Menggalang Solidaritas dan Ukhuwah Sejati

Oleh Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin Syamsuddin

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala yang telah mempersaudarakan kaum muslimin di atas aqidah dan manhaj yang lurus. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada manusia teladan dalam merajut persaudaraan diantara kaum mukminin, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan para pengikut sunnahnya dengan baik hingga hari kiamat.

Ukhuwah Islamiyah, merupakan salah satu tujuan besar yang hendak dicapai oleh syari’at. Merupakan salah satu pondasi dan tali keimanan yang paling kokoh, sebagaimana sabda Nabi:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ اَلْمُوَالاَةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

Tali iman yang paling kuat adalah saling berkasih-sayang karena Allah, memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.[1]

Dengan ukhuwah Islamiyah, kaum beriman saling mencintai, berkasih-sayang dan bersatu, sehingga kaum muslimin bisa menikmati kebahagian di bawah naungan ukhuwah Islamiyah. Allah berfirman : “Sesungguhnya kaum beriman itu bersaudara”. (Al Hujurat :10). Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Ruh-ruh manusia adalah pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal, maka mereka akan bersatu padu. Dan selagi ruh-ruh itu saling mengingkari, maka mereka akan berselisih. [HR Muslim]
.
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلاَيُكَذِّبُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh menzhaliminya, menghinakannya, mendustakannya dan merendahkannya. [HR Muslim, no. 2580].

KEUTAMAN UKHUWAH ISLAMIYAH

Ukhuwah Islamiyyah karena Allah, memiliki keutamaan-keutamaan yang akan kembali kepada orang-orang yang saling bercinta, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia dia akan mendapatkan kemantapan jiwa dalam mengembangkan kemauan dan cita-citnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan Umar bin Khaththab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah, ada diantara mereka orang-orang yang bukan nabi dan bukan pula syuhada. Pada hari kiamat, para nabi dan para syuhada menginginkan mereka menempati kedudukan mereka yang berasal dari Allah.” Para sahabat bertanya,”Wahai, Rasulullah. Beritahukanlah kepada kami, siapakah mereka itu? Beliau menjawab,”Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, padahal diantara mereka tidak ada pertalian darah dan tidak ada harta yang saling diberikan. Sungguh demi Allah, wajah mereka laksana cahaya. Dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa ketakutan saat manusia pada keadaan takut dan mereka tidak bersedih saat manusia bersedih.” Dan Beliau membaca ayat ini: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak(pula) mereka bersedih hati. [Yunus:62]. [2]

Diantara keutamaan ukhuwah adalah sebagai berikut :

• Ukhuwah dapat mengantarkan pelakunya ke barisan orang-orang yang memiliki keutamaan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah dua orang yang saling bercinta karena Allah, melainkan yang paling utama diantara keduanya adalah yang paling cinta kepada sahabatnya itu”. [3]

• Bercinta karena Allah adalah jalan menuju naunganNya.
Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya Allah pada hari kiamat berfirman.

أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

Manakah orang-orang yang bercinta? Dengan keagunganKu, Aku akan memberikan naungan kepada mereka dalam naunganKu pada hari yang tiada naungan, kecuali naunganKu. [4]

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat nanti, antara lain ialah dua orang yang berkasih-sayang karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. [5]

Bercinta di atas mahabatullah, karena aqidah bersifat kekal dan tidak akan pernah putus karena dunia dan selainnya.

• Berhak mendapat kecintaan Allah (mahabatullah), karena Allah memuliakan orang yang mencintai seorang hamba karena Allah.
Dari Ubadah bin Ash Shamit berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, yang Beliau riwayatkan dari Rabb Azza wa Jalla.

حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَوَاصِلِيْنَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ

Cintaku menjadi hak bagi orang-orang yang bercinta karena Aku. Dan cintaKu menjadi hak bagi orang-orang yang saling menyambung (silahturahim) karena Aku. CintaKu menjadi hak bagi orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku. Dan cintaKu menjadi hak bagi orang-orang yang saling memberi karena Aku. [Musnad Ahmad, 5/239].

Rasulullah juga bersabda yang diriwayatkan dari Rabb-nya: “Aku berikan cintaKu kepada orang-orang yang bercinta karena Aku, orang-orang yang saling bertemu dalam majelis karena Aku, dan orang-orang yang saling memberi karena Aku.” (HR Malik dalam Muwaththa’ dari Mu’adz, no. 1.735). Dan dalam Al Jami’ Ash Shaghir, no. 5.516, Beliau bersabda: “Dan tidaklah seorang hamba mencintai seorang hamba lainnya karena Allah, melainkan Allah memuliakannya.”

• Dengan ukhuwah akan diperoleh manisnya iman.
Dalam sabda Nabi dari Anas bin Malik disebutkan, bahwa Beliau bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Ada tiga perkara; barangsiapa yang ketiganya terdapat di dalam dirinya, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu hendaklah: Allah dan RasulNya lebih dicintainya daripada selain keduanya, dan mencintai seseorang semata-mata karena Allah, serta ia tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah membebaskannya darinya sebagimana ia tidak suka dilempar ke dalam api neraka. [HR Bukhari, Vol. 5 no.16 dan Muslim].

Nabi bersabda: “Barangsiapa ingin mendapatkan rasa iman, maka hendaklah ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah. [Al Jami’ Ash Shaghir, no. 5.958].

• Bercinta karena Allah dan untuk Allah akan menjadi pembuka pintu surga.
Disebutkan dalam salah satu hadits shahih dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Kalian tidak masuk surga, sehingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman, sehingga kalian saling mencintai. Ketahuilah, akan aku tunjukkan sesuatu. Jika kalian saling mengerjakannya, maka kalian akan saling mencintai. Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian. [HR Muslim].

Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan ukhuwah lainnya yang tidak mungkin disebutkan disini secara keseluruhan.

URGENSI PERSAUDARAAN
Pepatah mengatakan, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan seluruh asset umat dan memberdayakan potensi sumber daya umat, kecuali dengan mengaplikasikan makna persaudaraan dan solidaritas secara benar dan sejati, kemudian diwujudkan dalam interaksi sosial dan perilaku kehidupan. Sebagaimana telah disampaikan dalam sabda Nabi: “Orang mukmin bagi orang mukmin lainnya seperti bangunan; satu sama lain saling menguatkan,” dan Rasulullah menjalinkan jari-jemarinya. (Muttafaqun’alaih).
Sabda Beliau n: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencinta, saling berbelas kasihnya dan saling perhatiannya, laksana badan. Jika salah satu anggota ada yang sakit, maka yang lainnya merasa mengeluh dan panas. [Muttafaqun’alaih].

Ketahuilah, ukhuwah dan solidaritas sejati tidak akan bisa diraih, kecuali bila dibangun di atas pondasi yang kokoh, berangkat dari sikap ketulusan, aqidah yang lurus, keimanan yang murni, manhaj yang benar dan ikhlas dalam nasihat-menasihati.

LANDASAN PERSAUDARAAN DAN SOLIDARITAS
Menurut Islam, bangunan persaudaraan dan solidaritas hanya bisa ditegakkan di atas aqidah dan manhaj yang shahih; karena persaudaraan dan solidaritas tanpa adanya landasan yang jelas dan kokoh yang mampu menyatukan berbagai kepentingan, ambisi dan keinginan merupakan suatu yang mustahil. Maka memperjelas landasan dan manhaj persaudaraan itu lebih penting daripada persaudaraan itu sendiri, kecuali yang dikehendaki dari persaudaraan tersebut hanya bersatu secara jasad dan kosong dari nilai ketakwaan, keimanan dan moralitas agama.

Oleh karena itu, para rasul dan khususnya Nabi Muhammad n terlebih dahulu diperintahkan untuk menegakkan agama dan jangan bepecah-belah dalam menerima kebenaran, sebagaimana firman Allah, yang artinya: Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa. Yaitu, tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentanggnya. [Asy Syura:13].

Dengan melandaskan persaudaraan dan solidaritas di atas aqidah yang shahih, dengan mudah kita bisa menghancurkan dan meluluhkan segala bentuk kebatilan. Sedangkan persaudaraan yang tidak dibangun di atas aqidah shahihah, akan menyebabkan umat Islam hanya menjadi bulan-bulanan umat lain dan mangsa kaum kuffar.

Rasulullah telah memberi peringatan yang cukup jelas tentang kondisi umat Islam, bila dalam hidupnya keluar dari aqidah Islam dan lebih memilih keduniaan (artinya): Hampir-hampir umat lain bersekongkol mengeroyok kalian seperti orang-orang mengeroyok makanan dari nampan. Seseorang bertanya,”Apakah pada saat itu kita sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Bahkan kalian banyak, tetapi kalian seperti buih banjir. Dan Allah mengambil dari hati-hati musuhmu rasa takut terhadap kalian, lalu Allah memasukkan di hatimu (penyakit) wahn.” Kami para sahabat bertanya,”Wahai, Rasulullah. Apa itu wahn?” Beliau menjawab,”Cinta dunia dan benci mati.” [HR Ahmad dan Abu Dawud].

Usaha serius dan kerja keras sangat dituntut untuk menuju perubahan hahiki dan penuh kepastian, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. [Ar Ra’d:11].

Inilah ketetapan Allah, yang kita diperintahkan untuk berinteraksi dengannya, maka kita harus berusaha untuk merubah kondisi dan nasib sendiri dengan tetap berjalan di atas manhaj yang lurus, sambil memohon keteguhan dari Allah. Kita mengharapkan pertolongan setelah berusaha, berjihad, bersabar, tabah, dan mengerahkan berbagai kekuatan. Ini semua tidak akan tercipta, kecuali dengan manhaj Salaf, karena ia sebagai penyelamat dari fitnah. Manhaj Salaf merupakan jalan keluar dari kesulitan, dan pijakan utama dalam merealisasikan cita-cita umat yang ingin mewujudkan ukhuwah dan solidaritas sejati, serta kekuatan di bumi untuk menegakan syari’at Allah, melaksanakan hukumnya diantara hambaNya, dan mewujudkan ubudiyah (ibadah) hanya kepada Rabb semesta alam walaupun musuh-musuh Allah ingin memandamkan cahaya kemenangan tersebut.

Allah berfirman, yang artinya: Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. [Ash Shaf:8,9].

Karena itulah, maka manusia membutuhkan manhaj (metode) untuk mereka jalankan dan mengembalikan manusia agar bersesuaian dengan alam tempat ia hidup di dalamnya, dan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang masing-masing individunya saling bersaudara karena Allah, yang diikat dengana aturan Ilahi. Antara satu dengan sebagian lainnya saling menguatkan dan mempertahankan keberadaan mereka dari keburukan. Dan manusia sendiri tidak akan mendapatkan atau melihat jalan yang lurus, melainkan jika ia kembali kepada manhaj Rabb-nya yang bisa mengembalikan kepada fitrah. Karena manhaj Ilahi tersebut adalah agama fitrah, yang Allah menciptakan manusia di atasnya. Allah berfirman, yang artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Ar Rum:30].

HAK DAN KEWAJIBAN DALAM HIDUP BERSAUDARA
• Saling mengasihi dan menyayangi sesama saudara mukmin, berdasarkan sabda Rasulullah, tidaklah beriman diantara kalian sehingga saudaranya lebih dicintai daripada dirinya sendiri. [6]

• Saling memberi pertolongan dan bantuan dalam memenuhi segala dan kebutuhan. Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan dari saudara mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. [HR Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah].

• Saling berkunjung dan berziarah. Karena hal tersebut akan menumbuhkan persaudaraan dan mendatangkan rahmat dari Allah, serta akan diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya. Rasulullah n : Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan ditunda umurnya, maka hendaklah bersilaturahmi. [Muttafaqun ‘alaih].

• Saling menjaga nama baik, kehormatan dan harga diri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ketahuilah sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian, menjadi haram terhadap kalian seperti haramnya bulan kalian ini dan negeri kalian ini. [HR Ahmad].

• Saling mendo’akan dan memohonkan ampun kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman, yang artinya: Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha penyayang. [Al Hasyr:10].

SARANA-SARANA YANG DAPAT MEMPERKOKOH UKHUWAH
• Berkunjung karena Allah disertai dengan keikhlasan karena Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di sebuah desa, maka Allah mengutus seorang Malaikat untuk menemuinya. Ketika Malaikat itu datang kepadanya, Malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Kemana kamu hendak pergi?” Laki-laki itu menjawab,”Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.” Malaikat bertanya,”Apakah engkau akan mendapatkan keuntungan yang bisa dipetik darinya?” Dia menjawab,”Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah Ta’ala.” Malaikat itu(pun) berkata,”Aku ini adalah utusan Allah yang diutus kepadamu (untuk memberitahukan), bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintainya karenaNya.” [7]

Sabda Nabi yang lain adalah: Barangsiapa menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka penyeru menyerukan: ”Anda baik perilakumu, serta anda telah menyiapkan suatu tempat di surga”. [HR Tirmidzi, no. 2.002].

• Memberi hadiah.
Hadiah mempunyai pengaruh yang besar dalam jiwa manusia. Hadiah dapat menimbulkan rasa cinta, sebagaimana sabda Rasulullah: Hendaklah kalian saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai. [8]

Dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah menerima hadiah dan membalasnya kembali.[9]

• Larangan memutus hubungan.
Memutuskan hubungan bisa menghancurkan ukhuwah dan menyebabkan perpecahan yang dilarang oleh Nabi. Beliau n bersabda: Tidak halal bagi seorang muslim berseteru dengan saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya bertemu namun satu sama lain saling berpaling, dan sebaik-baik keduanya adalah yang pertama-tama memberi salam. [HR Bukhari-Muslim]
.
Oleh karena itu, setiap muslim wajib memaafkan kesalahan dan kekurangan saudaranya, dan memaafkan keteledorannya serta tetap mengenang sifat-sifatnya yang terpuji, dan tidak menyebut keburukan-keburukannya belaka.
Dalam kitab Ad Dunya wa Ad Din, hlm. 174, disebutkan: Kemudian, seyogyanya ia tidak menjauhinya karena satu atau dua perangai yang tidak disukainya, jika seluruh akhlaknya yang lain dapat diterima dan kebanyakan tabiatnya terpuji. Karena suatu yang sedikit itu lumrah, dan kesempurnaan itu sukar diperoleh.

• Itsar (lebih mementingkan saudaranya seiman).
Lebih mementingkan saudaranya seiman merupakan sarana penting untuk melanggengkan ukhuwah imaniah, sebagaimana firman Allah: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sekalipun diri mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). [Al Hasyr:9].

Dengan itsar, ukhuwah akan bertambah kuat dan menghujam, sehingga tidak ada perselisihan yang dapat mencabutnya, tidak ada persengketaan yang dapat mengenyahkannya, dan tidak ada permusuhan yang dapat menumbangkannya.

• Marah karena saudaranya.
Dia akan marah ketika kehormatan saudaranya dirampas dan harga dirinya dihinakan, atau ia mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan dari musuh. Dia akan merasa sedih tatkala saudaranya bersedih.

• Memberitahukan tentang cintamu kepadanya.
Dalam hatits yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan, jika salah seorang diantara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberitahukan kepadanya bahwa ia cinta kepadanya. [10]

BUAH UKHUWAH ISLAMIYAH
Bila ukhuwah Islamiyah telah bersemi, merekah dan tumbuh dengan subur, maka akan dapat membuahkan hasil, diantaranya :

• Terwujudnya persatuan Islam yang kokoh, karena diikat dengan aqidah Rabbaniyyah, dan tegak di atas landasan takwa, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hujurat, yang artinya: Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beriman itu bersaudara, (Al Hujurat:10) dan juga firman Allah, yang artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. [Al Hujurat:13].

Betapa besar dan kuatnya persatuan jika berjuta orang dari berbagai negeri terhimpun seluruhnya di bawah panji ukhuwah dengan beriman kepada Rabb yang sama, nabi yang sama dan syari’at yang sama, serta manhaj yang lurus.

• Tersebarnya Islam ke seluruh penjuru bumi.
• Terpencarnya peradapan Islam.
• Kuatnya solidaritas dalam masyarakat Islam.
• Menjadi pendukung majunya ilmu dan peradaban.

FAKTOR YANG MEMBUAT RAPUHNYA UKHUWAH DAN SOLIDARITAS
Musuh paling utama ukhuwah adalah perpecahan. Atau disebut dengan istilah furqoh yang berasal dari lafazh mufaraqah, yang berarti berbeda, menyelisihi dan putus hubungan. Furqoh juga berasal dari lafazh syadz, yang berarti keluar dari asal-usulnya atau keluar dari jama’ah.

Sedangkan menurut istilah ulama aqidah, furqoh adalah sikap keluar dari Sunnah dan jama’ah dalam masalah ushuluddin, baik berkaitan dengan aqidah, atau syari’at amaliyah yang bersifat qath’i, atau berkaitan dengan maslahat umat yang sangat mendasar.

Disebutkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

Barangsiapa keluar dari ketaatan dan menyelisihi jama’ah lalu mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah. Dan barangsiapa yang berperang di bawah panji-panji kesukuan, marah untuk membela suku atau mengajak kepada kesukuan atau membantu karena kesukuan lalu terbunuh, maka ia terbunuh dalam keadaan jahiliyah. Barangsiapa yang keluar dari kelompok umatku, lalu membunuh (secara membabi buta) orang yang baik dan yang buruk dan tidak menjaga diri dari orang beriman serta tidak menjaga perjanjian, maka ia bukan tergolong dariku, dan aku (berlepas diri) darinya. [HR Muslim].

Jadi, menyelisihi Ahli Sunnah Wal Jama’ah dalam perkara ushuluddin yang berkaitan dengan aqidah, maka demikian itu termasuk firqah. Begitu juga masuk ke dalam firqah, bila menyelisihi Ijma’ umat Islam. Juga termasuk ke dalam firqah, jika menyelisihi jama’ah kaum muslimin dan imam mereka, yang termasuk maslahat sangat mendasar ini. [11]

PERBEDAAN ANTARA FURQOH DENGAN IKHTILAF
Banyak orang yang belum mampu memilah antara perpecahan dengan perbedaan, padahal keduanya terdapat perbedaan yang sangat fundamental. Antara lain:

• Perpecahan, merupakan bentuk perbedaan yang sangat berat dan meruncing; karena terkadang perbedaan bisa mengarah kepada perpecahan, namun sebaliknya, tidak semua perbedaan secara otomatis dapat menimbulkan perbecahan.
• Tidak semua perbedaan dianggap perpecahan, namun setiap perpecahan pasti bisa dianggap perbedaan.
• Setiap perpecahan terjadi akibat perbedaan dalam masalah ushuluddin atau aqidah, yang tidak mungkin mengenal perbedaan seperti perkara agama yang bersifat qath’i atau ijma ulama. Sementara perbedaan sebatas masalah furu’ yang sangat berpeluang terjadi perbedaan dalam masalah tersebut karena secara dalil dan historis membuka peluang untuk berbeda.
• Perbedaan atau masalah khilafiyah, muncul akibat dari kemampuan seorang ulama dalam berijtihad yang dibarengi dengan i’tikad dan niat yang baik. Jika benar dalam ijtihadnya, ia mendapat dua pahala. Dan bila salah dalam ijtihadnya, maka Allah memberi satu pahala dan mengampuni kesalahan tersebut.
• Perpecahan biasanya seputar masalah agama yang sudah jelas sanksi dan ancamannya. Dan siapa saja yang menyelisihinya, pasti dianggap aneh dan mengalami kehancuran. Adapun perbedaan tidaklah seperti itu. karena, apapun yang terjadi dalam masalah khilafiyah, seorang muslim tidak boleh saling menyesatkan apalagi mengkafirkan, namun semua harus mencari pendapat yang paling kuat dalilnya dan paling dekat dengan kebenaran. Bahkan diharamkan talfiq (memilih-milih pendapat yang lemah) atau mencari-cari pendapat yang ganjil, disebabkan karena kesalahan ulama dalam berijtihad.

KEPASTIAN ADANYA FIRQAH DALAM TUBUH UMAT
Dalam Al Qur’an maupun Asd Sunnah, banyak ditemukan dalil-dalil yang memberi penjelasan adanya furqoh atau perpecahan dalam tubuh Umat Islam. Allah berfirman, yang artinya: Jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. [Hud: 118,119].

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, ia berkata: Suatu hari Rasulullah membuat garis lalu bersabda,”Inilah jalan Allah,” kemudian (Beliau) membuat garis-garis dari arah kanan dan kirinya, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan, dan setiap jalan itu terdapat syetan yang mengajak kepadanya,” kemudian Beliau membaca firman Allah: Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. [Al An’am:153].

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Kaum Yahudi terpecah penjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan di Surga dan tujuh puluh golongan di Neraka. Dan kaum Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu golongan di Neraka dan satu golongan di Surga. Dan demi jiwa Muhammad ada di tanganNya, ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan berada di Surga dan tujuh puluh dua golongan berada di Neraka.” Beliau ditanya: “Wahai, Rasulullah. Siapakah mereka?” Beliau bersabda,”Al Jama’ah.” [HR Ibnu Majah].

Dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah bersabda:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama, semua masuk Neraka kecuali satu agama”. Beliau ditanya,”Wahai, Rasulullah. Siapakah mereka?” Beliau bersabda,”Golongan yang meniti jalan hidupku dan jalan hidup sahabatku. [HR Tirmidzi].

Nash-nash di atas, secara gamblang menjelaskan bahwa Umat Islam akan berpecah belah, maka perpecahan dalam tubuh umat pasti akan terjadi. Namun perpecahan tersebut, oleh Rasulullah dianggap sebagai suatu adzab dan kehancuran. Oleh sebab itu, perpecahan tersebut tidak harus dibuat dan bukan suatu hal yang dipuji, tetapi muncul sebagai bentuk ujian dan cobaan; sehingga banyak anjuran, baik dari Allah dan RasulNya untuk bersatu berada di atas kebenaran dan menghindar dari segala sumber perpecahan. Sebab, perpecahan itu tidak akan terjadi, bila umat berada di atas ilmu dan pemahaman yang benar, serta mengetahui secara baik kebenaran dari Al Qur’an, Sunnah dan manhaj Salafush Shalih.

PEMICU TIMBULNYA PERPECAHAN UMAT
Perpecahan bukanlah semata-mata takdir dan sunnatullah, akan tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor manusiawi. Adapun faktor-faktor yang dominan menjadi pemicu perpecahan di kalangan umat Islam, antara lain ialah:

• Bercampurnya ajaran kesyirikan dan bid’ah dengan ajaran Islam, sehingga sebagian umat Islam tidak mampu membedakan antara ajaran yang murni dengan ajaran yang bathil.
• Bodohnya sebagian umat Islam terhadap ajaran Islam yang murni, dan lemahnya semangat mereka untuk mempelajari ajaran Islam secara benar.
• Fanatis dan taklid buta terhadap kelompoknya, tokoh dan figur dan lebih senang mengedepankan keinginan hawa nafsu dengan mengorbankan nilai-nilai keimanan.
• Mendahulukan akal dan logika belaka daripada kepada nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah.

KIAT DAN SOLUSI KELUAR DARI PERPECAHAN
• Pemurnian tauhid dan meluruskan aqidah, serta bersihkan kesyirikan, bid’ah, takhayul dan khurafat; karena tidak mungkin kita menyatukan umat dalam satu barisan, sementara masih ada perbedaan yang fundamental dalam masalah aqidah, sebagimana firman Allah yang artinya: Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [Ar Rum:31, 32].
• Persaudaran dan solidaritas yang selalu mengedepankan ilmu dan cinta ulama, sebab ilmu adalah kunci perekat nilai persaudaraan. Semakin tinggi kesadaan ilmu agama seseorang, semakin tinggi ilmu ruhiyah persaudaraan yang ia perjuangkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan pada dirinya, maka ia difahamkan dalam urusan agama. [Muttafaqun’alaih].

• Mampu menundukkan nafsu dan keinginannya berada dalam kendali sunnah Rasulullah. Beliau n bersabda: “Tidaklah beriman diantara kalian, sehingga ia memperturutkan hawa nafsunya (sesuai) dengan apa yang aku bawa dan tidak melenceng darinya”.
• Menanggalkan segala bentuk fanatisme terhadap figur, kelompok dan golongan tertentu, dan hanya fanatis terhadap aqidah Islam, sebagaimana firman Allah, yang artinya : Hai, orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
• Memerangi segala bentuk taklid membabi buta yang mengalahkan obyektifitas dalam menerima dalil-dalil kebenaran. Allah berfirman, yang artinya : Dan janganlah mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya. [Al Isra’:36].

SEJARAH PERPECAHAN UMAT MASA LALU DAN REFLEKSINYA DI MASA AKHIR ZAMAN
Pada masa Khalifah Utsman masih hidup, perpecahan itu belum begitu tampak, tetapi baru terjadi setelah terbunuhnya Khalifah Utsman. Perselisihan antara kaum muslimin mulai terjadi semenjak zaman pemerintahan Ali. Pada masa inilah mulai tampak tanda-tanda munculnya firqah di bawah panji-panji Khawarij dan Syi’ah.

Pada zaman pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab hingga Utsman, kristalisasi firqah belum terjadi. Karena pada waktu itu, para sahabat sangat gigih menepis dan membasmi perpecahan. Seorang muslim tidak boleh berprasangka buruk. Para sahabat tidak membiarkan ataupun tidak memberikan peringatan terhadap bahaya perpecahan. Bahkan mereka sangat keras memerangi segala bentuk yang menjadi sumber terjadinya perpecahan, baik dari sisi aqidah, pemikiran atau masalah fikih atau ubudiyah.

Setelah zaman mereka berlalu, kemudian muncul berbagai tokoh bid’ah yang menghembuskan perpecahan ke dalam barisan umat, seperti Ibnu Saba’ Al Yahudi (34 H), Ma’bad Al Juhani (80 H), Ghailan Ad Dimasyqi (105 H), Ja’ad bin Dirham (124 H), Jaham bin Shafwan (128), Washil bin Atha’ dan Amr bin Ubaid. Mereka adalah tokoh-tokoh utama penebar akar bid’ah dan kesesatan. Hingga sekarang, kebid’ahan mereka masih tumbuh subur dalam tubuh umat; bahkan semakin kokoh menjalar dan mengakar, semakin kuat meracuni hati dan pemikiran umat Islam.

Karena kebodohan atau sikap pura-pura bodoh, sebagian orang menyangka bahwa sejarah firqah sudah berlalu dan habis. Padahal hingga saat ini, setiap firqah besar menjadi akar bid’ah, dan masih ada; bahkan semakin menggeliat dan hidup menjamur di tubuh umat, bagaikan virus yang susah dibasmi. Firqoh-firqoh seperti Rafidhah, Syi’ah, Khawarij, Qadariyah, Mu’tazilah, Jahmiyah, ahli kalam, ahli filsafat dan ahli tasawwuf, sampai sekarang pemikiran dan kesesatan mereka tumbuh subur dan menyebar di tengah-tengah masyarakat Islam, dibungkus dengan kemasan tsaqafah dan ilmu pengetahuan. Sedangkan ummat, karena jauhnya mereka dari nilai agama dan aqidah yang benar, sehingga dapat terpengaruh oleh pemikiran bid’ah dan sesat tersebut.

Maraji’:
Manhaj Dakwah Ibnu Taimiyah, Dr. Abdullah bin Rasyid Al Hausyani.
Al Qur’an Al Karim.
Al Mufahras Li Alfadil Qur’an, Muhammad Fuad Abdul Baqi.
Mu’jam Mufahras Li Alfadhil Hadits.
Shahih Bukhari.
Shahih Muslim.
Sunan Abu Daud.
Sunan Tirmidzi.
Sunan Ibnu Majah.
Sunan Nasa’i.
Sunan Ad Darimi.
Musnad Ahmad.
Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqalani.
Syarah Sahih Muslim, Imam Nawawi.
Al Adabul Mufrad, Bukhari.
Syarhus Sunnah, Imam Abu Muhammad Al Barbahari.
Ahli Sunnah Wal Jama’ah Al Inthilaqul Kubra, Muhammad Abdul Hadi Al Misri.
Basha’ir Dzawi Al Syaraf Bi Syarhi Marwiyat Manhaj Al Salaf, Abu Usamah Salim bin ‘Id Al Hilali.
Limadza Ikhtartu Manhaj As Salafi, Syaikh Salim Al Hilali.
Mujmal Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al Aqal.
Dirasatun Fil Ahwa Wal Firaq Wal Bida’, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al Aqal.
Mabahits Fi Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al Aqal.
Mauqif Ahli Sunnah Wal Jama’ah Min Ahlil Ahwa’ Wal Bida’, Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili.
Qadhaya Aqidah Mu’ashirah, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al Aqal.
Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi.
Tahqiq Mawaqif Shahabat Fil Fitnah, Muhammad Amhazun.
Madkhal Lidirasatil Aqidah Al Islamiyah, Dr. Ibrahim Al Buraikan.
Ma Anna Alaihi Wa Ashabi, Ahmad Salam.
Kitabus Syari’ah, Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain Al Ajuri.
Al Amr Bil Ma’ruf Wan Nahyu ‘Anil Munkar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Mashadirul Istidlal Ala Masail I’tiqad, Utsman Ali Hasan.
Silaturrahim, Khalid Ar Rasyid.
Ukhuwah Islamiyah Wa Atsaruha, Syaikh Abdullah bin Jarullah.
Al Ukhuwah Fillah, Abdullah bin Sulaim Al Qurasyi.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Sumber: almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. HR Imam Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, juz 11, hlm. 215 dan Al Baghawi dalam Syarah Sunnah, juz 3, hlm. 429; Majmauz
awaid, juz 1, hlm. 90, serta Silsilah Hadits Shahihah, juz 2, hadits no. 998.
[2]. Shahih Sunan Abi Dawud, Al Albani, no. 3012.
[3]. Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad, no. 544; Ash Shahihah, no. 451.
[4]. HR Muslim, no. 6.494.
[5]. HR Bukhari, no. 660; Malik dalam Muwatha’ dan Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Az uhud
[6]. HR Bukhari, no. 13; Muslim, no. 45; Ahmad dalam Musnad-nya, no. 176 dan Tirmidzi dalam Sunan-nya, no. 5.215.
[7]. HR Muslim, no. 2.567.
[8]. HR Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, no. 594 dan Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, no. 3.004.
[9]. Shahih Sunan Abi Dawud, Al Albani, no. 3.030.
[10]. HR Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, no. 542.
[11]. Qadhaya Aqidah Mu’ashirah, Syaikh Nashir bin Abdul Karim Al Aqal, hlm. 9-10.

Posted on 22 Maret 2011, in artikel islami and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: