<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Islam Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah Free Download Gratis Ebook MP3 Video Turorial Ceramah Kajian Islam &#124; SALAFIYUNPAD.wordpress.com &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salafiyunpad.wordpress.com</link>
	<description>Belajar Islam Dakwah Salafiyah Download Free Video Ebook Ceramah MP3 Gratis Ahlus Sunnah Kajian Islam Wanita Fikih Aqidah Konsultasi Syariah Bisnis Online</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 03:26:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='salafiyunpad.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/6537b21b5cf0022e32532148ead410c8?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Artikel Islam Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah Free Download Gratis Ebook MP3 Video Turorial Ceramah Kajian Islam &#124; SALAFIYUNPAD.wordpress.com &#187; Hadits</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://salafiyunpad.wordpress.com/osd.xml" title="Artikel Islam Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah Free Download Gratis Ebook MP3 Video Turorial Ceramah Kajian Islam &#124; SALAFIYUNPAD.wordpress.com" />
	<atom:link rel='hub' href='http://salafiyunpad.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menjaga Kehormatan Sesama Muslim</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2012/03/06/menjaga-kehormatan-sesama-muslim/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2012/03/06/menjaga-kehormatan-sesama-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 08:11:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=11782</guid>
		<description><![CDATA[Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdillah Arief Budiman bin Usman Rozali, Lc. dari kitab Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba&#8217;in wa Tatimmatul Khamsin, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al &#8216;Abbad al Badr -hafizhahullah-, cetakan Daar Ibnul Qayyim &#38; Daar Ibnu &#8216;Affan, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H/ 2003 M. Hadits ke-35, halaman 118 sampai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=11782&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center">Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdillah Arief Budiman bin Usman Rozali, Lc. dari kitab <em>Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba&#8217;in wa Tatimmatul Khamsin</em>, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al &#8216;Abbad al Badr -<em>hafizhahullah</em>-, cetakan Daar Ibnul Qayyim &amp; Daar Ibnu &#8216;Affan, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H/ 2003 M. Hadits ke-35, halaman 118 sampai 121. [Redaksi]</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align:right;">عَنْ أَبي هُريرةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: <strong>«لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً، اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، اَلتَّقْوَى هَا هُنَا»</strong>، -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ-، <strong>«بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ؛ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ»</strong>، رواه مسلم.</h3>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, <strong>&#8220;Janganlah kalian saling mendengki! Janganlah saling menipu! Janganlah saling membenci! Janganlah saling membelakangi! Dan janganlah sebagian kalian menjual sesuatu di atas penjualan sebagian yang lain! Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya. Tidak boleh ia menzhaliminya, tidak boleh mengacuhkannya, tidak boleh berbohong kepadanya, dan tidak boleh meremehkannya/merendahkannya. Takwa itu ada di sini&#8221;</strong>, -dan beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. <strong>&#8220;Cukuplah seseorang dikatakan buruk/jahat, jika ia menghina/merendahkan saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim atas Muslim yang lainnya, haram (menumpahkan) darahnya, haram (mengambil) hartanya (tanpa hak), dan (mengganggu) harga dirinya/kehormatannya&#8221;</strong>. Diriwayatkan oleh Muslim.</em>[1]</p>
<p><span id="more-11782"></span></p>
<p><strong>PENJELASAN HADITS</strong></p>
<p>1-   Sabdanya (<strong>لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ</strong>) &#8220;<strong><em>Janganlah kalian saling mendengki! Janganlah saling menipu! Janganlah saling membenci! Janganlah saling membelakangi! Dan janganlah sebagian kalian menjual sesuatu yang (akan) dijual sebagian yang lain!</em></strong>&#8220;.</p>
<p><em>Al-Hasad</em> (dengki) dapat terjadi pada perkara dunia maupun akherat. Dan termasuk ke dalam perbuatan <em>hasad</em>, adalah bencinya seorang pendengki terhadap kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain. Dan termasuk pula; keinginan seseorang agar kenikmatan tersebut hilang lenyap dari orang lain. Sama saja ia berharap agar kenikmatan tersebut berpidah kepadanya atau pun tidak.</p>
<p>Adapun jika seseorang berkeinginan untuk mendapatkan kenikmatan seperti apa yang Allah berikan kenikamatan tersebut kepada orang lain, tanpa ia membenci jika kenikmatan tersebut juga terdapat pada orang lain, dan tanpa berharap agar kenikmatan tersebut hilang dari orang lain tersebut, maka ini disebut <em>ghibthah</em>, dan bukan merupakan <em>hasad</em> iri dengki yang tercela. [2]</p>
<p><em>An-Najsyu</em>, artinya; seseorang menaik-naikkan harga sebuah barang tatkala sedang berlangsung tawar-menawar barang tersebut, sedangkan dia sama sekali tidak berniat untuk membelinya. Ia hanya ingin memberikan manfaat kepada si penjual, atau semata-mata ingin me<em>madharrat</em>kan si pembeli dengan menambah harga barang tersebut.</p>
<p><em>At-Tabaghudh</em> artinya melakukan sesab-sebab yang dapat menimbulkan dan memicu api kebencian (permusuhan).</p>
<p><em>At-Tadaabur </em>artinya saling memutuskan (hubungan) dan saling meng<em>hajr</em> (mengisolir/memboikot). Dengan demikian, seseorang tidak lagi senang jika bertemu dengan saudaranya. Bahkan yang terjadi adalah saling memberikan punggung (membelakangi) dengan sebab kebencian yang terjadi pada keduanya.</p>
<p>Dan arti menjual sesuatu di atas penjualan orang lain, adalah; terjadinya jual beli antara si penjual dan pembeli, sedangkan mereka berdua masih dalam waktu tawar-menawar, kemudian datanglah penjual yang lain kepada si pembeli, seraya berkata, &#8220;Sudahlah! (Sekarang) kamu tinggalkan barang ini! Saya punya barang yang serupa atau bahkan lebih bagus, saya jual kepada kamu dengan harga yang lebih murah&#8221;. Dan perbuatan ini jelas menyebabkan kebencian.</p>
<p>2-   Sabdanya, &#8220;<strong><em>Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya. Tidak boleh ia menzhaliminya, tidak boleh mengacuhkannya, tidak boleh berbohong kepadanya, dan tidak boleh meremehkannya/merendahkannya. Takwa itu ada disini&#8221;</em></strong><em>, -dan beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. <strong>&#8220;Cukuplah seseorang dikatakan buruk/ jahat, jika ia menghina/ merendahkan saudaranya yang Muslim</strong></em>…&#8221;.</p>
<p>Setelah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang beberapa perkara yang diharamkan, yang di antaranya adalah saling membenci antara sesama muslim dan melakukan sesab-sebab yang dapat menimbulkan dan memicu api kebencian (permusuhan), beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan petunjuk kepada kaum muslimin agar mereka mau melakukannya. Yaitu, agar mereka menjadi hamba-hamba Allah yang saling bersaudara dan saling mencintai dan menyayangi. Saling berlemah-lembut dan berbuat baik, dengan cara memberikan hal bermanfaat dan mencegah dari hal-hal yang ber<em>madharrat</em>. Bahkan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menekankan dengan sabdanya &#8220;<strong><em>Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya</em></strong>…&#8221;. Yang maksudnya, bahwa konsekwensi persaudaraan adalah dengan cara mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri. Dan ia membenci jika suatu musibah menimpa saudaranya sebagaimana ia pun membenci jika musibah menimpa dirinya. Dengan demikian, ia tidak boleh men<em>zhalim</em>i saudaranya dengan melanggar hak-haknya, atau dengan memberikan <em>madharrat</em> kepadanya. Demikian pula ia tidak boleh mengacuhkannya, terlebih lagi tatkala ia membutuhkan pertolongannya, sedangkan dia mampu untuk menolongnya. Juga tidak boleh berbicara dusta kepadanya. Tidak pula meremehkannya, baik dengan cara menghinanya atau merendahkannya. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan buruknya perbuatan seorang Muslim yang meremehkan saudaranya Muslim, dengan sabdanya &#8220;<strong><em>Cukuplah seseorang dikatakan buruk/ jahat, jika ia menghina/merendahkan saudaranya yang Muslim</em></strong>&#8220;, maksudnya, cukuplah seseorang disifati buruk/ jahat, meskipun ia tidak memiliki sifat buruk lainnya kecuali hal tersebut (yakni; meremehkan saudaranya Muslim). Kemudian, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menerangkan dengan sabdanya &#8220;<strong><em>Takwa itu ada di sini</em></strong>&#8220;, dan beliau menunjukkan ke dadanya tiga kali, maksudnya takwa itu di hati. Beliau ingin menjelaskan bahwa yang dianggap dari seseorang adalah apa-apa yang ada di hatinya, berupa keimanan dan ketakwaan. Dan mungkin saja orang yang dihina dan diremehkan tersebut hatinya dipenuhi dengan ketakwaan. Dengan demikian, orang yang menghina dan meremehkan tersebut yang hatinya tidak baik.</p>
<p>Adapun perkataan sebagian orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan, kemudian ada yang menegurnya, dan pelaku maksiat tersebut malah berkata sambil menunjukkan ke dadanya &#8220;<strong><em>Takwa itu ada di sini</em></strong>&#8220;, maka perkataannya (harus) dibantah (demikian):</p>
<p>Sesungguhnya ketakwaan itu, jika memang telah bersarang di dalam hati, maka akan tampak dampaknya dan terefleksikan pada anggota tubuh. Dengan terlihat padanya <em>istiqamah</em> (kelurusan perbuatan) dan tidak bermaksiat. Sedangkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga telah bersabda &#8220;<strong><em>Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, bila ia baik niscaya seluruh jasadnya akan baik, dan bila ia rusak, niscaya seluruh jasadnya akan rusak pula. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati (jantung)</em></strong>&#8220;. Dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga telah bersabda,</p>
<p style="text-align:right;" dir="RTL">«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ».</p>
<p><strong><em>Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat hati dan amalan kalian.</em></strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh Muslim (2564). Dan telah terdapat perkataan sebagian <em>salaf</em>, &#8220;Bukanlah iman itu dengan hanya berangan-angan dan berhias-hias diri, akan tetapi iman itu adalah sesuatu yang bertengger dalam hati dan direalisasikan dengan amalan&#8221;.</p>
<p>3-   Sabdanya &#8220;<strong><em>Setiap Muslim atas Muslim yang lainnya, haram (menumpahkan) darahnya, haram (mengambil) hartanya (tanpa hak), dan (mengganggu) harga dirinya/kehormatannya</em></strong>&#8220;.</p>
<p>Melanggar jiwa seorang muslim dengan cara membunuhnya atau menyakitinya hukumnya haram. Demikian pula haram hukumnya melanggar hartanya, baik dengan cara mencuri, atau merampas hartanya. Adapun melanggar kehormatan seorang muslim, adalah dengan mencelanya, menghinanya, meng<em>ghibah</em>inya, mengadu dombanya, dan yang sejenisnya. Dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun telah menegaskan keharaman ketiga hal di atas di saat haji <em>wada&#8217;</em>. Beliau menyamakan keharamannya seperti keharaman tempat dan waktu. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL">«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا&#8230;».</p>
<p><strong><em>Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian telah diharamkan atas kalian (untuk dilanggar), seperti haramnya hari kalian ini, pada bulan kalian (Dzulhijjah) ini, di negeri kalian (Mekkah) ini.</em></strong></p>
<p>4-   Pelajaran dan faidah hadits:</p>
<ol>
<li>Haramnya saling berbuat hasad, menipu, menjual di atas penjualan orang lain, dan demikian pula membeli di atas pembelian orang lain. Dan segala yang dapat menyebabkan permusuhan dan kebencian di antara sesama kaum muslimin.</li>
<li>Larangan melakukan sebab-sebab yang dapat menimbulkan kebencian. Demikian pula segala sesuatu yang dapat menimbulkan pemutusan hubungan dan pemboikotan di antara sesama kaum muslimin.</li>
<li>Anjuran kepada seluruh kaum muslimin agar mereka saling memiliki rasa persaudaraan dan saling menyayangi dan mencintai.</li>
<li>Persaudaraan di antara kaum muslimin, konsekwensi dan realisasinya adalah memberikan segala bentuk kebaikan, dan menghalangi mereka dari segala bentuk mara bahaya yang dapat menimpa mereka.</li>
<li>Haram atas setiap muslim untuk menzhalimi, mengacuhkan, merendahkan, dan berkata dusta kepada saudaranya.</li>
<li>Bahayanya merendahkan, menghina, dan mencemooh seorang muslim. Dan perbuatan ini cukup sebagai bukti akan buruknya pelaku hal tersebut, walaupun ia tidak memiliki sifat buruk selainnya.</li>
</ol>
<div>
<p>Artikel <a href="http://www.salafiyunpad.wordpress.com" target="_blank">www.salafiyunpad.wordpress.com</a></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p>[1] HR Muslim (2564).</p>
</div>
<div>
<p>[2] Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah -<em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>- dalam <em>Shahih Al-Bukhari</em> (5026), Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>«</strong>لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ؛ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوْتِيْتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهْوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوْتِيْتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ».</p>
<p><strong><em>Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara; seseorang yang Allah ajarkan kepadanya Al-Qur&#8217;an, lalu ia membacanya siang malam, kemudian tetangganya mendengarnya seraya berkata, &#8220;Seandainya aku diberikan (oleh Allah) seperti apa-apa yang diberikan kepada fulan tersebut, sehingga aku (dapat) mengamalkan seperti apa yang ia amalkan&#8221;. Dan seseorang yang Allah berikan harta kepadanya, lalu ia pun menghabiskan hartanya tersebut untuk jalan al-haq (kebenaran), kemudian seseorang yang lain berkata, &#8220;Seandainya aku diberikan (oleh Allah) seperti apa-apa yang diberikan kepada fulan tersebut, sehingga aku (dapat) mengamalkan seperti apa yang ia amalkan&#8221;.</em></strong> (Pent).</p>
<p>________________________________________</p>
<h3>Segera hadir insya Allah ebook terjemah kitab <em>Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba&#8217;in wa Tatimmatul Khamsin</em>, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al &#8216;Abbad al Badr -<em>hafizhahullah</em>- yang diterjemahkan oleh Ustadz Arief Budiman, Lc. <em>hafizhahullah</em> di blog Salafiyunpad.wordpress.com.</h3>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/11782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/11782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/11782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/11782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/11782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/11782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/11782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/11782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/11782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/11782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/11782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/11782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/11782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/11782/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=11782&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2012/03/06/menjaga-kehormatan-sesama-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengkritisi Keabsahan Hadits-hadits Kitab Ihya’ Ulumiddin</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 09:05:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Abu hamid al-ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran sesat]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran Sesat]]></category>
		<category><![CDATA[hadits palsu ihya ulumuddin]]></category>
		<category><![CDATA[imam al-ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[kitab sesat]]></category>
		<category><![CDATA[kritik keabsahan hadits ihya ulumudin]]></category>
		<category><![CDATA[kritik kitab ihya ulumuddin]]></category>
		<category><![CDATA[tasawwuf]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz Abdullah taslim]]></category>
		<category><![CDATA[wihdatul wujud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=9548</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. (Lulusan S2 Jurusan Hadits, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia) بسم الله الرحمن الرحيم Kiranya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab Ihya’ Ulumiddin adalah termasuk kitab berbahasa Arab yang paling populer di kalangan kaum muslimin di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama, sehingga seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=9548&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="arab" style="text-align:left;"><strong><a href="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2011/04/ihya-ulumuddin-imam-ghazali.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-9549" title="ihya-ulumuddin-imam-ghazali" src="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2011/04/ihya-ulumuddin-imam-ghazali.jpg?w=604" alt=""   /></a>Oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. (Lulusan S2 Jurusan Hadits, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia)</strong></p>
<p class="arab" style="text-align:center;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>Kiranya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab <strong><em><a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ Ulumiddin</a> </em></strong>adalah termasuk kitab berbahasa Arab yang paling populer di kalangan kaum muslimin di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.</p>
<p>Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama, sehingga seorang yang telah menamatkan pelajaran kitab ini dianggap telah mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemahaman agama Islam.</p>
<p>Padahal, kiranya juga tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa kitab ini termasuk kitab yang paling keras diperingatkan oleh para ulama untuk dijauhi, bahkan di antara mereka ada yang <strong>merekomendasikan agar kitab ini dimusnahkan!</strong> (Lihat kitab <em>Siyaru A’laamin Nubala’</em>, 19/327 dan 19/495-496).<br />
<span id="more-9548"></span><br />
Betapa tidak, kitab ini berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar, sehingga orang yang membacanya apalagi mendalaminya tidak akan aman dari kemungkinan terpengaruh dengan kesesatan tersebut, terlebih lagi kesesatan-kesesatan tersebut dibungkus dengan label agama.</p>
<p>Di antara kesesatan besar yang dikandung buku ini adalah pembenaran ideologi (keyakinan) <em>wihdatul wujud </em>(bersatunya wujud Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan wujud makhluk), yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/ penampakan Zat Ilahi (Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) – Mahasuci Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dari segala keyakinan rusak ini –.</p>
<p>Keyakinan sangat menyimpang bahkan kafir ini dibenarkan secara terang-terangan oleh penulis kitab ini di beberapa tempat dalam kitab ini, misalnya pada jilid ke-4 halaman 86 dan halaman 245-246 (cet. Darul Ma’rifah, Beirut).</p>
<p>Cukuplah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini menggambarkan besarnya penyimpangan dan kesesatan yang terdapat dalam kitab ini, “Kitab ini berisi pembahasan-pembahasan yang tercela, (yaitu) pembahasan yang rusak (menyimpang dari Islam) dari para ahli filsafat yang berkaitan dengan tauhid (pengesaaan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>), kenabian dan hari kebangkitan. Maka, ketika penulisnya menyebutkan pemahaman orang-orang ahli <em>Tasawwuf </em>(yang sesat) keadaannya seperti seorang yang mengundang seorang musuh bagi kaum muslimin tetapi (disamarkan dengan) memakaikan padanya pakaian kaum muslimin (untuk merusak agama mereka secara terselubung). Sungguh para imam (ulama besar) Islam telah mengingkari (kesesatan dan penyimpangan) yang ditulis oleh <a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank"><strong>Abu Hamid al-Gazali</strong></a> dalam kitab-kitabnya” (Kitab <em>Majmu&#8217;ul Fataawa</em>, 10/551-552).</p>
<p>Oleh karena itu, Imam Adz-Dzahabi menukil ucapan Imam Muhammad bin al-Walid Ath-Thurthuusyi yang mengatakan bahwa kitab <em>I<a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank"><strong>hya’ Ulumiddin</strong></a></em> (artinya: menghidupkan ilmu-ilmu agama) lebih tepat jika dinamakan <em>Imaatatu ‘uluumid diin</em> (mematikan/merusak ilmu-ilmu agama).</p>
<p>Di samping itu, kitab ini juga memuat banyak hadits lemah bahkan palsu, yang tentu saja tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bahkan banyak di antaranya yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar agama Islam.</p>
<p>Hal ini tidaklah mengherankan, karena sang penulis adalah seorang yang kurang pengetahuannya terhadap hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, khususnya dalam membedakan hadits yang shahih dan hadits yang lemah, sebagaimana pernyataan sang penulis sendiri, “Aku memiliki barang dagangan (pengetahuan) yang sedikit tentang hadits (Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>)” (Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab<em> Al-Bidaayah wan Nihaayah</em>, 12/174).</p>
<p>Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas semua kesesatan tersebut, tetapi saya akan membahas dan menilai keabsahan hadits-hadits yang dimuat dalam kitab ini, berdasarkan keterangan para ulama ahlus sunnah yang terlebih dahulu meneliti dan mengkritisi kitab ini.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Kritikan para ulama Ahlus Sunnah terhadap hadits-hadits dalam kitab ini</strong></span></p>
<p>1- Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi berkata (dalam kitab beliau <em>Minhaajul Qaashidiin</em>, sebagaimana yang dinukil dalam Majalah Al-Bayaan, edisi 48 hal. 81), &#8220;Ketahuilah, bahwa kitab <strong><em><a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya&#8217; Ulumiddin</a></em></strong> di dalamnya terdapat banyak kerusakan (penyimpangan) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama. Penyimpangannya yang paling ringan (dibandingkan penyimpangan-penyimpangan besar lainnya) adalah hadits-hadits palsu dan batil (yang termaktub di dalamnya), juga hadits-hadits<em> mauquf </em>(ucapan shahabat atau tabi&#8217;in) yang dijadikan sebagai hadits <em>marfu&#8217;</em> (ucapan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>). Semua itu dinukil oleh penulisnya dari referensinya, meskipun bukan dia yang memalsukannya. Dan (sama sekali) tidak dibenarkan mendekatkan diri (kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) dengan hadits yang palsu, serta tidak boleh tertipu dengan ucapan yang didustakan (atas nama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>).&#8221;</p>
<p>2- Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthuusyi berkata, “…Kemudian <a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank"><strong>al-Ghazali</strong></a> memenuhi kitab ini dengan kedustaan atas (nama) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bahkan aku tidak mengetahui sebuah kitab di atas permukaan hamparan bumi ini yang lebih banyak (berisi) kedustaan atas (nama) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melebihi kitab ini.” (Dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitab <em>Siyaru A’laamin Nubala’</em>, 19/495).</p>
<p>3- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dalam kitab ini terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang lemah bahkan banyak hadits yang palsu. Juga terdapat banyak kebatilan dan kebohongan orang-orang ahli <em>Tasawwuf</em>.” (Kitab <em>Majmu&#8217;ul Fataawa</em>, 10/552).</p>
<p>4- Imam Adz-Dzahabi berkata, “Adapun kitab<strong><em><a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank"> Ihya&#8217; Ulumiddin</a></em></strong>, maka di dalamnya terdapat sejumlah (besar) hadits-hadits yang batil (palsu).” (Kitab <em>Siyaru A’laamin Nubala’</em>, 19/339).</p>
<p>5- Imam Ibnu Katsir berkata, “…Akan tetapi di dalam kitab ini banyak terdapat hadits-hadits yang asing, mungkar dan palsu.” (Kitab <em>Al-Bidaayah wan Nihaayah</em>, 12/174).</p>
<p>6- Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata, “Betapa banyak kitab <strong><em><a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya&#8217; Ulumiddin</a> </em></strong>memuat hadits-hadits (palsu) yang oleh penulisnya dipastikan penisbatannya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, padahal Imam Al-Iraqi dan para ulama lainnya menegaskan bahwa hadits-hadits tersebut tidak ada asalnya (hadist palsu).” (Kitab <em>Silsilatul Ahaadiitsidh Sha’iifah wal Maudhuu’ah</em>, 1/60).</p>
<p>7- Bahkan, Imam As-Subki mengumpulkan hadits-hadits dalam kitab <strong><em><a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya&#8217; Ulumiddin</a></em></strong> yang tidak ada asalnya (palsu), dan setelah dihitung semuanya berjumlah 923 hadits (lihat kitab <em>Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra</em>, 6/287).</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Beberapa contoh hadits palsu dan lemah yang dimuat dalam kitab ini</strong></span></p>
<p>1. Hadits, “Percakapan dalam masjid akan memakan/ menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput.” (Kitab <strong><em><a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/152, cet. Darul Ma’rifah, Beirut).</p>
<p>Hadits ini dihukumi oleh Imam Al-‘Iraqi, As-Subki dan Syaikh al-Albani sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits (lihat kitab<em> Silsilatul Ahaadiitsidh Dha’iifah wal Maudhuu’ah</em>, 1/60).</p>
<p>2. Hadits, “Taufik yang sedikit lebih baik dari ilmu yang banyak.” (Kitab<em> </em><strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/31).</p>
<p>Hadits ini juga dihukumi oleh para ulama di atas sebagai sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya (lihat kitab <em>Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra</em>, 6/287 dan<em> Difaa’un ‘anil Hadiitsin Nabawi</em>, halaman 46).</p>
<p>3. Hadits, “Agama Islam dibangun di atas kebersihan.” (Kitab <strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/49).</p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama ‘Umar bin Shubh al-Khurasani, Ibnu Hajar berkata tentangnya (dalam kitab<em> Taqriibut Tahdziib</em>, halaman 414), “Dia adalah perawi yang <em>matruk</em> (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah), bahkan (Imam Ishak) bin Rahuyah mendustakannya.” (Lihat kitab <em>Silsilatul Ahaadiitsidh Dha’iifah wal Maudhuu’ah</em>, no. 3264).</p>
<p>4. Hadits, “Sesungguhnya orang yang berilmu akan disiksa (dalam neraka) dengan siksaan yang akan membuat sempit (susah) penduduk nereka.” (Kitab <strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/60).</p>
<p>Hadits ini dihukumi oleh Imam As-Subki sebagai hadits yang tidak ada asalnya (lihat kitab <em>Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra</em>, 6/287).</p>
<p>5. Hadits, “Seburuk-buruk ulama adalah yang selalu mendatangi para penguasa/ pemerintah dan sebaik-sebaik penguasa adalah yang selalu mendatangi para ulama.” (Kitab<em> </em><strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/68).</p>
<p>Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki sebagai hadits yang tidak ada asalnya (lihat kitab <em>Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra</em>, 6/288).</p>
<p>6. Hadits, “Barangsiapa yang berkata, ‘Aku adalah seorang mukmin’, maka dia kafir, dan barangsiapa yang berkata, ‘Aku adalah orang yang berilmu’, maka dia adalah orang yang jahil (bodoh).” (Kitab<em> </em><strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/125).</p>
<p>Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki sebagai hadits yang tidak ada asalnya (lihat kitab <em>Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra</em>, 6/289) dan dinyatakan lemah oleh Imam As-Sakhawi (lihat kitab <em>Al-Maqaashidul Hasanah</em>, halaman 663).</p>
<p>7. Hadits, “Seorang hamba tidak akan mendapatkan (keutamaan) dari shalatnya, kecuali apa yang dipahaminya dari shalatnya.” (Kitab <strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/159).</p>
<p>Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki sebagai hadits yang tidak ada asalnya (lihat kitab <em>Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra</em>, 6/289).</p>
<p>8. Hadits, “Sesuatu yang pertama kali Allah ciptakan adalah akal…” (Kitab <strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/83 dan 3/4).</p>
<p>Hadits ini dihukumi oleh Imam Adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani sebagai hadits yang batil dan palsu (lihat kitab <em>Lisaanul Miizaan</em>, 4/314 dan<em> Takhriiju Ahaadiitsil Misykaah</em>, no. 5064).</p>
<p>9. Hadits, “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.” (Kitab <em>I</em><strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong>, 1/71, 3/13 dan 3/23).</p>
<p>Hadits ini dihukumi oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits yang palsu (kitab <em>Silsilatul Ahaadiitsidh Dha’iifah wal Maudhuu’ah</em>, no. 422).</p>
<p>10. Hadits, “Wahai manusia, pahamilah (dengan akal) dari Rabb-mu dan saling berwasiatlah dengan akal.” (Kitab <strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong><em></em>, 1/202).</p>
<p>Hadits ini adalah hadits palsu, diriwayatkan oleh Dawud bin al-Muhabbar dalam kitab <em>Al-Aql</em>, yang dikatatakan oleh Ibnu Hajar, “Dia adalah perawi yang <em>matruk</em> (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah) dan kitab <em>Al-Aql </em>yang ditulisnya mayoritas berisi hadits-hadits yang palsu.” (Dalam kitab <em>Taqriibut Tahdziib</em>, halaman 200).</p>
<p>11. Hadits tentang shalat <em>ar-Ragaaib</em> di bulan Rajab (Kitab<em> </em><strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong><em>,</em> 1/83).</p>
<p>Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh Imam Al-‘Iraqi (lihat <em>takhrij </em>beliau di catatan kaki kitab tersebut, 2/366, cet. Dar Asy-Syi’ab, Kairo).</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p>Dengan uraian ringkas tentang kitab <strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong> di atas, jelaslah bagi kita kandungan buruk dan penyimpangan yang terdapat di dalamnya. Maka, seorang muslim yang menginginkan kebaikan dan keselamatan dalam agama dan imannya, hendaknya menjauhkan diri dari membaca buku-buku yang mengajarkan kesesatan seperti ini.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang bersih dan selamat dari penyimpangan sangat banyak dan mencukupi untuk diambil manfaatnya.</p>
<p>Apakah kita tidak khawatir akan ditimpa kerusakan dalam pemahaman agama kita dengan membaca kitab seperti ini, padahal kerusakan dan kerancuan dalam memahami agama ini merupakan malapetaka terbesar yang akan berakibat kebinasaan dunia dan akhirat?</p>
<p>Bukankah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berlindung kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dari kerusakan agama dan iman ini, sebagaimana dalam doa beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align:right;">ولا تَجْعَلْ مُصيبَتَنَا في دِيْنِنا</p>
<p>“<em>(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan malapetaka (kerusakan) yang menimpa kami dalam agama (keyakinan) kami.</em>” (HR. At-Tirmidzi, no. 3502, dinyatakan hasan oleh Imam At-Tirmidzi dan Syaikh Al-Albani).</p>
<p>Ketahuilah, bahwa ilmu yang bermanfaat untuk memperbaiki keimanan dan meyempurnakan ketakwaan kita kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> hanyalah ilmu yang bersumber dari Alquran dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang dipahami dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka.</p>
<p>Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil dari Alquran dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta (berusaha) memahami kandungan maknanya, dengan mendasari pemahaman tersebut dari penjelasan para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, para<em> Tabi’in</em> (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka dalam memahami kandungan Alquran dan hadits. (Begitu pula) dalam (memahami penjelasan) mereka dalam masalah halal dan haram, pengertian zuhud, amalan hati (penyucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) dan pembahasan-pembahasan ilmu lainnya, dengan terlebih dahulu berusaha untuk memisahkan dan memilih (riwayat-riwayat) yang shahih (benar) dan (meninggalkan riwayat-riwayat) yang tidak benar, kemudian berupaya untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya. Semua ini sangat cukup (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat) bagi orang yang berakal dan merupakan kesibukkan (yang bermanfaat) bagi orang yang memberi perhatian dan berkeinginan besar (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat).” (Kitab<em> Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf</em>, halaman 6).</p>
<p>Sebagai penutup, renungkanlah nasihat emas dari Imam Adz-Dzahabi ketika beliau mengkritik kitab <strong><em></em></strong><strong><em><a href="../2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/" target="_blank">Ihya’ ‘Ulumiddin</a></em></strong> dan kitab-kitab lain semisalnya yang memuat kesesatan dan penyimpangan, karena tidak mencukupkan diri dengan petunjuk Alquran dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan pemahaman yang benar.</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi berkata, &#8220;Kitab<em> Ihya&#8217; &#8216;Ulumiddin</em> di dalamnya terdapat sejumlah (besar) hadits-hadits yang batil (palsu) dan banyak kebaikannya kalau saja kitab itu tidak memuat adab, ritual dan kezuhudan (model) orang-orang (yang mengaku) ahli hikmah dan ahli <em>Tasawwuf </em>yang menyimpang, kita memohon kepada Allah (dianugerahkan) ilmu yang bermanfaat. Tahukah kamu apakah ilmu yang bermanfaat itu? Yaitu ilmu bersumber dari Alquran dan dijabarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam ucapan dan perbuatan (beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>), serta tidak ada larangan dari beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentangnya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang tidak menyukai sunnah/ petunjukku, maka dia bukan termasuk golonganku.</em>&#8221; (HR. Al-Bukhari (no. 5063) dan Muslim (1401).</p>
<p>Maka, wajib bagimu wahai saudaraku untuk men-<em>tadabbur</em>-i (mempelajari dan merenungkan) Alquran, serta membaca dengan seksama (hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) dalam<em> Ash-Shahiihain</em> (<em>Shahih Al-Bukhari </em>dan <em>Shahih Muslim</em>), <em>Sunan An-Nasa&#8217;i</em>,<em> Riyadhus Shalihin </em>dan <em>Al-Azkar</em> tulisan Imam An-Nawawi, (maka dengan itu) kamu akan beruntung dan sukses (meraih ilmu yang bermanfaat). Dan jauhilah pemikiran orang-orang <em>Tasawwuf </em>dan filsafat, ritual-ritual ahli <em>riyadhah</em> (ibadah-ibadah khusus ahli <em>Tasawwuf</em>), dan kelaparan (yang dipaksakan) oleh para pendeta, serta igauan tokoh-tokoh ahli <em>khalwat </em>(menyepi/ bersemedi yang mereka anggap sebagai ibadah). Maka, semua kebaikan adalah dengan mengikuti agama (Islam) yang <em>hanif</em> (lurus/ cenderung kepada tauhid) dan mudah (agama yang dibawa dan dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>). Maka, kepada Allah-lah kita memohon pertolongan, ya Allah, tunjukkanlah kepada kami jalan-Mu yang lurus.&#8221; (Kitab <em>Siyaru A’laamin Nubala’</em>, 19/339-340).</p>
<p class="arab" style="text-align:right;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 13 Rabi&#8217;ul akhir 1432 H<br />
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A. (Pengasuh website <a href="www.manisnyaiman.com" target="_blank">www.manisnyaiman.com</a>)<br />
Artikel <a href="www.Salafiyunpad.wordpress.com" target="_blank">www.Salafiyunpad.wordpress.com</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/abu-hamid-al-ghazali/'>Abu hamid al-ghazali</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/ajaran-sesat/'>ajaran sesat</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/aliran-sesat/'>Aliran Sesat</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/hadits-palsu-ihya-ulumuddin/'>hadits palsu ihya ulumuddin</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/imam-al-ghazali/'>imam al-ghazali</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kitab-sesat/'>kitab sesat</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kritik-keabsahan-hadits-ihya-ulumudin/'>kritik keabsahan hadits ihya ulumudin</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kritik-kitab-ihya-ulumuddin/'>kritik kitab ihya ulumuddin</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/tasawwuf/'>tasawwuf</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/ustadz-abdullah-taslim/'>Ustadz Abdullah taslim</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/wihdatul-wujud/'>wihdatul wujud</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/9548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/9548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/9548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/9548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/9548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/9548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/9548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/9548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/9548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/9548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/9548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/9548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/9548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/9548/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=9548&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/04/04/mengkritisi-keabsahan-hadits-hadits-kitab-ihya%e2%80%99-ulumiddin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2011/04/ihya-ulumuddin-imam-ghazali.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ihya-ulumuddin-imam-ghazali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Download Audio: Kajian Dasar Islam &#8211; Penjelasan Arbain An-Nawawi Hadits Kedua dan Ketiga (Ustadz Mahful)</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/01/17/download-audio-kajian-dasar-islam-penjelasan-arbain-an-nawawi-hadits-kedua-dan-ketiga-ustadz-mahful/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/01/17/download-audio-kajian-dasar-islam-penjelasan-arbain-an-nawawi-hadits-kedua-dan-ketiga-ustadz-mahful/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 09:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOWNLOAD AUDIO]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[arbain nawawi]]></category>
		<category><![CDATA[hadits arbain]]></category>
		<category><![CDATA[imam annawawi]]></category>
		<category><![CDATA[kajian dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian umum gemolong]]></category>
		<category><![CDATA[KDI]]></category>
		<category><![CDATA[syarah hadits arbain annawawi]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz Mahful Safarudin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=8794</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, berikut ini kami hadirkan rekaman Kajian Dasar Islam (KDI) 16 Januari 2011 bersama Ustadz Mahful Safarudin, Lc. kajian ini diselenggarakan rutin sebulan sekali di Masjid An-Nur SMAN 1 Gemolong, Sragen. Materi kajian yang beliau sampaikan melanjutkan pembahasan hadits Arbain An-Nawawi (hadits kedua dan ketiga). Semoga bermanfaat dan silakan download rekamannya pada link berikut: Penjelasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=8794&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, berikut ini kami hadirkan rekaman Kajian Dasar Islam (KDI) 16 Januari 2011 bersama Ustadz Mahful Safarudin, Lc. kajian ini diselenggarakan rutin sebulan sekali di Masjid An-Nur SMAN 1 Gemolong, Sragen. Materi kajian yang beliau sampaikan melanjutkan pembahasan hadits Arbain An-Nawawi (hadits kedua dan ketiga). Semoga bermanfaat dan silakan download rekamannya pada link berikut:</p>
<p><span id="more-8794"></span></p>
<p><a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/2%20-%20Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%202%20dan%203%20-%20Sesi%201.MP3?l=12" target="_blank">Penjelasan Hadits Arbain Kedua dan Ketiga (sesi 1)</a></p>
<p><a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/2%20-%20Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%202%20dan%203%20-%20Sesi%202.MP3?l=12" target="_blank">Penjelasan Hadits Arbain Kedua dan Ketiga (sesi 2)</a></p>
<p><a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/2%20-%20Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%202%20dan%203%20-%20Sesi%203.MP3?l=12" target="_blank">Penjelasan Hadits Arbain Kedua dan Ketiga (sesi 3)</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Link terkait:</p>
<p><a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%201%20Bagian%201%20-%20Sesungguhnya%20amalan%20itu%20tergantung%20niatnya.mp3?l=12" target="_blank">Kajian Dasar Islam – Syarah Hadits Arba’in An-Nawawi – Hadits Pertama 01</a></p>
<p><a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%201%20Bagian%202%20-%20Sesungguhnya%20amalan%20itu%20tergantung%20niatnya.mp3?l=12" target="_blank">Kajian Dasar Islam – Syarah Hadits Arba’in An-Nawawi – Hadits Pertama 02</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/download-audio/'>DOWNLOAD AUDIO</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/arbain-nawawi/'>arbain nawawi</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/download-audio/'>DOWNLOAD AUDIO</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/hadits-arbain/'>hadits arbain</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/imam-annawawi/'>imam annawawi</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kajian-dasar-islam/'>kajian dasar islam</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kajian-salafiyah/'>kajian salafiyah</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kajian-umum-gemolong/'>kajian umum gemolong</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kdi/'>KDI</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/syarah-hadits-arbain-annawawi/'>syarah hadits arbain annawawi</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/ustadz-mahful-safarudin/'>ustadz Mahful Safarudin</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/8794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/8794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/8794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/8794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/8794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/8794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/8794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/8794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/8794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/8794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/8794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/8794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/8794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/8794/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=8794&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/01/17/download-audio-kajian-dasar-islam-penjelasan-arbain-an-nawawi-hadits-kedua-dan-ketiga-ustadz-mahful/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/2%20-%20Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%202%20dan%203%20-%20Sesi%201.MP3?l=12" length="11680464" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/2%20-%20Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%202%20dan%203%20-%20Sesi%202.MP3?l=12" length="9449088" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/2%20-%20Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%202%20dan%203%20-%20Sesi%203.MP3?l=12" length="1912992" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%201%20Bagian%201%20-%20Sesungguhnya%20amalan%20itu%20tergantung%20niatnya.mp3?l=12" length="15825190" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%201%20Bagian%202%20-%20Sesungguhnya%20amalan%20itu%20tergantung%20niatnya.mp3?l=12" length="11449139" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Empat Orang yang Dilaknat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/12/30/empat-orang-yang-dilaknat-nabi/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/12/30/empat-orang-yang-dilaknat-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Dec 2010 06:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[empat orang dilaknat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[laknat]]></category>
		<category><![CDATA[laknat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[orang terlaknat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=8677</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari – hafizhahullah- Naskah ini diangkat berdasarkan khutbah Jum’at Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari – hafizhahullah- di Masjid al Akbar Surabaya, 18 Muharram 1427H bertepatan 17 Februari 2006. Narasi khutbah tersebut diterjemahkan oleh Abdurrahman Thayyib, kemudian kami tulis kembali dalam bentuk naskah, dengan penyesuaian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=8677&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari – hafizhahullah-</p>
<p>Naskah ini diangkat berdasarkan khutbah Jum’at Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari – hafizhahullah- di Masjid al Akbar Surabaya, 18 Muharram 1427H bertepatan 17 Februari 2006. Narasi khutbah tersebut diterjemahkan oleh Abdurrahman Thayyib, kemudian kami tulis kembali dalam bentuk naskah, dengan penyesuaian seperlunya, tanpa mengurangi substansi materi. Judul di atas adalah dari Redaksi. Semoga bermanfaat. (Redaksi).<br />
_________________________________________________________<br />
<span id="more-8677"></span><br />
Dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>لَعَنَ اللهُ مَن ذَبَحَ لِغَيرِ اللهِ, و لَعَنَ اللهُ مَن سَبَّ وَالِدَيهِ, و لَعَنَ اللهُ مَن غَيَّرَ مَنَارَ الأَرضِ,<br />
لَعََنَ اللهُ مَن آوَى مُحدِثَا</p>
<p>Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang mencaci-maki kedua orang- tuanya. Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah (orang lain), dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid&#8217;ah).</p>
<p>TAKHRIJ HADITS<br />
- HR Bukhari di Adabul Mufrad, bab (8) man la’ana Allah man la’ana walidaih, no. 17.<br />
- Muslim, dalam Shahih Muslim, kitab al adhahi, no. 3657, 3658, 3659.<br />
- An Nasa-i, dalam as Sunan, kitab adh dhahaya, no. 4346, dan<br />
- Ahmad di berbagai tempat dalam Musnad-nya.[1]</p>
<p>SYARAH HADITS<br />
Di antara nikmat Allah yang terbesar dan anugerahNya yang paling agung, yaitu dijadikannya kita sebagai kaum Muslimin dan kaum Mukminin yang hanya beribadah kepadaNya, dan yang hanya mengikuti NabiNya Shallallahu &#8216;alaihi was sallam, serta menjadi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Islam adalah agama yang mulia, tegak di atas al Qur`an dan Sunnah.<br />
Allah berfirman dalam al Qur`an :</p>
<p>وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ</p>
<p>Dan Kami turunkan kepadamu al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. [an Nahl : 44].</p>
<p>Al Qur`an adalah dzikr, dan Sunnah adalah dzikr, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : &#8220;Ketahuilah, bahwa aku telah diberi al Qur`an dan yang semisal dengannya”.</p>
<p>Al Qur`an adalah Kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang merupakan mukjizat, dan membacanya terhitung sebagai suatu ibadah. Demikian pula Sunnah (hadits) Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah wahyu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, seperti yang telah Dia firmankan :</p>
<p>وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى , إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى .</p>
<p>Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [an Najm : 3-4].</p>
<p>Dan sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Amru bin &#8216;Ash Radhiyallahu &#8216;anhu, bahwasanya dia pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sambil bertanya : “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya, Anda terkadang berkata dalam keadaan marah dan terkadang dalam keadaan ridha. Apakah boleh kita menulis semua yang Anda katakan?” Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab,”Tulis semuanya, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah yang keluar dariku melainkan haq (benar),” sambil menunjuk ke arah mulut beliau yang suci.</p>
<p>Hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah tafsir bagi ayat-ayat yang global dalam al Qur`an dan pengkhusus bagi ayat-ayat yang umum, serta pengikat bagi ayat-ayat yang mutlak, dan dia adalah wahyu Allah Ta&#8217;ala. Di antara wahyu tersebut adalah diberinya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam jawaami’ul kalim, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim, Pent), beliau bersabda : &#8220;Aku diutus dengan jawaami’ul kalim”. Arti jawaami’ul kalim adalah ucapan singkat, tetapi padat maknanya.</p>
<p>Di antara jawaami’ul kalim tersebut adalah hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang merupakan pembahasan kita sekarang yang tercantum dalam Shahih Muslim, dari seorang sahabat yang mulia dan seorang khalifah yang mendapat petunjuk, yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu &#8216;anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>لَعَنَ اللهُ مَن ذَبَحَ لِغَيرِ اللهِ, و لَعَنَ اللهُ مَن سَبَّ وَالِدَيهِ, و لَعَنَ اللهُ مَن غَيَّرَ مَنَارَ الأَرضِ, لَعََنَ اللهُ مَن آوَى مُحدِثَا و</p>
<p>Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang mencaci-maki kedua orang- tuanya. Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah (orang lain), dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid&#8217;ah).</p>
<p>Hadits ini amat singkat, namun mengandung banyak perkara yang berharga, karena menjelaskan hak-hak yang agung, yang menjadi landasan sosial masyarakat muslim. Jika kaum Muslimin telah mundur ke belakang, maka dengan mewujudkan hak-hak ini, mereka akan kembali menjadi umat yang maju di tengah umat-umat yang lain.</p>
<p>Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang hak ibadah, hak sunnah, hak nafs (jiwa), dan hak orang lain. Jika kita mau merenungi keempat hak-hak di atas, maka kita akan mendapatkan hal tersebut telah mencakup semua hak muslim, baik yang berkaitan dengan dirinya, orang lain, dan yang berkaitan dengan Rabb-nya serta NabiNya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Hak ibadah adalah tauhid yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam sabda beliau &#8220;Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”. Bagaimana dia bisa mengarahkan sembelihan kepada selain Allah? Sedangkan tindakan tersebut termasuk ibadah. Dan ibadah adalah sebuah nama yang mencakup hal-hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin, sebagaimana yang telah Allah Azza wa Jalla firmankan :</p>
<p>قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(162)لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ</p>
<p>Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya shalatku, ibadatku (sesembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al An'am : 162-163].</p>
<p>Menjaga hak tauhid dan ibadah, adalah kewajiban yang harus ditanamkan di dalam hati dan akal pikiran, lalu diwujudkan dalam amal perbuatan dengan penuh keyakinan, tanpa ada sedikit pun keraguan. Bagaimana tidak demikian, sedangkan kita tidaklah diciptakan, melainkan hanya untuk beribadah kepadaNya saja, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :</p>
<p>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ</p>
<p>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. [adz Dzariyaat : 56-58].</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sudah mengajarkan kepada sahabat-sahabat beliau yang masih kecil, apalagi kepada yang dewasa tentang hak ibadah ini agar ditanamkan dalam hati, dan tumbuh di dalam akal pikiran serta anggota badan.</p>
<p>Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhu –sepupu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bahwasanya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata kepadanya : “Wahai, anak kecil. Aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa perkara. (Yaitu) jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu. Jagalah Allah, pasti engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mintalah kepada Allah”.</p>
<p>Maka, tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah. Tidak ada yang berhak dimintai pertolongan melainkan Allah. Tidak ada yang berhak dijadikan sumpah melainkan Allah. Dan tidak ada yang berhak diistighasahi, melainkan Allah. Tidak ada yang berhak diserahi sesembelihan dan nadzar, melainkan Allah. Tidak boleh bernadzar kepada Nabi, wali maupun siapa saja, meskipun tinggi kedudukannya. Dengan ini, (seorang muslim) bisa menjaga hak ibadah dan tauhidnya.</p>
<p>Kemudian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang yang melindungi muhditsan”.</p>
<p>Al muhdits, adalah orang yang mengada-adakan hal baru dalam agama (bid&#8217;ah) dan yang merubah Sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dalam hal ini, terdapat pemeliharaan terhadap hak Sunnah dan ittiba&#8217; (mengikuti Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam). Ketika kita mengikrarkan kalimat tauhid Laa ilaha illallah Muhammaddur Rasulullah. Maka, ucapan ini mengandung hak-hak, kewajiban-kewajiban serta konsekuensi-konsekuensi. Dan kalimat tersebut, bukan hanya sekedar huruf-huruf yang digandeng, atau ucapan yang terlepas begitu saja dari lisan. Tetapi, dengan kalimat inilah berdiri langit dan bumi. Tidak diciptakan manusia, melainkan untuk mewujudkan kandungan kalimat tersebut. Dan tidaklah diturunkan kitab-kitab Allah serta diutus para rasul, melainkan karenanya.</p>
<p>Kalimat Laa ilaha illallahu, maknanya tidak ada yang berhak disembah dengan benar, kecuali Allah. Dan kalimat Muhammadur Rasulullah, maknanya tidak ada yang berhak diikuti, melainkan Rasulullah. Sebaik-baiknya perkara adalah apa yang disunnahkannya. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah apa yang beliau tinggalkan (bid&#8217;ah, Pent). Tidaklah beliau meninggal dunia, melainkan beliau telah menjelaskan segala kebaikan kepada kita dan melarang dari segala kejelekan.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dari sahabat Abu Dzar al Ghifari Radhiyallahu &#8216;anhu bahwasanya dia berkata : &#8220;Tidaklah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam meninggal dunia, melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kita, sampai-sampai burung yang terbang di udara telah beliau jelaskan kepada kita ilmunya&#8221;.</p>
<p>Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang hak Sunnah yaitu hak Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Tidak ada yang berhak diikuti, melainkan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliaulah suri tauladan yang baik dan yang sempurna bagi kita; bagaimana tidak, sedangkan Allah telah berfirman tentang beliau :</p>
<p>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [al Ahzab : 21].</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah menjelaskan, bahwa satu-satunya jalan petunjuk, yang seorang hamba selalu memohonnya lebih dari sepuluh kali sehari semalam di kala shalat fardhu, sunnah maupun nafilah, yaitu اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (Tunjukilah kami jalan yang lurus), adalah dengan mengikuti sunnah Rasul Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Tidak ada jalan yang lurus melainkan dengan mengikuti Sunnah beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah Allah firmankan وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا (Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. –an Nuur : 54). Apabila kalian mengikuti Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka kalian akan mendapat hidayah yang selalu kalian minta kepada Rabb kalian dikala siang dan petang hari. Inilah hak Allah, dan inilah hak RasulNya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam serta hak agamaNya. Maka apakah kita telah menjalankan semua hak-hak ini?</p>
<p>Di bagian yang lain dari hadits ini terdapat peringatan adanya dua kewajiban lain.</p>
<p>Yang pertama, yang merupakan urutan kedua dari hadits di atas, yaitu sabda beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : “Allah melaknat orang yang mencela kedua orang tuanya”. Ini adalah kewajibanmu dan anda mesti menjadi pemeliharanya dengan baik. Yaitu engkau berbakti kepada keduanya, mendoakan mereka dan menjaga hak-hak mereka, tidak meremehkannya serta tidak menjadi penyebab engkau mencaci kedua orang tuamu.</p>
<p>Hak kedua orang tua, terkadang bisa secara langsung disia-siakan oleh anak yang durhaka, yaitu dengan mencaci-maki ayah atau ibunya karena mencari ridha sang istri, hawa nafsu maupun setannya. Dan sangat disesalkan, hal ini terjadi (di tengah masyarakat kita, Pent).</p>
<p>Adapun yang kedua, secara tidak langsung, yaitu engkau berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain mencaci-maki kedua orang tuamu. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda : “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci-maki kedua orang tuanya,” para sahabat bertanya,”Bagaimana seseorang bisa mencaci-maki kedua orang tuanya?” maka beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab : “Dia mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu mencaci maki kembali orang tuanya”. Dan ini (termasuk) di antara arah tujuan syariat, yaitu menutup segala pintu (kejelekan) serta membendung kerusakan. Engkau tidak boleh berbuat suatu yang mengakibatkan kerusakan yang besar di kemudian hari. Tetapi amat disayangkan, perkara ini secara global banyak disepelekan oleh sebagian kaum Muslimin, bahkan oleh Islamiyyin (orang-orang yang bersemangat membela Islam tanpa bekal ilmu yang benar, Pent). Kita melihat, mereka bersemangat dalam banyak perkara dan banyak berbuat sesuatu, dan mereka mengira hal tersebut sebagai suatu bentuk hidayah dan kebenaran, namun hakikatnya tidak seperti itu [2]. Mereka melakukan dengan semangat membara, yang mengakibatkan umat Islam menjadi santapan lezat bagi umat-umat yang lain, dan menjadikan orang-orang kafir menguasai kaum Muslimin dan merampas harta kekayaan mereka.</p>
<p>Ini termasuk menutup segala pintu kejelekan. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika melarang kita mencaci-maki orang tua, sebuah tindakan yang termasuk dosa, maka bagaimana jika kita melakukannya lebih dari itu? Yaitu mencaci-maki orang tua orang lain, lalu orang tersebut mencaci-maki kedua orang tua kita? Ini termasuk dosa besar. Jika kita melaksanakan ketaatan kepada mereka maka ini termasuk menjaga hak jiwa pribadi (nafs) . Adapun meremehkan dan menyia-nyiakan mereka, maka akibat buruknya akan menimpa dirinya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman : [وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا] Artinya : &#8220;Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.&#8221; (Al-Isra&#8217; : 23).</p>
<p>Di dalam ayat ini Allah menyatukan antara ketaatan kepada kedua orang tua dengan ibadah hanya kepada-Nya saja, karena didalamnya terdapat unsur pemeliharaan terhadap hak jiwa sendiri, ayah dan anak.</p>
<p>Adapun hak yang terakhir yang disebutkan dalam hadits ini adalah yang berkaitan dengan hak orang lain. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini empat hak yaitu : (1). Hak Allah (2). Hak Nabi (3). Hak nafs (4). Hak orang lain. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda : &#8220;Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah orang lain&#8221; maksudnya dia melanggar hak (tanah) orang lain baik itu tetangganya, kerabat, saudaranya ataupun orang yang jauh darinya. Barangsiapa yang melanggar hak orang lain meski kelihatannya sepele, niscaya akan terkena ancaman dalam hadits ini. Jika melanggar hak tanah orang lain saja yang berkaitan dengan masalah dunia mengakibatkan terlaknat, maka bagaimana kalau pelanggaran tersebut berkaitan dengan hak yang lebih besar dari itu seperti melanggar kehormatan atau kemuliaan orang lain dengan menggunjingnya, mengadu domba, berdusta atas namanya ?</p>
<p>Renungilah sabda Rasul Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : [إِنَّ أربَى الرِبَا استِطَالَة الرَجُلِ فِي عِرضِ أَخِيهِ المُسلِم] Artinya : &#8220;Dosa riba yang paling besar adalah seseorang melanggar kehormatan saudaranya muslim&#8221; yaitu dengan menggunjingnya, berdusta atas namanya, berburuk sangka kepadanya atau dengan mengadu domba antara dia dengan orang lain. Semua ini terlarang dan merupakan sebab perampasan hak orang lain dan termasuk dosa besar.</p>
<p>Jika kita mengetahui sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : &#8220;Satu dirham (hasil) riba yang dimakan oleh seseorang yang tahu (hukum-nya-pent) lebih besar dosanya di sisi Allah dari pada 36 kedustaan&#8221; Apabila ini tingkat paling rendah akibat harta riba, maka bagaimana dengan riba yang paling besar ? Ini semua dalam rangka menjaga hak-hak orang lain baik kerabat maupun orang yang jauh. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika berpesan kepada Mu&#8217;adz bin Jabal, beliau bersabda : &#8220;Dan pergauli manusia dengan akhlak yang baik&#8221;</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengatakan (pergaulilah) orang-orang mukmin atau muslimin atau yang berpuasa saja atau orang-orang shalih atau shadiqin saja, tapi beliau malah mengatakan (pergaulilah manusia) maksudnya semua manusia baik dia mukmin atau kafir, shaleh atau tholeh. Karena dengan akhlakmu disertai pemeliharaan terhadap hakmu dan hak orang lain, engkau dapat mengambil hati mereka sehingga engkau bisa menyerunya (kepada kebenaran).</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]<br />
Sumber: almanhaj.or.id dan dipublikasikan oleh <a href="www.salafiyunpad.wordpress.com" target="_blank">www.salafiyunpad.wordpress.com</a></p>
<p>_______<br />
Footnote<br />
[1]. Takhrij ini merupakan tambahan dari Redaksi<br />
[2]. Hal ini seperti yang dilakukan oleh harokiyyin yang selalu semangat dalam mengobarkan api jihad melawan orang-orang kafir dengan melakukan peledakan-peledakan atau pembantaian warga sipil. Mereka kira, dengan semua itu dapat memuliakan Islam dan kaum Muslimin, padahal jika mereka mau merenungi kembali, justru mereka telah menyebabkan kaum Muslimin semakin ditindas dan mencoreng nama Islam. Sungguh benar yang Allah firmankan tentang mereka ini :</p>
<p>[قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا(103)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا</p>
<p>Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. -al Kahfi : 103-104. (Redaksi)<br />
[3]. Kemudian khutbah ini beliau tutup dengan doa. (Redaksi).</p>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/aqidah/'>aqidah</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/empat-orang-dilaknat-nabi/'>empat orang dilaknat nabi</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/hadits/'>Hadits</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/laknat/'>laknat</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/laknat-nabi/'>laknat nabi</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/nasihat/'>Nasihat</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/orang-terlaknat/'>orang terlaknat</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/8677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/8677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/8677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/8677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/8677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/8677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/8677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/8677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/8677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/8677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/8677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/8677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/8677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/8677/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=8677&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/12/30/empat-orang-yang-dilaknat-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Download Kajian Dasar Islam (KDI) Edisi Desember 2010 (Ust. Mahful Safarudin, Lc.)</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/12/21/download-ceramah-kajian-dasar-islam-kdi-desember-2010-mahful-safrudin/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/12/21/download-ceramah-kajian-dasar-islam-kdi-desember-2010-mahful-safrudin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 02:40:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOWNLOAD AUDIO]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[amal tergantung niat]]></category>
		<category><![CDATA[download ceramah islam]]></category>
		<category><![CDATA[hadits pertama niat]]></category>
		<category><![CDATA[kajian dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[KDI]]></category>
		<category><![CDATA[syarah hadits arbain an-nawawi]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz Mahful Safrudin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=8579</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, berikut ini kami hadirkan rekaman serial Kajian Dasar Islam (KDI) bersama al-ustadz Abu Umair Mahful Safarudin, Lc. (Pengajar Ma&#8217;had al-Irsyad, Tengaran, Salatiga). Materi yang beliau sampaikan dalam acara KDI ini yaitu penjelasan hadits Arba&#8217;in an-Nawawi (hadits pertama tentang niat). Semoga sajian pada kesempatan ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Silakan download rekaman kajiannya pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=8579&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, berikut ini kami hadirkan rekaman serial Kajian Dasar Islam (KDI) bersama al-ustadz Abu Umair Mahful Safarudin, Lc. (Pengajar Ma&#8217;had al-Irsyad, Tengaran, Salatiga). Materi yang beliau sampaikan dalam acara KDI ini yaitu penjelasan hadits Arba&#8217;in an-Nawawi (hadits pertama tentang niat). Semoga sajian pada kesempatan ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Silakan download rekaman kajiannya pada link berikut:</p>
<p><span id="more-8579"></span></p>
<p><a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%201%20Bagian%201%20-%20Sesungguhnya%20amalan%20itu%20tergantung%20niatnya.mp3?l=12" target="_blank">Kajian Dasar Islam &#8211; Syarah Hadits Arba&#8217;in An-Nawawi &#8211; Hadits Pertama 01</a></p>
<p><a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%201%20Bagian%202%20-%20Sesungguhnya%20amalan%20itu%20tergantung%20niatnya.mp3?l=12" target="_blank">Kajian Dasar Islam &#8211; Syarah Hadits Arba&#8217;in An-Nawawi &#8211; Hadits Pertama 02</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Insya Allah Kajian Dasar Islam ini bersambung (rutin diselenggarakan sebulan sekali di kecamatan Gemolong)</p>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/download-audio/'>DOWNLOAD AUDIO</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/amal-tergantung-niat/'>amal tergantung niat</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/download-audio/'>DOWNLOAD AUDIO</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/download-ceramah-islam/'>download ceramah islam</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/hadits-pertama-niat/'>hadits pertama niat</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kajian-dasar-islam/'>kajian dasar islam</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kdi/'>KDI</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/syarah-hadits-arbain-an-nawawi/'>syarah hadits arbain an-nawawi</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/ustadz-mahful-safrudin/'>Ustadz Mahful Safrudin</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/8579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/8579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/8579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/8579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/8579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/8579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/8579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/8579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/8579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/8579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/8579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/8579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/8579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/8579/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=8579&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/12/21/download-ceramah-kajian-dasar-islam-kdi-desember-2010-mahful-safrudin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%201%20Bagian%201%20-%20Sesungguhnya%20amalan%20itu%20tergantung%20niatnya.mp3?l=12" length="15825190" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Mahful%20Safaruddin/Hadits%20Arbain/Syarah%20Hadits%20Arbain%20No%201%20Bagian%202%20-%20Sesungguhnya%20amalan%20itu%20tergantung%20niatnya.mp3?l=12" length="11449139" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Enaknya Jadi Petani</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/11/10/enaknya-jadi-petani/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/11/10/enaknya-jadi-petani/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 05:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[bercocok tanam]]></category>
		<category><![CDATA[bertani]]></category>
		<category><![CDATA[enaknya jadi petani]]></category>
		<category><![CDATA[pahala petani]]></category>
		<category><![CDATA[petani]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=8138</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Muawiah Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Mubasyir Al- Anshariyah di kebun kurma miliknya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Siapakah yang menanam pohon kurma ini? Apakah dia seorang muslim atau kafir?” Dia menjawab, “Seorang Muslim.” Maka beliau bersabda: لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=8138&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/11/petani.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-8139" title="petani" src="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/11/petani.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Oleh Ustadz Abu Muawiah</strong></p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Mubasyir Al- Anshariyah di  kebun kurma miliknya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda  kepadanya, “Siapakah yang menanam pohon kurma ini? Apakah dia seorang  muslim atau kafir?” Dia menjawab, “Seorang Muslim.” Maka beliau  bersabda:<br />
<strong>لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ  مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ  صَدَقَةٌ</strong><br />
<em> </em></p>
<p><em>“Tidaklah seorang muslim menanam <a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/11/10/enaknya-jadi-petani/" target="_self">tanaman</a> apapun atau bertani dengan  tumbuhan apapun, lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, atau  binatang melata atau sesuatu yang lain, kecuali hal itu akan berniali  sedekah untuknya.” </em>(HR. Muslim no. 1552)<span id="more-8138"></span></p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ  مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ  السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ  لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ</strong><br />
<em> </em></p>
<p><em>“Tidaklah seorang muslim bercocok tanam dengan tanaman apapun  kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya. Apa  saja yang dicuri orang darinya (tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa  yang dimakan binatang liar (dari tanamannya) menjadi sedekah baginya.  Apa yang dimakan burung darinya menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah  seseorang mengambil darinya melainkah itu juga akan menjadi sedekah  baginya.”</em> (HR. Muslim no. 1552)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong></p>
<p>Di antara rahmat Allah Ta’ala adalah Dia menjanjikan banyak pahala pada  berbagai bentuk amalan kebaikan walaupun yang sifatnya rendah di mata  kebanyakan manusia. Allah tidak menjadikan pahala sedekah hanya untuk  orang-orang yang kaya, akan tetapi juga menyediakan jalan-jalan sedekah  bagi mereka yang biasanya miskin, seperti para petani. Ini semua  merupakan bukti nyata bahwa Islam merupakan rahmat bagi sekalian alam.</p>
<p>Lihatlah bagaimana setiap petani -dengan syarat jika dia seorang  muslim- bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak dari siapa saja yang  makan dari hasil pertaniannya, baik itu manusia maupun binatang, baik  itu atas seizinnya maupun diambil tanpa seizinnya (dicuri). Ini  memperkuat sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu  Hurairah radhiallahu anhu:<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ</strong><br />
<em></em></p>
<p><em>“Berbuat baik kepada setiap makhluk hidup adalah berpahala.”</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Jika hasil tanamannya dimakan oleh orang lain melalui jalur jual beli, apakah petani tersebut tetap mendapatkan pahala?</p>
<p>Wallahu a’lam, lahiriah haditsnya bermakna umum. Dia mendapatkan pahala  dari setiap makhluk yang memakan hasil pertaniannya baik dia berikan  secara gratis maupun dia jual kepada orang lain.</p>
<p>Dipublikasikan oleh <a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/11/10/enaknya-jadi-petani/" target="_self">www.Salafiyunpad.wordpress.com</a> disalin dari http://al-atsariyyah.com/enaknya-jadi-petani.html</p>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/faidah/'>faidah</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/bercocok-tanam/'>bercocok tanam</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/bertani/'>bertani</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/enaknya-jadi-petani/'>enaknya jadi petani</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/pahala-petani/'>pahala petani</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/petani/'>petani</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/sedekah/'>sedekah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/8138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/8138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/8138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/8138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/8138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/8138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/8138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/8138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/8138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/8138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/8138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/8138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/8138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/8138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=8138&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/11/10/enaknya-jadi-petani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/11/petani.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">petani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/08/09/bermaaf-maafan-sebelum-ramadhan/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/08/09/bermaaf-maafan-sebelum-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 10:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kebiaasan]]></category>
		<category><![CDATA[maaf-maafan sebelum ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[minta maaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=6837</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Yulian Purnama -hafizhahullah- Kali ini akan kita bahas mengenai sebuah tradisi yang banyak dilestarikan oleh masyarakat, terutama di kalangan aktifis da’wah yang beramal tanpa didasari ilmu, tradisi tersebut adalah tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadhan. Ya, saya katakan demikian karena tradisi ini pun pertama kali saya kenal dari para aktifis da’wah kampus dahulu, dan ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=6837&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/08/salaman.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-6838" title="salaman" src="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/08/salaman.jpg?w=604" alt=""   /></a>Oleh Ustadz Yulian Purnama -hafizhahullah-</p>
<p>Kali ini akan kita bahas mengenai sebuah  tradisi yang banyak dilestarikan oleh masyarakat, terutama di kalangan  aktifis da’wah yang beramal tanpa didasari ilmu, tradisi tersebut adalah  tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadhan. Ya, saya katakan demikian  karena tradisi ini pun pertama kali saya kenal dari para aktifis da’wah  kampus dahulu, dan ketika itu saya amati banyak masyarakat awam <em>malah</em> tidak tahu tradisi ini. Dengan kata lain, bisa jadi tradisi ini  disebarluaskan oleh mereka para aktifis da’wah yang kurang mengilmu apa  yang mereka da’wahkan bukan disebarluaskan oleh masyarakat awam. Dan  perlu diketahui, bahwa tradisi ini tidak pernah diajarkan oleh Islam.</p>
<p>Mereka yang melestarikan tradisi ini beralasan dengan hadits yang terjemahannya sebagai berikut:<span id="more-6837"></span></p>
<p><em>Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam  bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para  sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan  spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa  Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at,  para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan:  “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik,  hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.</em></p>
<p><em>Do’a Malaikat Jibril itu adalah:<br />
“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:</em></p>
<p><em>1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);<br />
2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;<br />
3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. </em></p>
<p>Namun anehnya, hampir semua orang yang  menuliskan hadits ini tidak ada yang menyebutkan periwayat hadits.  Setelah dicari, hadits ini pun tidak ada di kitab-kitab hadits. Setelah  berusaha mencari-cari lagi, saya menemukan ada orang yang menuliskan  hadits ini kemudian menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu  Khuzaimah (3/192) dan Ahmad (2/246, 254). Ternyata pada kitab <em>Shahih Ibnu Khuzaimah</em> (3/192) juga pada kitab <em>Musnad Imam</em> <em>Ahmad</em> (2/246, 254) ditemukan hadits berikut:</p>
<p>عن  أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين  آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل :  أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم  أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال :  رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين  قال الأعظمي :  إسناده جيد</p>
<p>“<em>Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik  mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya :  “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau  bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang  hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan,  ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba  yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya  masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku  berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang  hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan,  ‘Amin”.</em>” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”.</p>
<p>Hadits ini dishahihkan oleh Al Mundziri di <em>At Targhib Wat Tarhib</em> (2/114, 406, 407, 3/295), juga oleh Adz Dzahabi dalam <em>Al Madzhab</em> (4/1682), dihasankan oleh Al Haitsami dalam <em>Majma’ Az Zawaid</em> (8/142), juga oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Al Qaulul Badi</em>‘ (212), juga oleh Al Albani di <em>Shahih At Targhib</em> (1679).</p>
<p>Dari sini jelaslah bahwa kedua hadits tersebut di atas adalah dua  hadits yang berbeda. Entah siapa orang iseng yang membuat hadits  pertama. Atau mungkin bisa jadi pembuat hadits tersebut mendengar hadits  kedua, lalu menyebarkannya kepada orang banyak dengan ingatannya yang  rusak, sehingga berubahlah makna hadits. Atau bisa jadi juga, pembuat  hadits ini berinovasi membuat tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadhan,  lalu sengaja menyelewengkan hadits kedua ini untuk mengesahkan tradisi  tersebut. Yang jelas, hadits yang tidak ada asal-usulnya, kita pun tidak  tahu siapa yang mengatakan hal itu, sebenarnya itu bukan hadits dan  tidak perlu kita hiraukan, apalagi diamalkan.</p>
<p>Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>من  كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون  دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له  حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه</p>
<p>“<em>Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka  hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh  saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham.  Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan  dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki  amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia  zhalimi</em>” (HR. Bukhari no.2449)</p>
<p>Dari hadits ini jelas bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, <strong>jika berbuat kesalahan kepada orang lain</strong>.  Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semua orang yang  ditemui, tidak pernah diajarkan oleh Islam. Jika ada yang berkata:  “Manusia khan tempat salah dan dosa, mungkin saja kita berbuat salah  kepada semua orang tanpa disadari”. Yang dikatakan itu memang benar,  namun apakah serta merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita  temui? Mengapa Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dan para  sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal mereka orang-orang yang  paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak sengaja atau  tidak disadari tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah Ta’ala.  Sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p>إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa</em>” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, di shahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)</p>
<p>Sehingga, perbuatan meminta maaf kepada semua orang tanpa sebab bisa terjerumus pada <em>ghuluw</em> (berlebihan) dalam beragama.</p>
<p>Dan kata اليوم (hari ini) menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat  dilakukan kapan saja dan yang paling baik adalah meminta maaf dengan  segera, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Sehingga  mengkhususkan suatu waktu untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin  setiap tahun tidak dibenarkan dalam Islam dan bukan ajaran Islam.</p>
<p>Namun bagi seseorang yang memang memiliki kesalahan kepada saudaranya  dan belum menemukan momen yang tepat untuk meminta maaf, dan menganggap  momen datangnya Ramadhan adalah momen yang tepat, tidak ada larangan  memanfaatkan momen ini untuk meminta maaf kepada orang yang pernah  dizhaliminya tersebut. Asalkan tidak dijadikan kebiasaan sehingga  menjadi ritual rutin yang dilakukan setiap tahun.</p>
<p><em>Wallahu’alam</em>.</p>
<p>Sumber: http://kangaswad.wordpress.com/2009/08/16/bermaafan-sebelum-ramadhan/</p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/bidah/'>bid'ah</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/islam/'>islam</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/kebiaasan/'>kebiaasan</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/maaf-maafan-sebelum-ramadhan/'>maaf-maafan sebelum ramadhan</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/minta-maaf/'>minta maaf</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/ramadhan/'>Ramadhan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/6837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/6837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/6837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/6837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/6837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/6837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/6837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/6837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/6837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/6837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/6837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/6837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/6837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/6837/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=6837&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/08/09/bermaaf-maafan-sebelum-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/08/salaman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">salaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanya Jawab: Di Manakah Posisi Kedua Tangan Saat Berdiri Shalat?</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/06/21/di-manakah-posisi-kedua-tangan-saat-berdiri-shalat/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/06/21/di-manakah-posisi-kedua-tangan-saat-berdiri-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 08:53:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi syariah]]></category>
		<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[posisi tangan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=5838</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Mustamin Musaruddin, Lc. PERTANYAAN Dalam praktik shalat, ketika berdiri, ada sebagian orang yang meletakkan kedua tangannya di atas dada, pusar, dan lain-lain. Bagaimanakah tuntunan yang sebenarnya dalam masalah ini? JAWABAN Telah tetap tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dalam hadits-hadits yang sangat banyak, bahwa pada saat berdiri dalam shalat, tangan kanan diletakkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=5838&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;"><strong><img class="alignright" src="http://maramissetiawan.files.wordpress.com/2009/06/sedekap.jpg?w=320&h=213" alt="" width="320" height="213" />Oleh Mustamin Musaruddin, Lc. </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>PERTANYAAN </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dalam praktik shalat, ketika berdiri, ada sebagian orang yang  meletakkan kedua tangannya di atas dada, pusar, dan lain-lain.  Bagaimanakah tuntunan yang sebenarnya dalam masalah ini?<span id="more-5838"></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>JAWABAN </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Telah tetap tuntunan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa  sallam</em>, dalam hadits-hadits yang sangat banyak, bahwa pada saat  berdiri dalam shalat, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, dan  ini merupakan pendapat jumhur tabi’in dan kebanyakan ahli fiqih, bahkan  Imam At-Tirmidzy berkata, “Dan amalan di atas ini adalah amalan di  kalangan ulama dari para shahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah  mereka ….” Lihat <strong><em> Sunan</em></strong> -nya 2/32.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Akan tetapi, ada perbedaan pendapat tentang tempat meletakkan kedua  tangan (posisi ketika tangan kanan di atas tangan kiri) ini di kalangan  ulama, dan inilah yang menjadi pembahasan untuk menjawab pertanyaan di  atas.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Berikut ini pendapat para ulama dalam masalah ini, diringkas dari  buku <strong><em> La Jadida Fi Ahkam Ash-Shalah</em></strong> karya Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pendapat Pertama</strong> , kedua tangan diletakkan pada <em>an-nahr.</em><em>An-nahr</em> adalah anggota badan antara di atas dada dan di bawah leher. Seekor  onta yang akan disembelih, maka disembelih pada <em>nahr</em>-nya dengan  cara ditusuk dengan ujung pisau. Itulah sebabnya hari ke-10 Dzulhijjah,  yaitu hari raya ‘Idul Adha (Qurban), disebut juga <em>yaumun nahr </em>-hari  <em>An-Nahr</em> (hari penyembelihan)-. </span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pendapat Kedua</strong> , kedua tangan diletakkan di atas  dada. Ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’iy pada salah satu riwayat  darinya, pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim Al-Jauzy dan  Asy-Syaukany, serta merupakan amalan Ishaq bin Rahawaih. Pendapat ini  dikuatkan oleh Syaikh Al-Albany dalam kitab <strong><em> Ahkamul Jana`</em></strong><strong><em> iz</em></strong> dan <strong><em> Sifat Shalat</em></strong><strong><em> Nabi</em></strong></span> .</p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pendapat Ketiga</strong> ,kedua tangan  diletakkan di antara dada dan pusar (lambung/perut). Pendapat ini adalah  sebuah riwayat pada madzhab Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad, sebagaimana  disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syaukany dalam <strong><em> Nailul Authar</em></strong> . Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Imam Nawawy dalam Madzhab Asy-Syafi’i,  dan merupakan pendapat Sa’id bin Jubair dan Daud Azh-Zhahiry  sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawy dalam <strong><em> Al-Majmu’</em></strong> (3/313). </span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pendapat Keempat</strong> , kedua tangan diletakkan di atas  pusar. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan  dinukil dari Ali bin Abi Thalib dan Sa’id bin Jubair.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pendapat Kelima</strong> ,kedua tangan  diletakkan di bawah pusar. Ini adalah pendapat madzhab Al-Hanafiyah bagi  laki-laki, Asy-Syafi’iy dalam sebuah riwayat, Ahmad, Ats-Tsaury dan  Ishaq </span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pendapat Keenam</strong> ,kedua tangan  bebas diletakkan dimana saja: di atas pusar, di bawahnya, atau di atas  dada. </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Imam Ahmad ditanya, “Dimana seseorang meletakkan tangannya apabila  ia shalat?” Beliau menjawab, “Di atas atau di bawah pusar.” Semua itu  ada keluasan menurut Imam Ahmad diletakkan di atas pusar, sebelumnya  atau di bawahnya. Lihat <strong><em> Bada`i’ul Fawa`id</em></strong> 3/91 karya Ibnul Qayyim.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Berkata Imam Ibnul Mundzir sebagaimana dalam <strong><em> Nailul</em></strong><strong><em>Authar</em></strong> , “Tidak ada sesuatu pun yang <em>tsabit</em> (baca: shahih) dari Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa alihi wa sallam</em>, maka ia diberi pilihan.” Perkataan ini  serupa dengan perkataan Ibnul Qayyim sebagaimana yang dinukil dalam <strong><em> Hasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’</em></strong> (2/21).</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendapat ini merupakan pendapat para ulama di kalangan shahabat,  tabi’in dan setelahnya. Demikian dinukil oleh Imam At-Tirmidzy.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ibnu Qasim, dalam <strong><em> Hasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’</em></strong> (2/21), menisbahkan pendapat ini kepada Imam Malik.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits  Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy <em>rahimahullah</em> karena tidak ada hadits  yang shahih tentang penempatan kedua tangan saat berdiri melaksanakan  shalat.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Dalil-Dalil Setiap Pendapat dan Pembahasannya </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> <span style="text-decoration:underline;">Dalil Pendapat Pertama </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dalil yang dipakai oleh pendapat ini adalah atsar yang diriwayatkan  dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> tentang tafsir firman Allah  <em>Ta’ala</em>,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan  berqurbanlah.”</em> [<strong> Al-Kautsar: 2</strong> ]</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Beliau(?) berkata (menafsirkan ayat di atas -pent.),</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> وَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلاَةِ عِنْدَ  النَّحْرِ </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat pada </em> an-nahr<em>.”</em> (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy 2/31)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pembahasan </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Riwayat ini lemah karena pada sanadnya terdapat Ruh bin Al-Musayyab  Al-Kalby Al-Bashry yang dikatakan oleh Ibnu Hibban bahwa ia meriwayatkan  hadits-hadits palsu dan tidak halal meriwayatkan hadits darinya. Lihat <strong><em> Al-Jauhar An-Naqy</em></strong> .</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> <span style="text-decoration:underline;">Dalil Pendapat Kedua </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Dalil pertama</strong> , hadits Qabishah bin Hulb Ath-Tha’iy  dari bapaknya, Hulb <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia berkata,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ  وَسَلَّمَ يَضَعُ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ عَلَى صَدْرِهِ وَوَصَفَ يَحْيَى  الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَوْقَ الْمِفْصَلِ </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam  meletakkan ini di atas ini, di atas dadanya -dan yahya (salah seorang  perawi -pent.) mencontohkan tangan kanan di atas pergelangan tangan  kiri-.” </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pembahasan </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dalam <strong><em> Musnad</em></strong> -nya (5/226) dan Ibnul Jauzy dalam <strong><em> At-Tahqiq</em></strong> no. 434 (dan lafazh hadits baginya) dari jalan Yahya bin Sa’id  Al-Qaththan, dari Sufyan Ats-Tsaury, dari Simak bin Harb, dari Qabishah  bin Hulb.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hadits ini diriwayatkan dari Hulb Ath-Tha’iy oleh anaknya, Qabishah,  dan dari Qabishah hanya diriwayatkan oleh Simak bin Harb. Selanjutnya,  dari Simak bin Harb diriwayatkan oleh 6 orang, yaitu:</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#000000;"> Sufyan Ats-Tsaury, akan disebutkan takhrijnya. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Abul Ahwash, diriwayatkan oleh At-Tirmidzy no. 252, Ibnu Majah no.  809, Ahmad 5/227, ‘Abdullah bin Ahmad dalam <strong><em> Zawa`id  Al-Musnad</em></strong> 5/227, Ath-Thabarany  22/165/424, Al-Baghawy 3/31, dan Ibnul Jauzy dalam <strong><em> At-Tahqiq</em></strong> no. 435. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Syu’bah bin Al-Hajjaj, diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam <strong><em> Al-Ahad Wal Matsany</em></strong> no. 2495 dan  Ath-Thabarany 22/163/416. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Syarik bin ‘Abdillah, diriwayatkan oleh Ahmad 5/226, Ibnu Abi  ‘Ashim dalam <strong><em> Al-Ahad Wal Matsany</em></strong> no. 2493, Ibnu Qani’ dalam <strong><em> Mu’jam Ash-Shahabah</em></strong> 3/198, Ath-Thabarany 22/16/426, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam <strong><em> At-Tamhid</em></strong> 20/73. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Asbath bin Nashr, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/422. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Hafsh bin Jami’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/423. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Za`idah bin Qudamah, diriwayatkan oleh Ibnu Qani’ dalam <strong><em> Mu’jam Ash-Shahabah</em></strong> 3/198. </span></li>
</ol>
<p><span style="color:#000000;">Dari ketujuh orang ini, tidak ada yang meriwayatkan lafazh “<em>Meletakkan  ini atas yang ini, di atas dadanya</em>”, kecuali riwayat Yahya bin  Sa’id Al-Qaththan dari Sufyan Ats-Tsaury, yang dikeluarkan oleh Imam  Ahmad 5/226 dan Ibnul Jauzy dalam <strong><em> At-Tahqiq</em></strong> no. 434.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kemudian, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan bersendirian dalam  meriwayatkan lafazh tersebut dan menyelisihi 5 rawi <em>tsiqah</em> lainnya dari Sufyan Ats-Tsaury, yang kelima orang tersebut meriwayatkan  hadits ini tanpa tambahan lafazh “<em>Meletakkannya di atas dada</em>”.  Kelima rawi tersebut adalah:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;"> Waki’ bin Jarrah, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 1/342/3934,  Ahmad 5/226, 227, Ibnu Abi ‘Ashim no. 2494, Ad-Daraquthny 1/285,  Al-Baihaqy 2/29, Al-Baghawy 3/32, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam <strong><em> At-Tamhid</em></strong></span> 20/74.</li>
<li><span style="color:#000000;">‘Abdurrahman bin Mahdy, diriwayatkan oleh Ad-Daraquthny 1/285. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> ‘Abdurrazzaq dalam <strong><em> Al-Mushannaf</em></strong> 2/240/3207 dan dari jalannya Ath-Thabarany 22/163/415 </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Muhammad bin Katsir, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/421. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Al-Husain bin Hafsh, diriwayatkan oleh Al-Baihaqy 2/295. </span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;">Hadits Qabishah adalah hadits yang hasan dari seluruh jalan-jalannya.  Dihasankan oleh At-Tirmidzy 2/32 dan diakui kehasanannya oleh An-Nawawy  dalam <strong><em> Al-Majmu’</em></strong> 2/312.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Penyebab hasannya adalah Qabishah bin Hulb, meskipun mendapatkan <em>tautsiq</em> dari sebagian ulama, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Simak  bin Harb. Berkata Ibnu Hajar di dalam <em>At-Taqrib</em>, “<em>Maqbul</em>,”  yang artinya riwayatnya bisa diterima kalau ada pendukungnya, kalau  tidak ada maka riwayatnya lemah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Riwayat yang hasan tersebut adalah tanpa tambahan lafazh “Meletakkan  tangannya di atas dada”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Jadi jelaslah, bahwa Yahya bin Sa’id bersendirian dalam meriwayatkan  lafazh “<em>meletakkan ini atas yang ini, di atas dadanya</em>”, dan  menyelisihi 6 orang lainnya dari Sufyan Ats-Tsaury, dan menyelisihi <em>Ashab</em> (baca: murid-murid) Simak bin Harb yang lain, seperti Za`idah bin  Qudamah, Syu’bah, Abul Ahwash, Asbath bin Nashr, Syarik bin ‘Abdillah,  dan Hafsh bin Jami’. Maka jelaslah bahwa terdapat kesalahan pada riwayat  tersebut, sehingga dihukumi sebagai riwayat yang <em>syadz </em>‘ganjil’  atau <em>mudraj</em>, tetapi kami tidak bisa menentukan dari mana asal  dan kepada siapa ditumpukan kesalahan ini. <em>Wallahu a’lam</em>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Dalil kedua</strong> , Hadits Wa`il bin Hujr <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>, dia berkata,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى  عَلَى صَدْرِهِ </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas  dadanya.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pembahasan </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dalam <strong><em> Shahih</em></strong> -nya 1/243 no. 479 dari jalan Abu Musa (Al-‘Anazy),  dari Mu`ammal (bin Isma’il), dari Sufyan Ats-Tsaury, dari ‘Ashim bin  Kulaib, dari bapaknya, dari Wa`il bin Hujr <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Riwayat ini adalah riwayat yang <em>syadz</em> atau <em>mungkar </em>karena  Mu`ammal bin Isma’il meriwayatkannya dengan tambahan lafazh “<em>di  atas dada</em>”, dan dia menyelisihi 2 orang selainnya yang meriwayatkan  dari Sufyan, yaitu:</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#000000;"> ‘Abdullah bin Al-Walid (diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/318). </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Muhammad bin Yusuf Al-Firiyaby (<strong><em> Al-Mu’jamul Kabir</em></strong> /Ath-Thabarany no. 78). </span></li>
</ol>
<p><span style="color:#000000;">Juga meyelisihi 10 orang yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib.  Kesepuluh orang tersebut adalah:</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#000000;"> Bisyr bin Al-Mufadhdhal, diriwayatkan oleh Imam Abu Daud 1/456 no.  726, 1/578 no. 957 dari jalan Musaddad, darinya (Bisyr bin  Al-Mufadhdhal), dan An-Nasa`i 3/35 hadits no. 1265 dari jalan Isma’il  bin Mas’ud, darinya. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> ‘Abdullah bin Idris, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam <strong><em> Shahih</em></strong> -nya (<strong><em> Al-Ihsan</em></strong> 3/308/hadits no. 1936) dari jalan Muhammad bin ‘Umar bin Yusuf, dari  Sallam bin Junadah, darinya (‘Abdullah bin Idris). </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> ‘Abdul Wahid bin Ziyad, diriwayatkan oleh Ahmad 4/316 dari jalan  Yunus bin Muhammad, darinya, Al-Baihaqy 2/72 dari jalan Abul Hasan ‘Ali  bin Ahmad bin ‘Abdan, dari Ahmad bin ‘Ubeid Ash-Shaffar, dari ‘Utsman  bin ‘Umar Adh-Dhabby, dari Musaddad, darinya. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Zuhair bin Mu’awiyah, diriwayatkan oleh Ahmad 4/318 dari jalan  Aswad bin ‘Amir, darinya, dan Ath-Thabarany dalam <strong><em> Al-Mu’jamul Kabir</em></strong> 22/26/84 dari jalan  ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz, dari Abu Ghassan Malik bin Isma’il, darinya. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Khalid bin Abdullah Ath-Thahhan, diriwayatkan oleh Al Baihaqy 2/131  dari 2 jalan, yaitu dari jalan Abu Sa’id Muhammad bin Ya’qub  Ats-Tsaqafy, dari Muhammad bin Ayyub, dari Musaddad, darinya, dan dari  jalan Abu ‘Abdillah Al-Hafizh, dari ‘Ali bin Himsyadz, dari Muhammad bin  Ayyub, dan seterusnya seperti jalan di atas. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Sallam bin Sulaim Abul Ahwash, diriwayatkan oleh Abu Daud  Ath-Thayalisy di dalam <strong><em> Musnad</em></strong> -nya hal  137/hadits 1060 darinya, dan Ath-Thabarany (<strong><em> Al-Mu’jamul  Kabir</em></strong> 22/34/80) dari jalan Al-Miqdam bin  Daud, dari Asad bin Musa, darinya. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Abu ‘Awanah, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany dalam <strong><em> Al-Mu’jamul Kabir</em></strong> 22/34/90 dari 2 jalan:  dari jalan ‘Ali bin ‘Abdil ‘Aziz, dari Hajjaj bin Minhal, darinya, dan  dari jalan Al-Miqdam bin Daud, dari Asad bin Musa, darinya. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Qais Ar-Rabi’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany dalam <strong><em> Al-Mu’jamul Kabir</em></strong> 22/34/79 dari jalan  Al-Miqdam bin Daud, dari Asad bin Musa, darinya. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Ghailan bin Jami’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/34/88 dari  jalan Al-Hasan bin ‘Alil Al-‘Anazy dan Muhammad bin Yahya bin Mandah  Al-Ashbahany dari Abu Kuraib, dari Yahya bin Ya’la, dari ayahnya,  darinya. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Zaidah bin Qudamah, diriwayatkan oleh Ahmad 4/318 dari jalan  ‘Abdushshamad, darinya. </span></li>
</ol>
<p><span style="color:#000000;">Mu`ammal bin Isma’il sendiri adalah rawi yang dicela hafalannya.  Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam <strong><em> Taqribut Tahdzib</em></strong> ,memberikan kesimpulan, “<em>Shaduqun Sayyi`ul Hifzh</em>,”  sementara dia(?) sendiri telah menyelisihi ‘Abdul Wahid dan Muhammad  bin Yusuf Al-Firiyaby pada periwayatannya dari Sufyan Ats-Tsaury, serta  menyelisihi 10 orang rawi dari ‘Ashim bin Kulaib lainnya yang sebagian  besarnya adalah <em>tsiqah</em> dan semuanya tidak ada yang meriwayatkan  lafazh “<em>pada dadanya</em>”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ada jalan lain bagi hadits Wa`il bin Hujr ini, yaitu diriwayatkan  oleh Al-Baihaqy 2/30 dari jalan Muhammad bin Hujr Al-Hadhramy, dari  Sa’id bin ‘Abdil Jabbar bin Wa`il, dari ayahnya, dari ibunya, dari Wa`il  bin Hujr, tetapi terdapat beberapa kelemahan di dalamnya:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;"> Muhammad bin Hujr lemah haditsnya, bahkan Imam Adz-Dzahaby, dalam <strong><em> Mizanul I’tidal</em></strong> ,mengatakan, “<em>Lahu  manakir ‘meriwayatkan hadits-hadits mungkar’</em>.” Lihat juga <strong><em> Lisanul Mizan</em></strong> . </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Sa’id bin ‘Abdul Jabbar, dalam <strong><em> At-Taqrib</em></strong> ,disebutkan bahwa ia adalah rawi dha’if. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Ibu ‘Abdul Jabbar. Berkata Ibnu Turkumany dalam <strong><em> Al-Jauhar An-Naqy</em></strong> , “Saya tidak tahu keadaan dan namanya.” </span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Dalil ketiga</strong> , hadits Thawus bin Kaisan secara <em>mursal</em>,  dia berkata,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ  بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلاَةِ </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau  meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian  mengeratkannya di atas dadanya,</em><em>dan beliau dalam keadaan  shalat.” </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pembahasan </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud di dalam kitabnya, <strong><em> As-Sunan</em></strong> , no. 759 dan dalam <strong><em> Al-Marasil</em></strong> hal. 85 dari jalan Abu Taubah, dari Al-Haitsam bin Humaid, dari Tsaur  bin Zaid, dari Sulaiman bin Musa, dari Thawus. Sanadnya shahih kepada  Thawus, tetapi haditsnya <em>mursal</em>, dan <em>mursal </em>adalah  jenis hadits yang lemah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Dalil keempat</strong> , Hadits ‘Ali bin Abi Thalib tentang  firman Allah <em> Ta’ala</em> ,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan  berqurbanlah.”</em> [<strong> Al-Kautsar: 2</strong> ]</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Beliau berkata,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى وَسَطِ سَاعِدِهِ الْيُسْرَى  ثُمَّ وَضَعَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ فِي الصَّلاَةِ </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Beliau meletakkan tangan kanannya di atas </em> sa’id <em> ‘</em><em> setengah jarak pertama dari pergelangan ke siku</em><em> ’</em><em> tangan kirinya, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas dadanya di  dalam shalat.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam <strong><em> Tafsir</em></strong> -nya 30/326, Al-Bukhary dalam <strong><em> Tarikh</em></strong> -nya  3/2/437, dan Al-Baihaqy 2/30.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Pembahasan </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Berkata Ibnu Katsir dalam <strong><em> Tafsir</em></strong> -nya,  “(Atsar) ini, (yang) diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, tidak shahih  (lemah-pent.).”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Berkata Ibnu Turkumany dalam <strong><em> Al-Jauhar An-Naqy</em></strong> , “Di dalam sanad dan matannya ada kegoncangan.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Berikut rincian kelemahan dan kegoncangan atsar ini.</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#000000;"> Atsar ini telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dalam <strong><em> Al-Mushannaf</em></strong> 1/343, Ad-Daraquthny 1/285,  Al-Hakim 2/586, Al-Baihaqy 2/29, Al-Maqdasy dalam <strong><em> Al-Mukhtarah</em></strong> no. 673, dan Al-Khatib dalam  <strong><em> Mudhih Auham Al-Jama’ Wa At-Tafriq</em></strong> 2/340. Semuanya tidak ada yang menyebutkan kalimat “<em>di atas dada</em>”,  bahkan dalam riwayat Ibnu ‘Abdil Barr, dalam <strong><em> At-Tamhid</em></strong> ,disebutkandengan lafazh “<em>di  bawah pusar</em>”. Lihat pula <strong><em> Al-Jarh Wat Ta’dil</em></strong> 6/313. </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> Perputaran atsar ini ada pada seorang rawi yang bernama ‘Ashim bin  Al-‘Ujaj Al-Jahdary, yang dari biografinya bisa disimpulkan bahwa ia  adalah seorang rawi yang <em>maqbul</em>. Baca <strong><em> Mizanul  I’tidal</em></strong> dan <strong><em> Lisanul Mizan</em></strong> . </span></li>
<li><span style="color:#000000;"> ‘Ashim ini telah goncang dalam meriwayatkan hadits ini. Kadang dia  meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Zhahir, kadang dari ‘Uqbah bin Zhabyan,  kadang dari ‘Uqbah bin Shahban, dan kadang dari ayahnya, dari ‘Uqbah bin  Zhabyan. Baca <strong><em>‘</em></strong><strong><em> Ilal  Ad-Daraquthny</em></strong> 4/98-99. </span></li>
</ol>
<p><span style="color:#000000;">Maka atsar ini adalah lemah. Ibnu Katsir juga menyebutkan dalam <strong><em> Tafsir</em></strong> -nya bahwa atsar ini menyelisihi jumhur  mufassirin. <em>Wallahu a’lam</em>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Kesimpulan </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Seluruh hadits yang menunjukkan bahwa kedua tangan diletakkan pada  dada ketika berdiri dalam shalat adalah lemah dari seluruh  jalan-jalannya dan tidak bisa saling menguatkan. <em>Wallahu a’lam</em>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> <span style="text-decoration:underline;">Dalil-Dalil Pendapat Ketiga, Keempat dan Kelima </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dalil-dalil ketiga pendapat ini mungkin bisa kembali kepada  dalil-dalil yang akan disebutkan, namun perbedaan dalam memetik hukum,  memandang dalil, dan mengkompromikannya dengan dalil yang lain  menyebabkan terlihatnya persilangan dari ketiga pendapat tersebut.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Berikut ini uraian dalil-dalilnya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Dalil pertama</strong> , dari ‘Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,  beliau berkata,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> إِنَّ مِنَ السُّنَّةِ فِي الصَّلاَةِ وَضَعَ الْأَكُفِّ  عَلَى الْأَكُفِّ تَحْتَ السُّرَّةِ </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Sesungguhnya termasuk Sunnah dalam shalat adalah meletakkan  telapak tangan di atas telapak tangan di bawah pusar.” </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Diriwayatkan oleh Ahmad 1/110, Abu Daud no. 756, Ibnu Abi Syaibah  1/343/3945, Ad-Daraquthny 1/286, Al-Maqdasy no. 771,772, dan Ibnu ‘Abdil  Barr dalam <strong><em> At-Tamhid</em></strong> 20/77.  Dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdurrahman bin Ishak Al-Wasity  yang para ulama telah sepakat untuk melemahkannya sebagaimana dalam <strong><em> Nashbur Rayah</em></strong> 1/314.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Dalil kedua</strong> ,dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>, beliau berkata,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> وَضْعُ الْكَفِّ عَلَى الْكَفِّ فِي الصَّلاَةِ تَحْتَ  السُّرَّةِ مِنَ السُّنَّةِ </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan  di bawah pusar di dalam shalat termasuk sunnah.” </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 758. Dalam sanadnya juga terdapat  ‘Abdurrahman bin Ishak Al-Wasity.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Dalil ketiga</strong> , dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>, beliau berkata,</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> مِنْ أَخْلاَقِ النُّبُوَّةِ وَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى  الشِّمَالِ تَحْتَ السُّرَّةِ </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Termasuk akhlak-akhlak kenabian, meletakkan tangan kanan di  atas tangan kiri di bawah pusar.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ibnu Hazm menyebutkannya secara <em>mu’allaq</em> ‘tanpa sanad’  dalam <strong><em> Al-Muhalla</em></strong> 4/157.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> Kesimpulan Pembahasan </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa seluruh hadits-hadits yang  menerangkan tentang penempatan (posisi) kedua tangan pada anggota badan  dalam shalat adalah hadits-hadits yang lemah. Dengan ini, bisa  disimpulkan bahwa pendapat yang kuat dalam permasalahan ini adalah  pendapat keenam, yaitu bisa diletakkan dimana saja: di dada, di pusar,  di bawah pusar, atau antara dada dan pusar. <em>Wallahu a’lam</em>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Disalin dari </span>http://an-nashihah.com/?p=89</p>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/fiqih/'>fiqih</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/konsultasi-syariah/'>konsultasi syariah</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/fikih/'>fikih</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/hadits/'>Hadits</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/posisi-tangan/'>posisi tangan</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/shalat/'>shalat</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/tanya-jawab/'>tanya jawab</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/5838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/5838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/5838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/5838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/5838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/5838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/5838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/5838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/5838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/5838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/5838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/5838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/5838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/5838/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=5838&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/06/21/di-manakah-posisi-kedua-tangan-saat-berdiri-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://maramissetiawan.files.wordpress.com/2009/06/sedekap.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Download Kajian Akbar Solo: JALAN SELAMAT DI TENGAH PERPECAHAN UMAT (Ust. Abdul Hakim Abdat) [BARU]</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/05/09/download-kajian-akbar-solo-jalan-selamat-di-tengah-perpecahan-umat-ust-abdul-hakim-abdat-baru/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/05/09/download-kajian-akbar-solo-jalan-selamat-di-tengah-perpecahan-umat-ust-abdul-hakim-abdat-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 14:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOWNLOAD AUDIO]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=5391</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, pada kesempatan kali ini, kami hadirkan rekaman Kajian Akbar yang disampaikan oleh al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah di Masjid Raya Karanganyar (Ahad, 9 Mei 2010). Kajian beliau pada acara ini mengambil tema JALAN SELAMAT DI TENGAH PERPECAHAN UMAT. Semoga bermanfaat yach. Langsung ajah download rekaman kajiannya pada link berikut: JALAN SELAMAT [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=5391&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/05/ust-hakim-9-mei.jpg"><img class="size-medium wp-image-5392  aligncenter" title="ust-hakim-9-mei" src="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/05/ust-hakim-9-mei.jpg?w=207&h=300" alt="" width="207" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Bismillah, pada kesempatan kali ini, kami hadirkan rekaman Kajian Akbar yang disampaikan oleh al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah di Masjid Raya Karanganyar (Ahad, 9 Mei 2010).</p>
<p style="text-align:left;">Kajian beliau pada acara ini mengambil tema JALAN SELAMAT DI TENGAH PERPECAHAN UMAT.</p>
<p style="text-align:left;">Semoga bermanfaat yach. Langsung ajah download rekaman kajiannya pada link berikut:<img title="Selebihnya..." src="http://salafiyunpad.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-5391"></span></p>
<blockquote><p><a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2001.mp3?l=12" target="_self">JALAN SELAMAT DI TENGAH PERPECAHAN UMAT 01</a></p>
<p><a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2002.mp3?l=12" target="_self">JALAN SELAMAT DI TENGAH PERPECAHAN UMAT 02</a></p>
<p><a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2003.mp3?l=12" target="_self">JALAN SELAMAT DI TENGAH PERPECAHAN UMAT 03</a></p>
<p><a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2004.mp3?l=12" target="_self">JALAN SELAMAT DI TENGAH PERPECAHAN UMAT 04</a></p></blockquote>
<p><span style="color:#ff0000;">Bonus Kajian Bersama Ustadz Abdul Hakim Abdat:</span></p>
<h2><a rel="bookmark" href="../2010/05/08/download-audio-ceramah-umum-ustadz-abdul-hakim-abdat-di-mahad-al-ukhuwah-8-mei-2010/">Download Audio: Ceramah Umum Ustadz Abdul Hakim Abdat di Ma’had al Ukhuwah (8 Mei 2010)</a></h2>
<h2><a rel="bookmark" href="../2010/05/11/download-audio-ceramah-ustadz-abdul-hakim-di-mahad-imam-bukhari-9-mei-2010/">Download Audio: Ceramah Ustadz Abdul Hakim di Ma’had Imam Bukhari (9 mei 2010)</a></h2>
<p><span style="color:#ff0000;">INFORMASI KAJIAN AKBAR BERIKUTNYA DI SOLO RAYA:</span></p>
<h2><a rel="bookmark" href="../2010/05/03/kajian-akbar-bedah-buku-mencetak-generasi-rabbani-bersama-ustadz-abu-ihsan-al-atsari-sragen-16-mei-2010/">Kajian Akbar &amp; Bedah Buku “MENCETAK GENERASI RABBANI!” bersama Ustadz Abu Ihsan Al Atsari (Sragen, 16 Mei 2010)</a></h2>
<h2><a rel="bookmark" href="../2010/05/07/dauroh-manhajiyah-mengapa-aku-bangga-bermanhaj-salaf-sragen-22-23-mei-2010/">Dauroh Manhajiyah: MENGAPA AKU BANGGA BERMANHAJ SALAF? (Sragen, 22-23 Mei 2010)</a></h2>
<p><span style="color:#ff0000;">Klik juga link berikut (yuk berinfaq untuk dakwah ^_^):</span></p>
<h2><a rel="bookmark" href="../2010/05/06/kesempatan-berinfaq-sekaligus-berdakwah-proposal-kajian-akbar-bersama-ustadz-abu-ihsan-al-atsari-sragen-16-mei-2010/">KESEMPATAN BERINFAQ SEKALIGUS BERDAKWAH: Proposal Kajian Akbar Bersama Ustadz Abu Ihsan Al Atsari (Sragen, 16 Mei 2010)</a></h2>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/download-audio/'>DOWNLOAD AUDIO</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/manhaj/'>manhaj</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/aqidah/'>aqidah</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/download-audio/'>DOWNLOAD AUDIO</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/hadits/'>Hadits</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/manhaj/'>manhaj</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/manhaj-salaf/'>manhaj Salaf</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/5391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/5391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/5391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/5391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/5391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/5391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/5391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/5391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/5391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/5391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/5391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/5391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/5391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/5391/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=5391&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/05/09/download-kajian-akbar-solo-jalan-selamat-di-tengah-perpecahan-umat-ust-abdul-hakim-abdat-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2001.mp3?l=12" length="22167565" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2001.mp3?l=12" length="22167565" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2001.mp3?l=12" length="22167565" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2001.mp3?l=12" length="22167565" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2001.mp3?l=12" length="22167565" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2001.mp3?l=12" length="22167565" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2002.mp3?l=12" length="9485367" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2002.mp3?l=12" length="9485367" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2002.mp3?l=12" length="9485367" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2002.mp3?l=12" length="9485367" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2002.mp3?l=12" length="9485367" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2002.mp3?l=12" length="9485367" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2002.mp3?l=12" length="9485367" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2003.mp3?l=12" length="7900126" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2003.mp3?l=12" length="7900126" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2003.mp3?l=12" length="7900126" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2003.mp3?l=12" length="7900126" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2003.mp3?l=12" length="7900126" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2003.mp3?l=12" length="7900126" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2003.mp3?l=12" length="7900126" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2004.mp3?l=12" length="10232469" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2004.mp3?l=12" length="10232469" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2004.mp3?l=12" length="10232469" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2004.mp3?l=12" length="10232469" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2004.mp3?l=12" length="10232469" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat/Jalan%20Selamat%20di%20Tengah%20Perpecahan%20Umat%2004.mp3?l=12" length="10232469" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/05/ust-hakim-9-mei.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">ust-hakim-9-mei</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salafiyunpad.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PANDUAN SHALAT ISTIKHARAH</title>
		<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/03/02/panduan-shalat-istikharah/</link>
		<comments>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/03/02/panduan-shalat-istikharah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 04:07:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SALAFIYUNPAD™</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[istikharah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat istikharah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiyunpad.wordpress.com/?p=4706</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, Dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=4706&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah Allah <em>Ta’ala</em> kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan do’a supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.</p>
<p>Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah <em>Ta’ala</em>. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya.<span id="more-4706"></span></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p dir="rtl">وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (68) وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (69) وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآَخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (70)</p>
<p>“<em>Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan</em>.” (QS. Al Qashash: 68-70)</p>
<p>Al ‘Allamah Al Qurthubi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “<em>Sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.</em>”[1]</p>
<p>Yang dimaksud istikhoroh adalah memohon kepada Allah manakah yang terbaik dari urusan yang mesti dipilih salah satunya.[2]</p>
<p><strong>Dalil Disyariatkannya Shalat Istikhoroh</strong></p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,</p>
<p dir="rtl">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ &#8211; ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ &#8211; خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ &#8211; قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى &#8211; فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى &#8211; أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ &#8211; فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “<em>Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih</em>”</p>
<p>Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”[3]</p>
<p><strong>Faedah Mengenai Shalat Istikhoroh</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Hukum shalat istikhoroh adalah sunnah dan bukan wajib. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em></p>
<p dir="rtl">إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ</p>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu</em>”</p>
<p>Begitu pula Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah didatangi seseorang, lalu ia bertanya mengenai Islam. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjawab, “Shalat lima waktu sehari semalam.”  Lalu ia tanyakan pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p dir="rtl">هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ « لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ »</p>
<p>“Apakah aku memiliki kewajiban shalat lainnya?” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun menjawab, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin menambah dengan shalat sunnah.”[4]</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Dari hadits di atas, shalat istikhoroh boleh dilakukan setelah shalat tahiyatul masjid, setelah shalat rawatib, setelah shalat tahajud, setelah shalat Dhuha dan shalat lainnya.[5] Bahkan jika shalat istikhoroh dilakukan dengan niat shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu berdoa istikhoroh setelah itu, maka itu juga dibolehkan. Artinya di sini, dia mengerjakan shalat rawatib satu niat dengan shalat istikhoroh karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ</p>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu.</em>” Di sini cuma dikatakan, yang penting lakukan shalat dua raka’at apa saja selain shalat wajib. [6]</p>
<p>Al ‘Iroqi mengatakan, “Jika ia bertekad melakukan suatu perkara sebelum ia menunaikan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu ia shalat tanpa niat shalat istikhoroh, lalu setelah shalat dua rakaat tersebut ia membaca doa istikhoroh, maka ini juga dibolehkan.”[7]</p>
<p><strong>Ketiga: </strong>Istikhoroh hanya dilakukan untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh), bukan pada perkara yang wajib dan sunnah, begitu pula bukan pada perkara makruh dan haram. Alasannya karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan.</em>” Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Jamroh bahwa yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah khusus walaupun lafazhnya umum.[8] Ibnu Hajar Al Asqolani <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.”[9]</p>
<p>Contohnya, seseorang tidak perlu istikhoroh untuk melaksanakan shalat Zhuhur, shalat rawatib, puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, atau mungkin dia istikhoroh untuk minum sambil berdiri ataukah tidak, atau mungkin ia ingin istikhoroh untuk mencuri.  Semua contoh ini tidak perlu lewat jalan istikhoroh.</p>
<p>Begitu pula tidak perlu istikhoroh dalam perkara apakah dia harus menikah ataukah tidak. Karena asal menikah itu diperintahkan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,</p>
<p dir="rtl">وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ</p>
<p>“<em>Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan</em>.” (QS. An Nur: 32)</p>
<p>Begitu pula Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ</p>
<p>“<em>Wahai para pemuda, jika salah seorang di antara kalian telah mampu untuk memberi nafkah, maka menikahlah.</em>”[10] Namun dalam urusan memilih pasangan dan kapan tanggal nikah, maka ini bisa dilakukan dengan istikhoroh.</p>
<p>Sedangkan dalam perkara sunnah yang bertabrakan dalam satu waktu, maka boleh dilakukan istikhoroh. Misalnya seseorang ingin melakukan umroh yang sunnah, sedangkan ketika itu ia harus mengajarkan ilmu di negerinya. Maka pada saat ini, ia boleh istikhoroh.</p>
<p>Bahkan ada keterangan lain bahwa perkara wajib yang masih longgar waktu untuk menunaikannya, maka ini juga bisa dilakukan istikhoroh. Semacam jika seseorang ingin menunaikan haji dan hendak memilih di tahun manakah ia harus menunaikannya. Ini jika kita memilih pendapat bahwa menunaikan haji adalah wajib <em>tarokhi</em> (perkara wajib yang boleh diakhirkan).[11]</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Istikhoroh boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikhoroh pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikhoroh adalah do’a dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikhorohnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,</p>
<p dir="rtl">إِنِّى مُسْتَخِيرٌ رَبِّى ثَلاَثًا ثُمَّ عَازِمٌ عَلَى أَمْرِى</p>
<p>“Aku melakukan istikhoroh pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.”[12]</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Do’a shalat istikhoroh yang lebih tepat dibaca setelah shalat dan bukan di dalam shalat. Alasannya adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em></p>
<p dir="rtl">إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ &#8230;</p>
<p>“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “<em>Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika &#8230;</em>”[13]</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi <em>hafizhohullah </em>mengatakan, “Aku tidak mengetahui dalil yang shahih yang menyatakan bahwa do’a istikhoroh dibaca ketika sujud atau setelah tasyahud (sebelum salam) kecuali landasannya adalah dalil yang sifatnya umum yang menyatakan bahwa ketika sujud dan tasyahud akhir adalah tempat terbaik untuk berdo’a. Akan tetapi, hadits ini sudah cukup sebagai dalil tegas bahwa do’a istikhoroh adalah setelah shalat. ”[14]</p>
<p><strong>Keenam</strong>: Istikhoroh dilakukan bukan dalam kondisi ragu-ragu dalam satu perkara karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ</p>
<p>““<em>Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu</em>”. Begitu pula isi do’a istikhoroh menunjukkan seperti ini. Oleh karena itu, jika ada beberapa pilihan, hendaklah dipilih, lalu lakukanlah istikhoroh. Setelah istikhoroh, lakukanlah sesuai yang dipilih tadi. Jika memang pilihan itu baik, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka nanti akan dipersulit.[15]</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>: Sebagian ulama menganjurkan ketika raka’at pertama setelah Al Fatihah membaca surat Al Kafirun dan di rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas. Sebenarnya hal semacam ini tidak ada landasannya. Jadi terserah membaca surat apa saja ketika itu, itu diperbolehkan.[16]</p>
<p><strong>Kedelepan: </strong>Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-0rang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan.[17] Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati.[18] Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.</p>
<p><strong>Tata Cara Istikhoroh</strong></p>
<p>Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.</p>
<p>Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua raka’at (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).</p>
<p>Ketiga: Setelah shalat dua raka’at, lalu berdo’a dengan do’a istikhoroh:</p>
<p dir="rtl">اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ &#8211; ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ &#8211; خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ &#8211; قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى &#8211; فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى &#8211; أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ &#8211; فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ</p>
<p><em>Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih. </em></p>
<p>[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]</p>
<p>Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan ia dari pilihan tersebut.</p>
<p>Demikian penjelasan kami mengenai panduan shalat istikhoroh. Semoga bermanfaat.</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p>Diselesaikan di Pangukan-Sleman, di sore hari menjelang Maghrib, 15 Rabi’ul Awwal 1431 H (01/03/2010)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel http://rumaysho.com</p>
<hr />[1] <em>Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (Tafsir Al Qurthubi)</em>, Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqi’ Ya’sub (sesuai cetakan).</p>
<p>[2] Lihat <em>Fathul Baari</em>, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/184, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.</p>
<p>[3] HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah</p>
<p>[4] HR. Bukhari no. 2678 dan Muslim no. 11, dari Tholhah bin ‘Ubaidillah.</p>
<p>[5] Lihat <em>Fiqhud Du’aa</em>, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.</p>
<p>[6] Faedah dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/426, Al Maktabah At Taufiqiyah. Begitu pula terdapat penjelasan yang sama dari Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitab beliau Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’ (soft file).</p>
<p>[7] Lihat Nailul Author, Asy Syaukani, 3/87, Irodatuth Thob’ah Al Muniroh.</p>
<p>[8] Lihat <em>Fathul Baari</em>, 11/184.</p>
<p>[9] Idem</p>
<p>[10] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.</p>
<p>[11] Contoh-contoh ini kami peroleh dari <em>Fiqhud Du’aa</em>, hal. 167-168.</p>
<p>[12] HR. Muslim no. 1333</p>
<p>[13] Lihat <em>Fiqhud Du’aa</em>, hal. 168-169.</p>
<p>[14] <em>Fiqhud Du’aa</em>, hal. 169.</p>
<p>[15] Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam <em>Buhyatul Mutathowwi’</em> (soft file).</p>
<p>[16] Lihat <em>Fiqhud Du’aa, </em>hal. 169.</p>
<p>[17] Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/427.</p>
<p>[18] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam <em>Buhyatul Mutathowwi’</em> (soft file).</p>
<br />Filed under: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/fiqih/'>fiqih</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/category/hadits/'>Hadits</a> Tagged: <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/fikih/'>fikih</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/istikharah/'>istikharah</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/shalat-istikharah/'>shalat istikharah</a>, <a href='http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/shalat-sunnah/'>shalat sunnah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiyunpad.wordpress.com/4706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiyunpad.wordpress.com/4706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiyunpad.wordpress.com/4706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiyunpad.wordpress.com/4706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafiyunpad.wordpress.com/4706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafiyunpad.wordpress.com/4706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafiyunpad.wordpress.com/4706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafiyunpad.wordpress.com/4706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiyunpad.wordpress.com/4706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiyunpad.wordpress.com/4706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiyunpad.wordpress.com/4706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiyunpad.wordpress.com/4706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiyunpad.wordpress.com/4706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiyunpad.wordpress.com/4706/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiyunpad.wordpress.com&#038;blog=1695789&#038;post=4706&#038;subd=salafiyunpad&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/03/02/panduan-shalat-istikharah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">admin salafiyunpad</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
