Tanya Jawab: Jadwal Hari untuk Rumah Tangga Poligami

jadwal hari poligami

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Maaf, saya tidak tahu masuk dalam rubrik mana pertanyaan yang akan saya utarakan berikut ini. Saya telah menikah dengan seorang pria beristri dan telah memiliki anak secara sah. Sebagai pendatang baru, saya terus mencoba menyesuaikan diri dengan istri dan anak-anak suami saya.
Semakin hari, saya kok merasa banyak hal yang tidak saya pahami dalam menjalani ta’adud (poligami). Ilmu saya sangat kurang. Keinginan saya untuk bertanya langsung pada seorang ustadz makin besar. Hampir saya tidak begitu percaya dengan apa yang disampaikan oleh suami mengenai hal-hal ta’adud ini. Misalnya:
1. Tentang hari ganti, kapan suami harus mengganti hari untuk salah seorang istrinya ketika ia pergi?
2. Tentang giliran, berapa lama para istri mendapat hak untuk bersama suaminya?
3. Bagaimana cara menghitung hari ganti dan giliran?
4. Apakah sikap saya yang kurang percaya diri terhadap suami dibenarkan, mengingat usia pernikahan kami yang baru?
Saya mohon penjelasan yang tentunya berdasarkan Al-Quran dan hadits serta atsar shahabah. Dan tolong doakan saya agar tetap istiqamah di atas agama yang haq dan diberi kekuatan untuk menjalankan ta’adud ini. Syukran, wa jazakumullah khairan.
Akhwatukum fil Qahirah.

Jawab:
Alhamdulillah, washshalatu wassalamu’ala rasulillah.
Sebenarnya, sudah menjadi kewajiban bagi seorang lelaki yang memiliki lebih dari satu istri untuk berlaku adil dalam bermuamalah dengan para istrinya. Yaitu, dengan memberikan kepada masing-masing istrinya haknya. Dan yang dimaksud dengan adil di sini adalah lawan dari curang, dan memberikan kepada seseorang kekurangan hak yang dipunyainya dan mengambil dari yang lain kelebihan hak yang dimilikinya. Jadi adil dapat juga diartikan persamaan.

Berdasarkan hal ini, maka adil di antara para istri adalah menyamakan hak yang ada pada para istri dalam perkara-perkara yang memungkinkan untuk disamakan di dalamnya. Allah berfirman,
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (an-Nisa’: 129)

Imam al-Jashaash dalam Ahkam al-Qur’an mengatakan, “Dijadikan sebagian hak istri adalah menyembunyikan perasaan lebih mencintai salah satu istri terhadap istri yang lain.”
Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh (miring sebelah).” (riwayat lima)

Imam Syaukani -rohimahulloh- menjelaskan, “Di dalamnya terdapat dalil diharamkannya lebih condong kepada salah satu istri, dalam perkara yang suami memiliki kemampuan untuk membaginya (dengan adil), seperti masalah bermalam, makan , dan pakaian.”

Jadi, wajib berlaku sama terhadap para istri dalam memberikan haknya, termasuk mengenai bermalam di tempat istri. Termasuk juga terhadap istri yang sakit terhadap yang sehat, yang suci terhadap yang sedang mengalami haid dan nifas, yang masih belia dan mungkin untuk dicampuri terhadap yang sudah tua. Semuanya berhak mendapat pembagian yang sama.

Demikian diungkapkan para imam, seperti Hambali, Malik, Syafi’i, dan lainnya. Imam Hambali bahkan mengatakan, bahwa ia tidak mendapatkan perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang wajibnya penyamaan hak antara para istri ini.

Adapun cara pembagiannya, hendaknya suami mengundi kedua istrinya. Ini untuk memilih siapa yang harus di dahulukan. Pengundian ini sesungguhnya untuk menghilangkan kesan bahwa yang satu lebih utama dari yang lain, bila itu dilakukan tanpa diundi. Karena mereka mempunyai hak yang sama dan wajib disamakan dan tidak mungkin untuk mengumpulkan keduanya secara bersamaan. Sehingga perlu pengundian, seperti kalau ingin mengajak salah satunya melakukan bepergian.

Jika istrinya hanya dua, maka cukup dengan satu kali undian, sehingga malam kedua langsung untuk istri yang belum mendapat giliran. Tetapi jika istrinya tiga, maka pada malam kedua perlu pengundian terhadap kedua istri yang belum mendapat giliran. Dan jika istrinya empat, maka pada malam ketiga juga harus diadakan pengundian terhadap istri yang belum mendapatkan giliran dan tidak pada malam keempatnya, karena langsung pada istri terakhir yang belum mendapat giliran. Dan setelah itu, jadwal hari giliran berlangsung menurut urutan yang diundikan sejak pertama hingga selesai.

Adapun lamanya pembagian ini adalah satu malam-satu malam, seperti yang dicontohkan Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam–. Tetapi lebih utama per satu malam, karena nabi membagi harinya bagi istrinya per satu malam. Karena menjadikan pembagian lebih dari per satu malam, kadang dapat berakibat menyepelekan hak istri yang lain tanpa alasan yang dibenarkan dan cenderung terjadi kelalaian. Dan yang seperti ini, tentu hal ini tidak boleh. Sebab, segera memenuhi hak itu (jika mungkin) seyogianya segera dilakukan, kecuali bila istri yang lain merelakannya. Karena hak itu milik mereka.

Adapun yang dimaksudkan dengan bermalam di tempat istri termasuk juga siang harinya. Hal ini berdasarkan riwayat Saudah Ummul Mukminin, ketika menghibahkan harinya kepada Aisyah –rodhiyallohu ‘anha–, maka Aisyah –rodhiyallohu ‘anha– berkata, “Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– tertahan di rumahku dan juga di siang harinya.” Dan sesungguhnya, Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– tertahan di siang harinya, dan termasuk siang hari itu adalah malam sebelumnya. (al-Mughni VII/32)

Itu semua kaidah secara asal, adapun untuk kasus-kasus tertentu, bisa dibicarakan bersama. Mungkin ada hambatan jarak, kesibukan, biaya dan semisalnya, itu bisa dimusyawarahkan. Kalau Anda memahami dan merelakan (hari giliran Anda), maka tidak apa-apa bagi suami. Tapi kalau Anda tetap menuntut mendapatkan hak yang sama, sementara suami karena suatu hal dan lain hal tidak mampu memenuhi, maka Anda bisa mengajukan khulu’ (hak meminta cerai). Di sinilah pentingnya rasa saling percaya dan pengertian di antara suami istri. Tidak selayaknya kalau seseorang tidak mempercayai pasangannya, karena hal itu bisa menimbulkan bencana dalam rumah tangga. (***)

Rubrik Konsultasi Keluarga, Majalah Nikah Sakinah Vol. 9 No. 9, Desember 2010 (pernah dimuat sebelumnya pada majalah nikah Vol.3, No.9, Desember 2004)

Posted on 14 Januari 2011, in fiqih, konsultasi syariah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: