Antara Ketenangan Jiwa, Kedamaian Hati, dan Sebuah Kebenaran (2)

Oleh Ustadzuna Arief Budiman bin Utsman Rozali, Lc.

Seandainya orang itu hanya berkata demikian, “Segala sesuatu yang bisa mendatangkan dan menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa boleh-boleh saja dilakukan”, sampai sini saja, mungkin masih bisa kita benarkan. Itupun selama perbuatan tersebut tidak melanggar syariat. Karena memang segala sesuatu yang dilakukan, selama tidak berhubungan dengan permasalahan ibadah, dan selama tidak ada dalil yang melarangnya, maka hukum asalnya adalah boleh, sebagaimana yang telah diterangkan oleh para ulama dalam masalah ini.[1] Akan tetapi, jika kita perhatikan dan pelajari lebih dalam lagi, hal-hal yang bisa mendatangkan dan menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang banyak digemari orang saat ini, pada kenyataannya tidak mungkin dapat dipisahkan dari praktek ibadah, bahkan sangat berkaitan erat dengan masalah aqidah yang letaknya di dalam hati, sedangkan hati adalah sumber dari kebaikan atau keburukan seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

((…أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْـغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُـلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُـلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْـقَلْبُ)).
“…Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”.[2]

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim -jika ia ingin selamat dari hal-hal yang dapat merusak agamanya, bahkan aqidahnya-, hendaknya ia senantiasa berhati-hati dan waspada serta penuh pertimbangan demi keselamatan agamanya, dan bertanya, apakah perbuatan yang hendak ia lakukan dari usaha-usaha dalam rangka pencarian kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwanya bertentangan dengan aqidahnya? Ataukah bagaimana?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata, “Karena hati itu diciptakan untuk diketahui kegunaannya, maka mengarahkan penggunaan hati (yang benar) adalah (dengan cara menggunakannya untuk) berfikir dan menilai…”.[3]

Berkaitan erat dengan permasalahan ini, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan solusi ilahi bagi setiap muslim yang senantiasa ingin mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki dan abadi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar Ra’d: 28).
Asy Syaikh Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al Badr -hafizhahullah- berkata, “…Sebagaimana telah lalu penjelasan (masalah) ini, sesungguhnya al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim -rahimahullah- telah menyebutkan di dalam kitab beliau yang sangat berharga al Wabil ash Shayyib sebanyak tujuh puluh sekian faidah dzikir. Dan di sini, kami akan sempurnakan untuk menyebutkan beberapa faidah dzikir lainnya, dari sekian banyak faidah yang telah beliau sebutkan di dalam kitabnya.[4] Di antara faidah-faidah dzikir yang begitu agung, yaitu (dzikir) dapat mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, dan kelapangan bagi orang yang melakukannya, serta dapat melahirkan ketenangan dan ketenteraman di dalam hati orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah…”. Dan Asy Syaikh pun membawakan ayat ke-28 dalam surat ar Ra’d di atas.

Kemudian beliau kembali menjelaskan dan berkata, “Dan makna firman Allah (وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم) adalah hilangnya segala sesuatu (yang berkaitan dengan) kegelisahan dan kegundahan dari dalam hati, dan dzikir tersebut akan menggantikannya dengan rasa keharmonisan/ketentraman, kebahagiaan, dan kelapangan. Dan maksud firmanNya (أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ) adalah sudah nyata dan sudah sepantasnya hati (manusia) tidak akan pernah merasakan ketentraman dengan hal lain, selain dengan dzikir (mengingat) Allah Subhanahu wata’ala.

Bahkan, sesungguhnya dzikir adalah penghidup hati (manusia) yang hakiki. Dzikir merupakan makanan pokok bagi hati dan ruh. Maka, apabila (jiwa) seseorang kehilangan dzikir ini, ia hanya bagaikan seonggok jasad yang jiwanya telah kehilangan makanan pokoknya. Sehingga, tidak ada kehidupan yang hakiki bagi sebuah hati melainkan dengan dzikrullah (mengingat Allah). Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata[5], “Dzikir bagi hati, bagaikan air bagi seekor ikan. Maka, bagaimanakah keadaan seekor ikan jika ia berpisah dengan air?”.”[6]

Dari penjelasan yang begitu gamblang di atas, jelaslah bahwa sesungguhnya tidak ada penawar bagi orang yang hatinya gersang dan selalu gelisah, resah, dan gundah melainkan hanya dengan dzikrullah. Sedangkan dzikrullah dapat dilakukan dengan dua cara, dengan mengingat Allah dan banyak berdzikir dengan bertasbih, bertahmid, bertahlil (mengucapkan Laa ilaha illallaah), ataupun bertakbir. Dan dengan memahami makna-makna al Qur’an dan hukum-hukumnya, karena al Qur’an di dalamnya terdapat dalil-dalil dan petunjuk-petunjuk yang jelas, serta bukti kebenaran yang nyata.[7]

Namun, sekali lagi sungguh amat disayangkan, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami hal ini. Bahkan, mereka malah mencari-cari solusi lain untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa mereka. Padahal sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki tidaklah mungkin dihasilkan melainkan hanya dengan dzikrullah.

-Bersambung Insya Allah-

Catatan kaki:

Lihat kitab ‘Ilmu Ushuli al Bida’, hlm. 69 dan 211.
2 HR al Bukhari (1/28 no. 52), Muslim (3/1219 no. 1599), dan lain-lain, dari hadits an Nu’man bin Basyir -radhiyallahu ‘anhuma-.
3 Lihat kitab Risalah fii al Qalbi wa annahu Khuliqa li yu’lama bihi al Haqqu wa yusta’malu fiima khuliqa lahu, hlm. 16.
4 Lihat kitab al Wabil ash Shayyib, hlm. 61-111.
5 Sebagaimana yang dinukil oleh muridnya di dalam kitab al Wabil ash Shayyib, hlm. 63.
6 Lihat kitab Fiqh al Ad’iyah wa al Adzkar (1/17-18).
7 Lihat penjelasan ini dalam kitab Taisir Karim ar Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan (1/1059-1060).

Artikel http://www.salafiyunpad.wordpress.com

Posted on 29 Mei 2008, in aqidah islam, Nasihat. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. terima kasih atas tambahan ilmunya smoga bermanfaat bagi smua umat yg membacanya,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: