Arsip Blog

Pacaran Saat Puasa

Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Bulan Ramadhan adalah bulan yang amat suci dan amat sakral. Sudah kita ketahui bersama bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja. Kita punya kewajiban pula untuk meninggalkan maksiat. Namun demikianlah sudah jadi hal yang wajar di tengah-tengah pemuda, terlebih dahulu memadu kasih sebelum menikah. Harus saling mengenal satu dan lainnya sebelum menaruh pilihan untuk menikah. Aktivitas pacaran ini lebih hangat lagi kita temui di bulan Ramadhan, apalagi menjelang waktu berbuka. Sambil menunggu berbuka ‘ngabu burit’, kita akan saksikan di berbagai rumah makan masing-masing dengan pasangannya. Read the rest of this entry

Iklan

Sulitnya Mencari Orang yang Jujur

Mencari orang yang jujur di zaman ini amatlah sulit. Sampai pun ia rajin shalat, jidadnya terlihat rajin sujud (karena saking hitamnya), belum tentu bisa memegang amanat dengan baik. Ada cerita yang kami saksikan di desa kami.

Seorang takmir masjid yang kalau secara lahiriyah nampak alim, juga rajin menghidupkan masjid. Namun belangnya suatu saat ketahuan. Ketika warga miskin mendapat jatah zakat dan disalurkan lewat dirinya, memang betul amplop zakat sampai ke tangan si miskin. Tetapi di balik itu setelah penyerahan, ia berkata pada warga, “Amplopnya silakan buka di rumah (isinya 100.000 per amplop). Namun kembalikan untuk saya 20.000.” Artinya, setiap amplop yang diserahkan asalnya 100.000, namun dipotong sehingga tiap orang hanya mendapatkan zakat 80.000. Padahal dari segi penampilan tidak ada yang menyangka dia adalah orang yang suka korupsi seperti itu. Tetapi syukurlah, Allah menampakkan belangnya sehingga kita jadi tahu tidak selamanya orang yang mengurus masjid itu termasuk orang-orang yang jujur. Read the rest of this entry

Pergaulan Bebas Biang Kerusakan

Oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A

بسم الله الرحمن الرحيم

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, dalam ucapannya yang populer pernah berkata, “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’la memuliakan kita dengan agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam ini, pasti Allah Subhanahu wa Ta’la akan menjadikan kita hina dan rendah[1].”

Nasehat emas dari shahabat yang mulia radhiallahu ‘anhu ini ditujukan kepada mereka yang mengaku beragama Islam tapi justru tidak merasa bangga dan mulia dengan keislaman mereka, sehingga mereka justru lebih tertarik mengikuti gaya hidup orang-orang yang jauh dari petunjuk Islam dan lebih percaya dengan teori-teori buruk yang mereka kemukakan. Read the rest of this entry

Download Video: Buah dari Berbakti Kepada Orang Tua (Ust. Abu Zubair Al-Hawary)

Alhamdulillah, silakan download video kajian Yufid.TV menarik dengan tema BUAH DARI BERBAKI KEPADA ORANG TUA. Kajian ini disampaikan oleh Ustadz Abu Zubair Al-Hawary, Lc. di Klaten. Semoga kajian ini bermanfaat bagi kaum muslimin.

Link download video, silakan klik link ini.

Download Audio: Beginilah Akhlak Salafy & Lima Kaidah Besar Ushul Fiqih (Ust Abu Ubaidah Yusuf)

ALhamdulillah, silakan download rekaman dauroh Lombok bersama Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi dengan tema Beginilah Akhlak Salafy yang dilaksanakan tanggal 3 Juli 2010. Download pula rekaman kajian ilmiah bersama beliau dengan tema Lima kaidah Besar Ushul Fiqih. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari kajian yang beliau samapaikan. Silakan download pada link berikut:

Read the rest of this entry

Jangan Biarkan Hati Anda Menderita Karena Hasad

Oleh Ustadz Nur Kholis bin Kurdian

BAHAYA HASAD

Hasad (dengki) merupakan penyakit hati yang berbahaya bagi manusia, karena penyakit ini menyerang hati si penderita dan meracuninya, membuat dia benci terhadap kenikmatan yang telah diperoleh oleh saudaranya, dan merasa senang jika kenikmatan tersebut musnah dari tangan saudaranya.

Pada hakikatnya penyakit ini membawa si penderita kepada tidak ridha dengan qadha’ dan qadar Allah ta’ala, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah,” sesungguhnya hakikat hasad adalah bagian dari sikap menentang Allah ta’ala, karena ia (membuat si penderita) benci kepada nikmat Allah ta’ala atas hamba-Nya, padahal Allah ta’ala menginginkan nikmat tersebut untuknya, hasad juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah ta’ala benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya, jadi hasad itu hakikatnya menentang qadha’ dan qadar Allah ta’ala” (1). Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: