Muhasabah; Kontrol Diri Menuju Takwa

Oleh Al Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc. Hafizhahullahu ta’ala (Pengajar Ma’had Ihya’ as Sunnah, Tasikmalaya)

Kewajiban pertama seorang manusia adalah mengetahui bahwa dirinya hanyalah makhluk kerdil yang segala urusannya ada dalam kekuasaan Allah. Keberadaannya di dunia adalah karunia, sekaligus ujian. Manusia harus senantiasa ingat, bahwa ia tidak diciptakan dengan kesia-siaan, tanpa maksud dan tujuan.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?” (Q.S Al-Qiyamah: 36).

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S Al-Mukminun: 115)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S Adz-Dzariyat: 56).

Secara prinsip, usia manusia di dunia adalah moment yang sangat menentukan masa depannya. Apakah ia akan taat kepada Allah, sehingga kelak di akhirat ia akan berada di tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi dan meraih derajat yang tinggi? Atau, ia malah membangkang, bermaksiat kepada Allah hingga selanjutnya di akhirat ia bersedih, merana dan sengsara karena siksa-siksa-Nya.

Jika manusia telah mengerti arti penting hidupnya sebagai sesuatu yang telah dijelaskan diatas, maka ia pantas bersyukur, karena hidayah Allah yang begitu berharga telah ia dapatkan. Semua itulah yang kelak akan sangat menolongnya dalam pertanggungjawaban di akhirat.

Takwa sebagai ruh ketaatan

Sebagai wujud rasa syukur dan upaya memenangkan ujian hidupnyalah, manusia diperintahkan untuk beramal shaleh. Menunaikan kewajiban, menjauhi larangan dan berusaha mengumpulkan pundi-pundi kebaikan yang diperintahkan adalah akumulasi perbuatan ketaatan yang hanya muncul dari semangat ketakwaan.

Merujuk kepada makna takwa secara bahasa, takwa adalah rasa takut dan sikap menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan. Takwa kepada Allah berarti takut kepada murka, kemarahan dan azab Allah yang tentu sangat merugikan serta berupaya melindungi diri dari semua itu. Dengan semangat takwa, ketaatan akan dengan mudah manusia tunaikan, amal shaleh akan dengan segera ia perbuat dan kemaksiatan akan sangat ia benci, seperti ia benci dilemparkan ke neraka.

Muhasabah; meningkatkan ketaatan.

Untuk bisa tetap eksist dalam ketaatan dan survive dalam beramal shaleh, manusia seyogianya sering berfikir tentang apa yang nanti akan berlaku bagi dirinya di akhirat, merasa takut dengan ancaman Allah bagi orang-orang yang kerap lalai, lupa dan enggan beramal shaleh, juga berharap dengan yakin pada janji-janji Allah bagi orang yang selalu mengingat-Nya. Sebagaimana yang sering Allah dan Rasul-Nya tekankan.

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (Q.S. Al-Baqarah: 281).

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 30)

Pertanggungjawaban di akhirat adalah perjalanan pasti bagi seluruh manusia tanpa terkecuali. Tidak ada yang dapat luput. Tidak ada yang bisa meloloskannya dengan selamat kecuali rahmat Allah dan ampunan-Nya. Untuk itulah, manusia seharusnya banyak bermuhasabah, menekuri diri, mentafakuri retang waktu yang telah dilewati serta terus memohon ampunan Allah dan meminta kepada-Nya agar di waktu yang akan datang mendapat penjagaan dari Allah hingga ia tidak terjatuh kepada dosa dan maksiat.

Tidak bermuhasabah; meniti kehancuran

Kehancuran hati dapat terjadi karena tidak pernah bermuhasabah dan kerap memperturut hawa nafsu. Karena, aktifitas muhasabah sesungguhnya dapat memunculkan rasa takut kepada Allah, dan rasa takut kepada Allah berikutnya akan menekan kecenderungan hawa nafsu yang kerap mengajak kepada perbuatan negatif (maksiat).

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa memuhasabahi dirinya dan rajin beramal untuk kehidupan setelah mati. Dan orang yang lemah adalah orang yang selalu memperturut hawa nafsunya dan banyak berangan-angan atas Allah.” (HR. Tirmidzi)

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa Umar ibn Khattab berseru, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Sesungguhnya itu akan meringankan perhitungan kalian esok hari. Berhiaslah untuk perhelatan akbar (hari akhir), pada hari segalanya akan tampak dan tidak ada yang tersembunyi dari kalian!”.

Dari wahab, ia berkata, “terdapat dalam hikmah Daud ‘alaihissalam, bahwa seorang yang berakal tidak akan pernah lalai dari empat waktu; waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, waktu untuk memuhasabahi dirinya, waktu untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya agar mereka menyampaikan kekurangan-kekurangannya dan waktu untuk bersama kelezatan nikmat yang halal dan indah.”

Cara dan perangkat bermuhasabah

Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata, bermuhasabah bisa dilakukan dengan menimbang kenikmatan dan kejahatan diri kita. Artinya, melihat apa yang telah Allah berikan kepada kita dan apa yang telah kita perbuat. Dengan itu, akan tampak kesenjangan yang sangat jauh antara keduanya. Akan jelas bagi kita bahwa semua nikmat yang kita terima adalah kasih sayang dan sifat pemaaf Allah. Kita akan semakin merasa kerdil dan fakir dihadapan Allah yang Mahakuasa dan pemurah.

Bermuhasabah sangat sulit kecuali bagi orang yang memiliki tiga perkara; (1) ilmu (2) berprasangka buruk terhadap jiwa dan (3) mengenal kenikmatan untuk membedakannya dari fitnah.

- Ilmu adalah cahaya yang Allah berikan kepada para pengikut rasul, yang membedakan kebenaran dari kebatilan, petunjuk dari kesesatan, kebaikan dari keburukan.

- Berprasangka buruk terhadap jiwa akan melahirkan kesadaran tentang keburukan jiwa dan nafsu yang selalu mengajak pada perbuatan buruk.

- Dan mengenal kenikmatan yang Allah karuniakan akan mampu membuat kita tidak tertipu pada kenikmatan semu yang justru kian membuat kita terbuai oleh fitnah dunia.”

Agar umur kita yang sangat terbatas di dunia ini bisa semakin produktif menghasilkan amal-amal baik, kiranya memperbanyak muhasabah adalah cara terbaik untuk mewujudkannya. Dengan muhasabah, mari kita jelang masa depan dengan perubahan-perubahan prestatif.

Wallahu a’lam bish-shawab

About these ads

Posted on 22 Januari 2010, in Nasihat, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. alhamdu lillaah.. semoga ALLAH memberi kita hidayah tuk bermuhasabah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 21.339 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: