahkan saya mencoba menjelaskan kebaikan teman2 Salafy, ketika binaan saya mencoba mendiskreditkan Salafy.
    Yang penting mah jangan Ta’ashub buta, kemudian menghantam saudara kita yang sibuk melawan kedzaliman. Hatur nuhun aahhh. cekap …

    • berada pada tuntutan ??? trz untk menunaikan tuntukan itu dgn tuntunan syp om ?
      caranya lewat partai ? syp yg ngajarin ?campur baur laki2 perempuam saat demo? itu namanya berilmu ?
      ilmu dunia apa akhrat om ? sesungguhnya yg dibutuhkan kaum muslimin adalah ilmu syar’i krn seseorang akan ditinggikan derajatnya didunia n akhrat dgn ilmu(ilmu syar’i pastinya),,
      blajar bahasa arab om trz baca kitab2nya !!! jgn peke perasaan doank beragama !!!
      cari dalil br yakin jgn ykin dlu br cari dalil nti antum maksain keyakinan antum kpd dalil,,

  7. yg terpenting…jgn merasa paling benar,paling suci…yg lain salah…kita bukan hdp dijaman nabi….jauuuuuuh,mengaku paling suci,paling benar dan yang lain dholalah..bukan sifat nabi..perbedaan sudah ada dizaman rasul…tapi ada rasul sbg penengah…lah perbedaan kita…gakada penengahnya….kita sama2 berusaha mencari kebenaran…..

    • baca ini pkir baik2 !!
      Kejujuran Seorang Tokoh Harokah -hadahullah- (Sebuah Nasihat bagi Harokiyin)
      16 April 2009 admin Tinggalkan komentar Go to comments

      Berikut ini ceramah salah seorang Doktor yang sangat menginginkan kebaikan bagi saudara-saudaranya -yang kini telah mabuk dengan khamr demokrasi-, sungguh sebuah kejujuran dan pengakuan yang tulus dari seorang tokoh pergerakan mengenai rusaknya manhaj haraki dalam mengatasi problematika umat di negeri ini… Allahul musta’an.

      Dr. Daud Rasyid MA -semoga Allah menambahkan petunjuk kepadanya- (KIK Al Hikmah tanggal 16 November 2008)

      Ba’da tahmid wa sholawat

      Ayyuhal muslimuun, ikhwah fillah yang dirahmati Allah, syukur alhamdulillah yang tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang masih meneguhkan semangat kita walaupun dari sana sini SMS ataupun panggilan ataupun lobi-lobi untuk orang-orang tertentu agar tidak ikut dan tidak berhubungan dengan forum kader peduli, tetapi ternyata alhamdulillah ana lihat mesjid ini, dari sejak pertemuan yang lalu bahkan makin penuh. Ada apa ini, antum ini semua? Makin ditakut-takuti makin penuh, makin banyak yang hadir. Sebenarnya ini menunjukkan sebuah kerinduan kepada asshoolatudda’wah.

      Kita ingin kembali kepada materi-materi yang dulu kita pelajari sejak awal. Al walaa-u lillaah, al baroo’ ‘an kulli ath-Thowaghit. Berpihak kepada Allah. Innama waliyyukumullaahu warrasuuluhu walladziina aamanu, sesungguhnya wali kamu itu adalah Allah, rasulNya dan orang-orang beriman.

      Sekarang sudah menjadikan pahlawan orang-orang yang tak jelas arah hidupnya. Dijadikan sebagai tokoh, sebagai wali. Diangkat nama-nama orang yang dalam sejarah telah tercatat permusuhan mereka itu kepada Islam.

      Kenapa dulu syari’at Islam terganjal pada tahun 45? Dalam Piagam Jakarta, kita semua tahu sejarah. Padahal pada waktu diproklamasikannya itu kemerdekaan, dasar-dasar daripada negara ini, itu didasarkan kepada Undang-undang Dasar 45 yang mengacu kepada Piagam Jakarta. Yang intinya, ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Tanggal 18, sehari, berubahlah itu, dicoretlah itu. Oleh siapa? Kelompok nasionalis yang kita tahu siapa. Mereka inilah yang ditokohkan sebagai pahlawan sekarang dan dalam iklan-iklan di televisi itu.

      Jadi kita ini berubah 180 derajat, dari sebuah jama’ah (kelompok) umat Islam yang ingin mengerahkan wala’ nya kepada Allah menjadi berwala’ kepada syaithon dan thowaaghiit. Na’udzubillaahi min dzalik. Kita tidak mau. Saya yakin inilah yang mendasari kehadiran antum.

      Sebenarnya ikhwah fillah, ana mencium perubahan ini sudah sejak awal, pada waktu adanya mukernas di Depok, di mana diundang berorasi bekas musuh kita — yang sudah meninggal — tokoh sekuler di Indonesia. Antum masih ingat? Disuruh, diminta, dihormati, diagungkan untuk berorasi. Saya tidak perlu sebut nama, karena antum semua sudah tahu, betul ndak?

      Pada waktu itu hari Jum’at. Ana gak habis pikir, pusing kepala. Apa dasarnya ini orang diundang? Yang dulu kita ludahi, yang dulu kita hujat sebagai tokoh sekuler, tiba-tiba disambut, dihormati, diagungkan seperti guru. Laa hawla wala quwwata illa billaah. Pada saat itu betul-betul ana, secara pribadi, hati ini tersayat-sayat. Seperti meludah, dijilat kembali ludahnya.

      Oleh karena itu, pada saat itu, ana ingat kembali ini ceritanya. Begitu dia naik, ana langsung keluar. Ditahanlah ana oleh tiga orang. “Ustadz, ustadz, tunggu dulu, sebentar saja ustadz!”

      “Oh tidak ada. Tidak pantas bagiku untuk menghormati, menghadapi muka orang yang dulu memusuhi Islam. “

      Waktu itu dia diagungkan, dijadikan rujukan sebagai bapak intelektual Indonesia. Dan seperti orang yang mengilhami gerakannya yang disebut dengan partai da’wah.

      Dari situ saja, waktu itu, saya sudah mulai membayangkan, ini bagaimanapun ke depannya akan menjadi kelompok sekuler. Sudah mulai hilang rambu-rambu yang dipelajari, al walaa-u lillaah. Maka hari demi hari makin menunjukkan. Betul kata salah seorang ikhwah kita di dalam forum SMS itu, hari-hari ini belakangan terus akan memberitahukan kepada engkau, apa yang dulunya engkau tak tahu. Apa yang dulunya masih tertutup rahasia, hari ke depan akan makin lama makin tersingkap rahasia tabir-tabir yang dulu tersembunyi.

      Kita mengira bahwa kita itu berjalan di atas sebuah thariiqudda’wah yang shahihah, thariiqul anbiya wal mursaliin, ‘ibadatullaahi wahdah, al kufru liththaghuut. Tetapi ternyata belakangan kitapun diajak berdamai, cair, lemah lembut. Menunjukkan wajah yang senyum kepada orang-orang mujrimin yang menghancurkan negara ini, yang menjual negara ini. Kitapun disuruh untuk berbaik-baik kepada mereka. Bagaimana mungkin seorang kader da’wah bisa menerima seperti itu?

      Oleh karenanya ikhwah fillaah rahimakumullaah, mari kita tetap berpegang. Perbanyak antum tilawatil Qur’an, insyaAllah orang-orang yang terus senantiasa berpegang kepada kitabullah, ini tidak akan mau tergelincir. “Laa tajtami’u ummati ‘ala dhalaalah”, kata nabi kita SAW. “Tidak akan mungkin ummatku bersatu dalam sebuah kesesatan.”

      Jadi mudah-mudahan kita ini penyelamat agar saudara-saudara kita yang lain tidak sampai sesat. Kita ini sebagai pengontrol mereka. Sekali lagi kita ingin tegaskan, kita ini bukan mau merebut sebuah qiyadah. Apa yang mau direbut? Kita ndak punya kemampuan apa-apa. Kita ini bukan mau mengganjal, kita ini bukan mau menggagalkan, tidak. Tetapi jalan da’wah yang sudah dari awal dibangun secara benar, ini jangan sampai miring, seperti orang yang mabuk, tidak lihat jelas jalannya yang mana yang harus ditempuh, ke kiri atau ke kanan. Kita tidak mau seperti itu, karena semuanya kita ini punya patokan, punya dasar kitabullah, sunnah rasulillah. Tidak akan lahir mujtahid-mujtahid baru yang akan mempunyai ta’wil-ta’wil untuk menjustifikasi kebijakan-kenijakan yang nyeleneh dan kontroversial. Tidak bisa itu, dan itu tidak akan kita biarkan. Dan kalau kita tetap dituduh sebagai orang-orang yang ingin menggembosi, yang ingin menciptakan jama’ah baru, biarlah mereka nanti tahu bahwa kita tidak punya keinginan untuk membuat apa-apa yang baru. Kita hanya ingin meluruskan jalan yang sudah ada.

      Oleh karenanya mereka seharusnya membuka hati dan harusnya mereka itu berterimakasih ada yang mengingatkan. Kan begitu seharusnya? Mereka harusnya ruju’ kepada yang benar. Berterimakasih, bukan justru menteror, beberapa saudara kita diteror lewat SMS, dan seterusnya dan seterusnya. Maka oleh karena itu, kita tidak akan berhenti dalam menegakkan amal amru bil ma’ruf wan nahi ‘anil munkar, kapanpun dan di manapun.

      Dan kita yakin, insyaAllah, dengan do’a-do’a kita, kita berdo’a agar ikhwah kita akan kembali seluruhnya ke jalan yang benar. Dan kita tidak perlu berdo’a agar mereka celaka, tidak. Mereka itu sedang menghadapi sebuah cobaan yang disebut dengan dunia. Supaya mereka sadar akan cobaan itu, dan tidak larut tergelincir, akhirnya mereka pun terpental dari jalan da’wah. Nanti, akhirnya yang disebut oleh Said Hawwa,al mutasaqithuuna fii thariiqidda’wah, jangan dibalik, jangan dibilang kita ini orang-orang yang berguguran di jalan da’wah. Sekarang ada pemutarbalikan istilah, orang lurus dibilang bengkok, yang bengkok dibilang lurus. Ini berarti kacamata sudah tidak benar. Kalau kacamata sudah tidak benar, itu memang betul. Hitam kelihatan putih, putih kelihatan hitam.

      Jadi oleh karenanya, sekali lagi, mari kita tamassuk bi kitabillaah. Apa yang dulu biasa kita lakukan, tilawatil Qur’an adalah merupakan tugas seorang akh untuk berusaha mengkhatamkan Qur’an itu minimal satu bulan sekali. Ini adalah tugas-tugas kita sebagai akh di dalam jama’ah ini. Begitu juga ikhwah, kita menghidupkan sunnah, jangan kita anggap kecil, sepele sunnah-sunnah. Sunnah-sunnah nabi itu semuanya mulia. Rasulullah sudah berpesan kepada kita, jangan kamu anggap sepele. “Taroktu fiikum Amroini, Maa intamassaktum bihima Lan tadhillu ba’di abada”. Biar orang lain menyepelekan sunnah, menganggap bahwa dirinya sudah berubah, kita sudah maju, kita sudah meninggalkan masa lalu.

      Oh tidak, kita tetap katakan, kita ini tetap dulu seperti yang dulu juga. Kapanpun dan di manapun kita hidup, tetap saja manhaj yang kita pakai manhaj yang lama. Manhajudda’wah anbiya wal mursaliin yang mengajak orang kepada ‘ibadatullaah, al waahidil qahhaar. Ikhwah fillah rahimakumullah, kalaupun awalnya kita mau berpartai tujuannya adalah untuk mengajak orang menyembah Allah, bukan mau mencari kekuasaan. Tak ada gunanya mencari kekuasaan. Apa gunanya kekuasaan kalau akhirnya membuat kita celaka. Karena Allah pun mengatakannya dalam al Qur’an
      “Wa ‘adallaahulladzina amanu minkum wa ‘amilushshaalihaati, layastakhlifannahum fil ardhi, kamastakhlafalladzina min qablihim, wa layumakkinanna lahum diinahumulladzirtadha lahum, wa layubaddi lannahum min ba’di khawfi him amna ; ya’buduunani la yusyrikuuna bi syai-an”

      Allah menjanjikan kepada orang beriman dan beramal sholeh. Antum ndak usah ribut, pusing kepala cari kekuasan. Itu sudah janji Allah, akan dikasihnya. Ndak usah sampai kamu mengorbankan idealisme menjual tokoh-tokoh orang. Akhirnya sekarang yang punya tokoh pada marah semua. Malu tidak itu? Malu sekali. NU nya marah, Muhammadiyahnya marah, orang nasionalisnya marah. Sudah tidak ada harga diri lagi. Tokoh orang disanjung-sanjung seolah-olah tidak punya tokoh kamu itu.

      Padahal kita itu, qudwatuna Rasulullah SAW. Kita tidak perlu kepada tokoh-tokoh. Semua tokoh itu ada cacatnya, betul tidak? Yang bersih dari cacat Rasulullah SAW. Kenapa kamu sibuk menokohkan orang? Semua mereka itu punya cacat, yang cacatnya itu tidak tanggung-tanggung.

      Oleh karenanya, kita kembali kepada manhaj, Allaahu ghayatuna, warrasul sa’iduna. Rasulullah itu pemimpin kita yang insyaAllah tidak akan ada sesuatu yang negatif pada diri Rasulullah SAW. Kenapa kita sibuk mencari tokoh di luar tokoh yang sudah diajarkan kepada kita?

      Kembali kepada ayat yang tadi, Allah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh, akan diberinya kekuasaan. Nah ini dia… Jadi kamu tidak usah pusing, sibuk, menjilat ke sana ke mari mencari perhatian orang. Ada pepatah Arab, “Kullun yadda’i hubban bi Laila, wa Laila la tusirru bi waahid”, Semua laki-laki mengatakan Laila cinta pada saya, tetapi Laila tidak pernah mengakui satu orangpun diantara mereka. Malu sekali.

      Jadi Allah akan memberikan yang namanya kekuasaan itu, layastakhlifannahum, istikhlaaf, sebagaimana yang diberikannya kepada ummat sebelum kamu, wa layumakkinanna lahum diinahumulladzirtadha lahum, akan memberikan tamkiin, akan memantapkan posisi diin ini di muka bumi, kemudian wa la yubadilannahum min ba’di khawfi him amna, akan diganti Allah rasa takut menjadi rasa aman, tapi syaratnya apa? ya’buduunani la yusyrikuuna bi syai-an.

      Sekarang kita itu sudah mulai menyerempet-nyerempet ke syirik, betul tidak? Mengakui nasionalisme yang dibuat oleh orang-orang nasionalis yang tidak mengenal Allah, yang tidak bertauhid kepada Allah Ta’ala. Jadi kita sudah mulai nyerempet ke situ. Yang tadinya faham tentang tauhid, yang tadinya memusuhi syirik tapi sekarang sudah berubah. Bagaimana kita mau mendapatkan kekuasaan dari Allah Ta’ala? Yakin ana gak bakalan. Tidak bakal dikasih Allaah Ta’ala itu. Karena sudah dikatakan demikian, “ya’buduunani la yusyrikuna bi syai-an”. Mereka menyembah Aku dan tidak mensekutukan Aku dengan segala sesuatu apapun.

      Oleh karena itu, apapun namanya kita ini, mau jam’iyah mau jama’ah mau hizbiyyah, tugas kita adalah mengajak orang untuk ‘ibadatillaahi wahdah. Sekarang sesudah jadi partai, berani gak mengajak orang ke tauhid? Berani gak mengajak orang supaya menyembah Allah? Tidak berani. Sesudah jadi partai akan berbicara dengan bahasa-bahasa politik.

      Dipikir mereka, mereka akan bisa diberikan Allah kekuasaan. Oh tidak. Jadi selama kita tidak menempuh jalur, manhaj, cara, thariiqah yang dilakukan oleh para pendahulu kita dari ummat ini, maka Allah tidak akan kasih. Kalaupun dikasihNya nanti, ya kekuasaan yang akhirnya menghancurkan kita. Ada yang mau? Saya yakin semua kita tidak akan mau. Gara-gara kekuasaan iman kita tergadai. Gara-gara kekuasaan aqidah kita larut. Gara-gara kekuasaan yang haram menjadi halal. Tidak, lebih bagus kita tidak punya kekuasaan

      Ikhwah fillah rahimakumullah, jadi pertemuan kita ini sebenarnya ingin menghidupkan kembali apa yang dulu, yang biasa kita pelajari. Syahadatain, memantapkan makna syahadatain itu kembali. Di mana lagi ada pengertian ilaah al marghuub fihi? Sudah ndak ada lagi itu materi-materi seperti itu. Pertemuan-pertemuan hanya dicekoki dengan pilkada di sini, pilkada di sana, menghadapi 2009, yang tidak ada hubungannya dengan keimanan.

      Oleh karenanya banyak para ikhwah itu mengeluh, datang ikut liqo tetapi iman tidak terasa bertambah. Bahkan pulang liqo, pusing kepala. Kalau dulu datang liqo, pulang, semangat keimanan membara, kecintaan kepada Allah SWT. Sehingga habis malam itu dihabiskan untuk sujud kepada Allah dan berdiri di hadapan Allah. Sekarang, karena terlalu larut malam membicarakan masalah agenda-agenda, pulang tengah malam, tidur, subuhpun lewat. Apakah begitu kader da’wah?

      Jadi oleh karenanya ikhwah fillah rahimakumullah, biarpun sebagian saudara kita menuduh ini sebuah upaya untuk menggembosi, kita katakan kepada mereka, tidak ada penggembosan. Yang ada adalah penyadaran. Ana, antum semua, mari kita sama-sama menyadarkan saudara-saudara kita yang sedang larut dengan dunia. Kembalilah wahai ikhwah ke jalan yang benar, dan kami semuanya saudaramu. Tidak ada keinginan diantara kami untuk memecah-belah dan untuk menimbulkan permusuhan. Apabila kembali jama’ah ini kepada khithah yang aslinya, insyaAllah, Allah akan memberikan kemenangan itu di luar yang kita perhitungkan.

      Allaahu akbar!

      Catatan : Tulisan ini bisa dibaca di buku Pak Hartono Ahmad Jaiz ‘Rekayasa Pembusukan Islam’, penerbit Nahimunkar. Dan ia bersumber dari milis kader-kader PKS sendiri, di antaranya Forum Kader Peduli. Insya Allah bisa dipercaya keotentikannya.

      kunjungi pula artikel ini di blognya Mas Ari http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/04/16/kejujuran-seorang-doktor/

  8. mari kita tinggalkan segala macam hizb.karena Alloh telah berfirman dalam Al-Qur’an dalam surah Ar-Rum ayat 32, bahwsannya tiap-tiap golongan merasa bangga dengan golongannya.

  9. Islam punya prinsip al-wala’ wal baro’ yang sudah jelas, ada baro’ nisby ada baro’ mutlaq…
    jangan sampai kebencian kita sesama muslim hanya karena tidak sefaham dalam hal-hal tertentu menjadikan kita berbaro’ mutlaq kepada mereka…

    mereka masih saudara kita, maka kewajiban kita adalah tetap berwala’ kepada mereka dalam hal-hal yang baik, dan berbaro’ kepada mereka dalam hal-hal yang menyimpang…

    tidak bisa dipungkiri bahwa IM adalah organisasi dakwah yang lantang menentang kaum kuffar, memboikot produk mereka, peduli kepada sesama muslim dan mereka telah menjadi organisasi Dakwah Islam terbesar di dunia untuk saat ini, merekapun sangat ingin menegakan kembali khilafah Islamiyah…

    Nah..Untuk hal-hal positif tersebut tentu kita wajib berwala’ kepada mereka…!! dan ketika ada hal yang kurang pas dalam manhaj mereka, tentu ini kewajiban setiap muslim untuk menasihati dengan cara yang baik, dan bukan memusuhinya…

    lagi pula belum tentu setiap yang tergabung dalam IM berarti memiliki manhaj yang menyimpang, jadi jangan dipukul rata, dan jangan mudah memvonis.

  10. Assalamu ‘alaikum. wr.wb
    Rasulullah SAW dan para sahabat sangat berhati-hati dalam bertindak dan berbicara. Keduanya dilandasi pada keyakinan, dan pemahaman terhadap Al Qur’an. Inilah yang membedakan dengan organisasi, atau kelompok. Kelompok lebih dominan mengutamakan kelompoknya dan menomor duakan kelompok lain dan cenderung membenarkan tokoh kelompok terebut. Meski belum tentu tokohnya benar, sementara tokoh kelompok lain yang benar.
    Selanjutnya, demikianlah kelompok sering berbeda antara perbuatan dengan perkataan. Aksi nyata bidang politik, sosial, ekonomi, budaya dan sebagianya diraih dengan mengesampingkan ketauhidan, sebagaimana di contohkan oleh seluruh rasul bahwa perjuangannya menegakakkan ketauhidan baru kekuasaan yang diperoleh. Nah Lihat sekarang IM lebih condong mengikuti pemimpinnya atau cara rasul. Dari kawan diatas ternyata menunjukkan keberhasilan non tauhid dan ketauhidan yang sejatinya tidak ditemukan. Ini bukti apa ya??? Dan Jika mau menuju kemenangan Islam kembali ke cara rasulullah SAW jangan malah menselisihi. Karena peradaban pada masa nabi SAW diakui hingga kini. Keberasilan perjuangan Rasulullah SAW karena mengutamakan ketauhidan. So.. Mana contoh nyata yang dakui oleh semua umat manusia, perjungan yang mengutamakan selain tauhid bisa memberikan perubahan pada peradaban? Di Tempat IM berdiri, di Malaysia dan di Indonesia sendiri yang model- model IM dalam perjuangannya ternyata gagal untuk memperjuangkan tentang islam yang kaffah. Wassalamu ‘alaikum

  11. Kalau ana lihat tulisan diatas hanya mengambil potongan2 atau cuplikan tulisan yang tidak bisa mewakili karakter sebenarnya. Kalau ingin melihat karakter sebenarnya bandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya dan bandingkan dengan aksi nyatanya, pasti berbeda. Tulisan/ceramah pasti konteksnya tergantung suasana situasi dan kondisi ketika dia menulis. Kalau ana lihat justru IM lebih real dalam aksi nyata dilapangan, tidak hanya ceramah2, buku2, buletin2 atau teriak2 di mimbar2 mesjid tapi aksi nyata yg banyak dibutuhkan umat masuk keberbagai bidang, pemerintahan, pendidikan, budaya, sosial kemasyrakatan dll contoh di gaza Hammas seideologi IM di palestina dipercaya masyarakat muslim dan nonmuslim di gaza, ketika diserang Israel bahu membahu melawan Israel sampai Israel kalah perang. plus Hammas didukung oleh masyarakat dunia (muslim nonmuslim) aksi IM real nyata, tidak hanya melalui buku, ceramah2 dll tapi action dilapangan. Bandingkan dengan sahabat kita pemerintah Arab Saudi dan negara2 sekitarnya ketika umat muslim di palestina dibantai Israel malah mengiklaskan pembantain itu, diam seribu basa yah masih mending sih memberi bantuan uang jutaan dollar tapi bukan uang/materi ukurannya tapi ukuwah islamiyah yg dibutuhkan.
    Saran ana sih bandingkan/compare dengan tulisan2 lainnya dan bandingkan juga dengan aksi dilapangan pasti jauh berbeda. tulisan diatas hanya cuilan tinta yg tidak bermakna dan akan tertutup dg sendirinya dengan tindakan nyata mereka.

  12. Ya Alloh, kenapa saudara2ku justru saling mencri kelemahan mencari keburukan, dan menyiarkan keburukan saudaranya. sebagai orang yg sangat awam ttg ADDIIN yg sempurna ini, Al Islam, saya sangat malu sekali dg orang2 non muslim yg justru semakin memperkuat bangunan mereka, meluruskan barisan mereka untuk menghancurkan barisan MUSLIM. Robb kemana saya harus berlindung kalau bukan kpd Mu??

  13. abu ziyad aidin alaik

    Walhamdulillah… jazakallah ustadz Taslim… Semoga menjadi bermanfaat bagi kita semua. Jika ada simpatisan IM yang ngaji ke usatdz Yazid, alhamdulillah. Sebenarnya juga karena kajian asatidz salafy ilmiyah, bukan kajian politis (haraki) jadi siapapun akan suka dan merasa perlu mengaji ke asatidz salafy. Tapi tdk ada ikhwan2 salafy yg ngaji diluar salafy. Soalnya kajian2nya kajian politis dan haraki. Kajian hizbiyyun.

  14. kalau agama Islam dipolissasi, begitulah jadinya. Bukannya mengedepankan ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang Islam bermesraan dengan mereka, malah mengejek kaum muslim yang fanatik. Ada apa sebenarnya dengan IM ?

  15. Sesungguhnya hati ini lemah, sedangkan subhat menyambar-nyambar. Itulah bahaya firqoh harus setia pada firqohnya, tidak perduli apakah sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits.

  16. Tp knp IM yg plng getol menentang pendudukan israel di palestina? Mereka jg dulu mengirimkan pasukan2 sukarelawan untuk melawan israel ktika tjadi perang arab-israel, apa mgkn gerakan itu sudah brubah saat ini? Soalnya bnyk jg tmen sy yg aktifis IM ikut ngaji mcm ust.yazid..dll rujukannya pun dr masyaikh2 saudi mcm syaikh ibn utsaimin, bin baz..dll mgkn IM dulu ama skrng beda kali ya

  17. AKhuna, jangan-jangan kita hanya selevel pengghibah, atau problem speaker yang hanya bisa mengkritik, tp tdk kontributif dalam amal-amal Islami. apa kita tidak takut terkena QS Al Hujurat? saling tausyiah dlm kebaikan tentu saja baik, bahkan perintah Allah, tapi apakah tausyiah kita tepat sasaran? jangan2, yang kita kritik malah amalnya lebih baik drpd kita….

    bukankah ‘pihak’ yang kita sering kritik mempunyai karakter bagaikan Abdullah Ibnu Mubarak, sedang kita seperti Sufyan ats-Tsauri?

    bukankah kita seharusnya lebih menyerang Amerika dan negara lain2 daripada menyerang teman2 di harokah lain yang sbnrnya mirip dgn kita?

    wallahua’lam bish shawab

    ana rindu Imam al Mahdi yg mempersatukan Umat Islam

    • mas, silakan anda baca kembali tulisan di atas, semuanya dikutip langsung dari kitab2 karya pimpinan kelompok al ikhwan, dan yg disebutkan di atas adalah realita dari penyimpangan harokah IM…ini adalah nasihat dan bukan ghibah, kita memperingatkan kaum muslimin dari bahaya firqoh al ikhwan…

    • adhitya ramadian

      ana tanya sama antum:
      1. Bagaimana Imam Mahdi mempersatukan umat? apakah dengan mencampur adukkan aqidah?
      2. Memang yang harus kita serang adalah kaum kuffar, namun bagaimana kita bisa menang, sementara umat Islam terpecah belah, apalagi seperti IM yang notabene “menusuk dari belakang” dakwah ahlusunnah, apakah antum sadari tusukan IM kepada dakwah ahlusunnah?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 22.780 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: