WALHAMDULILLAH, PERNYATAAN RESMI TENTANG RUJU’-NYA UST. JA’FAR UMAR THALIB hafizhohullah
Alhamdulillah, segala puji hanyalah bagi Allah Rabbul Alamin. Akhirnya, keluar juga pernyataan resmi dari Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib tentang ruju’nya beliau dari beberapa kesalahan yang telah beliau lalukan dahulu. Dan apa yang beliau sampaikan dalam pernyataan ini, alhamdulillah SAMA dengan apa yang diberitakan oleh Al-Ustadz Abdullah bin Taslim, Lc. kepada ana, ketika Ustadz Taslim ziaroh ke Bandung akhir Juli 2008 lalu. bahkan ust. Taslim klo ga salah sempat menjamu/ mengundang ust. Ja’far dikediamannya di Madinah waktu itu. Dan kita mengambil zhahir dari penyataan ust. Ja’far tentang ruju’nya beliau dari kesalahan-kesalahannya. semoga Allah senantiasa memberkahi dakwah Ahlu Sunnah di Nusantara ini, memberikan hidayahnya kepada kita semua, juga mengampuni segala kesalahan kita.
Kita berdo’a kepada Allah, semoga hal ini menjadi salah satu sebab terjadinya persatuan di kalangan Salafiyin Indonesia seperti dahulu kala. Amin.
Berikut pernyataan resmi Al-ustadz Ja’far Umar Thalib tentang ruju’nya beliau dari kesalahan-kesalahanya.
Sifat yang paling menonjol pada da’wah Salafiyah adalah bimbingan Ulama’ Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadapnya. Sejak pertama kali saya memandu dan menumbuh kembangkan da’wah Salafiyah di Indonesia (sejak Januari 1990), selalu saja Allah Ta`ala memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan para Ulama’ di berbagai negeri Islam. Pertama saya berhubungan dengan As-Syaikh Al-Allamah Ihsan Ilahi Dhahir di Lahore Pakistan pada tahun 1986, kemudian pada tahun 1987 saya mengenal As-Syaikh Al-Allamah Badi’uddin As-Sindi di Karachi. Selanjutnya saya mengenal As-As-Syaikh Al-Allamah Jamilur Rahman di Kunar Afghanistan pada tahun 1988. Beliau semuanya adalah para Ulama’ Ahli Hadits / Ahlus Sunnah di Pakistan dan Afghanistan, dan beliau semuanya telah wafat, semoga Allah merahmati mereka dan melimpahkan maghfirah-Nya. Amin ya Mujibas sa’ilin. Dari beliau bertiga saya mulai mengenal nama-nama para Ulama’ Ahlus Sunnah yang masih hidup di masa itu. Yaitu Al-Imam Abdul Aziz bin Baz (di Saudi Arabia), Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani (di Yordania), Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (di Saudi Arabia), Al-Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie (di Yaman).
Pada tahun 1990 saya diberi kesempatan oleh Allah untuk berkunjung ke Yaman dan langsung berjumpa pertama kali dengan As-Syaikh Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie di kota San’a dan selanjutnya di desa Dammaj Sha’dah. Semua beliau para Ulama’ yang disebutkan di atas telah wafat, semoga Allah merahmati mereka dan melimpahkan kepada mereka maghfirah-Nya. Amin ya Mujibas sa’ilin. Hanya saja Allah Ta`ala tidak menaqdirkan untuk saya berjumpa dengan As-Syaikh Al-Albani sampai beliau wafat.
Setelah itu saya terus berkecimpung dalam kegiatan da’wah Salafiyah dan terus-menerus saya berkonsultasi serta menghadiri berbagai majlis Ilmu para Ulama’ tersebut. Kemudian dari majlis As-Syaikh Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie, saya mulai mendengar nama para Ulama’ Ahli Hadits lainnya, yaitu As-Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad, As-Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, As-Syaikh Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, As-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, As-Syaikh Shalih As-Suhaimi, As-Syaikh Ubaid Al-Jabiri, As-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili. Sehingga pada tahun 1991 saya diberi kesempatan oleh Allah untuk berkunjung ke Saudi Arabia dan saya gunakan kesempatan ini untuk berkeliling mengunjungi para Ulama tersebut serta mengambil manfaat ilmu dari majlis-majlis mereka. Beliau-beliau yang disebutkan terakhir alhamdulillah masih tetap hidup sampai saat artikel ini ditulis. Semoga Allah tetap memelihara dan membimbing mereka di jalan-Nya. Amin ya Mujibas Sa’ilin.
Dari majlis para Ulama’ tersebut saya mulai mengenal para Ulama’ Ahli Hadits lainnya, yaitu As-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz Aalu Syaikh, As-Syaikh Abdullah bin Jibrin, As-Syaikh Bakr Abu Zaid, As-Syaikh Al-Allamah Muhammad Aman Al-Jami. Kedua Ulama’ yang disebutkan terakhir telah wafat. Semoga rahmat Allah dilimpahkan kepada mereka dan semoga maghfirah-Nya senantiasa meliputi mereka. Amin ya Mujibas sa’ilin.
Setelah itu setiap tahun saya diberi oleh Allah kesempatan untuk berkunjung ke Saudi Arabia dan Yaman, sehingga berkesempatan untuk mengambil faidah ilmu dari majlis para Ulama’ tersebut. Demikian terus berlangsung sampai tahun 2001 ketika saya memimpin Jihad Fi Sabilillah di Maluku dan Poso Sulawesi Tengah.
Kemudian mulailah masuk laporan serba negatif kepada para Ulama’ tentang kiprah saya di medan Jihad Fi Sabilillah, yaitu berkenaan dengan berbagai kesalahan dan kekeliruan yang saya lakukan padanya. Maka dengan taqdir Allah yang Maha Adil dan HikmahNYA yang Maha Sempurna, laporan tentang berbagai kekeliruan dan kekhilafan saya itu membikin marah As-Syaikh Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan beliaupun mengeluarkan maklumat berisi anjuran kepada saya untuk segera menghentikan aktifitas Jihad Fi Sabilillah dan membubarkan Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sehingga pada tgl. 7 Oktober 2002, saya nyatakan pembubaran Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah serta pembubaran organisasi Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah (FKAWJ).
PEMUTUSAN HUBUNGAN ULAMA’
Dengan pembubaran LJ dan FKAWJ, rupanya tidak menghentikan santernya arus berita negatif tentang Ja’far Umar Thalib yang dilaporkan kepada para Ulama’, khususnya kepada As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali. Lebih-lebih setelah peristiwa pembubaran itu saya hanya memfokuskan perhatian saya kepada pondok pesantren Ihya’ As-Sunnah Yogyakarta. Sejak itu saya tidak lagi menelpon para Ulama’ karena memang tidak bisa nyambung setiap usaha untuk itu dan saya tidak ditaqdirkan oleh Allah untuk tidak bisa berkunjung ke Saudi Arabia. Sehingga benar-benar terputuslah hubungan saya dengan para Ulama’ yang masih hidup dan saya pun akhirnya untuk sementara mencukupkan diri dengan bimbingan para Ulama’ yang telah wafat melalui kitab-kitab karya warisan peninggalan mereka.
Lebih seru lagi berita negatif tentang Ja’far Umar Thalib itu, di saat saya hadir dalam acara Dzikir Bersama yang diadakan oleh saudara Muhammad Arifin Ilham bersama para tokoh Sufi (yakni tokoh pengamal ilmu Tasawwuf) dan bahkan tokoh-tokoh Kuburi (yakni tokoh-tokoh penganjur perbuatan syirik dengan mengkeramatkan kuburan orang yang dianggap wali Allah). Ja’far Umar Thalib semakin dianggap telah keluar dari Manhaj Salaf (yakni pemahaman dan pengamalan agama para Salafus Shalih). Apalagi Ja’far Umar Thalib menulis dua artikel di majalah SALAFY edisi tiga dan empat yang menerangkan alasan ilmiah mengapa ikut hadir di acara Dzikir Bersama itu. Maka Ja’far Umar Thalib dianggap telah bergabung dengan aliran Sufi dan meninggalkan Manhaj Salaf. Begitulah terus berlangsung pemberitaan tentang Ja’far Umar Thalib di kalangan Salafiyyin (yakni para penganut Manhaj Salafus Shaleh) di berbagai negeri di dunia, baik kalangan Ulama’nya ataupun kalangan Thullabul ilminya (yakni kalangan pelajar penuntut ilmu agama). Berbagai berita yang beredar itu ada saja yang sampai ke telinga saya dan saya menyikapinya dengan hanya berdoa dan berdoa kepada Allah Ta`ala. Semoga Allah memberi kesempatan kepada saya untuk bertemu As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali sebelum saya mati ataupun sebelum As-Syaikh Rabi’ wafat. Dan saya terus berdawah dan mendidik ummat dengan Manhaj Salafus Shalih di berbagai acara pengajian di hampir seluruh wilayah Indonesia. Saya terus berusaha membekali Ummat Islam dengan ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Juga saya terus berusaha membentengi Ummat Islam dari bahaya kerusakan agama mereka, dengan memerangi segala penyelewengan dari pemahaman yang benar tentang agama Allah Ta’ala. Penyelewengan itu dalam bentuk pemahaman Pluralisme, Thariqat Sufiyah, Khawarij, dan berbagai bentuk gerakan hizbiyyah. Saya juga terus berusaha menerbitkan majalah SALAFY (media cetak) dan menayangkan website http://alghuroba.org (di internet). Dan berbagai fasilitas media lainnya, saya gunakan untuk terus mengkampanyekan berbagai materi Da’wah Salafiyah ini.
DAPAT KESEMPATAN UMRAH KE MAKKAH
Setelah berulang kali saya gagal dalam usaha untuk berangkat ke Saudi Arabia, akhirnya Allah Ta’ala menaqdirkan, untuk saya dapat berangkat ke Saudi Arabia pada tanggal 6 Mei 2008. Saya sampai di Makkah dengan niat menunaikan ibadah Umrah di Ka’bah Baitullah Al-Mukarram. Allah Ta’ala memudahkan segenap perjalanan ibadah Umrah saya. Semoga Allah menerima amalan Umrah tersebut. Amin ya Mujibas sa’ilin.
Di saat saya berada di Masjidil Haram Makkah, Allah Ta’ala memberi kesempatan kepada saya untuk berdoa di setiap tempat yang disunnahkan untuk berdoa padanya. Terutama di Multazam, yaitu tempat antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah dimana tempat tersebut adalah tempat yang amat didengar doa setiap hamba Allah oleh-NYA dan dikabulkan. Di tempat itu saya berdoa, ya Allah beri saya kemudahan untuk dapat bertemu dengan As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan berkahilah pertemuan kami itu.
Maka dengan Pertolongan Allah Ta’ala dan kemudian dengan pertolongan beberapa ikhwan Salafiyyin di kota Jeddah, akhirnya pada tanggal 10 Mei 2008 saya bertemu As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali di rumah kediaman beliau di komplek perumahan Awali Makkah. Tampak beliau lebih tua dibanding pertemuan saya dengannya tujuh tahun yang lalu. Setelah salam dan saling menanyakan kabar, langsung saja teman Salafi yang membawa kami dari Jeddah (yaitu As-Syaikh Ahmad Al-Ghamidi), memperkenalkan kami dengan beliau. Dan tampaknya beliau telah lupa dengan saya sehingga beliau baru ingat kalau saya adalah Ja’far Umar Thalib yang memimpin Jihad Fi Sabilillah di Maluku dan di Poso. Begitu beliau mengetahui bahwa yang datang ini adalah orang yang selalu diberitakan dan dilaporkan kepada beliau, langsung saja beliau bertanya kepada saya: “Apa yang kamu inginkan dari saya?” Maka sayapun langsung menjawab: “Saya ingin mempertanyakan apa yang antum nyatakan tentang saya bahwa saya telah antum hukumi keluar dari manhaj Salaf.” Demi mendengar pernyataan saya itu langsung beliau nyatakan: “Saya tidak akan memutuskan apa yang kalian perselisihkan kecuali kalau kedua belah pihak dari kalian telah berkumpul di hadapan saya. Hanya saja saya nasehatkan kamu untuk kembali bergabung dengan salafiyyin di Indonesia. Bukan sebagai pemimpin mereka, akan tetapi kamu menjadi sebagian dari mereka.”
Nasehat beliau langsung saya sambut dengan pernyataan: ‘Wahai Syaikh Rabi’, sesungguhnya sekarang ini tidak ada lagi perkara kepemimpinan. Namun saya ingin mendapat keterangan dan nasehat dari antum tentang mengapa saya dianggap keluar dari manhaj Salaf dan apa nasehat antum untuk saya agar saya dapat memperbaiki kekeliruan saya?” As-Syaikh Rabi’ langsung menjawab: “Saya menganggap kamu keluar dari manhaj Salaf, karena kamu:
1. Menulis surat bantahan terhadap nasehat yang telah saya berikan berkenaan dengan kekeliruan kamu dalam memimpin jihad. Dari suratmu itu saya mendapati bahwa kamu bukanlah Ja’far Umar Thalib yang dulu. Karena tampak dari suratmu itu bahwa kamu telah bersikap tidak sopan kepada Ulama’.
2. Kamu memutuskan hubungan dengan Ulama’.
3. Kamu menggelari saudara-saudara kamu dari kalangan Salafiyyin dengan gelar yang jelek.
Karena itu saya nasehatkan kepadamu agar kamu meninggalkan arena politik praktis. Sebab dengan terlibat dalam arena politik itu kamu terlalaikan dari kemestian da’wah Salafiyah. As-Syaikh Al-Allamah Muhammad Amin As-Syanqithi rahimahullah menyatakan: “Politik gaya demokratisme itu adalah anak perempuannya anjing. Maka jangan kamu memasuki arena politik praktis itu.” Juga saya nasehatkan kepadamu untuk kamu bertaqwa kepada Allah dalam menjalankan kegiatan Da’wah dan ikhlaskanlah amalanmu itu hanya untuk Allah. Saya nasehatkan kepadamu agar engkau menulis berbagai kesalahanmu untuk kemudian kamu bertaubat kepada Allah Ta’ala dari berbagai kesalahan itu. Saya menasehatkan kepadamu agar kamu berupaya sungguh-sungguh untuk membangun semangat saling mencinta di antara kamu dengan saudara-saudaramu kalangan Salafiyyin. Upayakanlah untuk kamu kembali dalam suasana saling tolong menolong dengan mereka dalam rangka kebaikan dan ketaqwaan. Jauhkanlah berbagai sebab yang mengarah kepada perselisihan dan perpecahan di kalangan kalian. Karena perpecahan dan permusuhan diantara kalian itu telah melemahkan Da’wah Salafiyah di Indonesia. Allah Ta’ala berfirman:
Dan janganlah kalian bertikai di antara kalian, karena pertikaian itu akan menjadikan kalian kalah dari musuh kalian dan akan menghilangkan kekuatan kalian.” (Al-Anfal: 46)
Demikian As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah menasehati saya bagaikan Bapak yang menasehati anaknya. Beliau menahan saya di rumahnya agar saya makan malam bersama beliau. Namun karena As-Syaikh Ahmad Al-Ghamidi harus pulang ke Jeddah setelah shalat Isya’ maka kami memohon maaf kepada As-Syaikh Rabi’ dan beliaupun mengantarkan kami pulang sampai ke pintu keluar sambil terus menasehati saya untuk dapat kembali hidup rukun dengan ikhwan Salafiyyin di Indonesia sebagaimana dulu.
MAJLIS UNTUK MENGINGAT KESALAHANKU
Setelah kunjungan saya ke rumah As-Syaikh Rabi’ di Makkah, saya melanjutkan kunjunganku ke Al-Madinah An-Nabawiyah. Di sana saya berkesempatan untuk shalat di Masjid Nabawi dan masjid Quba’. Dalam kesempatan tersebut, Allah Ta’ala menolong saya dengan memudahkan saya untuk berkenalan dengan seorang Thalibul Ilmi senior bernama As-Syaikh Usamah bin Athaya Al-Utaibi. Saya dibawa ke rumah beliau dan kemudian saya dibawa kerumah As-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Hadi Al-Madkhali. Namun Anas bin Muhammad Al-Madkhali menemui kami di luar rumah dan memberi tahu kami bahwa ayahnya sedang sakit sehingga tidak mampu duduk menemui tamunya. Maka kamipun segera menuju ke rumah As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Aqil dan kami diterima dengan senang hati oleh beliau. Sehingga beliau berinisiatif untuk mengundang para mahasiswa Indonesia Salafiyyin yang sedang menempuh studi ilmu-ilmu keislaman di tingkat S2 dan S3 Universitas Islam di Al-Madinah An-Nabawiyah. Maka pada malam berikutnya berkumpullah di rumah As-Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Aqil kurang lebih lima belas orang mahasiswa dan beberapa ikhwan Salafiyyin Indonesia. Di majlis yang moderatornya As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Aqil itu terjadi perdebatan yang seru tentang berbagai masalah berkenaan dengan tindakan saya yang dinilai salah oleh para mahasiswa itu. Dan yang paling seru pembahasannya ialah perkara kehadiran saya di majlis dzikir Arifin Ilham dan kecenderungan saya untuk sependapat dengan tulisan Abdullah bin Yusuf Al Judai’ yang menghalalkan musik dalam kitabnya yang kontroversial berjudul Al-Musiqa wal Ghina’ fi Mizanil Islam (artinya: Hukum Musik dan Nyanyian Dalam Timbangan Islam).
Dalam majlis itu saya kemukakan alasan saya menghadiri majlis dzikir itu, yaitu karena saya yakin bahwa dzikir bersama itu bukanlah bid’ah dan saya hadir di sana adalah dalam rangka menyampaikan ceramah berkenaan dengan ilmu serta seruan saya kepada yang hadir untuk mempelajari serta mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, kemudian meninggalkan syirik dan bid’ah. Mereka yang hadir meyakini bahwa dzikir bersama itu adalah bid’ah sebagaimana pendapat Al-Imam As-Syatibi. Saya mengemukakan kepada mereka dalil-dalil dari As-Sunnah An-Nabawiyah berkenaan dengan dzikir bersama serta keterangan para Ulama’ Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap dalil-dalil tersebut. Akhirnya As-Syaikh Muhammad menyimpulkan bahwa masalah tersebut perlu dipelajari lagi lebih serius. Namun permasalahan kehadiran saya di majlis dzikirnya Arifin Ilham itu dinilai oleh para hadirin, lebih banyak merugikannya dari pada menguntungkan untuk kepentingan Da’wah Salafiyah. Karena di sana saya ditampilkan duduk dengan para musuh Da’wah Salafiyyah seperti hizbiyyin dan quburiyyin. Yang demikian ini dikuatirkan akan mengesankan bahwa kita harus bersatu dengan hizbiyyin dan quburiyyin. Padahal Da’wah Salafiyyah sangat menentang hizbiyyah dan segala bentuk penyembahan quburan yang dikeramatkan. Maka dalam hal pandangan mafsadah (kerusakan) yang ditimbulkan oleh kehadiran saya di majlis itu, saya setuju dengan segenap yang hadir di rumah As-Syaikh Muhammad, dan saya nyatakan bahwa Ja’far Umar Thalib tidak sepantasnya untuk mendatangi majlis dzikir Arifin Ilham meskipun untuk berceramah padanya. Maka dengan tulisan ini sekaligus saya nyatakan bahwa mulai sekarang Ja’far Umar Thalib tidak akan hadir di majlis dzikir Arifin Ilham dan sekaligus juga Ja’far Umar Thalib menyatakan keluar dari Dewan Syari’ah Majlis Adz-Dzikra Arifin Ilham.
Adapun permasalahan pandangan saya tentang halalnya musik berdasarkan bacaan saya dari buku karya Abdullah bin Yusuf Al-Judai’, maka para mahasiswa Indonesia itu memberi tahu saya bahwa telah terbit buku bantahan terhadapnya yang ditulis oleh As-Syaikh Abdullah Ramadhan bin Musa yang diterbitkan oleh Darul Mu’ayyid –Riyadh Saudi Arabia. Merekapun memberikan kepada saya buku bantahan tersebut sebagai hadiah untukku berupa kitab yang tebalnya 620 halaman. Saya dengan senang hati menerima hadiah tersebut yang sangat berharga bagi saya dan langsung saya pelajari sampai artikel ini saya terbitkan. Saya belum selesai mempelajarinya dan untuk sementara saya nyatakan disini bahwa saya mencabut peredaran fatwaku tentang musik ini. Dan saya terus mempelajari tentang masalah tersebut.
Dan dalam rangka menjalankan apa yang dinasehatkan oleh As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali kepadaku, maka dalam tulisan ini saya lengkapi pernyataan taubatku kepada Allah dari tindakanku menggelari Salafiyyin di Indonesia dengan gelar Ahlul Fitnah wal Khiyanah (artinya tukang fitnah dan tukang khianat). Saya nyatakan bahwa saya telah bersalah dengan menggelari mereka seperti itu, dan dengan demikian saya cabut pernyataanku yang demikian itu. Maka dengan kerendahan hati saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap Salafiyyin atas kesalahan dan kedhalimanku terhadap hak kehormatan mereka.
Saya juga mengajak segenap Salafiyyin untuk bersatu kembali dalam naungan manhaj Salafus Shalih dan terus-menerus kita perlu mengoreksi diri kita sendiri dari berbagai kesalahan, kekhilafan dan penyimpangan dari manhaj tersebut. Marilah kita tumbuhkan semangat ukhuwwah Islamiyyah di atas landasan Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Kita tumbuhkan husnud dzan (baik sangka) di antara kita Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan jauhkanlah berbagai suud dzan (sangkaan jelek) terhadap sesama kita agar kita dapat mematahkan berbagai makar setan yang terus-menerus ingin menyalakan api fitnah diantara Salafiyyin untuk melemahkan perjuangan Da’wah Salafiyyah.
Saya terus berdoa kepada Allah Ta’ala untuk membuka hatiku dan hati segenap Salafiyyin di Indonesia khususnya untuk menyambut ajakan dan seruan persatuan kembali Salafiyyin dalam suasana persaudaraan dan cinta karena Allah. Semoga Allah Ta’ala memberi hidayah dan taufiq kepada saya dan kepada segenap ikhwan Salafiyyin untuk kita saling menegur dan memperbaiki berbagai kekurangan, kesalahan, dan penyimpangan kita dalam suasana penuh cinta serta husnud dzan dalam ikatan persaudaraan karena Allah semata. Ya Allah, kabulkanlah doa hamba-MU ini. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendzalimi diri kami. Maka bila ENGKAU tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami menjadi golongan orang-orang yang merugi.
P E N U T U P
Saya tulis segala cerita dan pernyataan saya di dalam artikel ini dengan mengharap ridla Allah dan barakahNYA. Tentang apakah cerita yang saya sampaikan di sini memang benar, maka saya nyatakan di sini bahwa saya tidak punya bukti dan tidak punya saksi bagi kebenaran ceritaku di sini. Jadi bagi pembaca yang menyangsikan cerita ini atau bahkan tidak mempercayainya, maka alhamdulillah saya tidak keberatan dan tidak dirugikan. Hanya Allahlah yang menjadi saksi tentang kebenaran cerita ini, karena Dia-lah yang Maha Tahu segala yang terjadi dan segala yang tersembunyi di lubuk hati yang paling dalam. Siapapun yang ingin menegur dan membukakan pikiran saya dengan ilmu tentang kesalahan dan kekhilafan saya atau bahkan penyimpangan saya, saya akan sangat berterimakasih kepadanya bila dia langsung menghubungi saya. Bukan dengan SMS gelap atau surat kaleng ataupun yang sejenisnya. Karena teguran dengan jalan gelap yang demikian itu lebih membesarkan peluang bagi syaithan untuk menumbuhkan su’udzdzan dan permusuhan di antara kita. Wallahu a’lamu bis shawab.
Al-Ustadz Ja’far Umar ThalibDikutip dari http://alghuroba.org/index.php?read=142


















jazakallaah khayran.
Subahanallah…
ketika mata saya membacanya, ingin rasa hati bertabayyun lagi tentang hal ini…Namun kepada siapa???
Akhuna Abu Zaid, akankah perlu saya mempertanyakan kembali isi tulisan antum ini…???
Pastikan kami Abu Zaid…
Bukan kami tidak percaya antum, tapi yakinkan hati ini tentang kebenaran tulisan antum…
Barakallahu fiyka…
Barakallahu Fiyka akhi…
saya juga mendengar berita ini dari teman – teman kami yang di Surabaya.
Insya Allah tidak lagi kami ragukan berita ini…
Saya kira terlalu dini untuk menyatakan bahwa beliau (ust. Ja’far) telah tobat dari kesalahan-kesalahannya. Walaupun hal ini memang bisa menjadi awal dari langkah baik beliau.
Hal ini karena (menurut hemat saya, untuk bertobat secara sempurna) beliau harus meluruskan beberapa hal yang beliau lakukan dan katakan yang menyebabkan cikal-bakal fitnah, terutama tuduhan-tuduhan yang tidak benar terhadap orang-orang yang pernah beliau zhalimi itu.
Di sisi lain, sebuah ajakan untuk bersatu harus dibuktikan dengan perbuatan. Oleh karena itu kita berharap langkah-langkah kongkrit dapat dilakukan oleh beliau dalam membersihkan kesalahan yang pernah beliau lakukan. Bukankah hal ini termasuk syarat taubat?
Wallahu a’lam
alhamdulillah,
jaazakallah khair
Jazakallahu khoiron atas infonya.Mudah-mudahan ALLOH mempersatukan kaum muslimin diatas manhaj yang haq. Salam kenal dari ana. Abu Asma.Baarookallahu fiik.
Alhamdulillah…semoga Allah apunkan dosa-dosa ustad kita yang telah lalu….dan atas semua ke khilafan beliau. amin
dan semoga Allah mudah kan selalu dakwah salafi di muka bumi ini…
alhamdulillah. mas amir, mungkin bisa di pdf kan bukunya As-Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad (kalo gak salah), rifqon ahlus sunnah..jazakallah
Shubhannallah! betapa indahnya Islam dalam saling menasehati. Begitu Indahnya Damai dalam Islam…. mudah-mudahan dapat diikuti oleh kelompok lain. BERSATULAH MUSLIM DALAM ISLAM …..
hehehe
itulah yang kita harapkan
akan tetapi……
perbuatannya tidak mencerminkan seorang yang bertobat….
kepada dia tidak mengumumkan semua kekeliruannya yang amat fatal…..
mengapa setelah kembalinya ia dari syaikh rabi masih tampil di televisi duduk bersama sufiyah dzikir bersama dengan mulut komat-kamit membaca salawatan…..
ya ikhwah… jangan terlalu terburu menghukumi dia salafy….
kita lihat dulu…. apakah dia memang bener konsekuwen dengan ucapannya atau tidak…
dan kita tunggu tanggapan asatidz salafi…
Semoga beliau tidak lagi ribut2 dengan kelompok salafinya Abdul Hakim, Yazid Jawas, dll ..
Alhamdulillah, maha suci Allah yang mudah dalam membolak-balikkan hati manusia.
alhamdulillah.,
Ana tertarik dengan nasihat dari Syaikh Rabi’:
Subhanallah Allah telah memberikan ketajaman kepada Syaikh Rabi’.
assalamualaikum…
masya Allah, amat menyenangkan ustadz bergabung lagi dengan salafi.
maaf, kiranya saudara abu zaid memberikan alamat email/telpon ust abdullah taslim, saya perlu untuk memudahkan cek ricek. mohon dijawab via email bila berkenan.
wassalamualaikum
abid
Masih menunggu konfirmasi dari “DEGOLAN”
Mohon maaf jika penyampaian kami menyebabkan tanggapan yang demikian (huruf kapital dan ada pengulangan kata dan tanda bacaan). Mungkin perlu dijelaskan bahwa kami berusaha untuk menyampaikan komentar secara baik2. Untuk itu mohon ditanggapi juga dengan baik dan rasa cinta.
Kita (kamipun) menyadari untuk memegang zhahirnya dan menyerahkan masalah hati kepada Allah. Serta kita berharap hal-hal yang baik, bukankah kamipun telah mengatakan kalo hal ini dapat menjadi awal dari langkah baik beliau ?
Kami justru ingin menanggapi kutipan pernyataan ust. Ja’far di atas secara zhahir. Di dalamnya, secara zhahir beliau memang belum (kita berharap nanti -insya Allah- beliau) membersihkan fitnah2 dan tuduhan2 yang beliau lontarkan melalui berbagai media. Lalu, mohon diingatkan jika kami ada kesalahan dalam tulisan dan maksud komentar kami ini.
Intinya, kami sangat senang dengan langkah awal yang baik dari ust. Ja’far ini, namun kami sekedar mengingatkan bahwa beliau perlu meluruskan beberapa hal. Dan ini yang kita semua harapkan, agar Allah mempersatukan kaum muslimin kepada manhaj yang haq, amiin.
Sekali lagi kami benar-benar mohon maaf jika komentar sebelumnya membuat kesan kalo kami mengetahui isi hati orang, apalagi kalo kami ini merasa lebih baik dari orang lain, sebagaimana yang ditanyakan (dengan beberapa tanda tanya dan tanda seru).
Semoga kejadian ini menjadi pembuka dan penataan kembali carut marutnya salafiyin Indonesia. Lihatlah hari ini ya akhi, seorang ikhwan salafi mau berumalah dengan orang kafir, tapi dia memalingkan wajahnya kepada sesama ahlusunnah karena berbeda ijtihad. Lihatlah hari ini ya Akhi, Kelompok yang satu menyebut kelompok lainnya dengan sebutan sururi, dan yang satu menyebut hadadi kepada kelompok lainnya.
alhamdulillah
semoga dakwah ini terus berkembang dan semakin kokoh dengan kembalinya ust Ja’far.
Alhamdulillah….
semoga Benar… apa yang telah disampaikan oleh beliau….
semoga Allah merahmati dan menerima Taubat beliau…
dan merahmati kita semua…
Dari Abu Hamzah yaitu Anas bin Malik al-Anshari رضي الله عنه, pelayan Rasulullah صلی الله عليه وسلم, katanya: Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
“Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang jatuh di atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di suatu tanah yang luas.” (Muttafaq ‘alaih)
salam buat semua ikhwan-ikhwan… dan para Penuntut ilmu…
ana memperkenalkan diri, dan dengan kesungguhan hati untuk ikut menjadi bagian ahlus sunnah waljamah…
dengan kerendahan hati… dengan segala keterbatasan Ilmu dan Pemahaman ana… mohon di di bimbing dan di sampaikan ilmu-ilmu yang HaQ…
ana sampein alamat e-mail ana, sebagai media silaturrahmi, berbagi ilmu, dan saling mengingatkan…
sukriyadi@pajak.go.id
wassalamu ‘Alaikum Warohmatullah Wabarokatuh
Alhamdulillah….
Smoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dlm golongan orang2 yg bertaubat kepadaNya.
info bener kan
Alhamdulillah… Smoga Alloh menjagamu diatas alhaq wahai ust. Ja’far.. Smoga Alloh mengampuni kita smua dan smoga kita smua termasuk org yg kelak mendapat anugrah utk dpt memandang wajahNya, amin..
Assalamu’alaikum
Jazakallahu khoiran atas pemberitahuan ini.
Akh ABu Zaid ada beberapa hal yang perlu dicermati dari berita dan pengumuman taubat rujuk U. Ja’far (ana singkat UJUT) dan ini mungkin tidak disadari orang yang tidak terlibat langsung dalam kejadian demi kejadian sejak tahun 90 an hingga kini.
kebetulan ana kenal UJUT sebelum Ustt. Abdullah Taslim menjadi mustami’ kemudian menjadi murid UJUT di Ma’had Ihya’ Usunnah dahulu. karenanya perlu ana sampaikan kepada antum hal-hal itu agar kita tidak terjerumus kedalam lubang dua kali. masalah taubatnya UJUT dari arifin ilham dan menggelari orang lain dengan gelaran jelek mudah-mudahan diterima tapi masih ada konsekwensi2 yang harus dilihat dari taubatnya tersebut.
singkatnya hal2 itu adalah:
1. pernyataan taubatnya masih parsial dan global.
2. Pernyataannya masih menampakkan ia tidak salah melakukan semua kegiatannya terdahulu dan masih menyalahkan orang ke-3 yang laporan kepada para masyayikh.
3. ungkapannya putus hubungan dengan ulama karena telah berusaha tapi tidak bisa, inipun ada kedustaannya sebab ia pernah berpapasan dengan Syeikh ALi Hasan dkk dihotel Grand Aliya Cikini namun ia menjauh atau tidak ada upaya untuk menemui beliau. padahal kata para ustadz yang hadir UJUT melihat Syeikh.
4. Belum ada upaya2 darinya untuk berusaha bertemu atau menghubungi orang-orang yang disakiti baik langsung atau melalui surat2 agar dihalalkan semua kezholiman yang pernah ia lakukan bila benar ia telah mengakui dan menyatakan rujuknya tersebut dengan benar dan jujur.
5. husnuzhon boleh dikedepankan namun tentunya harus ada indikator rujuknya UJUT dalam bentuk real dan pasti.
ini dulu komentar ana mudah2an bermanfaat dan kita berdoa mudah2an UJUT benar bertaubat dan seluruh kaum muslimin juga bertaubat kepada Allah dari seluruh pelanggaran dan maksiatnya.
Wassalam
alhamdulillah…mudah-mudahan jamaah salafiyyin di Indonesia menjadi kokoh dan satu dibawah lindungan Allah ta’ala, amiin
Alhamdulillahirabbil Alamin..
Seperti ucapan akh Abu Zaid, kita hanya diperintahkan menghukumi dzahir manusia. Dan ana yakin asatidz Ahlussunnah lebih mengetahui permasalahan ini dan lebih bijak dalam menyikapinya..
Ruju’ dari kesalahan bukanlah aib bagi Ahlussunnah. Semoga Ustadz Jafar benar2 kembali kedalam manhaj yang haq ini, qt doakan beliau, bagaimanapun beliau adalah kaum muslimin yang berhak qt doakan..
Yang jelas, jangan pernah berhenti memohon kepada Allah untuk persatuan kaum Muslimin diatas Manhaj Ahlussunnah…
Assalamualaikum,
Ya Akhi, Dahulu ketika seorang baduy pada masa Rasulullah Mengucapkan Syahadat, kemudian shalat 5 waktu, tidak mengurangi dan tidak menambahnya, maka Ia masuk Surga.
Sekarang Ya Akhi, sudah banyak racun2 pemikiran yang merasuki kita secara sadar atau tidak sadar yang berakibat kepada berubahnya cara berfikir dan berpendapat kita, baik itu kita sadari atau tidak.
Ya Akhi, Jika beliau telah menyatakan tobat, maka janganlah berprasangka dengan prasangka yang banyak.
Ya Akhi, jauhilah dari kebanyakan prasangka.
Tentang urusan hati beliau, kita serahkan kepada Allah.
Wallahu A’lam
alhamdulillah dengan senantiasa ber husnudzon insyaalloh ta’ala ust. Ja’far tetap istiqomah dalam manhaj salaf ini dan dpt memperkuat dakwah salafiyah di Indonesia
Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin….
Semoga Allah azza wajalla meneguhkan kita dan mewafatkan kita di atas manhaj yang haq ini…Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah
Alhamdulillah..
Semoga masing-masing dari kita mampu konsisten diatas manhaj ahlus sunnah. yang terpenting kita berusaha konsisten atas apa yang kita ucapkan dan mengamalkan dengannya.amin.
Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.
Semoga Allah ta’ala senantiasa membimbing diri-diri kita untuk senantiasa berada dijalan-Nya yg lurus di atas manhaj ahlus sunnah.
wait and see….
Semoga kebaikan untuk ustad. ja’far.
Semoga salafyoon indonesia bersatu kembali.
Bener gak ya Pak Dhe Jamarto taubat? Hmm…. ana setuju sama radiosuaraquran, just wait and see…
Bismillah
Assalamu’alaikum Warahmatullah wabarakatuh
bukan apa-apa akh. Ana ikhwan di Jogja dan tahu tentang sedikit aktivitas beliau di Jogja.
Dan ana meragukan pernyataan taubat beliau-hadahullah-.
1. Jika memang beliau rujuk, kenapa beliau masih mengisi kajian dengan tokoh Ikhwanukl Muslim, Habib Riziq Al-Habsy (afwan ana agak lupa nama lengkapnya), pada kajian jelang ramadhan.
2. Kenapa pula beliau masih bersama Irfan S. Awwas sang tokoh MMI dalam acara kajian Jum’at di masjid Agung Syuhada?
3. Kenapa beliau tidak bergabung dengan barisan salafiyin lainnya, jika pernyataan taubat itu benar adanya?
Wallahu a’lam
Ana nasehatkan untuk ikhjwah sekalian agar jeli dalam menyikapi suatu pernyataan taubat dari seseorang. harus benar2 diteliti, apakah benar dia taubat atau hanya sebagai pernyataan semata? Karena taubat itu juga butuh bukti…
Dan masing-masing kita harus tetap selalu bercermin diri, memperbaiki diri sendiri…
Wallahu a’lam.
Bahkan ada nasehat dari Ustadz Abdul Mu’thi Al-Maidani (mantan murid Ustadz Ja’far dulunya di Degolan, murid senior) ketika ana sodorkan kpd beliau pernyataan Ustadz Ja’far ini, “Jangan terlalu percaya sama ucapan dia, teliti dulu. Karena dia itu memang orang yang pandai berbicara.”
wallahu a’lam
Dan tentunya, kita semua berharap semoga Ustadz Ja’;far benar-benar taubat. Akan tetapi, menyebarkan surat ini tanpa kita teliti dulu, padahal secara dhohir, masih belum terlihat rujuknya beliau, adalah suatu tindakan yang menurut saya terlalu terburu-buru.
Wallahu a’lam wa barakallahu fiikum
alhamdulillah ‘alaa kulli ni’matin.
alhamdulillah, Ya Allah saksikanlah…
Ya Allah, satukanlah kembali barisan salafiyyun yg telah sekian masa berselisih…
Kepriwe, rika kenal inyong apa ora jane? ana sekang purwokerto kiye. gyeh, mbok ana sing kenal, eh mbok ko ya…aja ngasi kelalen ya, sithi inyong gi skolah neng pondok pesantren imam bukhori solo, ngerti mboten? ya wis lah ya. ngapak pisan..
Bismillahirrahmanirrahim,
Ana ingin menanggapi lontaran kata dari haulasyiah (12) bahwa Al Ustadz masih tampil di TV zikir bersama. Kalau dia mau tabayyun niscaya tak akan terlontar pernyataan demikian… Acara tersebut diadakan sebelum kepergian Ustadz ke Saudi. Kalau anda tidak percaya silahkan tanya kepihak stasiun televisi tersebut.
Kemudian yang kedua, ana masih menyesalkan perkataan-perkatan yang seolah mengejek dengan menyingkat nama Ustadz “JAMARTO’ atau ‘UJUT’ dll. Ini suatu tindakan yang bisa menyakitkan sesama muslim. Apakah kalian merasa lebih baik dari Ustadz Ja`far pada saat ini…. Allahul Musta`an.
ketiga, Ustadz diberitakan seolah bekerjasama dengan Irfan Awwas , Apakah akh Abdurrahman hadir dalam acara itu atau mengetahui persis jalannya acara… Apakah pesan yang Al Ustadz dan Irfan Awwas sama ? Bukankah ada kemungkinan kesalahan terjadi pada panitia yang tidak karuan dalam mengundang penceramah…? Apalagi Ustadz bukanlah panitia… Intabihuu..yaa ikhwan.. aina manhajuna as salaf at tabayyun…? kehormatan seseorang harus dijaga.. apalagi ini masalah yang sangat besar.Tabayyun dahulu, tatsabbut baru beritakan. cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika menyampaikan semua yang dia dengar.. Al Ustadz kemarin telah bercerita kepada kami bahwa berita semacam ini telah sampai kepada Asy Syaikh Rabi` hafizhahullah. Allahul musta`an..
Berita lain lagi… Ustadz diisukan dengan tokoh IM mengisi kajian… Hati-hati wahai Akh Abdurrahman..ente nama tokohnya saja agak lupa, apalagi peristiwanya…! betul-betul satu sunnah ditinggalkan niscaya akan menjadi malapetaka… Ente tahu dari mana… Apakah rawinya sepanduk dijalan… Yang isi Ustadz Ja`far Umar atau Ustadz Ja`far Umar Thalib..? apakah keduanya sama..?
Inti dari permasalahan adalah TABAYYUN.
Afwan kalau tulisan ini keras.. karena Al Haq harus ditegakkan, apalagi kekerasan bukan kami yang mendahului.. .
persatuan islam bukan persatuan kelompok
hanya menanggapi utk Akh Abu Ahmad.
ana ingin memberikan keterangan bahwa ana melihat pamflet kajian tarhib ramadhan yang diadakan oleh FPI Jogja (pusatnya di Wates, ana ingat betul siapa penyelenggaranya) bersama Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib dan Habib Rizzieq Al-Habsyi.
Pamflet itu ana lihat di Masjid Mubarok, SMK Muhammadiyah 5 Yogyakarta, Jl. Mas Suharto, pada pagi hari. Tanggal melihatnya ana lupa. Tapi, pamflet itu ditempel/ana lihat saat pernyataan Ustadz Ja’far itu sudah ana baca sehari sebelumnya. Dan acaranya juga akan dilaksanakan dalam waktu dekat itu.
Ana masih sehat matanya, alhamdulillah nggak pake kacamata. Di pamflet itu pula ada foto kedua orang tersebut, yang dijadikan grayscale sebagai background pamflet. Dan ana kenal betul kedua wajah tersebut. Makanya, ana jadi heran dengan beliau (ustadz Ja’far). Hari sebelumnya ana baca bahwa beliau sudah ruju’. Jujur ya akhi, ana merasa ini adalah busyroooo. Dan jujur, ana pun merasa gembira dengan tulisan itu. Bahkan ana fotocopy itu pernyataan Ustadz Ja’far. aa kasihkan ke beberapa ikhwah. Mereka pun gembira. tapi….
Tapi, begitu melihat pamflet tersebut, perasaan gembira itu mulai surut, dan berganti dengan tanda tanya. Apakah saya salah lihat? Atauklah Ustadz Ja’far tidak tahu tentang siapa mereka? Atau bagaimakah sebetulnya jalan pikiran beliau terhadap sikap ruju’ ini? wallahu A’lam.
makanya, ana tanyakan hal ini ke Ustadz Abdul Mu’thi. dan begitulah jawaban beliau, “Jangan terlalu percaya sama ucapan dia, teliti dulu. Karena dia itu memang orang yang pandai berbicara.”
Makanya ya akhi…. Bukan ana ingin mengumbar aib orang. Karena ana sadar, bahwa ana pun banyak aibnya. Tapi, ana berusaha menyampaikan apa yang ana tahu dari pamflet tersebut. Karena tergesa-gesa menghukumi seseorang itu jelek, entah dalam hal baik atau buruknya dia.
Secara jujur, kita semua berharap bahwa semoga Ustadz Ja’far itu benar2 ruju’, dengan ruju’ yang benar.
dan sekali lagi, ana tidak memaksudkan komentar ana ini untuk memumculkan suasa ‘panas’. Hanya saja sebagai nasehat bagi ikhwah untuk tdk tergesa2 membenarkan taubat seseorang dikarenakan fakta di lapangan berbicara lain. bahkan ada ulama yang mengatakan bahwa utuk mengetahui benar/tdknya taubat seseorang itu paling tidak dilihat dalam waktu 1 tahun. Ana lupa sumbernya, tapi yang jelas ulama ahlus sunnah (ini kelemahan ana, mudah lupa sumber, tapi ingat isinya).
sekali lagi maaf. Bukan maksud ana meunculkan suasa ‘panas’. dan bukan juga sikap beragama dengan keras. Sekali lagi, hanya sebagai nasehat untuk sesama kaum muslimin….
Al Afwu Minkum wa barakallahu fiikum
wallahu a’lam bish showwab. Allahummaghfirliii wa li jamii’il muslimiin….
baarakallahufikum….semoga Allah Ta’aala menjadikannya taubat an-nasuha
Engkau paham makna tabayyun tidak… Yang kamu lakukan bukan tabayyun. Cuman lihat dan sampaikan. pamflet tak bisa selamanya dijadikan rujukan. Tak ada dalam ilmu mushthalah pamflet menjadi sumber periwayatan…! kalau mau tabayyun tanya langsung kepada orang yang hadir dalam acara tersebut dan syaratnya orang itu harus orang yang jujur…
Kamu, kalau menghadapi taubatnya Ustadz Ja`far yang gamblang dan jelas tertulis disertai saksi sangat teliti untuk menerima atau tidak… tapi menghadapi berita miring tentang beliau yang belum jelas dan tanpa saksi kamu langsung menerima….dimana letak keadilanmu….?.
Tunggu bantahan dari Ustadz Ja`far secara ilmiyyah….
Wallahu a`lam bishshawab..
Setuju dengan komentarnya Abu Ahmad….dan lagi belum ada pernyataan resmi atau khobar dari asatidz yang dulu pernah beliau fitnah…padahal dah jalan 5 bulan sejak pertemuan beliau dengan masyayekh dan thulab jami’ah di madinah.
Nanti…,kalau ustadz ja’far dah duduk bareng ma ustadz yazid, ustadz hakim, ustadz abu haidar, ustadz yusuf baisa, ustadz rafiq, ustadz mubarok bamualim, ustadz fariq, dan asatidz salafiyyin lainnya….baru ana percaya
Ustadz ja’far menyatakan sendiri:
“saya lengkapi pernyataan taubatku kepada Allah dari tindakanku menggelari Salafiyyin di Indonesia dengan gelar Ahlul Fitnah wal Khiyanah (artinya tukang fitnah dan tukang khianat). Saya nyatakan bahwa saya telah bersalah dengan menggelari mereka seperti itu, dan dengan demikian saya cabut pernyataanku yang demikian itu. Maka dengan kerendahan hati saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap Salafiyyin atas kesalahan dan kedhalimanku terhadap hak kehormatan mereka.”
konkretnya dong ustadz… konkretnya….!!!!
kalo memang beliau dah taubat ana juga mau minta maaf sama ustadz jafar dulu waktu beliau menyimpang ana suka ngomongin beliau…dulu keburu nafsu abis beritanya heboh buangetttt …..
kepriwe, takon ustadz yazid nek ora ustadz umar assewed baen yuh ah, mbok rampung?gyeh, maksud ora basa banyumas??
Mudah – mudahan taubat beliau & kita semua diterima oleh Alloh dan salafiyin di Indonesia dapat kembali bersatu seperti sedia kala.
Bismillah…
Kabarnya malah ustadz Ja’far Thalib kembali bertemu ulama di Saudi Arabia di bulan Ramadhan kemarin. Semakin meyakinkan kita pada kesimpulan beliau benar-benar ruju’ dengan ulama ahlusunnah.
Juga beliau merajut hubungan kembali dengan ustadz Yusuf Utsman Baisa, ustadz Zainal Abidin, Lc, ustadz Badrus Salam, Lc, jelas dengan asatidzah yang kuliah di S2/S3 Jamiah Islamiyah Madinah, termasuk ustadz Abdullah Taslim, Lc seperti dikhabarkan disini.
Walhamdulillah atas nikmat Allah Ta’ala ini, dakwah Salaf akan semakin kuat karenanya.
kang maula
salam kenal karo aku. Aku ya asli banyumas lho, tapi banyumas ngidul , tepate nang sampang. ngerti mbok rika ?. mung aku siki manggon ning cikarang, bekasi. Kapan rika dolan kang ?
wis lah aja pada kakehen omong sedulurku kabeh, siki sing penting pada ngolek ilmu sing akeh , pada diamal-na, aja pating pecucu nggolek benere dewek. sing pada sabar sedulurku kabeh , aja pada gelut bae . Nek informasi kiye ora berguna , lewih apik mas abu said al posowy , dihapus bae kang website rika. ( maaf banyumasane keton pisan )
ASSALAMUALAIKUM akhi ana gembira dengan beriat ini Walhamdulillah,. lakin justru ana sedang memiliki maslah hati yang snagt kronis ana minta doa kalian ya agar ana dapat berkecimpung total dalam dakwah salafiah
baik hati maupun badan
Afwan salah tempat posting..mhon dikoreksi
Alhamdulillah, benar-benar berita yang menggembirakan. Tidak ada kegembiraan yang melebihi bersatunya kembali para pengikut Sunnah. Mudah-mudahan Alloh memudahkan segala urusan persatuan ini, dan menguatkan dakwah kita. Amin
Bagaimana Dengan orang at turots yang masih mesra dengan para pembenci sunnah? Apa mau tobat juga?
Alhamdulillah, mudah-mudahan berita ini benar adanya, dan ana berdoa agar semua orang yang meniti jalan yang keliru apakah tadi karena mengikuti beliau (ustadz ja’far) atau bukan untuk mengikuti jalan yang sudah benar dan dimenangkan oleh Alloh, yakni jalan ahlussunnah waljama’ah, jalan yang mengikuti Nabi Muhammad dan para sahabatnya dengan ilmu, bukan dengan taklid kepada tokoh tertentu.
Assalamu’alaikum, apakah antum sudah tabbaytun ke ust atp belum? afwan itu sumber dari mana? trus ana coba cari ke alghuroba.org kok belum ketemu. bisa tolong bntu ana?
Assalamu’alaikum,
sebenarnya
Al-Ustadz Ja’far Umar Thalibmudah mulai ruju’ sekitar tahun
yang lalu cuman al_Uztadz seperti terisolir akibat hajr para salaffiyin yang ada disini ,soalnya akudulu juga berpandangan
agak miring terhadapnya,teryata aku salah besar setelah aku duduk di majelisnya ,ternyata kajiannya bagus dan lebih fokus karena setiap para tholibul memegang kitab satu satu ,kemudian beliau yang membacakan ,sehingga parat tholib walaupun nggak bisa bahasa arab lama lama akan bisa asal tekun,aku sendiri juga masih tholib dan kadang naik turun ,
itulah sedikit info tentang kajian beliau yang ada di yogya,sayang aku kerja dibekasi sehingga kajian bisa aku ikuti jika balik kampung itupun kalau kajiannya tidak libur,!!!
Assalamu’alaikum,
sebenarnya
Al-Ustadz Ja’far Umar Thalibmudah mulai ruju’ sekitar empat tahun
yang lalu cuman al_Uztadz seperti terisolir akibat hajr para salaffiyin yang ada disini ,soalnya akudulu juga berpandangan
agak miring terhadapnya,teryata aku salah besar setelah aku duduk di majelisnya ,ternyata kajiannya bagus dan lebih fokus karena setiap para tholibul memegang kitab satu satu ,kemudian beliau yang membacakan ,sehingga parat tholib walaupun nggak bisa bahasa arab lama lama akan bisa asal tekun,aku sendiri juga masih tholib dan kadang naik turun ,
itulah sedikit info tentang kajian beliau yang ada di yogya,sayang aku kerja dibekasi sehingga kajian bisa aku ikuti jika balik kampung itupun kalau kajiannya tidak libur,!!!
u/ akhi semua, u/ apa kita (awamus salafy) mempersoalkan taubat seorang dai yang bukan kapasitas kita dalam membicarakannya,shg membuat ketegangang2 baru.biarlah (Sang Pemilik)waktu yang akan menampakkan kebenaran berita dan kebenaran yang diberitakan itu.sabarlah menunggu….
aku binguuuungg…….gegeran thok kok njaluk swargo
Assalamu’alaykum. Afwan, terus terang ana belum percaya. Sampai ada saksi dan bukti yang jelas tentang ruju’nya Ustadz Jafar Umar Thalib ke dakwah salaf ini.
Kalau bisa umumkan kembalinya Ustadz Jafar Umar Thalib dengan dauroh bersama dengan Ustadz-Ustadz Salafy, semisal Ustadz Muhammad Umar As sewed, Ustadz Luqman Ba’abduh, Ustadz Dzulqarnain atau Ustadz Abu Karimah Askari.
Tapi jangan dengan Ustadz-ustadz dr kalangan ihya at Turots.
Baarokallohu Fiikum
Web yang saya maksudkan adalah http://www.muslim.or.id
Saya kira perkataan shahabat Ali bin Abi Tholib perlu kita perhatikan terus:
AL-HAQQU LAA YU’ROFU BIRRIJAAL
I’RIFIL HAQQO TA’RIF AHLAHU
Kebenaran itu tdk dapat dikenali karena orang(nya)
Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan tahu siapa yg berada di atas kebenaran
Maka, menyibukkan diri thalabul ilmi syar’i lebih baik daripada sibuk membicarakan orang.
Bukannya merendahkan ust jakfar UT. Namun mengapa hal ini diperdebatkan? Bukankah kita sudah ngerti syarat2 taubat seorang hamba? Maka tinggal kita lihat aja. Apakah ke empat syaratnya telah dilaksanakan?
Jakfar UT hanyalah jakfar, mengapa kita yg ribut…??
Misal jika saya yg taubat? apakah kalian ribut? trus jika saya gak taubat apakah kalian ribut juga.?
Sungguh kalian menyukai keributan. Musuh2 kalian tertawa senang.
Jagalah batas2 keributan itu….
Biarin aja jakfar udah taubat ato gak…!! Gak perlu dibesar-besarkan. Kemuliaan seseorang bisa dlihat dr akhir hayatnya.
Semoga kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat selalu dijaga, diberi petunjuk yg lurus. Teguh menjaga dan mengamalkan agama yg hanif.
ane stju dg prnytaan akhi abu ima,kita gak usah ribut dg org yg taubat atau tdk.mestinya kt do’akan kebaikan kpd org yg ingin bertaubat,bkn mlh bnyk mempertanyakan apalagi kt cm tholib n manusia biasa yg msh bnyk mmpunyai kesalahan2 jg bkn kapasitas kt membicarakan itu biarlah org2 yg bersangkutan n yg brkmpten yang menyelesaikan mslh mrk sndri.kt tunggu sj kbr selanjutnya,jd sabar aja…..
wassalam.
alhamdulillah…saya sangat terharu sekali…beginila hati seorang ustadz yg sangat baik dan tulus..dengan mengharapkan ridha karna allah…semoga allah meluruskan, menuntun ustadz jafar umar thalib..amin.