Pakar Hadits dan Rektor yang Enggan Menaiki Mobil Dinas

Beliau adalah seorang pakar hadits dan fiqh, seorang yang zuhud dengan dunia dan wara’, seorang ulama peniti jejak salaf shalih Abdul Muhsin bin Hamd al Abbad al Badr.

Beliau lahir di Zulfa pada bulan Ramadhan tahun 1353 H. Beliau belajar dan menyelesaikan jenjang sekolah dasar di Zulfa pada tahun 1371. Kemudian beliau berpindah ke kota Riyadh dan masuk di Ma’had Riyadh al Ilmi. Pada tahun ini pula Syeikh Ibnu Baz tiba di kota Riyadh dari daerah Kharaj dan ini adalah tahun pertama beliau belajar di ma’had ini. Setelah itu Syeikh Abdul Muhsin mengambil S1 di fakutas syariah Universitas Ibnu Suud di Riyadh. Di samping belajar di bangku kuliah beliau juga belajar di masjid bersama para ulama besar semisal Syeikh Muhammad bin Ibrahim, Ibnu Baz, Muhammad al Amin al Syinqithi, Abdurrahman al Ifriqi dan Abdurrazaq Afifi.

Beliau kemudian diangkat sebagai pengajar di al Ma’had al Ilmi di Buraidah pada tahun 1379 H kemudian sebagai pengajar di al Ma’had al Ilmi di kota Riyadh pada tahun 1380. Setelah itu diangkat sebagai dosen di Jami’ah Islamiah Madinah pada tahun berdirinya universitas ini yaitu tahun 1381 H. Beliaulah orang yang pertama kali menyampaikan kuliah di universitas ini.
Beliau belajar hadits dan mushtholah hadits kepada Syeikh Abdurrahman al Ifriqi di Riyadh pada tahun 1372. Komentar beliau tentang Syeikh Abdurrahman, “Beliau adalah seorang pengajar yang tulus, seorang yang benar-benar berilmu, sering memberi pengarahan dan bimbingan serta seorang yang bisa dijadikan teladan dalam kebaikan”. Beliau memiliki hubungan yang erat dengan Syeikh Ibnu Baz. Beliau pertama kali bertemu dengan Ibnu Baz pada tahun 1372 H.

Secara formal beliau belajar pada Ibnu Baz di tahun keempat di fakultas syariah Universitas Ibnu Suud. Beliau sering berhubungan dengan Syeikh Ibnu Baz di sela-sela pelajaran, di masjid dan datang ke rumah Ibnu Baz.
Beliau mulai memberikan kuliah di Jamiah Islamiah di Madinah pada tahun 1381. Beliau bersahabat dengan gurunya Ibnu Baz selama 15 tahun karena Syeikh Ibnu Baz di samping mengajar di Jamiah dan masjid Nabawi adalah anggota Majlis Jamiah Islamiah sejak didirikan hingga tahun 1393 H.

Syeikh Abdul Muhsin pernah diangkat sebagai pembantu rektor pada saat rektornya adalah Syeikh Ibnu Baz. Itu terjadi atas usulan Syeikh Ibnu Baz dan persetujuan Malik Faishal. Syeikh Abdul Muhsin mengatakan, “Aku datang ke rumah Syeikh Ibnu Baz sebelum pergi ke kampus. Aku duduk sebentar bersama beliau. Bersama beliau terdapat Syeikh Ibrahim Hushayyin. Syeikh Ibrahim membaca kitab tentang muamalah sejak shalat shubuh hingga matahari meninggi”.

uatu ketika Syeikh Ibnu Baz berkata kepadaku, “Semalam aku bermimpi menuntun seekor anak onta sedangkan engkau menggiringnya”. Beliau kemudian mengatakan, “Aku tafsirkan mimpi tersebut dengan Universitas Islam Madinah”.
Syeikh Abdul Muhsin berkata, “Sungguh benar apa yang beliau katakan. Aku jadi pembantu rektor bersama beliau selama dua tahun. Setelah itu aku menjadi rektornya selama empat tahun”.

Beliau memiliki seorang anak yang shalih yaitu Syeikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al Abbad al Badr. Beliau adalah seorang professor di Universitas Islam Madinah.

Ada seorang alumnus Universitas Islam Madinah menuturkan dua cerita yang menunjukkan sifat wara’ yang dimiliki oleh Syeikh Abdul Muhsin. Kisah ini mengingatkan kita dengan sifat wara para salaf.

Kata sopir yang bertugas antar jemput Syeikh Abdul Muhsin dari kampus ke rumah dan sebaliknya mengatakan bahwa Syeikh Abdul Muhsin tidaklah mau menghentikan mobil dinas universitas di tengah jalan dalam rangka membeli sesuatu untuk keperluan rumah. Subhanallah.

Masih kata sopir tadi, “Ketika masa jabatan beliau sebagai rektor Universitas Islam Madinah berakhir. Aku melihat Syeikh Abdul Muhsin berdiri menunggu sesuatu. Akupun lantas menghampirinya dengan menggunakan mobil untuk mengantar beliau ke rumah sebagaimana biasanya. Ternyata beliau enggan untuk naik. Beliau mengatakan, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa masa jabatanku telah berakhir. Aku telah menyuruh seseorang agar memberi tahu kepada anakku agar menjemputku”.
Allahu Akbar. Demi Allah, inilah gambaran wara’ di masa salaf.

Penulis: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.Salafiyunpad.wordpress.com

Posted on 2 Februari 2011, in artikel islami and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: