Kemuliaan Ahlul Bait dalam Pandangan Ahlussunnah

Segala puji bagi Allah Yang Maha Sempurna dalam segala sifat dan perbuatan-Nya, Yang Maha Adil dalam segala hukum-Nya, Yang Maha Bijaksana dalam segala keputusan-Nya. Ia memuliakan siapa yang Ia dikenhendaki, seluruh kemulian adalah milik-Nya.

Allah berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا} [فاطر/10]

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya”.

Orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa kepada-Nya, sebagaimana Ia sebutkan dalam firman-Nya:

{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ} [الحجرات/13]

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kalian”.

Tiada keutamaan bercasarkan kebangsaan dan tidak pula berdasar warna kulit, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam:

((لا فضل لعربي على أعجمي ولا لعجمي على عربي ولا أبيض على أسود ولا أسود على أبيض إلا بالتقوى، الناس من آدم وآدم من تراب)). رواه أحمد وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة: (2700).

“Tidak ada keutamaan bagi orang Arab diatas orang bukan Arab dan tidak pula sebaliknya. Tidak ada keutamaan bagi orang putih diatas orang hitam dan tidak pula sebaliknya, kecuali dengan ketaqwaan. Manusia berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah”.

Maksud hadits ini adalah kemulian person/pribadi setiap suku bangsa, akan tetapi secara umum jenis suku bangsa Arab lebih baik dari bangsa lain, karena Allah telah memilih rasul yang paling mulia dari bangsa mereka. Wallahu a’lam.

Berikutnya selawat dan salam buat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam yang telah diutus untuk sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam. Tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam melebihi dari mencintai orang tua dan anaknya serta manusia seluruhnya, bahkan dari dirinya sendiri.

Beliau bersabda:

((لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين)) [متفق عليه].

“Tidaklah sempurna iman salah seorang kalian samapai aku lebih ia cintai dari orang tua dan anaknya serta manusia seluruhnya”.

Diantara bukti penghormatan dan kecintaan seseorang kepada Rasulullah r adalah mencintai dan memuliakan keluarga beliau. Sebagaimana beliau perintahkan dalam sabdanya:

((أذكركم الله في أهل بيتي))

Aku ingatkan kalian pada Allah tentang (hak-hak) para kelurgaku“. (HR. Imam Muslim).

Dalam bahasan kita kali ini, akan menerangkan tentang pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah tentang kemulian Ahlul Bait (Keluarga Nabi shalallahu’alaihi wasallam) dan kelompok yang menyimpang dalam mencintai Ahlul Bait. Bahasan ini akan kita bagi kepada beberapa topik sebagaimana berikut:

  1. Tujuan Pembahasan.
  2. Pengertian Ahlul Bait.
  3. Dalil dari ayat-ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang kemulian Ahlul Bait.
  4. Dalil dari Sunnah yang menerang tentang kemulian Ahlul Bait.
  5. Perkataan para ulama Ahlussunnah tentang kemulian Ahlul Bait.
  6. Kelompok yang menyimpang dalam mencintai Ahlul Bait.

TUJUAN PEMBAHASAN

Tujuan kita membahas topik ini adalah:

  1. Penjelasan kepada kaum muslimin bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap keluarga Nabi shalallahu’alaihi wasallam (Ahlul Bit) sesuai pandangan Ahlusunnah wal Jama’ah.

Jika kita membaca kitab-kitab Aqidah yang ditulis oleh para ulama Ahlussunnah, mereka tidak pernah melewatkan tentang topik ini. Ini menunjukkan akan kepenting dan urgennya masalah ini untuk diketahui oleh setiap muslim, sehingga para ulama kita menjadikan cinta Ahlul Bait sebagai pokok-pokok aqidah Ahlussunnah.

  1. Sebagai jawaban dan bantahan terhadap orang atau kelompok yang mengskriditkan dan menuduh Ahlussunah tidak mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi shalallahu’alaihi wasallam).
    Isu ini telah lama disebarkan dan dimamfaatkan oleh orang-orang Syi’ah Rafidhah untuk mempengaruhi orang-orang awam Ahlussunnah untuk menerima ajaran Syi’ah rafidhah. Bahkan hal ini adalah salah isu santer yang mereka tuduhkan setiap saat kepada Ahlussunnah. Maka melaui bahasan ini kita buktikan kebohongan tuduhan mereka tersebut.
  2. Adanya kelompok yang menjadikan sikap kecintaan kepada Ahlul Bait sebagai alat untuk memecah belah kaum muslimin dan mengiring mereka kearah kesesatan dan kekufuran. Bahkan mereka menjadi sikap cinta Ahlul bait sebagai alat untuk menutup-nutupi berbagai kesesatan dan kebatilan yang mereka lakukan. Mereka menisbahkan berbagai macam bentuk perkataan dan perbuatan kufur kepada Ahlul bait dengan penuh dusta dan bohong tanpa ada rasa malu sedikitpun.
  3. Adanya sebagian orang yang menjadikan menisbahkan diri kepada Ahlul Bait sebagai alat untuk membohongi manusia dan mengeruk keuntungan duniawi dibalik itu. Dimasa sekarang banyak orang yang mengaku sebagi keturunan Ahlul bait demi untuk mencari perhatian, kemulian dan kedudukan di tengah-tengah umat manusia.
  4. Untuk membersihkan Ahlul Bait dari berbagai tuduhan batil yang disandarkan kepada mereka. Bahwa sesungguhnya Ahlul Bait berlepas diri dari berbagai tuduhan-tuduhan tersebut.

PENGERTIAN AHLUL BAIT

Ahlul Bait adalah mereka yang diharamkan menerima sedekah dan zakat.

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam:

«إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِىَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لاَ تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلاَ لآلِ مُحَمَّدٍ».

“Sesungguhnya sedekah-sedekah ini adalah kotoran dosa manusia dan sesumgguhnya ia tidak hala bagi Muhammad dan tidak pula bagi para keluarga Muhammad”. (HR. Muslim).

Mereka yang diharamkan atas mereka sedekah yang disebut Ahlul Bait (keluarga Nabi shalallahu’alaihi wasallam) adalah para isteri dan keturunan Nabi shalallahu’alaihi wasallam serta dan siapa saja yang beriman dari Banu Hasyim dan Banu Muththalib. Sebagaimana yang  disebutkan oleh para ulama Ahlussunnah dalam kitab-kitab mereka.

Seperti Imam Muslim memberi judul salah satu bab dalam kita shohih beliau:

“باب تَحْرِيمِ الزَّكَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -r- وَعَلَى آلِهِ وَهُمْ بَنُو هَاشِمٍ وَبَنُو الْمُطَّلِبِ دُونَ غَيْرِهِمْ”.

“Bab: Tentang haramnya zakat untuk Rasulullah r dan para keluarganya yaitu Banu Hasyim dan Banu Muththalib, tidak (diharamkan) selain mereka”.

Berkata Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya:

وقوله: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا } : وهذا نص في دخول أزواج النبي r في أهل البيت هاهنا؛ لأنهن سبب نزول هذه الآية، وسبب النزول داخل فيه قولا واحدا، إما وحده على قول أو مع غيره على الصحيح.

وقال أيضا: “ثم الذي لا يشك فيه من تَدَبَّر القرآن أن نساء النبي r داخلات في قوله تعالى: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا } ، فإن سياق الكلام معهن؛ ولهذا قال تعالى بعد هذا كله: { وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ } أي: اعملن بما ينزل الله على رسوله في بيوتكن من الكتاب والسنة.

“Suatu hal yang tidak diragukan lagi tentangnya -bagi orang memahami Al Qur’an- bahwa para isteri Nabi shalallahu’alaihi wasallam termasuk kedalam firman Allah: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait! dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Adapun menurut orang Syi’ah Rafidhaah, mereka hanya membatasi Ahlul Bait tersebut pada keturunan Ali t, kemudian mereka batasi lagi dari keturunan Ali t keturnan Husain t.

Padahal Hasan t, kakak dari Husain memiliki keturunan yang begitu banyak dan ada yang dikenal keturunannya sampai sekarang.

Demikian pula anak Abu Thalib yang masuk Islam ada selain Ali t, seperti ‘Uqail dan Ja’far, yang keduanya juga memiliki keturunan.

Demikian pula Nabi shalallahu’alaihi wasallam mempunyai pama-paman lain yang masuk Islam dan juga mempunyai anak yang masuk Islam, seperti Hamzah, Harits dan Abbas. Dan anak Abbas yaitu Abdullah bin Abbas beliau adalah salah seorang sahabat yang sangat masyhur.

Diantara kesesatan Syi’ah lagi dalam hal ini adalah mengeluarkan para isteri Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dari bagian Ahlul Bait. Mereka tidak mau menjadikan para ummahatul mukminiin sebagai bagian dari Ahlul Bait. Bahkan sebaliknya mereka mencaci para ummahatul mukminiin, terutama sekali wanita yang paling dicintai Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam yaitu ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Dan yang lebih sesat lagi, mereka menganggap cacia-caciann tersebut sebagai salah satu sarana untuk beribadah kepada Allah.

Pada hal Rasulullah nyata-nyata meneybutkan dalam sabdanya, bahwa isteri beliau termasuk kedalam bagian Ahlul Bait. Sebagaimana terdapat dalam kisah tuduhan buruk orang-orang munafik tehadap ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

((من يعذرني من رجل بلغني أذاه في أهلي فوالله ما علمت على أهلي إلا خيرا وقد ذكروا رجلا ما علمت عليه إلا خيرا وما كان يدخل على أهلي إلا معي)) [رواه البخاري]

“Siapa yang siap membelaku dari seseorang yang menyakiti keluargaku. Demi Allah aku tidak mengetahui tentang keluarga kecuali yang baik. Dan mereka juga menyebut seseorang yang tidak aku ketahui tentangnya kecuali baik. Dan ia tidak pernah masuk kerumahku kecuali bersamaku”.

Di sisi lain ada pula orang yang mengaku-ngaku dari keturnan Ahlul Bait demi untuk mendapat kedudukan dan kemulian serta kesenangan duniawi.

Orang yang menisbahkan diri kepada keturunan orang lain adalah kedustaan yang paling besar dan ia akan dilaknat oleh Allah dan para malaikat serta manusia seluruhnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam:

((إن من أعظم الفرى أن يدعي الرجل إلى غير أبيه)). [رواه البخاري]

“Sesungguhnya diantara kedustaan yang paling besar adalah seseorang yang mengaku kepada bukan ayahnya”.

عن علي t أن النبي r قال: « وَمَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً ». [رواه مسلم]

Dari Ali t bahwa Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengaku bukan kepada ayahnya atau menyandarkan diri kepada bukan kaumnya. Maka atasya adalah laknat Allah dan para malaikat serta manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima darinya pada hari kiamat amalan wajib dan tidak pula amalan lainnya”.

Dan lebih berbahaya lagi ketika mereka menjadikan sebutan Ahlul Bait sebagai otoritas untuk merekayasa dan melegalkan ajaran-ajaran sesat. Jika Mereka benar-benar Ahlul Bait tentulah mereka akan mengamalkan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Oleh sebab itu tidak ada arti hubungan keturunan bagi Abu Lahab dan Abu Thalib.

Namun jika mereka enggan untuk mengikuti syari’at Rasulullah atau membuat ajaran yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dengan sendirinya mereka telah keluar dari bagian Ahlul Bait. Sekalipun pada kenyataannya mereka benar-benar keturunan Ahlul Bait. Sebab hubungan keturunan tidak akan berarti apa-apa jika tidak disertai dengan iman dan amal sholeh.

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam:

« وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ ». [رواه مسلم]

“Barangsiapa yang dilambatkan amalnya tidak akan bisa dipercepat oleh hubungan  keturunnya”.

Sebagaimana pula beliau katakan kepada paman dan anak perempuan beliau sendiri:

« يَا بَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِى عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ سَلِينِى بِمَا شِئْتِ لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ». متفق عليه.

“Wahai anak keturunan Abdul Muthalib! Aku tidak dapat membela kalian sedikitpun dari Allah, wahai Abbas bin Abdul Muthalib aku tidak dapat membela kalian engkau dari Allah, wahai Shofiyah bibik Rasulullah aku tidak dapat membela engkau sedikitpun dari Allah, wahai Fatimah binti Rasulullah! Mintalah apa yang engkau mau, aku tidak dapat membela engkau sedikitpun dari Allah”.

al-Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, MA

Disampaikan pada acara Tabligh Akbar Islam vs Terorisme tanggal 8 Rajab 1431H di Masjid Jabal Rahmah – Semen Padang

-bersambung insya Allah-

Disalin dari kajianpadang.co.cc

Tentang SALAFIYUNPAD™

Diperbolehkan menyebarkan seluruh konten blog ini dengan syarat untuk kepentingan dakwah Islam dan BUKAN untuk tujuan komersil, serta menyertakan URL sumbernya. Jazakumullahu khaira.

Posted on 30 Juni 2010, in aqidah islam, manhaj and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.299 pengikut lainnya.