Makalah Kajian Madiun: Renungan di Balik Rangkaian Musibah (1)

Oleh Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.

Disampaikan dalam acara Tabligh Akbar di Masjid Agung Madiun (12 Desember 2010 – 6 Muharram 1432 H)

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

أما بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى محمد صلّى الله عليه وسلّم وشرَّ الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة.

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Di antanya adalah nimat iman dan Islam, serta nikmat kesehatan.

Kalau bukan karena nikmat Allah, niscaya kita tidak akan menjadi seorang muslim dan mukmin. Kalau bukan karena nimat kesehatan yang diberikan Allah kepada kita, niscaya kita tidak akan bisa menghadiri acara ini pada kesempata ini.

Selanjutnya, selawat beserta salam kita kirimkan untuk nabi kita yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang telah berjuang dan berkoban demi untuk tegaknya ajaran tauhid di permukaan bumi ini. Semoga selawat dan salam juga terlimpah untuk keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang tetap setia mengikuti ajaran beliau sampai hari kemudian.

Bermacam cobaan dan bencana silih berganti menimpa negeri kita tercinta ini. Di awali dari kesemerautan ekonomi dan politik, datang banjir yang menenggelamkan, diikuti oleh kekeringan dan hama yang menggagalkan panen, dilajutkan dengan flu burung dan flu babi, diselingi oleh gempa dan banjir bandang, disusul tsunami, serta letusan gunung api.  Yang mengakibatkan ribuan nyawa melayang dan jutaan harta benda menghilang.

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah musibah-musibah tersebut dapat memberikan kesadaran pada diri kita masing-masing. Masihkah belum cukup untuk kita berpikir dan mengambil ‘ibroh dari segala kejadian tersebut? Ataukah kita masih saling menyalahkan, bahkan kita mengira bahwa semua bencana tersebut disebabkan oleh dosa orang lain. Adapun diri kita sendiri tidak pernah bersalah dan tidak pernah berdosa. Atau kita sependapat dengan pandangan dan anggapan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Mereka mengira semua itu hanyalah semata gejala alami yang tidak perlu dipikirkan dan direnungkan?

Kita mengeluh kemiskinan melanda negeri kita tapi parabola menjamur di atas gubuk-gubuk yang hapir reok! Kita mengeluh atas tersebarnya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat, tapi berbagai media informasi menampilakan acara yang berbau porno dan sex (yang diperhalus dengan istilah pornoaksi dan pornografi), yang kesemuanya disantap oleh anak-anak di bawah umur sampai kakek-kakek yang lanjut usia.

Kerusakan tidak hanya sampai di situ, bahkan sampai kepada titik memperolok-olokan agama, menghujat Allah, memutarbalikkan pengertian ayat-ayat Al Qur’an, membikin model ibadah-ibadah baru dan seterusnya. Yang seharusnya pelakunya mendapat hukuman, justru sebaliknya mendapat sanjungan sebagai intelektual dan segudang sanjungan lainnya.

Sangat nyata apa yang dikatakan Allah dalam firmannya,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut dengan sebab ulah perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian (dari) akibat perbuatan mereka, agar Mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Ruum: 41).

Dalam Al-Qur’an berulang kali Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan. Supaya umat manusia mengambil ‘ibrah dan pelajaran dari kisah mereka tersebut. Mengapa mereka ditimpa azab dan bencana? Apakah karena mereka miskin? Atau karena tidak punya angkatan perang yang cukup? Atau karena sistem politik dan ekonomi mereka  yang lemah? Atau karena hal lain yaitu karena kufur kepada Allah, tidak mau bersyukur kepada Allah, serta menolak kebenaran yang diturunkan Allah?

Dalam kesempatan ini kita mencoba merenungkan dan memetik pelajaran di balik berbagai bencana dan musibah tersebut:

1. Renungan pertama: Bencana adalah buah dosa perbuatan manusia.

Allah tidak akan membinasakan suatu negeri melainkan karena kezaliman telah merajalela di tengah-tengah kehidupan mereka., baik terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap orang lain.

Allah berfirman,

وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

“Dan Kami tidak pernah menghacurkan berbagai nergeri kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (Q.S. Al-Qashash: 59).

Jika kita mencoba melihat diri kita masing-masing sungguh amat banyak kezaliman yang kita perbuat di muka bumi Allah ini.

Di awali dengan kezaliman kepada Allah, dengan berbagai pratik kesyirikan; mulai dari jimat, tumbal, mempercayai benda-benda mati memiliki kekuatan sakti seperti batu, keris, dan lain-lain. Mendatangi dukun atau kuburan demi mencari berkah atau kesembuhan penyakitnya.

Demikian pula kezaliman di tengah masyarakat kita, maksiat semakin menjadi-jadi, seperti; perzinaan, pembunuhan, perampokan, perjudian, penipuan  dan seterusnya.

Berbagai macam nikmat yang diberikan Allah, kita manfaatkan untuk durhaka pada-Nya mulai dari mata, telinga dan lidah kita pergunakan untuk hal yang haram, untuk film-film, nyanyi-nyanyian dan berkata bohong.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam juga menerangkan dalam sabdanya bahwa bencana adalah buah dari sebuah dosa,

عن أبي موسى رضي الله عنه أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال لا يصيب عبدا نكبة فما فوقها أو دونها إلا بذنب وما يغفو الله عنه أكثر قال وقرأ

{وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفو عن كثير}

“Tidaklah seorang hamba ditimpa sebuah bencana baik besar maupun kecil kecuali dengan sebab dosa, dan apa yang dimaafkan Allah jauh lebih banyak” (H.R. At-Tirmizi, no. 3252), kemudian beliau membaca firman Allah,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu, maka adalah dengan sebab usaha tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu”. (Q.S. Asy Syura: 30).

Mulai dari rumah yang kita huni, lalu pakaian yang kita miliki, sampai makanan yang kita konsumsi bersumber dari usaha yang haram. Mungkin  dari hasil rampokan, pembunuhan, pelacuran, korupsi, kolusi, judi, penjualan CD porno, sogok, atau hasil tipuan lainnya. Itulah diri kita, apakah kita tidak pantas untuk diazab?

Bagaimana Allah akan mengabulkan doa kita, sementara keadaan kita selalu bergelimang dengan segala hal yang haram? Perhatikanlah ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengisahkan seorang yang menemui kelelahan dalam perjalanan yang panjang, dalam kondisi seluruh tubuhnya di penuhi debu, lalu dia menngangkat kedua telapak tangannya ke langit sambil berdoa, ”Ya Tuhanku, Ya Tuhanku.” Lalu, Nabi shallallahu ’alaihi wa salalm berkata, “Bagaimana Allah akan mengabulkan doanya, sedangakan makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dia dibesarkan dari yang haram?” (H.R. Imam Muslim, no. 1015).

Dari hadits di atas, jelas sekali bagaimana akibat dari menikmati sesuatu yang haram, sekalipun dia dalam kondisi yang sangat membantu supaya dikabulkan doanya. Karena dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa doa musafir itu terkabul sekali, tapi ada hal yang menghalanginya yaitu memakan harta yang haram. Kisah di atas bisa untuk membandingkan dan menilai kondisi kita.

Maka, tatkala manusia melupakan peringatan-peringatan Allah dan mereka benar-benar telah tenggelam dalam kesesatan dan kemaksiatan, Allah membuka pintu-pintu kesenangan duniawi untuk mereka dengan seluas-luasnya. Lalu Allah menurunkan azab kepada mereka secara tiba-tiba.

Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka, tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S. Al-An’am: 44).

Berulang kali Allah menceritakan tentang umat-umat yang dibinasakan dalam Al Qur’an, agar kita mengambil ‘ibrah dan pelajaran dari kisah mereka, mengapa mereka ditimpa azab dan bencana? Apakah karena mereka tidak memiliki alat pendeteksi bencana? Atau karena hal lain yaitu karena durhaka kepada Allah, tidak mau bersyukur kepada Allah, serta melalaikan kebenaran yang diturunkan Allah?

Allah berfirman,

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

“Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya”. (Q.S. Al-Isra’: 16-17).

Dan Allah tegas lagi dalam firman-Nya,

أَلَمْ نُهْلِكِ الْأَوَّلِينَ (16) ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ الْآَخِرِينَ (17) كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ

“Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu?  Kemudian Kami perlakukan  (azab Kami terhadap) merek ) akan orang-orang yang datang kemudian”. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-Mursalaat: 16-18).

Berbagai macam bentuk azab telah Allah turnkan pada umat-umat yang terdahulu. Di antara mereka ada yang dihujani batu kerikil, dan ada pula yang diazab dengan suara keras yang memekakkan telinga, dan ada pula yang dibenamkan kedalam bumi hidup-hidup, dan ada pula yang tenggelam dalam lautan.

Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka, masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Al-Ankabut: 40).

Allah tidak mengazab kita dengan segala dosa yang kita perbuat, akan tetapi hanya sebagian kecil dari balasan dosa kita. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

“Jikalau Allah menyiksa manusia (sesuai) dengan kezaliman mereka, niscaya tidak akan tertinggal di atas permukaan bumi ini satupun dari binatang yang melata, tetapi Allah menagguhkan (penyiksaan) mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba (waktu yang ditentukan), mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”. (Q.S. An-Nahl: 61).

Allah masih memberi kesempatan dan waktu kepada kita untuk bertaubat, untuk kembali kepada jalan yang benar, apakah kita akan menunda-nunda taubat itu, sampai azab Allah yang lebih besar lagi datang kepada kita? Mari kita simak firman Allah berikut,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيراً

“Dan jikalau Allah mennyiksa manusia dengan segala apa yang mereka usahakan, niscaya tidak akan tertinggal di atas permukaan bumi ini satupun dari binatang yang melata, tetapi Allah menagguhkan (penyiksaan) Mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Maka, apabila telah tiba (waktu yang ditentukan), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Faathir: 45).

Azab Allah bisa datang kapan saja, mungkin diwaktu malam hari saat kita tidur nyenyak, atau diwaktu pagi hari saat kita sedang sibuk bekerja atau sedang santai bermain-main.

Sebagaimana Allah berfirman,

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ. أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ. أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ.

“Maka apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari kedatangan siksaan Kami di malam hari diwaktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari kedatangan siksaan Kami pada waktu duha ketika mereka sedang bermain-main? Atau apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari ancaman azab Allah (yang tampa diduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dari ancaman azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-A’raaf: 96-99).

Maka dari itu, janganlah kita melalaikan kesempatan yang masih diberikan Allah kepada kita untuk menata hari esok kita dengan bertaubat dan beramal sholeh. Sebab tidak seorangpun diantara kita yang mengetahui dimana dan kapan ajalnya datang.

-bersambung insya Allah-

Artikel www.Salafiyunpad.wordpress.com dengan penataan bahasa seperlunya oleh tim redaksi.

Download Audio: Renungan di Balik Musibah (Ust. Ali Musri) [Madiun, 12 Desember 2010)

Posted on 15 Desember 2010, in Nasihat, Tazkiyatun Nufus and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: